
Author ucapkan banyak terima kasih kepada seluruh readers yang senantiasa menanti kisah Baby El. Dan juga semua dukungan yang telah diberikan.
Semoga berkenan meninggalkan jejak Like Komen dan Vote serta Rate.
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐💐
Ditengah perjalanan, Henry menghubungi Bejo, agar segera kembali kemansion. Meskipun sudah ada Nathan, tetapi lebih baik berjaga-jaga.
Henry memutuskan untuk dia dan Arga yang akan ketempat Adel berada. Hanya membawa beberapa anak buah, agar tak terlalu mencolok mata.
Dia dan Arga juga melepas jas mahalnya, mengenakan kemeja biasa, dengan lengan digulung keatas, memperlihatkan otot kekarnya.
Sementara dimansion, El tak dapat tidur, dia terus saja rewel, dan badan nya panas. Dokter wulan sudah mengompres dan memberi El penurun panas. Tetapi El hanya tertidur sebentar, jika efek obat hilang dia akan kembali rewel.
Nyonya Amel pun demikian, ia bergantian menjaga El. Mereka semua dilanda kebingungan, setiap menangis El pasti memangil 'mami' nya.
...----------------...
"Sebenarnya apa yang terjadi Tuan?" tanya Adel. Dia memberanikan diri bertanya, karena sedari tadi mereka hanya sibuk dengan pemikiran masing-masing.
"Seharusnya saya yang bertanya Nona, apa yang sedang Anda lakukan disana?" Arga menjawab pertanyaan Adel dengan pertanyaan.
Adel pun menceritakan semuanya, dari ia mendapat telepon dari ibunya. Dan terpaksa pergi meninggalkan El. Sehingga ia harus pergi ke kawasan hutan lindung yang sangat jauh.
Dan mengetahui fakta, bahwa dia masih memiliki Eyang Wira sebagai kakeknya.
"Enak sekali kamu ya, El hampir saja dalam bahaya, tetapi kamu malah liburan disana" ucap Henry dengan sinis.
"Tuan, saya tidak liburan, ini hanya kebetulan, lagi pula saya juga khawatir dengan ibu saya" ucap Adel dengan suara meninggi, dia tidak terima dituduh.
"Dan apakah Nona Adel masih bersedia menjadi ibu untuk Tuan Kecil?" tanya Arga dengan ragu-ragu.
"Tentu saja, kalau tidak untuk apa aku ikut dengan kalian" Adel mendengus.
"Saya akan tetap menjalankan peran saya, sampai masa kontrak saya selesai" lanjutnya.
Kontrak? Ahh ya perjanjian itu, aku akan mengulur waktu, supaya El lebih bisa bersamamu.
"Hmmmm" sahut Henry.
"Tapi Anda Nona keluarga Wiranata, rasanya tak pantas jika Anda masih bekerja pada kami" ucap Arga.
"Tuan, tolong jangan seperti itu, saya masih Adel yang sama. Yang biasanya merawat El, saya tulus menyayangi El, seperti anak sendiri".
"Sudahlah Ga, biarkan itu kemauan dia sendiri" ucap Henry.
"Tuan belum menjawab saya, apa yang terjadi pada El, setelah saya pergi".
"Tuan Ke..."
"Tidak apa, hanya El tidak bisa kamu tinggalkan begitu saja" potong Henry.
__ADS_1
Tuan, sepertinya bukan hanya Tuan Kecil saja, tapi Anda juga tak bisa jauh dari Nona Adel.
Perjalanan membutuhkan waktu 2,5 jam, karena ini sudah tengah malam jalanan lengang. Jadilah mereka sampai lebih awal.
Begitu sampai di depan mansion, Adel segera turun dan menuju kamar El.
Benar saja, El sedang menangis, dokter Wulan yang sedang menggendongnya. Jangan tanya lagi seperti apa wujud kamar El, mainan berserakan diman-mana. Bahkan ranjang tidur berisi mainan El, semuanya pindah ke ranjang.
Krekkk
Pintu dibuka, karena memang tak dikunci. Adel menyembul dari balik pintu, membuat semuanya menoleh padanya.
"Adel" ucap Mereka bersamaan.
"Lohh kenapa kalian yang disini? Dimana Rena?" tanya Adel.
"Kau sudah kembali? Sebaiknya kau tenangkan El, dia terus mencarimu" ucap Nyonya Amel.
"Maafkan mami sayang, cup cup cup" Adel mengambil alih El. Hanya dengan dipeluk, El sudah tenang dan terlelap begitu saja.
