
Terus dukung Baby El ya kakak semua, dengan like, komen dan vote sebanyak-banyaknya.
Happy Reading
πππππππ
Adel mengerjap, memijat keningnya yang terasa berat. "Apa aku mimpi?" gumamnya. Adel melihat sekelilingnya, sepertinya tak asing, dengan bau obat-obatan yang menyengat. Adel ingat dia dalam perjalanan kerumah sakit tadi. Dan kemudian gelap, Adel tak mengigat apapun.
Wulan masuk, lengkap dengan jas putih dan snelli di tubuhnya. "Kau sudah bangun Adel, membuatku kuatir saja" Wulan memeriksa Adel. Detak jantungnya normal, tetapi tensi darahnya rendah.
"Kenapa aku bisa disini? Dan, dimana El?" Adel segera turun dari ranjang tempatnya berbaring. Sekarang Adel ingat, ini adalah ruangan yang sama dimana dulu dia menginap, saat merawat El untuk pertama kalinya.
"Dia diruangan sebelah, El demam, sempat mengigau, memanggil Mami, Mami dan Mami. Dan..." Wulan mengirup udara yang banyak kemudian membuangnya perlahan.
"Dan apa? cepat katakan padaku, jangan membuatku takut" Adel menggoyangkan bahu Wulan. Wajahnya menunjukkan rasa cemas dan kesedihan yang mendalam.
"Hei, tenanglah, tadi memang dia sempat kejang, karena panasnya terlalu tinggi, tapi sekarang sudah bisa diatasi. Tapi dia masih dalam pemantauan" Wulan menjelaskan kronologi kejadian yang dialami El. Dia juga memberitahukan kondisi El yang terus menurun semenjak pulang dari kediaman Wiranata.
Adel mengepalkan tangannya, dia sangat marah pada si manusia kutub. Apa yang ada diotaknya itu? sampai dia harus menutupi hal seperti ini padanya. "Dasar bodoh" gumam Adel. Namun masih didengar Wulan.
"Kau mengatai ku bodoh?" Wulan tak terima dikatai bodoh. Adel menepuk keningnya, kenapa malah jadi salah paham gini sih? bati Adel.
"Bukan kamu Lan, tapi si manusia kutub, Daddy nya El" Adel mer***** ujung blazernya. Dia sangat menyesal membiarkan El dibawa pulang waktu itu, seharusnya Adel tetap membiarkan El bersamanya. Pasti semua ini tak akan terjadi, semua sudah terjadi, tak ada gunanya sekarang menyesal.
__ADS_1
Adel sudah tak sabar ingin menemui El, dengan langkah pasti, Adel menuju ruangan dimana El dirawat. Hatinya berdenyut, kenapa dia harus kembali melihat bayi tampan itu dengan peralatan medis. Jiwa keibuan Adel meronta, bayi tampan yang menggemaskan itu terbaring lemah disana.
"El, bangunlah Daddy mohon" suara Henry bergetar, tampak penyesalan mendalam darinya. Didalam ruangan hanya ada Henry, Tuan dan Nyonya Syahreza menunggu diluar. Adel masuk dengan izin dari kakek dan nenek El.
Entah keberanian dari mana, Adel menarik lengan baju Henry, hingga mereka berdiri sejajar.
Plakkkk
Henry memegangi pipinya yang terasa panas. Dia melirik pemilik tangan yang berani menyentuh pipinya, rahangnya mengeras, mengetahui orang yang paling tak diharapkan ada dihadapannya. Henry melepaskan tangannya dari El, bayi itu memang tidur selalu menggenggam tangan Henry. Seperti takut ditinggalkan.
"Berani sekali kamu datang kesini huh, untuk apa kamu datang? bukankah kamu lebih baik bersama orang itu" Henry sangat marah melihat Adel, terlebih Adel mengetahui sisi lemahnya.
"Aku yang seharusnya bertanya, kenapa kau menyembunyikan ini dariku? Kenapa kemarin kamu berbohong?" Adel mendorong Henry dengan penuh tenaga, namun tubuh kekar itu hanya mundur beberapa langkah.
"Apa kamu pikir aku setega itu membiarkan El dalam masalah? Aku juga menyayangi El, kau jangan pernah lupa, darah ku mengalir di tubuhnya. Kau harus ingat bahwa El masih membutuhkan ASI dari ku" bentak Adel, dia memukul dada bidang Henry tanpa ampun. Air matanya membanjiri pipi mulusnya.
