
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐
Wulan sudah pulang dua hari setelahnya, karena kondisi ibu dan bayinya sehat semua. Sebenarnya kemarin juga sudah boleh pulang, tetapi Nyonyq Amel memaksa menginap semalam lagi. Wulan masih mengeluh pusing jika berjalan terlalu lama.
Kesibukan Wulan sekarang bertambah, meski sudah pernah mempelajari teorinya. Tetapi untuk mempraktikan ternyata tak semudah yang ia bayangkan. Ia masih membutuhkan bimbingan dalam merawat Baby Arlan.Selama seminggu, Adel menginap di mansion utama, selain membantu Wulan menjaga Baby Arlan, juga karena El yang selalu ingin dekat dengan adik kecilnya.
"El jangan ganggu adiknya, nanti bangun." ucap Adel memperingati, El sering kali meminta ikut naik ke box bayi Arlan. Sehingga Adel dan Wulan harus mengawasinya lebih lagi.
"El kan mau main Mam. Tadi kan belum main, El tadi cekolah." El tak mendengarkan Mami Adel. Ia dengan gemas memegangi pipi Arlan. Tetapi lama kelamaan ia gemas dan menjepitnya dengan kwdua tangannya. Sehingga Arlan menangis karena terusik.
"Huaaa... Mamii... Ade nanis." El ikut menangis melihat adik bayi menangis.
"Kan Mami bilang, jangan gangguin. Adik bayi lagi bobok." Adel segera mengangkat El dari box bayi. Wulan menimang putranya dan memberinya ASI agar tertidur kembali.
"Mama, apa itu? tunjuk El. Ia begitu penasaran dengan apa yang dilakukan ibu dan anak ini.
"Baby lagi minum dulu, lapar kan tadi nangis."
"Ooo gitu ya? tapi tadi El nangis gak lapal." Kalau sudah begini, Adel selalu pusing untuk memberikan jawaban. Ia memilih mengajak El pergi dari sana.
Rasa penasaran El selalu mengusik Baby Arlan, ia sering kali gemas tapi keterusan. Dan akhirnya membuat Arlan menangis. Wulan sendiri gemas melihat El berinteraksi dengan Baby Arlan. Pasti ada saja tingkahnya yang membuat Wulan terhibur.
...----------------...
Ucapan adalah doa, maka berucaplah banyak hal baik agar suatu saat hal itu bisa terwujud. Mungkin begitulah yang terjadi pada Adel, ia hanya bicara sekedarnya saja untuk menghibur El. Tetapi siapa yang menyangka jika mukjizat Tuhan selalu ada bagi siapapun yang tak pernah berhenti berusaha dan berdoa.
"El, pelan-pelan, jangan ngebut, nanti kamu jatuh." baru Adel membungkam mulutnya, El sudah berteriak kesakitan, lututnya berdarah mencium aspal.
Adel berjalan cepat, dia tak berani berlari, ada nyawa yang harus dia jaga dalam tubuhnya. Adel berjongkok, meniup luka El yang memar dan terluka. "Mami kan udah bilang, pelan-pelan, kan kamu baru bisa." Adel mengomel, tapi tetap membantu El.
El baru saja bisa naik sepeda, dan kemarin dia sudah bisa sendiri tanpa roda bantu, itulah mengapa dia sangat bersemangat hari ini. Padahal matahari hampir mencapai ubun-ubun tapi El tak merasa lelah sedikitpun.
Henry pulang dari kantor, hari ini dia sengaja pulang lebih awal setelah meeting. Mereka akan pergi menemui dokter kandungan, untuk memeriksakan kehamilan Adel.
"Daddy, cakit." El mengadu, tapi malah diacuhkan.
"Kamu pasti bandel kan? Gak nurut sama Mami?" Henry bicara pelan tapi membuat El takut.
"Emmm..." El menundukkan kepalanya.