"El sayang, El ku yang malang" bisik Adel.
"Wulan, besok saja kita bereskan, sebaiknya kau juga istirahatlah" perintah Nyonya Amel.
"Baik Nyonya, saya akan tetap disini, mungkin El membutuhkan sesuatu" ucap dokter Wulan.
"Kau tidurlah dikamar Rena, disini hanya ada satu ranjang".
"Terserah kau saja, saya kembali ke kamar dulu" Nyonya Amel meninggalkan kamar El.
"Dokter tidurlah disini, kita bisa berbagi ranjang" ucap Adel, dia menepuk sisi ranjang sebelah El.
"Biarkan saya tidur disofa Nona, sungguh" dokter Wulan merasa tidak enak.
"Baiklah, terserah dokter saja" Adel memberikan bantal dan selimut yang baru diambil dari lemari.
Sebenarnya banyak yang ingin Adel tanyakan, tetapi tubuhnya juga sangat lelah, ditambah kakinya yang belum sembuh betul. Jadilah Adel memilih tidur, besok saja dia akan bertanya.
...----------------...
Diruang kerja Henry, dia, Arga dan Nathan sedang berdiskusi. Mengenai status Adel saat ini.
"Tuan sepertinya saya tak bisa menyelidiki lebih lanjut, ada seseorang yang melindungi privasi Nona Adel" ucap Nathan.
"Yah kau benar Than, aku juga tak bisa masuk lebih dalam, tetapi Tuan Wira pasti mempunyai alasan tersendiri. Kenapa dia merahasiakan ini semua" sambung Arga.
Dia adalah seorang Nona keluarga kaya, cepat atau lambat dia pasti akan kembali, kembali pada kehidupannya yang sesungguhnya. Entah sampai kapan aku bisa menahannya disini. Bagaimana dengan El? Baru sehari saja sudah begini, apalagi kalau nanti benar-benar pergi.
Henry sibuk dengan pemikirannya sendiri, tak mendengarkan penjelasan dua orang ahli IT didepannya.
"Tuan" panggil Arga, dia menepuk bahu Henry.
__ADS_1
"Tidak akan kubiarkan" ucap Henry refleks menepis tangan Arga.
"Membiarkan apa Tuan?" tanya Arga bingung.
"Apa Tuan masih akan terus menyelidiki keluarga Nona Adel?" tanya Nathan.
"Hah, siapa yang membicarakan wanita gila itu?" kening Henry berkerut.
"Kita kan memang sedang membicarakan Nona Adel Tuan" Arga menepuk jidatnya. Rupanya sedari tadi dia mengoceh tak didengarkan sama sekali.
Drrrtttt drrrtttt
Arga meraih gawainya, Bejo yang menghubunginya.
"Ha-halo Tuan" suara Bejo tergagap.
"Ada apa Jo? Kenapa kamu panik begitu?" tanya Arga. Dia segera berdiri dari duduknya.
"Maaf kan saya Tuan, maafkan saya" ucap Bejo penuh penyesalan.
"Maaf untuk apa?"
"Itu Tuan, Anu.."
"Itu apa hah? Kalau bicara yang jelas".
"Nona Rena kabur Tuan".
"Apaaaa?" Arga sudah menduga ini akan terjadi.
"Iya Tuan, jadi bla bla bla..." Bejo menceriakan insiden kaburnya Rena.
Awalnya hanya mengeluh ingin pipis, ternyata diluar markas ada yang membantunya. Karena tak mungkin jika memasuki markas, penjagaan sangat ketat, terlebih banyak kamera pengintai disana. Jadilah Rena harus mencari akal sendiri.
"Haahhh, sudah kuduga..." Arga menghela nafas panjang.
"Ya sudah kamu tenanglah, akan segera kami lacak, aku sudah menaruh pelacak padanya".
"Baik Tuan" Bejo menutup telepon.
"Sesuai dugaan, dia berhasil kabur" ucap Arga pada boss dan rekan kerjanya.
"Biarkan, sekarang tugasmu mengumpulkan bukti" ucap Henry.
Mereka sengaja membiarkan Rena kabur, dengan begitu akan lebih mudah menemukan dalang dibalik semua kekacauan ini.
Dengan menaruh alat pelacak, dan juga penyadap micro pada benda-benda pribadi Rena. Hal itu tidak akan menimbulkan kecurigaan.
"Kita tunggu saja hasilnya, dia sendiri yang akan membongkarnya" ucap Nathan menyeringai.
TBC
TERIMA KASIH
__ADS_1