
Terus dukung Baby El y readers, dengan like komen dan vote sebanyak-banyaknya.
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐💐
Henry masih terdiam, memegang setir kemudi. Dia tak juga melajukan mobilnya, padahal lampu lalu lintas sudah berubah warna hijau. Suara klakson kendaraan lain memekakkan telinga, menyadarkan Henry dari lamunannya.
Henry melajukan kendaraanya menjauh dari persimpangan jalan, berbelok kearah jalan yang tak terlalu lebar, lalu lintas dia arah. Dia mengambil kotak beludru dari saku jas mahalnya, dia membuka dengan sebelah tangannya. Sementara tangan satunya masih fokus mengemudi.
Sesekali Henry melirik isi dari kotak beludru itu, membayangkan bahwa dia tengah menyematkan pada jari manis Adel. Henry tersentak saat mobil di depannya tiba-tiba berhenti. Membuat kotak beludru terlempar ke kolong kemudi.
Henry mencoba meraih kotak itu, namun tangannya tak dapat menggapainya. Henry kembali mengerem ketika mobil yang tadi berbelok kearah kiri. Henry tak menyadari dia ada di persimpangan. "Si**, kenapa pakai jauth sih?" Henry menggerutu.
Henry masih mencoba meraih kotak merah itu, sehingga fokusnya terbagi. Disebelah kiri ada pengendara motor, dia hendak menyalip namun terlalu ke kanan. Dari arah berlawanan, sebuah truk dengan kecepatan tinggi berjalan tak tentu arah, membuat Henry tak sanggup lagi menghindari kecelakaan.
Brakkkk
Suara hantaman yang sangat keras, membuat warga yang beraktifitas di sekitarnya berhamburan mendekat lokasi kejadian. Beberapa kendaraan dibelakangnya turut berhenti, Mobil yang dikendarai Henry hancur dibagian depan, begitupun truk yang menabrak pohon besar.
"Cepat tolong mereka" teriak pengemudi ojol yang mangkal diwarung tak jauh dari lokasi. Mereka membuka paksa pintu mobil yang kacanya pecah, Henry berlumuran darah, namun dia berhasil mengambil kotak beludru merah. Supir truk hanya mengalami memar dan beberapa luka dilengan karena pecahan kaca.
Mereka dilarikan ke rumah sakit terdekat, dengan bantuan dari pengemudi mobil yang berbaik hati membawa korban. Karena jika menunggu ambulans mereka takut nyawa Henry tak tertolong lagi. "Bawa mereka ke mobil saya, kebetulan saya mengenalnya" ucap pemilik mobil.
"Ayo bantu aku mengangkatnya" seorang yang bertubuh kurus tinggi mengajak temannya. "Ayo cepat kita bantu" ucap yang lainnya.
Henry masih sempat mendengar teriakan orang-orang disekitarnya, dan menggenggam erat benda berharga miliknya. Namun tak lama, setelah itu dia tak mengingat apapun. "Tuan dia banyak kehilangan darah, sebaiknya kita bergegas" ucap sang asisten.
__ADS_1
"Biar aku yang mengemudi, kau bantu dia dibelakang" Dia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, namun masih memperhatikan keselamatan. Gak lucu kalau menolong orang tapi dirinya malah membahayakan diri sendiri. Itu moto dalam dirinya.
15 menit mereka sampai dirumah sakit cukup besar tak jauh dari lokasi kejadian. Dokter jaga sudah bersiap, beserta beberapa orang lainnya dibantu suster. "Lakukan yang terbaik" ucap orang yang mengantar Henry. Begitupun supir truk yang menabrak Henry, dia segera diobati untuk mencegah infeksi.
"Pasien terlalu banyak kehilangan darah, dan dia memerlukan donor darah saat ini, sedangkan setok darah berdasarkan golongan darahnya disini sedang kosong" ucap seorang dokter muda keluar dari ruang ICU.
"Apa golongan darahnya?" tanya orang itu.
"Rhesus negatif, golongan darah yang snagat langka, atau Anda bisa menghubungi keluarganya" titah sang dokter muda.
"Apa kau menemukan sesuatu disana? ponsel atau alamat rumahnya?" orang itu bertanya pada anak buahnya. Ponsel Henry ternyata habis baterai, membuatnya tak tahu harus menghubungi siapa.