"Sudahlah, jangan marahin dia lagi, cepat bantu obati lukanya, atau nanti infeksi." Adel meninggalkan mereka berdua dihalaman. Akhir-akhir ini mood Adel tidak stabil, kadang jutek, marah-marah gak jelas, kadang baper, nagis-nagis tanpa sebab.
"Oke, tapi janji besok nurut sama Mami ya, kasihan Mami, El sayang gak sama Mami?" Henry menggendong El, membawanya masuk kedalam rumah.
"Janji, El nulut cama Mami." El mengulurkan jari kelingkingnya.
"Oke, kita obati dulu." Adel sudah menyiapkan kotak obat, Henry sudah mencuci kaki El sebelumnya, dan memasang plester untuk menutupi lukanya.
"Apa kita berangkat sekarang?" tanya Henry.
"Kau baru pulang, bagaimana bisa kau mengantarku? tubuhmu sangat bau." Adel menutup hidungnya. Dia memang tak menyukai bau tubuh Henry, setiap Henry mendekat, Adel akan merasa mual.
"Mana ada? aku masih wangi iya kan El?" El mengendus Daddynya, hanya wangi parfum yang dia rasakan.
"Hmmm Dad halum." El malah ketagihan.
"El bilang harum, berarti hidung mu yang bermasalah." Adel mendengus dia menghentakkan kakinya pergi ke kamar.
Henry mengusap dadanya sendiri, " Sabar, sabar."
"El tunggu disini ya, Dad mau jemput Mami dulu, nanti kita jalan-jalan, oke." Henry mengedipkan sebelah matanya. Dia berlalu menyusul Adel ke kamarnya. Tak lupa menitipkan El pada pengasuhnya.
Pintu dibuka perlahan, menampilkan Adel yang menangis menelungkupkan kepalanya pada bantal. "Huuu huuu, dasar menyebalkan, gak pengertian, egios." Adel mengumpat.
Henry memijit pelipisnya, kepalanya terasa pening sejak seminggu yang lalu Adel terus bertingkah aneh. Dan baru tadi pagi dia tahu kalau Adel sedang hamil, tapi untuk memastikannya, mereka harus ke rumah sakit untuk bertemu dokter kandungan.
Flash Back On
"El dimana Mami?" tanya Henry, ia mengira Adel sudah lebih dulu keruang makan, karena ia sebelumnya meninggalkan istrinya untuk menerima telepon.
"Dak tau." El mengangkat bahunya, ia kembali fokus pada sarapan paginya.
"Nyonya belum turun, Tuan. Mungkin masih di kamar." ucap Sisi.
__ADS_1
"Oke tunggu di sini ya, Daddy mau lihat Mami dulu." Henry menaiki tiap anak tangga, ia membuka pintu kamar tetapi tak menemukan Adel disana, di balkon juga tak ada.
"Di kamar mandi." gumamnya pelan, Henry membuka pintu kamar mandi yang ternyata tak terkunci, ia mendapati Adel dengan wajah pucat dan terduduk diatas closet duduk.
"Astaga sayang, Kamu sakit?" Henry panik melihat keadaan Adel, ia segera mengangkat Adel ke ranjang. Keringat dingin mulai membasahi wajah Adel, begitu pula tangannya yang terasa dingin.
"Tunggu sebentar, Aku panggil Alvin kesini." Heney sibuk dengan gawainya, mencari kontak Alvin di nomor darurat.
"Dad, Aku gak apa-apa. Hanya sedikit pusing." Adel memijat pelipisnya yang terasa pening. Henry menempelkan punggung tangannya, tetapi Adel tak terasa panas. Ia kemudian menempelkan keningnya untuk memastikan, tetapi malah sebaliknya, kening Adel terasa dingin oleh keringat.
"Gak apa-apa gimana? Kamu pucat begitu." Arga menyelimuti Adel, tetapi Adel berkilah bahwa dirinya merasa kepanasan. Padahal suhu diruangannya sudah sangat dingin.
