
Haiii Readers, terima kasih banyak atas semua dukungan yang telah diberikan untuk Baby El.
Terima kasih sudah mampir dilapak saya, semoga berkenan meninggalkan jejak Like, Komen Vote dan Rate.
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐💐
Pagi ini Tuan Abimanyu menyempatkan diri bertemu Henry and the gangs. Mereka bertiga masih sangat mengantuk, karena baru tertidur menjelang pagi. Mereka hanya tidur selama 3 jam. Tetapi harus bangun pagi ini juga, ada hal penting yang akan Tuan Abimanyu sampaikan, sebelum berangkat ke London.
"Ada apa Daddy mengumpulkan kami sepagi ini?" tanya Henry dengan setengah sadar.
"Adel sudah kembali, tetapi saya tak yakin, dia akan bertahan berapa lama disini. Dan mengenai Tuan Wira, beliau sudah menghubungi saya secara langsung. Dan menjelaskan semua nya".
"Jadi Tuan sudah Tahu?" tanya Arga.
"Ya semalam beliau menghubungiku setelah kalian pergi" Henry dan Arga merasa geram.
"Cih, jadi kakek tua itu sudah tahu? Untuk apa dia bersandiwara?" Henry mendengus.
"Jaga bicaramu son, dia adalah orang yang berjasa dalam keluarga kita, bahkan sampai sekarang. Adel maksudku Nona Adel, dia sudah membantu kita merawat El" ucap Tuan Abimanyu tegas.
"Lalu apa langkah kita selanjutnya Tuan?" tanya Nathan.
"Kita harus merahasiakan kejadian dimansion" ucap Tuan Abimanyu. Mereka bertiga mengernyit, bukankah itu malah membahayakan Adel?
"Tapi Tuan, saya merasa keberatan" ucap Arga.
"Ini perintah Tuan Wira".
"Bagaimana kalau Rena kembali? Dan mengecoh Adel?" tanya Henry.
"Itu yang kita harapkan, dengan Adel tak mengetahui yang sebenarnya, kita akan menjebaknya semakin masuk".
"Tapi Nona Adel harus tetap diperingatkan Tuan, saya takut Rena akan berbuat lebih nekat" ucao Arga.
"Saya setuju Tuan, dan Nona Adel hanya harus berpura-pura di depan Rena" Nathan menyetujui ide Arga.
"Baiklah, bagaimana baiknya saja. Tuan Wira juga berpesan, agar jangan melibatkan Nona Adel terlalu jauh dalam masalah ini" ucap Tuan Abimanyu.
"Kami pasti melakukan yang terbaik, tetapi saat ini fokus kita hanya El, dia sangat ketakutan Dad" ucap Henry.
__ADS_1
"Yah kau benar, mungkin dengan sering mengajaknya liburan atau ke taman bermain iu sedikit menghiburnya".
"Sepertinya itu bukan ide yang buruk" Henry mengangguk, tanda setuju dengan ide Daddy nya.
"Tapi tidak saat ini Tuan, kita harus menyelesaikan masalah kantor, setelah itu saya akan mengatur cuti untuk Anda berlibur" ucap Arga.
"Ya, kau benar Ga, setidaknya tunggu kami kembali dari London" ucap Nathan.
"Baiklah" Henry menghela nafas pasrah.
Mereka kembali ke kamar masing-masing, kantuk serasa hilang. Karena dipusingkan dengan masalah.
Di kamar El, bayi itu menangis, karrna tak mendapati mami nya disampingnya. Dokter Wulan segera menghampiri El dan menenangkannya, dia membawa El ke balkon kamar.
Walaupun belum pernah merawat anak sendiri, tetapi ilmu yang dia pelajari benar-benar ia terapkan pada El. Bayi itu terlihat lebih tenang, demamnya juga sudah turun. Benar-benar ajaib, kasih sayang Adel bisa menyembuhkan El dalam waktu singkat.
Kau sangat beruntung bisa bertemu Nona Adel sayang, dan ikatan diantara kalian aku rasa sudah sangat dalam. Itulah mengapa kau maupun dirinya tak ingin saling berjauhan satu sama lain.
"Dokter, biar aku yang mengurus El, Anda silahkan bersih-bersih dulu" ucap Adel yang baru selesai mandi. Tubuhnya terasa lebih segar, setelah menyentuh air.
