Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
Red Velvet


__ADS_3

Haii readerssss... Mohon maaf ya akhir-akhir ini upnya jarang, dikit pula. Tetapi tenang aja thor masih up disini kok.


 


 


Terus dukung Baby El yah, tinggalkan jejak Like Komen Dan Vote


 


 


Happy Reading


 


 


💐💐💐💐💐💐💐


 


 


Untuk sementara waktu, keluarga Syahreza bisa bernafas lega, karena kekacauan yang mereka hadapi, sekarang ini tak lagi ada. Tetapi Henry tetap mengawasi keluarganya, lewat orang-orang kepercayaan yang dia kirimkan.


 


 


Tuan Abimanyu sudah kembali dari London, dan sesuai rencana mereka akan berlibur bersama akhir pekan ini. Dan juga untuk merayakan hari ulang tahun pernikahan Tuan dan Nyonya Syahreza.


 


 


Kepulangan Tuan Abimanyu tak hanya berdua dengan Nathan, Tetapi Laisa anak perempuan Tuan Edric ikut bersamanya. Dengan alasan ingin berjumpa Baby El.


 


 


Henry tak terlalu menyukai sepupu angkatnya ini, dia wanita yang sangat cerewet. Dan juga sangat manja, walaupun usianya tak lagi muda.


 


 


"Dad, kau sudah pulang?" Henry mendekati Daddynya, karena Dia baru saja pulang kantor. Padahal Arga sudah memberitahukan bahwa Tuan Besar akan kembali hari ini.


 


 


"Yes Son, apa......"


 


 


"Kakak Hennnnnnn" wanita centil itu menghabur kearah Henry.


 


 


"Heiii lepas, kenapa wanita menyebalkan ini ada disini Dad?" Henry memutar bola matanya.


 


 


"Kakak, tentu saja aku merindukanmu" Lai bergelayut manja dilengan Henry. Arga hanya bisa menahan tawanya, melihat kelakuan mereka berdua. Mereka tak pernah akur jika bertemu, padahal sangat jarang bertemu.


 


 


"Lai, kau ini sudah tua, bukan anak kecil lagi. Jadi menyingkirlah! Atauuu..."


 


 


"Atau apa? Atau nanti akan ada yang cemburu melihatmu?"


 


 


"Mana ada?"


 


 


"Ada tuh." Laisa menunjuk Adel yang sedang menyuapi El jus buah. Sedangkan yang ditunjuk seolah tak peduli.


 


 


"Diamlah! Dan cepat menyingkir dari sini." Henry memberinya tatapan tajam.


 


 


"Uncleee..."


 


 


"Jangan manja" bentak Henry. Tuan Abimanyu hanya tersenyum simpul. Melihat sikap Henry tak berubah sejak dulu.


 


 


Laisa meninggalkan mereka, Henry menuju ke kamarnya. Namun sebelum itu dia menyapa El, dia sedang minum jus alpukat.


 


 


"Tuan, kau harus memastikan tanganmu bersih, sebelum menyentuh El." Adel menepis tangan Henry, saat ingin memegang pipi gembul El.


 


 


"Berani sekali kau yah?! Aku ini Daddynya."


 


 


"Ya saya tahu, tapi Anda baru saja pulang, pasti banyak kuman yang turut denganmu. Anda harus membersihkan diri dulu, sebelum menyentuh El."


 

__ADS_1


 


"Kau ini cerewet sekali." Henry mendengus, tetapi ia melakukan apa yang dikatakan Adel. Dia menuju ke kamarnya, untuk bersih- bersih dan berganti pakaian.


 


 


"Kau lihatlah Daddymu itu El? Menyebalkan sekali." Adel mencebik.


 


 


Tuan Abimanyu mencegah Arga pergi. Ada sesuatu yang perlu dibicarakan, bersama Nathan yang sedang menuju kemari.


 


 


"Ga, ada yang inginku bicarakan denganmu. Kita keruang kerjaku." Tuan Abimanyu melenggang, menuju ruangan yang dimaksud. Diikuti Arga yang mengekor dibelakangnya.


 


 


"Ga bagaimana hasil penyelidikanmu? Apa kau sudah menemukan siapa orang dibalik kekacauan kemarin?" Tuan Abimanyu memulai permbicaraan.


 


 


"Sedikit menemukan titik terang Tuan,...."


 


 


Tokkk Tokkk Tokkk


 


 


Suara pintu diketuk dari luar, membuat Arga menghentikan ucapannya. Ternyata Nathan sudah datang, mereka bertiga terlibat pembicaraan serius.


 


 


"Apa yang harus kita lakukan Tuan?" Tanya Nathan.


 


 


"Kita tidak boleh diam saja seperti sebelumnya, kita harus memulai lebih dulu." Tuan Abimanyu tak ingin, kejadian yang menimpa El kemarin terulang kembali.


 


 


"Lalu kita harus memulainya dari mana?" Arga menimpali.


 


 


"Kita lanjutkan rencana kita, Henry akan mengambil cuti selama beberapa hari, dengan begitu posisi CEO kosong. Dan saya akan membiarkan orang itu melakukan niat busuknya. Dan kita akan menemukan bukti konkret, dia tak akan bisa berkutik."


 


 


 


 


"Baik Tuan, saya sudah mengatur jadwal cuti untuk Tuan Henry." Ucap Arga.


 


 


"Ya saya setuju dengan rencana Anda." timpal Nathan.


 


 


Mereka bertiga menyusun strategi sebaik mungkin, karena tak ingin lagi keluarganya, bahkan orang lain menjadi korban.


