Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
Lampu Merah


__ADS_3

Terima kasih singgah dilapak Baby El.


Ayo dukung terus Baby El dengan Like komen dan VOTE sebanyak-banyaknya


Happy Reading


💐💐💐💐💐💐💐


Dikediaman Wiranata, tepatnya di balkon kamar yang Adel tempati. Wanita itu tampak murung, sedari tadi dia hanya melamun, bahkan coklat panas yang dia minta, sudah tak lagi mengepulkan asap seperti saat diantarkan.


Ibu Sari memanggilnya sedari tadi, tetapi tak ada respon sedikitpun. Ibu Sari mendekat mengusap surai hitam panjang putrinya. "Nak, apa yang kau lamunkan? Sepagi ini kau terlihat tak semangat."


Adel tersadar dari lamunannya, dia menatap kearah ibunya, dan menyandarkan kepalanya dipinggang ibunya. "Ibu, sejak kapan ibu disini?"


Ibu Sari tersenyum, "Yah lebih lama dari lamunanmu. Sampai kaki ibu pegal karena menunggumu" Ibu Sari melirik Adel.


"Ahh ibu, ada apa ibu memanggilku?"Adel mengerti ibunya hanya mencoba menghiburnya.


"Ibu hanya rindu padamu, apa tak boleh, jika ibu merindukan putri ibu ini?" Ibu Sari duduk disebelah Adel. Dia menggenggam erat tangan putrinya. "Jangan terlalu dipikirkan, omongan Eyang semalam. Ibu yakin kamu pasti bisa memilih mana yang terbaik untukmu." Ibu Sari seraya tersenyum.


Adel memeluk erat sang ibu yang telah melahirkan dan merawatnya selama ini. "Maafkan Adel ibu, Adel belum bisa memilih, Adel tak tau harus berbuat apa." Tangisnya pecah. Ibu Sari dengan setia mengusap punggung Adel yang bergetar karena tangisnya.


"Menangislah, jika itu bisa membuat bebanmu sedikit berkurang, Ibu tak akan memaksamu, pilihan ada ditanganmu, ibu hanya bisa mendukungmu. Asalkan putri ibu ini bahagia."


Adel hanya menganggukkan kepalanya, suaranya tercekat ditenggorokan. Banyak sekali yang ingin dia ucapkan, namun tak bisa keluar. Setiap kalimat yang telah dia susun hilang begitu saja.


"Sudahlah, bagaimana kalau kita jalan-jalan, refresing, sudah lama kita tak melakukannya bukan? Kebetulan ada beberapa barang yang ingin ibu beli. Bagaimana kalau kau menemani ibu?" Ibu Sari mengajak Adel berbelanja, itu sudah menjadi tugas Ibu Sari sekarang. Mengurus keperluan dirumah ini, walaupun ada yang bertanggung jawab. Tetapi Ibu Sari sering membantu mereka.


"Baiklah, ibu tunggu sebentar Adel belum mandi. Heheee..." Adel tertawa menampilkan deretan giginya yang rapi.


"Ya, ibu akan menunggu dibawah, ibu juga akan mengganti pakaian." Ibu Sari meninggalkan Adel, menuju ke kamarnya.

__ADS_1


Adel masih terpaku, belum bergeser sedikitpun. Dia masih memikirkan ucapan Eyang semalam. Untuk menggantikannya meneruskan usaha yang telah beliau rintis dari nol.


"Adel, Eyang sudah semakin renta, dan Eyang tak mungkin terus memegang kendali. Bahkan saat ini, Paman Irawan yang menggantikan Eyang. Apa tak ada sedikitpun niat dihatimu? Untuk membantu Eyang."


"Tapi Adel masih punya tanggung jawab Eyang, Baby El masih membutuhkan ASI dari Adel. Dan Adel belum bisa meninggalkannya begitu saja. Terlebih...." Adel nampak berfikir, bagaimana dia memberitahukannya pada Eyang dan Ibunya.


"Terlebih keluarga mereka sudah membantu biaya pengobatan ibumu? Itu maksudmu?"Adel hanya diam, ia tak berani mengangkat wajahnya. Dan memilih menatap ujung jarinya yang saling menaut dibawah meja.


Adel masih diam, tak berani menjawab pertanyaan Eyang. "Atau kau tak ingin jauh dari Henry yang manja itu?" Eyang tersenyum mengejek.


"Atau karena perjanjian itu?" Adel tersentak, dari mana Eyang tahu? Padahal tak ada yang mengetahuinya. Termasuk ibunya.