"Ah ya Nona, saya akan bereskan itu dulu" Dokter Wulan menunjuk mainan yang berantakan.
"Biarkan pelayan yang melakukannya Dokt, Anda pasti juga lelah" Adel melarang Dokter Wulan.
"Dan satu lagi, jangan panggil saya Nona, cukup panggil Adel, tanpa embel-embel apapun" lanjutnya.
"Yah Anda juga, panggil saja Wulan" ucapnya dengan sopan.
" Tapi kann..."
"Ayolah, mulai sekarang kita partner" Dokter Wulan mengulurkan kelingkingnya.
"Baiklah Do..., eh Wulan maksudku" jawab Adel menyambut kelingking dengan kelingking. Seperti janji anak kecil saja.
"Haii cucu oma, kau sudah bangun?" tanya Nyonya Amel yang baru saja masuk. Berbarengan dengan kepergian Wulan ke kamarnya.
Wulan menempati kamar yang dulu ditempati Rena. Sebagian barang Rena masih ada disana, tetapi sebagian lagi sudah dibuang. Atas perintah Tuan Besar.
__ADS_1
"Oma, El sudah tidak demam" ucap Adel menirukan suara anak kecil.
"Syukurlah kalau begitu" Nyonya Amel menempelkan punggung tangannya pada El. Untuk memastikan demam El sudah menurun atau belum.
"Nyonya, saya akan mengompres El, semalaman dia berkeringat pasti dia tak nyaman" ucap Adel.
"Tapi kan dia demam Del, bagaimana kalau dia malah semakin demam?" tanya Nyonya Amel.
"Tenanglah Nyonya, hal itu tak akan terjadi, malah akan semakin baik bagi tubuhnya, karena mengompres dengan air hangat, akan membuka pori pori tubuhnya. Sehingga panasnya akan semakin cepat turun" jelas Adel.
"Wah, kau sudah seperti dokter saja" puji Nyonya Amel.
"Saya hanya membaca buku Nyonya, ketika saya hamil dulu, dan untunglah sekarang bermanfaat".
"Kau memang Adel yang luar biasa, aku kagum padamu" ucap Nyonya Amel.
"Baiklah Nyonya saya tinggal dulu" Adel membawa bayi tampan itu untuk dikompres.
Nyonya Amel sudah menyuruh pelayan membereskan kamar El, dan mempersiapkan kebutuhan El.
...----------------...
Disuatu tempat, Rena berhasil sampai di sebuah rumah mewah. Untunglah dia berhasil kabur, kalau tidak, entah apa yang akan terjadi padanya.
"Dasar tak berguna, kenapa kau ceroboh sekali hah?" bentak seorang laki-laki.
"Aku sudah memastikan semuanya, dan hampir berhasil, tetapi Tuan Muda sial** itu datang" ucap Rena membela diri.
"Hampir saja kita ketahuan, kau ini ceroboh sekali, kenapa kau nekat menjalankan misi seorang diri? Kau itu harusnya menunggu perintah dari ku. Dasar Lamban" maki orang itu.
"Hah aku lelah, kalau kau tak terima, kau jalankan saja misimu sendiri, aku tak mau lagi terlibat, mungkin setelah ini, mimpiku untuk menjadi dokter harus aku kubur dalam-dalam, dan kau orang yang harus bertanggung jawab" ucap Rena dengan nada tak kalah tinggi.
Rena menghentakkan kakinya, berjalan menuju ke kamarnya, kamar yang telah lama ia tinggalkan. Semenjak dia kuliah diluar negeri, dan baru beberapa minggu kembali, dia berhasil diterima di rumah sakit ternama. Karena hasil kecerdasan dan kerja kerasnya selama ini.
"Aku memang akan selalu salah dimata kalian, aku sudah melakukan apa yang kalian inginkan, tetap saja aku seperti tak terlihat, kalian egois. Kalian serakah" umpat Rena.
"Dan sekarang aku harus apa? Menyerahpun tak ada gunanya\, menjadi orang baik? Hah\, muna*** sekali. Aku sudah terlanjur jahat\, dan apa masih ada orang yang akan percaya padaku?" Rena terus menggerutu\, dia melihat pantulan dirinya dicermin. Dia kecewa pada dirinya sendiri yang lemah.
TBC
TERIMA KASIH
__ADS_1