"Apapun yang terjadi, aku juga Ibu El, kalau kau masih tetap egois, memikirkan perasaanmu sendiri, lebih baik El ikut dengan ku. Dia pasti bisa bahagia, aku akan merawatnya sepenuh hatiku" suara bergetar, seiring tangis yang semakin memilukan, menyayat hati orang yang mendengarnya.
"Dasar bodoh, kenapa kau bodoh sekali? Aku tak ingin lagi kehilangan El, aku sudah kehilangan putri ku, jadi aku tak akan membiarkan El pergi dariku. Apapun akan aku lakukan agar dia tetap bersama ku" suara Adel melemah, dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Mendengar keributan di dalam, Tuan Abimanyu dan istrinya masuk, mereka berdua hanya saling melirik. Menyaksikan tontonan menarik dihadapannya. "Biarkan mereka meyelesaikan masalah mereka Mom, kita tunggu diluar" Tuan Abimanyu merangkul bahu istrinya, membimbing istrinya untuk keluar dari sana.
Dengan keberanian penuh, Henry membawa Adel dalam pelukkannya. "Maaf" satu kata keramat yang Henry ucapkan. Selama ini Adel baru sekali mendengar Adel meminta maaf padanya dengan tulus. Adel tak mengelak, dia semakin terisak.
__ADS_1
"Maafkan aku, kau boleh menghukum ku, memukul ku, apapun yang kau inginkan, asalkan kau bersedia terus bersama El" Adel mendongakkan kepalanya, mencoba mencari kebohongan dari sorot mata Henry. Tapi dia tak menemukan apa yang dia cari, justru malah sebaliknya. Tatapan memohon, yang baru sekali ini Henry perlihatkan. Dia merendahkan dirinya untuk El.
"Dasar bodoh" Adel kembali memukul Henry, namun kali ini tak menggunakan tenaga. Dia segera menjauhkan diri, namun Henry kembali menariknya. Adel berusaha melepaskan diri, namun tenaganya tak mampu menyaingi Henry.
"Diam, sebentar saja" Adel tak bisa diam, dia harus segera menjauh, atau Henry akan tahu bahwa jantungnya sedang maraton. "Lepas" Adel masih berusaha menjauh. Hingga suara El membuatnya harus melepaskan Adel.
"Ini semua gara-gara kamu" ucap Adel dengan ketus, dia segera berbalik menuju El. Henry menarik sudut bibirnya, membuatnya sedikit tersenyum, hanya sedikit, sehingga hanya dirinya yang tahu. Dia juga merasakan hal yang sama, ada apa dengan jantungnya? mungkin dia harus segera menemui Dokter Alvin untuk memeriksakan kesehatannya.
"Uhuuuuu haaaaaa, Maaammmmiiii" El menangis, sudut matanya basah bahkan mengalir. Tetapi matanya masih terpejam, dan posisinya masih terlentang seperti semula. Tak bergeser sedikitpun.
"Maaammmmii Eyyyy" El terus memanggil namanya, dalam keadaan tidak sadarkan diri. Bagaikan dihantam pedang, hati Adel mencelos, bagaimana bisa El sampai seperti ini? Bodohnya dia yang tak peka dengan perasaannya selama ini. Andaikan dia menahan El, andaikan dia tak membiarkan El pulang. Beribu andai kata didalam pikirannya.
Adel menatap Henry, seolah sedang bertanya, apa yang sebenarnya terjadi pada bayi itu. Henry mendekat, dia menarik kursi meraih tangan Adel untuk duduk disebelah El. "Bicaralah, dia hanya merespon ucapan orang yang dia kenal. Terutama kau, dia selalu mengigau, memanggil namamu. Genggam tangan kecil ini, sentuh dia dengan lembut"
Adel melakukan apa yang Henry perintahkan, tanpa bertanya sedikitpun, Adel meraih tangan mungil El, mengusapnya penuh sayang. Adel tak tahan lagi, tetesan air matanya jatuh tepat dipunggung tangan El.
Adel mendekat, mengecup El cukup lama, mengusap air matanya, dan membisikkan sesuatu. "El, sayanggg, ini Mami, maafin Mami baru bisa datang kesini" Suaranya tercekat di tenggorokan, membuat Adel tak mampu lagi berucap. Hanya tangisan yang menggambarkan suasana hatinya saat ini.
TBC
Bunda, ibu, mama, tante, kakak semua, udah author keluarin El nya yah, jangan sedih lagi. Sebagai gantinya nanti Insya Alloh akan ada satu episode khusus El. Itupun kalau setuju, kalau gak juga gak apa, terima kasih masih setia mengikuti Baby El dari awal sampai di posisi ini. Kiss halu dari author ππππππ
TERIMA KASIH
__ADS_1