Tak lama, Dokter Alvin datang. Ia segera memeriksa keadaan Adel.
"Heii.. jangan pegang-pegang istriku." Heney menepis tangan Alvin.
"Hadeuh, terus gimana caranya Aku memeriksanya?" Dokter Alvin kesal dengan sikap Henry yang kekanakan.
"Dad, jangan berulah. Sebaiknya Kau jangan mengganggunya bekerja." ucap Adel pelan.
"Tapi dia..."
"Ya sudah, gak periksa kalau begitu." Adel mendengus, ia menutupi dirinya dengan selimut. Dokter Alvin menyugar rambutnya dengan tangan kirinya, ia menyesal datang kemari. Terlwbih harus melihat drama pasangan fenomenal ini.
"Lebih baik kalian bicarakan dulu, Aku pulang dulu." Dokter Alvin membereskan peralatannya.
"Tunggu, oke-oke, sekarang periksa dia." Henry menurunkan egonya sesaat.
"Sayang, maaf ya. Tapi biarkan dia memeriksa mu. Ya sanyang." Henry berbicara sangat lembut pada istrinya.
"Apa yang terjadi dengannya?" tanya Henry setelah Alvin selesai memeriksanya. Ia juga mengajukan beberapa pertanyaan mengenai keluhan yang Adel rasakan.
"Tensinya rendah, asam lambungnya naik. Itu yang menyebabkan pusing dan rasa mual." ucap Dokter Alvin, ia menaruh kembali peralatan medisnya.
"Ini obat untuk mengurangi mual, tapi masih ada kemungkinan lain. Jadi gak bisa sembarangan memberikan resep." Dokter Alvin memberikan sesuatu untuk Adel tanpa sepengetahuan Henry. Ya, benda itu adalah alat tes kehamilan, dari tiga yang Alvin berikan semua hasilnya sama.
"Apa ini sungguhan?" Adel kegirangan melihat hasil yang dia lihat. Sebenarnya Adel sudah menyadari, bahwa haidnya mundur beberapa hari. Bahkan hingga hari ini sudah terhitung satu minggu idari tanggal biasanya. Tetapi Adel tak terlalu banyak berharap, seperti bulan sebelumnya, setelah 5 hari akhirnya tamu bulanan nya datang juga.
"Untuk memastikannya, sebaiknya bertemu dokter terkait, karena ini diluar kemampuan Saya." ucap Dokter Alvin sebelum meninggalkan kediaman Henry. "Sekali lagi selamat untuk kalian."
"Sekarang kita ke rumah sakit ya." Namun Adel menolak, terlebih Henry ada meeting penting yang tak bisa di wakilkan.
"Pergilah Dad!! Aku mau istirahat sebentar. Nanti siang baru kita pergi menemui dokter." ucap Adel, ia memang merasa ingin tidur saat ini. Seperti orang habis bergadang saja.
"Tapi Aku gak mau ninggalin Kamu seperti ini." Henry keukeuh ingin menjaga istrinya. Saat itu juga gawainya berdering, Arga memintanya untuk segera datang ke kantor.
"Sayang, Aku pergi dulu sebentar, tunggu Aku gak akan lama. Bye sayang..." Henry mengecup bibir pucat istrinya, dengan berat hati, Henry meninggalkan istrinya, tetapi ia juga meminta Mommy untuk menemani Adel selama dia tak ada di rumah. ia meraih tas kerjanya, ia juga mengantar El kesekolah sekalian berangkat kerja karena arahnya sama.
Flash Back Off
"Sayangg, maaf ya." Henry mendekat, Adel segera berbalik, dia kembali menutup hidungnya.
"Menjauh dari ku." Adel menjauh sampai diujung ranjang.
"Hah, baiklah!" Henry melonggarkan ikatan kain panjang yang terasa mencekik lehernya. Dia melepas atribut kantornya dan berlalu ke kamar mandi.
