Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
Danau


__ADS_3

Happy Reading


💐💐💐💐💐💐💐


Yang Henry sesalkan, mengapa baru sekarang dia mengetauhi penyakit ginjal yang diderita istrinya? Semua sudah terlambat. Metta telahpergi bersama kesakitan yang selama ini dipendamnya. Semuanya tidak baik baik saja, seperti yang selalu Metta ucapkan.


Jenazah dibawa ke rumah duka. Para kerabat sudah hadir di sana untuk mengucapkan bela sungkawa. Henry tak bergeming. Dia terlihat sangat terpukul dengan kejadian ini.Terlalu banyak pertanyaan dibenaknya. Bagaimana bisa?


Henry mengurung diri dan tidak ikut mengantarkan Metta ke tempat peristirahatan untuk terakhir kalinya. Di dalam kamar yang sempat mereka tempati bersama. Dia menatap nanar pigura foto pernikahan mereka.


"Apa kebebasan yang aku berikan padamu salah? Kau bilang jika cinta gak memaksa. Semakin aku memaksa, kesakitan yang aku dapat, tapi apa ini aku sudah memberikanmu segalanya, segala yang kau inginkan. Inikah balasanmu? Kesakitan ini, kau bahkan membawa semua kebahagiaanku. Katamu aku gak boleh mengedepankan ego. Nyatanya, kau yang egois. Kau menjadikanku sumber pernderitaamu."


"Sayanggg! Aku tulus menyayangimu. aku mencitaimu dengan segenap hatiku. Tapi kau patahkan harapanku, anganku, bahkan mimpiku."


"Hah, bodohnya aku. Kau mengatas namakan cinta. Nyatanya kau hanya memberiku luka."


Henry masih terus mengusap pigura Metta. Matanya sembab. Dimana-mana ada bayangan Metta. Dia harus meninggalkan tempat ini. Yah, kamar ini semua yang ada di sini.


Suasana sepi, semua orang pergi mengantarkan jenazah Metta. Hanya beberapa maid yang membersihkan ruangan.


Henry menuju ke car port tanpa ada yang berani menegurnya. Dia mengendarai mobil sport dan melajukan dengan kecepatan tinggi.


Lelah berputar-putar tanpa tujuan, pemilik alis tebal itu menghentikan mobilnya di tepi danau. Dia ingin meluapkan segala gundah hatinya. Suasana sekitar danau tidak begitu ramai, dia ingin berteriak sepuasnya. Mungkin saja semua kegundahan dan kesedihannya akam sedikit berkurang.


Klotak!


"Aww ...." Henry mengusap kepalanya yang terasa nyeri, pasti memar.


"Hei, Tuan. Kalau kau gila jangan di tempat seperti ini," teriak seorang wanita, dia merasa terusik dengan suara bising yang Henry timbulkan.


"Kau bilang apa padaku? Kau mengataiku gila, hah!" Henry tak dapat mengendalikan emosinya. Ia mengangkat tanganya.


"Tuan mau apa? Tampar, mencekik, atau membunuhku?" Adel tak gentar, dia semakin mendekatkan wajahnya.


"Kau ini benar benar gak punya adab. Ini tempat umum bukan rumahmu."


"Terserah kau saja," Henry hendak pergi. Namun sepatunya terlalu licin, dia kehilangan keseimbangan.


Byur!


Henry terjatuh ke danau bersama wanita yang memakinya. Dia adalah Adel, wanita yang ditemuinya beberapa waktu lalu di rumah sakit. Refleks Henry menarik Adel untuk berpegangan. Namun apa daya, Adel yang memiliki tubuh mungil tidak dapat menahan beban tubuh Henry.


Henry segera berenang ke tepi. Dia melupakan sejenak kesedihannya. Berubah menjadi kesal, marah, dan lihatlah dia seperti tikus got! Basah, bau, dan pakaiannya kotor.


Sementara Adel tidak bisa berenang. Dia terus meminta tolong, tetapi tidak ada orang yang melihatnya.


"Arrgghhh ... dasar kau pembawa sial. Aku harus mandi lumpur di siang bolong begini," gerutu Henry.


Henry sudah berada di tepi. Diraihnya benda pipih dari saku celananya, beruntung masih menyala. Ponsel sultan, berenang tidak akan bermasalah. Dia menghubungi Arga yang saat itu baru meninggalkan pemakaman.


Di mana wanita itu? Dia harus membayar semua kerugian ini. Oh, rupannya dia pandai berakting juga. Teruslah begitu sampai aku memaafkanmu!


Henry hanya melihat Adel dengan senyum smrik. Seolah dia merasa menang. Namun tubuhnya berkata lain, dia menceburkan diri ke danau. Diraihnya tangan Adel yang sudah tidak sadarkan diri.


Henry segera membawanya ke tepi. Orang-orang hanya melihat, tidak ada yang berani mendekat. Mereka mengira hanya pasangan yang bertengkar.

