
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐
Adel baru saja kembali ke kamarnya, setelah membawa El yang tertidur dalam dekapannya. Bocah itu terlihat sangat pulas karena aktif seharian.
Henry menunggunya dengan menyalakan televisi, namun perhatiannya tak teralihkan dari laptop dipangkuannya. Adel hanya menatap sekilas dan berlalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Bahkan saat Adel telah selesai dengan rutinitasnya, Henry masih belum perpaling dari benda dipangkuannya. "Dad, sudah malam. Apa masih belum selesai?" Adel mendakati suaminya.
Lagi-lagi Henry mengabaikannya. Adel mengalungkan kedua tangannya dari belakang, bersandar pada punggung Henry yang bidang. Membuat Henry sedikit tersentak dan memiringkan kepalanya. Aroma yang sangat familiar di hidungnya. Istri yang telah mengisi separuh kehidupan dalam dirinya saat ini.
"Sayang, Kau mengagetkan ku." sebelah tangan Henry terulur untuk membelai wajah sang istri yang begitu dekat. Bahkan nafasnya terasa hangat di belakang telinganya. Henry menghentikan kegiatannya sejenak. Memutar tubuhnya, sehingga membuat Adel duduk dipangkuannya.
"Maaf Dad, habisnya Kau terlalu fokus dengan benda itu." tunjuk Adel pada laptop yang layarnya masih menyala.
Henry menaruh telunjuknya di hidung sang istri. Perlahan mulai turun pada belahan bibir yang begitu menggoda untuk dinikmati. "Jadi istriku ini merasa diabaikan? hmm."
"Bukan begitu, tapi ini sudah malam. Apa gak bisa dilanjutkan besok?" Adel segera berdiri dan duduk bergelayut dilengan sang suami. Saat dia menyadari ada sesuatu yang bergerak dibawah sana.
"Tunggu sebentar, Okey." Henry mengecup sekilas bibir chery yang terasa manis untuknya. Dia kembali fokus pada layar di atas meja yang mulai meredup. Tanpa membiarkan Adel pergi dari sisinya.
Adel sedikit mengintip apa yang sedang dikerjakan Henry. Sebuah desain dengan begitu banyak ragam disetiap slide. Adel masih menahan rasa keingin tahuannya. Dia tak ingin mengganggu Henry, atau fokusnya akan terpecah karena dirinya.
"Nah, sudah selesai." Henry telah menyimpan file tersebut. Tak lupa menutup komputer pribadinya di atas meja kerja di ruangannya. Adel masih setia menemi Henry, dengan menyibukkan diri mengganti channel televisi.
Henry kembali, merebahkan tubuhnya diatas sofa dengan kepala dipangkuan Adel. "Sayang, mungkin akhir-akhir ini aku akan lebih sibuk dari biasanya." Henry meraih tangan Adel dan menaruhnya diatas kening.
Adel membelai pucuk kepala Henry, seperti melakukannya pada El. "Bukan kah Kau selalu sibuk?" ucap Adel sedikit pelan.
"Em, ya. Dan mungkin akan lebih sibuk lagi. Terutama mengenai proyek baru yang dimenangkan Arga. Mereka meminta Aku meninjau langsung kesana." Henry memainkan kancing piyama Adel.
"Jadi minggu depan Aku harus ke Lombok sayang." Wajah Henry sedikit murung, kali ini dia akan pergi cukup lama. Yang berarti dia harus berpisah dengan Adel dan El juga lama. Henry mulai terbiasa dengan adanya mereka berdua dalam hidupnya. Begitupun Adel, Henry belum pernah meninggalkannya jauh untuk waktu yang lama setelah mereka menikah.
"Sendiri?" tanya Adel menundukkan kepalanya, pandangan keduanya saling terkunci. Tampak raut kecewa dari Adel, namun sebisa mungkin Adel menutupinya. Bagaimanapun, Henry bekerja keras untuk dia dan keluarganya. Serta ribuan orang yang bernaung dibawahnya.
"Arga ikut, Dia kan penanggung jawabnya. Ada Adrian juga, tapi Aku dan Arga yang lebih lama disana." Henry menarik tengkuk Adel mendekat padanya. Sehingga nafasny terasa hangat menyapu wajah Henry.
"Dad, jangan seperti ini." Adel menjauhkan wajahnya. Dan kembali duduk dengan tegak, Henry mensejajarkan tubuhnya. Dan membawa Adel dalam pelukannya.