"Sepagi ini aku sudah mandi tiga kali, minum obat aja cuma sehari tiga kali." Henry menggerutu, tapi dia harus melakukannya, atau Adel tak mau lagi dia dekati.
"Kau memang anakku yang jahil, bahkan kau masih di dalam perut saja tak ingin berdekatan dengan Daddy mu." Adel berbicara sendiri, sembari mengusap perutnya yang masih rata.
"Hatchuuu." Henry bersin, membuat Adel bangun dari tidurnya.
"Kau sakit Dad?" Adel mendekat, dia tak mual lagi, dia mengendus tubuh Henry yang merasa candu baginya. Padahal Henry masih sama, sabun dan sampo yang dia pakai sama. Tapi entahlah, menurut Adel jika belum mandi Henry masih bau. Hahaha...
"Aku tak apa..." Henry sedikit menjauh, dia ingin mengambil pakaian ganti yang sudah Adel siapkan. Tapi Adel terus menempel padanya.
"Tak apa bagaimana? hidungmu merah, jangan-jangan Kamu flu?" Adel meraba kening Henry, tidak demam.
"Apa kau ingin aku melakukannya sekarang?" Henry menaik turunkan alisnya, memandang sesuatu yang menggoda imannya.
"Heiii, jangan lupa pesan dokter, kau harus puasa." Adel sedikit menjauh, tapi terlambat, Henry sudah menariknya dalam pelukannya.
"Diam sebentar, kau sudah membangunkannya." Adel merasakan sesuatu dibawah sana. Dia segera mendorong tubuh Henry dan berlari menjauh sebisa mungkin.
"Dasar mesum..." teriak Adel, ia segera menjauh dari suaminya dan berlalu untuk menemui El.
__ADS_1
"Hahaha... kau yang mulai duluan." Henry terkekeh dan segera mengenakan pakaian yang Adel siapkan sebelumnya.
Adel sudah rapi dengan dress berwarna biru yang sedikit longgar ditubuhnya. Ia sengaja tak menggunakan pakaian yang terlalu pas untuknya. Adel menunggu Henry ditemani El, ia melihat bongkahan keju yang menggoda iman dalam lemari pendingin. Adel segera mengambilnya beberapa potong untuk dia makan.
"Mami makan apa?" tanya El.
"Keju, El mau?" El menggelengkan kepalanya, ia memilih menyusun lego bersama Ncus Sisi.
"Hai sayang, makan apa?" Henry sudah rapi, ia mendudukkan dirinya di sebelah Adel.
"Keju." Adel mengabaikan Henry, ia tetap fokus pada makanan yang begitu menggoda menurutnya. Keju di cocol mayonise, Henry yang melihatnya saja bergidik bagaimana Adel bisa makan selahap itu?
Bukankah ia tak suka keju? dan sekarang, malah dia makan bongkahan keju.
Henry hanya bisa membatin, memperhatikan Adel memakan keju hingga tak tersisa sedikitpun.
Dalam perjalanan ke rumah sakit, Adel selalu menatap jalanan. Ia seperti mencari sesuatu. "Apa yang kau cari sayang?" Henry melirik Adel yang tak juga berpaling dari riuhnya jalanana siang ini.
"Aku mau sekoteng, kemarin Aku lihat di sekitar sini ada yang jualan." Hanya dengan membayangkan saja sudah membuat air liurnya serasa menetes.
"Se-ko-teng?"
"Wah enak itu Nyah." sahut Sisi di belakang, El masih sibuk dengan mainannya.
"Itu makanan apa?" tanya Henry, ia baru pertama mendengarnya. Makanya ia merasa asing dengan yang disebutkan Adel baru saja.
"Si, jelaskan." Adel menolehkan kepalanya kebelakang, meminta Sisi untuk menjelaskan.
"Jadi, sekoteng itu minuman hangat... bla bla bla..." Sisi menjelaskan dengan sangat detail gambaran dari sekoteng.