"Tapi saya juga menemukan ini, dia menggenggam erat benda ini Tuan" Liam, sang asisten memberikan kotak merah yang sedikit ada noda darah.
Kamu sudah melangkah sejauh ini, kuharap kamu tetap bertahan, agar perjuangan mu tak sia-sia. Aku akan membantumu, jadi kamu harus berusaha untuk dirimu sendiri.
"Li, cari tahu keluarga orang ini, segera hubungi keluarganya, dan beritahu keadaan disini" Liam mengangguk, setelah Tuan nya pergi dia menghubungi anak buahnya untuk melaksanakan perintah yang baru saja dia dapatkan.
...----------------...
Di rumah sakit lain, Adel kuwalahan menghadapi El yang tak berhenti menangis. Awalnya El tertidur dan begitu bangun dia langsung menangis. Disana juga ada Wulan dan Nyonya Amel, berbagai cara mereka lakukan, namun tangis El tak kunjung mereda. Nyonya Amel juga merasa tiba-tiba jantungnya berdetak sangat kencang, namun ia berusaha menepisnya, saat ini prioritasnya adalah El.
Adel menimangnya, membelai lembut punggung El, berharap dengan begini El akan tenang. Namun bayi itu semakin terisak, bahkan suaranya serak nyaris tak terdengar karena tangisnya tak kunjung mereda.
"Ssstttt, tenanglah sayangggg" Adel memeberikan susu, namun El tak mengindahkan niat Adel. Berbagai mainan juga ada disana, tak satupun yang menarik perhatian bayi itu.
"Lan, kita harus bagaimana? Kasihan El, dia pasti lelah menangis terus" Wulan pun tak tahu lagi bagaimana caranya, sedangkan dokter Alvin masih dalam perjalanan, dia baru saja pulang ketika Wulan memberitahukan keadaan El. Tanpa fikir panjang, Dokter Alvin berbalik arah kembali ke rumah sakit. Dia juga menghubungi dokter yang menangani El selain Wulan.
__ADS_1
Wulan tak ada pilihan lain, dengan instruksi dari Dokter Alvin, dia memberikan El obat tidur sesuai dosis yang diperbolehkan. "Maaf sayang" Wulan menyuntikkan obat pada selang infus, karena El tak mungkin meminumnya langsung.
"Apa Henry menghubungi mu?" Setelah El sedikit tenang, Nyonya Amel menanyakan tentang Henry. Seharian ini tak ada kabar darinya, sebelumnya Henry tak pernah lepas dari El. Sesibuk apa dia sampai melupakan El yang sedang sakit.
"Tidak" Adel menggelengkan kepalanya, dia juga merasa heran, tapi mencoba berprasangka baik. Mungkin urusan dikantornya menumpuk karena Henry sudah lama tak datang ke kantor.
"Ada apa Nyonya? atau sebaiknya Anda menanyakan pada Arga atau Tuan Abimanyu" ucap Wulan.
"Ya kau benar, aku sampai melupakannya" Nyonya Amel menghubungi suaminya,tetapi tak ada jawaban. Dia beralih ke nomor Arga, tapi sedang sibuk. "Ada apa dengan mereka? Tak ada satupun yang menjawab telepon ku" Nyonya Amel mendengus sebal, tak ada satupun yang meresponnya.
"Mungkin mereka sedang sibuk Nyonya" Wulan berusaha menenangkan.
"Wulan benar, tadi pagi dia bilang akan ada klien penting dari luar negeri" Adel memberitahukan Henry yang sempat berpamitan padanya.
"Tapi tak seharusnya dia mengabaikan El, dia kan Daddy nya, terlebih kondisi El belum sepenuhnya pulih" Nyonya Amel menggerutu.
Ditempat lain, setelah mendapatkan kabar tentang Henry, Tuan Abimanyu dan Arga segera menuju rumah sakit yang dimaksud. Mereka datang dengan wajah panik, terlebih orang itu bilang henry masih diruang ICU.
"Dimana dia?"
.
.
TBC
Yang minta nambah up udah diturutin ya, jangan lupa tambah jumlah vote nya juga kakak.
__ADS_1
TERIMA KASIH