Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
Dimana dia sekarang?


__ADS_3

Jangan lupa like komen dan vote setelah membaca kakak.


Happy Reading


💐💐💐💐💐💐💐


Mentari telah kembali ke peraduannya, Ibu Sari mondar-mandir didepan pintu. Sudah malam, namun Adel belum juga pulang. Jam pulang kantor sudah lewat beberapa jam yang lalu, ponsel Adel berdering tapi tak diangkat. Membuat Ibu Sari cemas, takut terjadi sesuatu pada putri kesayangannya.


"Sejak tadi Ayah perhatikan kamu sibuk mondar-mandir disana Ri" Tuan Wira baru keluar dari kamarnya, hendak makan malam bersama.


"Adel belum pulang, apa dia memberitahu Ayah?" Hari ini Tuan Wira tidak ke kantor, Nathan juga tak mengatakan apapun. Tetapi dia pasti tahu Adel pergi kemana.


"Tunggu sebentar, aku akan menanyakan pada Nathan" Tuan Wira kembali ke kamarnya, mencari benda pipih berbentuk persegi panjang miliknya. Deringan pertama, Nathan langsung menjawab panggilan tersebut.


"Ya Tuan, ada yang bisa saya bantu?" Nathan baru saja sampai di apartemen yang dia tinggali.


"Kau dimana? Apa Adel bersamamu? Dimana dia sekarang? sudah malam kenapa belum pulang? Apa ada meeting penting?" Tuan Wira bertanya secara runtut, tanpa memberi waktu Nathan menjawabnya terlebih dahulu.


Nathan memijat pelipisnya yang terasa pening, seharian mengurus masalah kantor, dia lupa memberitahukan kepergian Adel. "Maafkan saya Tuan, saya lalai, tak memberitahukan Anda, Nona Adel pergi ke rumah sakit ber...."


"Apa rumah sakit?" Bentak Tuan Wira, membuat Nathan harus menjauhkan ponselnya. Belum juga selesai bicara sudah dipotong, dan terdengar sangat panik.


"Tuan, tolong dengarkan saya dulu, Nona Adel kerumah sakit bersama Tuan Abimanyu" Eyang mencoba mencerna jawaban Nathan, Abimanyu? untuk apa dia yang menemani Adel kerumah sakit.

__ADS_1


"Adel ku kenapa? Sampai harus kerumah sakit? Dan kenapa kamu tak memberitahu ku?" Tuan Wira sangat cemas, takut terjadi hal serius dengan cucu nya.


"Yang sakit Tuan Kecil El, jadi Tuan Abimanyu menjemput Nona Adel, dan menurut informasi yang saya dengar, keadaannya cukup memprihatinkan" Nathan akhirnya menjelaskan kronologi kejadian, dimana Tuan Abimanyu mendatangi Nona Adel. Sehingga Nona Adel terpaksa harus ikut kerumah sakit.


"Syukurlah kalau dia tak apa-apa, aku sangat khawatir, Ibu nya juga menghubungi tetapi tak ada kabar sedikitpun" Tuan Wira bernafas lega, setidaknya tak ada hal buruk yang menimpa Adel. Tetapi dia juga kecewa, Adel tak memberi tahukan keberadaannya, dan membuat seisi rumah menjadi cemas.


Tuan Wira menutup panggilan, setelah mengucapkan terima kasih pada Nathan. Dia beralih menghubungi Tuan Abimanyu, namun tak ada jawaban di seberang sana. Tuan Wira menghubungi ke telepon rumah, yang mengangkat hanya Bibi Mey. Mengatakan bahwa Tuan Abimanyu belum pulang, sedangkan Nyonya Amel berangkat kerumah sakit.


Tuan Wira menemui Ibu Sari untuk memberikan kabar tentang Adel. "Makanlah dulu, kita akan menyusul Adel kerumah sakit" Ibu Sari tak kalah kaget, ekspresinya seperti Tuan Wira tadi.


"Ada apa dengan Adel? Bukankah dia tadi pagi baik-baik saja?" suaranya sedikit bergetar menahan tangis. Tuan Wira malah tersenyum, membuat Ibu Sari mengernyitkan keningnya.


"Yang sakit El, Adel hanya menjenguknya saja, dia baik-baik saja" Ibu Sari mengelus dadanya pelan, dia merasa lega karena kecemasannya tak terbukti.


