Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
Dasar Daddy Menyebalkan


__ADS_3

Terima kasih atas semua dukungan yang diberikan untuk novel ini.


Terus dukung Baby El dengan like komen dan vote sebanyak-banyaknya.


Happy Reading


💐💐💐💐💐💐💐


"Kau bilang sayang? Kau yang membuatnya seperti ini, masih tak ada malu seenaknya main nyosor sama El" ucap Adel sinis, dia masih menyalahkan Henry. Ini semua ulahnya, jika dia tidak egois pasti hal ini tak akan pernah terjadi.


"Dasar Daddy yang menyebalkan, jangan dekat-dekat El, apa kau masih pantas menyebut dirimu Daddy? setelah apa yang kau lakukan padanya" Adel menunjuk dada Henry dengan telunjuknya. Dia masih kecewa, mana ada Daddy yang tega melihat anaknya kesakitan.


Henry melongo, mendengar semua ucapan Adel. "Aku Daddynya, mana mungkin aku tak menyayanginya. Pemikiran mu dangkal sekali" Henry memegang telunjuk Adel lalu menciumnya. Adel diam mematung, begitupun Wulan, dia menepuk keningnya sendiri. Lagi-lagi dia diabaikan, sungguh pasangan yang menyebalkan. Jiwa jomblonya meronta, ingin rasanya menendang kedua orang itu keluar.


Dasar manusia kutub ini begitu berani memperlakukan ku seperti ini? Apa urat malunya sudah putus, dia yang menolak ku, sekarang dia dengan entengnya memohon padaku. Tak semudah itu ferguso, kamu harus berjuang lebih keras lagi.


"Hei, apa kalian berdua tak punya etika? Ini rumah sakit, bukan tempat adu mulut. Terlebih disini masih ada El. Apa kalian tak punya rasa malu, huh?" Wulan bersungut-sungut, segera meninggalkan ruangan itu.


Adel segera menjauh, tetapi tangan Henry enggan melepaskan genggamannya. "Tuan Henry yang terhormat, tolong lepaskan tangan saya" Adel menunjuk tangan satunya, namun tatapannya menusuk, tak beralih dari Henry.


"Asalkan kau mengizinkan aku mencurahkan rasa rinduku pada El yang membuncah" Adel menempelkan tangannya pada kening Henry. "Tidak panas, apa dia salah minum obat?"


Sejak kapan mulut cabai itu jadi manis? belajar dari mana dia. Huh, kali ini aku akan melepaskan mu. Jangan harap lain kali aku akan berbaik hati.


"Kau mengataiku?" Mereka benar-benar melupakan El, sibuk dengan perdebatan mereka. Hingga El menangis, membuat Adel harus mendekatinya, El sudah duduk, menatap bingung pada dua orang dewasa dihadapannya.

__ADS_1


"Huaaaaaa haaaaa Mammmiiii" Adel mendudukkan El diatas pangkuannya. "Sssttt, maafkan Mami sayang, kamu haus?" El menganggukkan kepalanya.


"Hei kau yang bernama Daddy, jangan diam disitu, cepat ambilkan minum untuk El" Adel menunjuk meja kecil disamping ranjang.


"Kau kan bisa mengambilnya sendiri" Henry malah berbalik. Namun tangisan El membuatnya mengurungkan niatnya.


"Kau tidak lihat? Aku sedang memangku El, cepat ambilkan atau kau memang tak menyayangi El" Adel sangat geram, dia sangat tidak sabar melihat Henry yang begitu lelet.


Dengan malas, Henry mengambil minum untuk El, tempat minum El, gelas dengan sedotan panjang didalamnya. El meminumnya hingga tersisa setengah botol. "Apa El lapar? El mau mam?" Adel meraih biskuit yang tak jauh darinya, namun tangannya tak menjangkau biskuit tersebut.


Adel memberi kode pada Henry dengan lirik matanya, lagi-lagi dia harus menuruti Adel. Demi El, hanya untuk El. Begitu yang dia rapalkan dalam hati.


"Acihh" begitu El menerima biskuit dari tangan Adel, El yang mengucapkan terima kasih. Hal itu membuat Henry terharu. "Iya sayang, macama" Henry menirukan gaya bicara El. Dia mengusap kepala El dengan sayang, matanya berkaca-kaca. Dia sangat bahagia melihat El sudah pulih, meski masih harus melakukan perawatan.