"Bagaimana kalau seperti ini?" Henry tak sabar lagi untuk melahap bibir chery yang sejak tadi menggodanya. Adel ikut menikmati permainan Henry, mereka baru berhenti saat keduanya kehabksan oksigen.
"Berarti, Aku boleh ke kantor lagi ya." Adel menggigit bibir bawahnya, takut jika Henry kembali melarangnya. "Tapi kalau tidak boleh juga gak apa-apa." Adel mengibaskan tangannya.
__ADS_1
Diluar dugaan, Henry menyetujuinya. Meski sebenarnya dia tak ingin lagi Adel bekerja. Namun situasinya sekarang tak mungkin meninggalkan tanggung jawabnya di dua tempat untuk waktu yang lama. "Hmmm, tapi jangan terlalu lelah. Jangan memaksakan diri. Dan jangan tebar pesona di kantor." Henry menjepit hidung Adel dengan jari telunjuk dan jari tengahnya.
"Ih ngaco, mana pernah aku tebar pesona. Tanpa Aku tebar Kamu sudah terpesona padaku." Adel menyeringai penuh kemenangan. "Thanks Dad, kamu suami yang paling baik deh." Adel mengecup pipi Henry sekilas.
"Giliran ada maunya aja. Manis banget ini bicaranya." Henry kembali mendekatkan wajahnya. Adel tahu apa yang akan terjadi selanjutnya,dia lebih baik menghindar. Berlari dan bersembunyi dibalik selimut.
"Sayang, jangan menggoda ku. Semakin lama Kamu semakin berani ya." Henry menyusul sang istri. Menelusup perlahan dibalik selimut yang sama dengan istrinya.
"Aku belum mengiyakan permintaan mu. Dan semua itu gak ada yang gratis sayang." Henry memeluk Adel dari belakang, karena posisinya memunggungi Henry.
"Aaaa curang, terus Aku harus bayar pakai apa?" Adel menyingkap selimutnya, menampakkan wajah Henry yang begitu dekat dengannya. Secepat kilat, Henry telah membalik posisinya, membuat Adel meronta dibawah kungkungannya.
"Ini, ini, ini dan semuanya yang ada di tubuh mu." Henry menyeringai, menaik turunkan kedua alisnya.
"Sayang, Aku akan pergi jauh, dan cukup lama. Jadi Kau harus memberi ku pesangon."
Adel mengernyitkan keningnya. "Pesangon? sudah seperti pegawai yang di PHK." Adel malah tertawa geli, menanggapi kalimat Henry yang menurutnya tak masuk akal.
"Bekal sayang, kau harus membekali ku dengan banyak kenangan manis malam ini."
"Bekal?" Adel masih belum mengerti. Tangan Henry menelusup dibalik piyama yang Adel kenakan. Bibirnya keduanya saling bertautan, bertukar air ludah satu sama lain.
"Kamu gak perlu tahu, cukup rasakan dan nikmati saja." Suaranya memburu, seiring dengan jendralnya yang siap bertempur habis-habisan malam ini.
"Dad, tunggu sebentar." Adel mendorong tubuh Henry, namun tenaganya tak akan cukup melawan Henry yang jauh lebih besar.
Selanjutnya bisa dibayangkan sendiri ya, pertempuran yang memporak porandakan isi ranjang.
...----------------...
Sementara itu, Wulan dan Arga tengah menikmati semilir angin malam di sebuah taman dengan kelap kelip lampu yang berpijar di sekelilingnya.
Setelah acara makan dan bersebdau gurau di restoran. Arga memutuskan tak langsung mengantar Wulan pulang, melainkan mengajaknya berkeliling. Sampai akhirnya mereka di taman ini sekarang.
"Ga, Aku mau makan itu, Aku kangen waktu dikampung." Wulan menunjuk warung pinggir jalan dengan jajanan berbahan dasar aci.
"Kamu kan baru makan, lagian makanan di tempat seperti ini gak terjamin kualitasnya." Elak Arga, memang dia sangat menjaga makanan yang dia konsumsi.
"Orang kaya mana tau rasanya, lagian ini kan hanya cemilan. Kamu harus cobain Ga." Wulan menarik tangan Arga menuju lapak penjual cilok dan batagor.
"Namanya aneh banget Lan." bisik Arga dibelakang Wulan.