"Baiklah! Ayo kita makan, dan kita akan menyusul Adel, sekalian menjenguk El" namun Tuan Wira melarang Ibu Sari ikut, "ini sudah malam, lebih baik kamu tunggu dirumah" pesan Tuan Wira.


"Ayah akan berangkat sekarang? Baru saja Adel menghubungi ku, malam ini dia akan menginap di rumah sakit. El tak bisa lepas darinya, lebih baik besok saja kita ke rumah sakit" ucap Ibu Sari, membuat Tuan Wira mengurungkan niatnya.


Adel memberitahu Ibu Sari, bahwa seharian dia merawat El. Ponselnya tertinggal diruangan sebelah, terlebih lagi batreainya habis. Ibu Sari mengerti posisi Adel saat ini. Dia sudah melihat sendiri bagaimana sikap El yang tak ingin jauh dari putrinya.


...----------------...


Pagi-pagi sekali, Henry menemui Adel, melihat ada orang disampingnya, Adel mengubah posisinya menjadi duduk. "Ada apa Tuan menemui ku sepagi ini?" Adel masih berusaha mengumpulkan nyawanya. Yang sebagian masih berkelana di alam mimpi.

__ADS_1


Henry mendengus, dia tak suka Adel masih memanggilnya Tuan. Tapi dia enggan berdebat dengan wanita itu, ada hal penting yang harus dia sampaikan. "Hari ini aku harus pergi, tolong jaga El untukku" Henry mengecup wajah El yang masih terlelap.


"Ya, tanpa kau suruh pasti aku lakukan, aku bukan kau yang seenaknya sendiri, lagi pula rapat apa sepagi ini? Apa itu hanya alasan saja, supaya kau bisa lari dari tanggung jawabmu?" sahut Adel dengan nada menyindir.


"Huh, ada klien penting dari luar negeri, dan mereka meminta harus aku yang menemuinya. Aku tak pernah lari dari tanggung jawab, selama seminggu ini aku terus bersamanya. Tapi ini juga ku lakukan demi dia" Henry melirik El, tidurmu pulas sekali sayang, batin Henry.


"Huh, pergilah! Aku pasti akan menjaga dia" Adel berlalu ke kamar mandi yang ada diruangan itu.


"Hmm, bagus kalau begitu aku pergi dulu" Henry sedikit menaikkan nada bicaranya, dia kembali memberikan ciuman di kening El.


El cepat sembuh ya sayang, Daddy akan berjuang untuk El. Doakan Daddy supaya Daddy bisa berhasil. Love you Ansel ku.


Henry meninggalkan ruangan El, dia berjalan dengan penuh semangat. Apapun yang terjadi dia harus memenangkan tender ini. Henry kembali kemansion untuk berganti pakaian, dia merilekskan tubuhnya sejenak dibawah guyuran air shower. Sudah lama dia tak menikmati guyuran air dengan begitu tenang.


Semenjak El sakit, Henry selalu melakukan segala sesuatu dengan tergesa-gesa. Karena El pasti akan menangis jika melihat dirinya. Tapi lihat sekarang, El lebih menempel pada wanita itu. Hah, rasanya ingin memakai topeng wajah Adel, agar El selalu menempel padanya.


"Son, kau sudah rapi? Apa kau akan ke kantor?" Tuan Abimanyu melihat penampilan putranya dari atas sampai bawah. Ini masih sangat pagi untuk pergi ke kantor, apa dia sudah akan kembali bekerja hari ini?


"Ini lebih penting dari urusan di kantor Dad, aku pergi dulu, tolong bilang Arga untuk cancel semua jadwal ku minggu ini" Tuan Abimanyu hanya mengangguk, namun tak bertanya lebih. Henry sudah melesat dengan mobil mewahnya.


Sepanjang perjalanan, Henry banyak merenung. Ingatannya kembali saat di rumah sakit. "Sebelum aku memperjuangkan mu, aku ingin bertanya, apakah kau bersedia untuk diperjuangkan orang bodoh sepertiku? Aku melakukan ini juga untuk kebaikan El, jikalau kamu tak bersedia aku juga harus memaksamu untuk berkata iya"


Awalnya Adel tak mengerti, namun sedetik kemudian ia tersadar, kepingan nyawanya benar-benar kembali dari alam mimpi. "Kau ini memang orang bodoh."

__ADS_1


TBC


TERIMA KASIH


__ADS_2