Mulai saat ini, Daddy janji pada diriku sendiri, akan selalu membuatmu bahagia. Daddy sangat takut kehilangan kamu, harta yang paling berharga dihidup Daddy.


"Dah Mami" El menggelengkan kepalanya, padahal baru dua keping biskuit yang dia makan. "Oteyy, El mau bobok lagi?" Adel merapihkan sisa biskuit, menaruh El diatas ranjang. Tetapi El memegangi ujung baju Adel.


"Mami, itut" Adel hanya tersenyum, bayi itu sangat takut ditinggalkan Adel. Henry hanya memperhatikan keakraban keduanya, tanpa mengganggu mereka.


"Aku keluar dulu" Henry melangkah maju, meninggalkan Adel berdua dengan El.


"Huh siapa yang peduli dia mau kemana, terserah" jawab Adel sinis, dia harus memberikan pelajaran untuk Henry, agar ayah satu anak itu tak lagi mengabaikan kesehatan El.


Kenapa aku harus pamit segala, jadi besar kepala dia, memangnya siapa dia? Huh, awas saja kalau El sudah sembuh.

__ADS_1


Henry berjalan sambil terus menggerutu, mengutuki kebodohannya sendiri. Dia benar-benar terbuka hatinya, bahwa Adel memang sangat menyayangi El. Bukan hanya ucapan, tetapi tindakannya menunjukkan ketulusan.


Dokter Alvin berpapasan dengan Henry, dia mengernyitkan keningnya, "apa karena dia kelamaan dirumah sakit membuatnya jadi gila? Senyum-senyum tak jelas" gumamnya pelan.


"El mau jalan-jalan?" tanya Adel seraya berbaring disebelah El. Bayi itu hanya mengangguk, kemudian menggeleng.


"Kenapa? El bosan disini?" Adel menatap lekat pada mata bulat yang menghipnotisnya. "No, Ey ama Mami" El memeluk Maminya erat, dia benar-benar tak ingin berpisah dengan Adel.


"Iya sayang, Mami akan temani El, Mami gak akan kemana-mana" Adel membelai pucuk kepala El, sesekali menciumnya dengan mesra.


"El bobok lagi ya, Mami akan disini, temani El terus, otey" El mengangguk, tapi dia tak mau melepaskan pelukkannya dari Adel. "Otey, Mami ini ya" El meminta agar Adel tetap disana.


Pengaruh obat membuat El gampang mengantuk, bayi itu terlelap bersama dalam pelukan Adel. Sungguh pemandangan indah, Henry berjalan dengan sangat hati-hati, tak ingin membangunkan dua orang yang tengah tertidur.


Entah keberanian dari mana, Henry membelai surai panjang Adel, setelah sebelumnya mengecup El, untuk mengucapkan selamat tidur. Merasa terusik, Adel mengubah posisi tidurnya.


Kamu cantik kalau diam seperti ini, pantas saja banyak yang menyukai mu. Maafkan aku, aku hanya memikirkan perasaanku, tanpa ingin tahu, bahkan aku tak pernah menanyakan apa yang kamu mau.


Henry tak ingin mengganggu, dia berjalan kearah sofa, membuka bungkusan kotak makan yang ia bawa. Yah Henry pergi membeli makan siang yang terlewat, bahkan beberapa hari kemarin, dia sering melewatkan waktu makan.


Suasana hatinya buruk, membuat selera makannya ikut menghilang, saat ini dia merasa lapar. Awalnya ingin mengajak Adel makan bersama, tetapi malah tidur, jadilah dia menyantap makanan itu sendirian.


Bahagia ku sesederhana ini, hanya melihat El kembali tertawa membuat duniaku berwarna kembali.


"Sekarang aku akan memperjuangkan kamu, meskipun aku tak tahu, apakah kamu bersedia aku perjuangkan atau tidak" Henry berbicara pada dirinya sendiri, dia meraih minuman kemasan yang dia beli tadi. Dan menutup kembali kotak makanan yang isinya sudah berpindah kedalam perutnya.

__ADS_1


TBC


TERIMA KASIH


__ADS_2