"Diem, kalau udah ngerasain dijamin ketagihan." Wulan mengeratkan genggamannya pada Arga. Bahkan mereka harus rela mengantri untuk membeli makanan tersebut.
__ADS_1
Makanan apa sih? bahkan mereka harus mengantri panjang seperti ini untuk makanan yang gak jelas.
Arga hanya membatin, menuruti kemauan Wulan. Setelah mendapat giliran dan membayarnya, Wulan melihat sekeliling untuk mencari tempat duduk. Pas sekali ada satu bangku panjang dibawah lampu yang kosong. Wulan kembali menarik tangan Arga dengan menenteng dua kantong berisi makanan yang dipesannya.
"Duduk sini. Tenang aja, aman kok." Wulan menepuk kursi disebelahnya.
Arga sedikit risih dengan beberapa orang yang berusaha mencuri pandang pada mereka. Maklum lah, biasa ngikutin Henry yang serba privasi. "Kita pindah aja yukk." ucap Arga.
"Udah gak papa, abaikan saja mereka." Wulan mengerti kegelisahan Arga yang tak terbiasa dengan tempat seperti ini.
"Nih cobain dulu. Aaaaa..." Wulan menyuapkan jajanan yang dia beli barusan.
Dengan enggan Arga membuka mulutnya. Rasanya lumayan menurutnya. Meski tak pernah mencicipinya, namun aci goreng dengan pangsit kriuk dipadukan dengan saos kacang membuat Arga ketagihan.
"Enak kan?" Arga hanya mengangguk, namun rasa pedas membuatnya berkeringat. Arga tak suka makanan pedas sejak kecil. Bahkan setengah botol air mineral dia habiskan setelah dua suapan.
"Maaf, Aku gak tau Kamu gak suka pedas." Wulan merasa bersalah.
Arga berusaha menekan rasa tidak nyaman pada dirinya. Mungkin dia memang harus terbiasa nantinya. "Lan Kamu sering ketempat seperti ini?" tanya Arga untuk mengalihkan pembicaraan.
"Sering, apalagi dulu waktu di kampung, waktu masih muda tentunya." Wulan tersenyum membayangkan waktu mudanya.
"Sama siapa?"
"Sama temen sekolah, kadang juga sama gebetan, mantan gebetan maksudnya. Hehehe..." Wulan tak menyadari perubahan raut wajah Arga yang terlihat kesal. Dia masih saja berceloteh tentang masa mudanya. Terutama saat kuliah dulu, disaat libur, dan diwaktu senggang saat pulang bekerja. Dia pasti sering singgah di taman ini.
"Jadi ngingetin kamu sama mantan kamu ya." Arga tersenyum masam. Berbicara mantan, Arga tak ada seorang pun mantan yang dimiliki. Hidupnya di gunakan untuk bekerja keras membantu Henry dan keluarganya.
Bukan berarti dia di kekang, namun rasa tertariknya pada perempuan hanya sekedarnya saja. Ada banyak gadis yang berusaha mendekatinya, namun sikap Arga yang tertutup membuat mereka kembali menjauh.
Hanya satu gadis yang membuatnya bisa membuka diri, namun mereka tak ditakdirkan untuk bersama. Membuat Arga kembali harus menelan pil pagit kekecewaan.
"Ga, Ga, jangan ngelamun." tepukan Wulan membawa kesadaran Arga kembali. "Ngelamunin apa sih? mantan terindah ya?" ledek Wulan. Namun Arga hanya menunjukkan wajah datarnya. Membuat Wulan merasa bersalah.
"Maaf Ga, Aku gak bermaksud..."
"Kita pulang, sudah malam nanti kamu dicariin." Arga sudah berdiri, berjalan lebih dulu tanpa menunggu Wulan yang masih mengunyah makanan dimulutnya.
"Ada apa sih? dimana ucapan ku yang salah?" Wulan menggaruk tengguknya sendiri. Dan berjalan mengikuti Arga didepan sana.
Dalam perjalanan pulang, hanya keheningan yang tercipta. Suara deru mesin mobil yang memecahkan keheningan mereka. Arga tetap diam, begitupun Wulan yang enggan bertanya.
Sampai di mansion Henry, Arga tak mengantar Wulan kedalam. Dia hanya membuka kaca mobil dan berlalu pergi setelahnya.
__ADS_1
TBC
TERIMA KASIH