"Tidak Eyang, Adel terlanjur menyayangi bayi itu, dan sudah menganggap anak Adel sendiri. Dan Adel ikhlas melakukan ini." Suara Adel sedikit bergetar karena menahan tangisnya.


"Perjanjian apa yang kamu maksud El? Apa ini semua karena Ibu?" Ibu Sari datang dari dapur, membawa minuman untuk mereka bertiga.


"Ti-tidak ibu, bukan, bukan masalah ibu. Ya hanya perjanjian Adel akan meninggalkan El setelah lulus ASI. Hanya itu bu." Adel sedikit gugup, ibunya pasti akan marah, jika mengetahui yang sebenarnya.


"Jangan tanya Eyang tahu dari mana Adel, itu bukanlah hal yang sulit bagi Eyang. Dan Eyang ingin secepatnya mengenalkan kamu pada semua staff dikantor." Suara Eyang tegas dan tak ingin dibantah. Adel menghela nafas panjang. Dan membuangnya perlahan.


Kenapa masalahnya jadi serumit ini? Adel memijat pelipisnya. Dia kembali melanjutkan niatnya untuk mandi.


Setelah bersiap, Adel menemui Ibu Sari. Mereka pergi ke supermarket terdekat yang lengkap dan terjangakau.


Dilampu merah, mobil yang Adel tumpangi berhenti, tepat didepan mobil Henry. Adel melirik sekilas, Baby El sedang bermain bersama Arga di kursi samping kemudi. Wulan duduk dibelakang, tetapi mereka tak melihat Adel. Karena jaraknya cukup jauh, dan mereka tak menyadari keberadaan Adel yang duduk dikursi penumpang bersama Ibu Sari.


Arga terlihat sangat menyayangi El, dia lebih sedikit mencair, dengan kedekatannya dengan El. " Kau lihat apa El?" Tanya Arga, yang memperhatikan arah El melihat.


"Tuuuu... Mamiiiii.." Tetapi Adel sudah pergi, karena lampu lalu lintas sudah berubah warna. Arga dan Henry menoleh bersamaan. Dan tak mendapati siapapun.


"Kau pasti sangat merindukan Mami Adel ya, sampai kau terbayang wajahnya." Arga terkekeh, bayi saja mengerti, bagaimana perasaan rindu.

__ADS_1


Henry hendak menjenguk Tuan Wira, sekaligus menjemput Adel. Tetapi tak ada dirumah, mereka akhirnya menuju arena bermain di mall yang tak jauh dari rumah Tuan Wira.


"Nahhh, kita sudah sampai." Henry memarkirkan mobilnya didepan loby utama. Mereka turun dan menyerahkan kunci mobil pada petugas untuk parkir.


"Biar aku yang menggendongnya Ga." Henry mengulurkan tangannya, El dengan semangat menyambutnya.


"Lan, kau jangan jauh-jauh, nanti hilang tau rasa." Ledek Henry, yang melihat Wulan jalan agak jauh dibelakang.


"Tidak Tuan, Sa- ..."


"Dia sudah Tua, kalaupun hilang bisa pulang sendiri." Arga memotong ucapan Wulan. Wulan hanya mendengus, dia melirik pada Arga. Namun yang dilirik hanya acuh.


"Dasar pilar lampu, menyebalkan." Ucap Wulan lirih, namun masih terdengar Arga.


"Berani kau mengataiku?" Arga menatapnya tajam. Membuat nyali Wulan menciut.


Henry geleng-geleng kepala melihat kelakuan absurd dua orang dibelakangnya. " Awas nanti kalian berjodoh." Ledek Henry.


"Jangan sampai, aku jatuh cinta padanya." Arga membuang muka kesamping. Namun wajahnya menampakkan pose terkejut, dia seperti melihat Adel disana. Arga mengerjapkan matanya, namun Adel sudah menghilang. "Ahh mungkin halusinasi ku." ucapnya dalam hati.


"Aku juga tak mau punya pasangan sepertimu, kaku, seperti pilar lampu." Wulan mencebik.


"Ku doakan kalian benar-benar berjodoh. Hahaha.." Henry meninggalkan dua orang itu, menuju arena bermain anak.


El menyambutnya dengan antusias, disana El sangat senang, lari kesana kemari, mandi bola, bermain mobil-mobilan bersama Henry. Tanpa mengindahkan dua orang yang sedari tadi saling mengacuhkan.


Wulan dan Arga merasa bosan, hanya melihat keakraban ayah dan anak itu. Mereka menunggu di kafe yang tak jauh dari tempat El bermain.


TBC


Terima Kasih

__ADS_1


__ADS_2