
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐
"Daddy..." El menarik ujung jas yang dikenakan Daddynya. Mami Adel sibuk dengan Baby Al yang rewel.
"Ya, ada apa, hmm?" Henry mensejajarkan dirinya dengan putra tersayangnya. Ia memeluk El erat, seolah tak ingin terpisah dengannya.
Suasana sedang riuh, akan tangisan dan rengekan atas kepergian Ama untuk selamanya. Pagi ini, Henry dan Arga berencana mengajak anak dan istri mereka untuk berkeliling kota kelahiran Daddy Abi. Tetapi saat kembali, mereka dikejutkan dengan keadaan Ama yang telah terbujur kaku. Padahal saat berangkat semuanya baik-baik saja. Bahkan Ama masih sempat tersenyum dan mengantar kepergian mereka.
"Daddy jangan sedih lagi. Kata Ama, kalau Daddy sedih Ama juga sedih di surga sana." Hibur El. Ia mengusap jejak air mata di wajah Daddynya. Bukan berhenti, air mata Henry semakin menderas. Ia begitu terharu mendengar ucapan bocah 6 tahun itu.
"Iya, Daddy nggak sedih lagi." Henry memaksakan senyumannya dan kembali memeluk El.
Suasana duka menyelimuti kediaman Ama. Banyak yang datang untuk berdoa dan mengucapkan bela sungkawa. Termasuk keluarga dari besan Tuan Edric.
Flash Back On
Henry dan Arga telah meninggalkan mansion untuk berjalan-jalan membawa anak dan istri mereka. Ama kembali duduk di kursi rodanya, menatap kepergian cucu dan juga cicitnya. "Mel, Ama sangat bahagia." ujarnya mengusap punggung tangan Nyonya Amel yang memegangi kursi rodanya.
"Yes, Mam. Amel juga sangat senang melihat mereka hidup bahagia bersama keluarga mereka masing-masing."
"Aku mau istirahat, rasanya tubuhku sangat lelah." Ama terkekeh, hanya berjalan dari ruang makan ke pintu utama sudah membuatnya sangat lelah. Ia seperti telah melakukan pekerjaan yang sangat berat.
"Baik, Mam." Nyonya Amel mendorong kursi roda Ama ke kamarnya. Namun sebelum itu, Ama meminta segelas susu hangat sebelum kembali merebahkan tubuhnya.
Nyonya Amel memijat kaki Ama untuk mengurangi rasa pegal yang dikeluhkan Ama. "Mam, Aku akan menemui Edric dulu." Pamit Tuan Abimanyu. Ia sudah berjanji sebelumnya, bahwa ia dan Tuan Edric akan menemaninya ke peternakan.
"Iya, jangan terlalu lama, Dad." ucap Nyonya Amel. Menatap punggung sang suami yang semakin menghilamg di balik pintu.
__ADS_1
Rumah tampak sepi, hanya ada beberapa pelayan yang bertugas. Ama sudah terlelap, seiring pijatan menantunya yang membuatnya sangat mudah tertidur. "Istirahatlah, Mam. Amel mau membuat kue untuk anak-anak nanti." Nyonya Amel menyelimuti tubuh Ama hingga menutupi perutnya. Ia kemudian melenggangkan kakinya menuju dapur.
Nyonya Amel begitu serius menata hasil karyanya yang masih mengepulkan asap di atas piring saji. Sudah tengah hari, sebentar lagi Henry dan yang lainnya akan kembali. Karena mereka bilang tak kan pergi lama.
"Mami pasti suka kue ini." gumam Nyonya Amel. Ia sengaja membuat kue yang tidak mengandung gula. Dan menggunakan pemanis alami untuk Ama.
Suasana rumah tampak sepi, derap langkah Nyonya Amel begitu ketara membentur lantai marmer yang dipijaknya. Ia membawakan kue kesukaan Ama dengan penuh semangat.
"Mam, bangun dulu. Amel buatkan kue kesukaanmu." Nyonya Amel meletakkan nampan berisi kue dan segelas air putih hangat di atas nakas. Ia kemudian duduk disamping ranjang dan mengguncang tubuh Ama pelan.
Hampir 3 jam lamanya Nyonya Amel berkutat di dapur. Ia membuat berbagai macam kue untuk anak dan juga cucunya nanti. Terlebih Tuan Edric akan membawa serta menantu serta cucunya. Membuat Nyonya Amel sengaja membhat lebih banyak kue.
Melihat tak ada respon, Nyonya Amel kembali mengguncang tubuh Ama dengan lebih kencang. "Mam, ini sudah siang. Waktunya minum obat." ujarnya.
Masih tak ada respon, Nyonya Amel mengusap wajah Ama yang sedang tertidur dengan senyum menghiasi wajah senjanya. Terasa dingin. Mungkin karena pendimgin ruangan. Pikirnya.