 


 


Tuan Abimanyu menerawang, ingatannya kembali pada 15 tahun silam. Disaat dirinya sedang sibuk dengan urusa HS Group yang mulai ia menanjak. Selalu ada saja pihak yang iri bahkan ingin menghancurkannya.


 


 


...----------------...


 


 


Saat itu, Tuan Abimanyu baru saja berangkat ke luar kota, untuk menemui rekan bisnisnya. Nyonya Amel masih disibukkan dengan bisnis kuliner yang dijalaninya.


 


 


Henry dan Arga sepakat untuk menginap dirumah sahabatnya, Edo. Mereka diantarkan supir menuju kediaman orang tua Edo. Namun ditengah jalan, mobil yang ditumpanginya memgalami pecah ban. Jadilah sang supir menepi, kebetulan Ibu Mirna, ibu kandung Edo melintas. Dia baru pulang dari minimarket terdekat.


 


 


"Haiii , bukankah kalian teman Edo?" Tanya Ibu Mirna. Memang beberapa kali Henry dan Arga pernah main kerumah Edo. Untuk itulah mereka sudah saling mengenal.


 


 


"Iya tante." Jawab dua anak remaja itu.


 


 


"Kalian mau kemana?"


 


 


"Kita mau main kerumah tante, tetapi ban mobilnya pecah ban. Sekarang kita menunggu montir kemari." Arga menjelaskan.


 

__ADS_1


 


"Oh kebetulan sekali, tante juga mau pulang. Kita naik mobil tante aja." Ajak Ibu Mirna.


 


 


"Apa tidak apa-apa tante? Kami takut merepotkan."


 


 


"Tidak merepotkan kan tujuan kita sama. Tapi kita mampir ditoko kue dulu ya, Edo ingin dibelikan kue kesukaanya."


 


 


"Baik tante." Sahut keduanya bersamaan.


 


 


Sesuai perjanjian, mereka singgah di toko kue yang menjadi langganan Ibu Mirna. Dia bergegas turun, dan membeli kue pesanan putra kesayangannya.


 


 


Ibu Mirna adalah ibu rumah tangga biasa, jadi setiap hari dia bisa mencurahkan seluruh kasih sayangnya pada keluarganya. Hal itu membuat Arga dan Henry betah berlama-lama jika bermain dirumahnya.


 


 


"Ga, bukankah ini toko kue yang Edo ceritakan waktu itu?" Tanya Henry memandang keseberang jalan.


 


 


"Yah, kau benar, dari namanya sih sama."


 


 


"Aku akan menyusul Tante Mirna, aku ingin membeli red velvet yang waktu itu. Kau tunggulah disini!" Henry membuka pintu mobil.


 


 


Dengan tergesa Henry menyeberang jalan, tanpa melihat sebuah mobil, dengan kecepatan tinggi dari arah kanan jalan.


 


 


Ibu Mirna yang kala itu baru saja keluar dari toko kue, segera berlari kearah Henry. Dia mendorong tubuh Henry ketrotoar jalan, sehingga tubuhnya yang terhempas jauh. Kecelakaan tak dapat dihindarkan. Ibu Mirna bersimbah darah, Henry segera berlari kearah Ibu Mirna. Memeluk wajahnya yang berubah menjadi warna merah darah.


 


 


"Tanteee, maafkan aku tannnteee, bangunlaaahhhh!!!" Henry berteriak histeris. Melupakan tangan kirinya yang juga berdarah.


 


 


Melihat itu, Arga segera keluar dari mobil, begitupun supir Ibu Mirna. Sebagian orang yang lewat berkerumun, namun sayang, mobil yang menabrak Ibu Mirna berhasil kabur.


 


 


"Kita bawa kerumah sakit." Teriak seorang pria paruh baya. Mereka membantu mengangkat tubuh Ibu Mirna. Henry tak melepaskan cekalan tangannya. Dia terus menggenggam erat tangan ibu dari sahabatnya itu.


 


 


"Tanteeee, ku mohonnn bangunlahhh!" Henry masih terus memohon. Dia yang duduk dikursi penumpang, menopang tubuh wanita yang telah banyak mengajarkan kebaikan padanya. Arga duduk di samping kursi kemudi. Dia hanya diam, sambil sesekali ikut menitikkan air mata.


 


 


"Pak cepatlah!" Teriak Arga pada pak supir.


 


 


"Iya Den, ini kecepatan maksimal."


 


 


"Tante kamu harus bertahan tante, aku tak ingin kehilangan sosok ibu lagi." Gumam Arga dalam hati. Dia merasakan kesedihan yang sama, ketika ibunya meninggal dulu.


 


 


Mereka berdua sangat menyayangi Tante Mirna, ibu yang sangat lembut, penyayang, dan tak pernah marah. Walaupun mereka melakukan kesalahan, hanya ditegur dengan nada yang halus. Tetapi hal itu membuat Edo dan ketiga sahabatnya menurut, tak pernah membatahnya.


 


 


"He-henry." Ibu Mirna membuka matanya.


 


 


"Bertahanlah Tante!!! Sebentar lagi kita sampai dirumah sakit." Ucap Henry, dengan air mata yang terus berhamburan.


 


 


"Ta-tante, ti-tip E-do ya." Tante Mirna memaksakan senyumnya, Menahan sakit yang luar biasa disekujur tubuhnya. Bahkan kemeja putih Henry kini ikut berwarna darah, namun dia tak lagi memperdulikannya.


 


 


TBC


 


 


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2