"Nanti Aku minta koki di rumah untuk buatkan." Henry tak ingin Adel makan makanan sembarangan yang tak terjamin kualitasnya.
"Gak mau, maunya yang di jalan tadi."
"Kan judulnya sama, se-ko-tang." Henry mengeja kalimat itu.
"Sekoteng Dad... Pokoknya Aku maunya yang ditempat tadi..."
Celaka 12 ini kalau Nyonya sudah mulai begini. Lebih baik Aku iyakan saja, daripada tambah panjang urusannya.
"Iya, nanti kita cari lagi ya." Henry menambah laju kendaraannya, agar segera sampai di rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Adel segera diperiksa oleh Dokter Siska, dokter yang menangani Wulan sebelumnya. "Apa keluhan yang Anda rasakan saat ini?"
"Tidak ada dok, hanya saja setiap bangun tidur rasanya lemas. Pusing, lapar tapi gak mau diisi makanan." Memang benar, saat ini Adel terlihat lebih segar dibandingkan pagi tadi.
"Itu hal yang wajar, tetapi Anda harus memaksakan diri. Karena trimester awal adalah fase penting untuk pertumbuhan janin. Anda bisa makan yang manis, atau makanan apapun yang Anda inginkan. Susu, buah, sayur, itu lebih baik dan lebih sehat. Lebih baik lagi yang mengadung asam folat tinggi. Tak ada yang dipantang, apalagi sebelumnya Anda sudah pernah mengalaminya." jelas dokter siska.
"Baiklah! Mari baring disana, kita akan melihat perkembangannya." Seorang suster wanita membantu Adel berbaring dan mengoleskan gel diperutnya.
"Maaf Nyonya." suster itu mengangkat sedikit dress yang Adel kenakan dan menutupnya dengan selimut. Henry berdiri disamping kanan Adel, pandangan keduanya tertuju pada layar monitor.
"Baik kita mulai ya." Dokter Siska menggerakan transducer dipermukaan kulit perut Adel.
"Nah ini janinnya, masih sangat kecil. Kira-kira sebesar biji kacang. Masih sangat kecil." Dokter Siska menjelaskan dengan telaten, Henry tampak mematung, tanpa sadar buliran air mata mengalir dari kedua sudut matanya.
Beginikah bahagianya seorang ayah? Jadi Aku dulu pria bre**sek yang hanya menanam benih lalu pergi? Aku tak peduli dengan perkembangannya. Aku hanya memikirkan diriku sendiri.
Ia bahkan tak mengetahui penderitaan yang Metta rasakan saat hamil El dulu. Adel mengenggam erat tangan suaminya. "Jadi itu bayi kita?" ucap Henry dengan sedikit bergetar. Adel mengangguk, ia juga bahagia masih diberi kesempatan untuk hamil.
"El itu adik bayi didalam perut Mami." ucapnya pada El.
"Ade bayi? El jadi Kaka lagi?" tanyanya polos.
"Iya, El senang gak?" El begitu senang mendengar akan mempunyai adik.
"Emmm... Yeay ade banyak-banyak."
Henry meminta penjelasan yang mendetail, mulai sekarang ia akan lebih fokus pada istrinya. Henry memperlakukan Adel dengan sangat ketat. Bahkan Adel harus duduk dikursi roda sekarang. "Dad, Aku bisa jalan sendiri. Malu dilihat orang." Adel menundukkan kepalanya, merasa malu dengan tingkah suaminya yang berkebihan.
"Diam disitu, atau Aku gendong." Henry menyeringai, ia benar-benar memperlakukan Adel seperti anak kecil.
Sisi berjalan dibelakangnya untuk mendorong Adel, sedangkan Henry menuntun si bocah gembul. El bilang gak mau di gendong karena sudajmh jadi kakak.
TBC
__ADS_1
TERIMA KASIH