Nyonya Amel menyingkap selimut yang menutupi tubuh Ama. Tangan Ama juga terasa dingin. Dan... tiada degub jantung yang terdengar sama sekali. "Mami, jangan bercanda. Amel sangat takut, Mam." Buliran air matanya menderas, menganak sungai, membasahi wajahnya. Sebagian mengenai tubuh Ama yang diguncangnya dengan kencang.
"Mami, bangun Mam." Teriakan Nyonya Amel membuat para pelayan berhamburan ke kamar Ama. Mereka terlihat bingung mendapati Nyonya Amel yang menangis, meraung-raung memanggil Ama. Tetapi Ama tetap diam, tak merespon apapun.
"Nyonya, ada apa ini?" tanya salah satu pelayan.
"Panggil suamiku, juga Tuan Edric kemari. Panggil juga dokter yang biasa merawat Ama." ucapnya beruntun. Tanpa banyak bertanya, mereka membagi tugas untuk menghubungi orang-orang yang dimaksud Nyonya Amel.
Tuan Abimanyu datang tergopoh setelah menerima panggilan. Diikutk Tuan Edric beserta putri dan menantunya. Tak lupa memberitahu Henry dan Arga untuk segera kembali ke mansion saat itu juga. "Dimana istri saya?" tanyanya saat pertama kali memasuki halaman mansion.
"Ada di kamar Nyonya Tua."
Tuan Abimanyu menerobos masuk kamar Ama yang terbuka sebagian. Dokter sudah selesai memeriksa Ama. "Maaf, Tuan, Nyonya. Dengan sangat menyesal Saya mengatakan bahwa Nyonya Tua sudah tiada. Saya mengucapkan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya." Dokter menutup kembali sebagian tubuh Ama yang sudah tak bernyawa.
__ADS_1
"Dokter jangan bercanda." Tuan Abimanyu menguncang bahu dokter itu.
"Huuhuuu... Dokter tak bercanda, Dad. Mami sudah pergi." Nyonya Amel merengkuh Tuan Abimanyu dari belakang.
"Ini nggak mungkin, Dok." timpal Tuan Edric. Ia meneliti tubuh Ama yang terlihat seperti tengah tertidur. Tetapi sama halnya dengan Nyonya Amel. Tubuhnya terasa dingin. Dan tak ada hembusan nafas dari hidung, serta detak jantungnya telah berhenti bekerja. "Mamiii... Huuu...huuu..."
Suasana duka menyelimuti ruangan tersebut. Tak terkecuali Prety, putri Tuan Edric yang begitu dekat dengannya. Ditinggalkan oleh ibu kandungnya disaat usianya masih 10 tahun. Tuan Edric memilih membesarkan putrinya seorang diri. Bersama Ama yang menggantikan tugas seorang ibu untuk mendampingi Prety dan Tuan Edric.
Flash Back Off
"Dad, benar yang dikatakan El. Ama sudah bahafia bersama Apa di atas sana. Kita harus ikhlas." Adel duduk disebelah suaminya. Baby Al sudah tertidur dalam dekapannya. Sejak semalam ia rewel, untuk itulah Henry berinisiatif membawanya keluar.
Henry merengkuh Adel berserta kedua anaknya kedalam pelukan. Rasanya begitu singkat pertemuan dengan Ama di saat terakhirnya. Seharusnya ia tak pergi keluar. Agar dapat menemani Ama di detik-detik terakhirnya.
"Bukan hanya Kamu yang kehilangan. Tetapi Aku, kita semua juga merasa kehilangan." Arga menepuk bahu Henry setelah berhasil mengutai pelukannya.
"Benar, semua pasti pernah mengalaminya. Kita hanya harus merelakan kepergian Ama." ucap Wulan. Arlan tengah tertidur di kamarnya. Ia berusaha menguatkan mereka. Bagaimanapun juga, Wulan juga sedih. Ia teringat akan kepergian Ibu dan Ayahnya. Ayah Wulan sudah meninggal saat usia Arlan baru dua bulan. Tentu saja hal itu merupakan pukulan yang berat untuknya. Beruntungnya ia memiliki keluarga yang selalu bersedia disisinya.
Tangis kehilangan mengiringi kepergian Ama hingga proses pemakaman selesai. Sesuai permintaan Ama, beliau dikebumikan bersebelahan dengan mendiang suaminya. Tuan Syahreza.
Maaf ya thor naruh sedikit bawang disini. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, komen vote and gift untuk mendukung keluarga besar Syahreza agar tak berlarut-larut dalam kesedihan.
Yukkk kepoin karya terbaru thor.
•> Terjerat Cinta Semu. Kisah Rey dan Dhara.
TERIMA KASIH
__ADS_1