__ADS_1


Henry memberikan nafas buatan, ia sedikit banyak tau tentang CPR. Dia kembali menekan bagian dada dengan kedua tangannya, kembali memberi napas buatan seolah sedang berciuman. Beberapa kali ia melakukannya.


"Uhuk ... uhuk ...." Adel terbatuk. Dia terbelaklak dan langsung mendorong tubuh Henry.


"Aaa ... pria cabul!"


"Hei, berani kau berteriak. Mau aku lempar lagi kau ke danau?" cibir Henry dengan wajah merah dan mata memicing.


"Tuan, kau seperti buta terong. Hahaha ...."


"Berani-beraninya kau mengataiku, hah! Semua ini juga karena ulahmu."


Astaga, Tuan. istrimu baru saja dikebumikan, tapi kau di sini berciuman dengan wanita lain. Gak berakhlak. Dan lihatlah, badut ancol masih lebih tampan darinya. Hahaha ....


Arga hanya bisa mencibir dalam hati. Pemuda itu saja baru tiba di sana. Menikmati perdebatan Henry bersama seorang wanita asing.


"Tuan, apa Anda benaran Tuan Henry?" tanya Arga memastikan.


"****! Mau kukirim ke antartika, hah! Mengenali orang saja kau tidak bisa!" Suara Henry menggelegar, membuat nyali Arga menciut.


"Ma--maafkan saya, Tuan, saya tidak berani."


"Lalu, wanita ini?" Arga menunjuk wanita yang sempat berdebat dengan Henry, penampilannya tak kalah berantakan. Pakaiannya basah, memperlihatkan lekuk tubuhnya, dan ... pakaian dalam.


"Yang membayar gajimu siapa?" Henry menggeram, dia mengambil paksa papper bag yang dibawa Arga. Berlalu dari tempat itu untyk mencari toilet umum.


"Mari saya bantu, Nona," ucap Arga.


"Tidak perlu. Kau urus saja buta terongmu itu!" Adel menepis tangan Arga.


"Ya, orang yang menyebalkan itu."


Kau ingin mengantarkan nyawa pada singa lapar itu,Nona? Nyalimu sangat tinggi, bisa menertawai Tuan Henry. Bahkan mengatainya buta terong.


Arga menelan saliva dengan susah payah, tetapi dia juga kagum dengan keberanian Adel. Dia beeikan empat jempol untuk Adel yang berani menentang Henry.


Sementara itu, Henry telah selesai membersihkan diri, dia kembali menatap Arga yang menunggunya.


"Di mana dia?"


"Dia siapa, Tuan?"


"Wanita sialan itu."


"Sudah saya suruh pergi, Tuan, dia sangat bau," ucap Arga.


Plak!


Henry menonyor Arga.


"Sshhh ...." Arga hanya mendesis mengusap keningnya.


"Kenapa kau biarkan dia pergi, hah! Aku belum membuat perhitungan dan meminta ganti rugi padanya," maki Henry.


Apa? Ganti rugi katanya, di mana harta yang selama ini kau banggakan, Tuan? Masa minta ganti rugi sama wanita?

__ADS_1


"I--iya, Tuan, Maafkan saya ...."


"Maaf katamu?" Emosi Henry kembali meledak.


"Kalau begitu saya akan mencari dan membawanya kehadapan Anda."


"Gak perlu, biarkan dia. Sepertinya dia hanya orang miskin."


Nah, kan, tau miskin masih harus ganti rugi. Apa mungkin otaknya geser karena ditinggal istrinya? atau ada rembasan air danau masuk di kepalanya?


Teriakan Henry mengakhiri khayalan Arga. Mereka meninggalkan danau dengan mobil masing-masing.


Di perjalanan pulang, Henry seakan benar-benar lupa akan kesedihannya. Rasa kesal terhadap Adel membuatnya terlena untuk sesaat. Henry pulang kemansion, dia bergegas ke kamar seperti kebiasaanya.


"Sayang, aku pulang," teriak Henry. Namun tak ada jawaban. Dia mencari ke sana ke mari, di kamar mandi kosong. Dia turun ke lantai satu. Melihat beberapa karangan bunga masing terpampang di halaman.


"Ada apa denganku?" Henry mengusap wajahnya kasar. Dia mendaratkan tubuhnya di kursi, di mana pada hari-hari yang lalu ada Metta yang duduk di sana dengan perut membuncit.


Ingatanya kembali pada pagi ini, di mana sang istri telah pergi untuk selama-lamanya. Wanita itu tidak lagi bisa bersamanya.


"Tuan," seru Arga.


"Hmm."


"Maaf, Tuan, Nyonya Amel ingin bicara dengan Anda."


Henry masih enggan beranjak dari sana. Dia memalingkan wajahnya ke arah lain. Mengabaikan Arga yang masih menunggu reaksinya.


"Tuan," panggil Arga sekali tlagi.


"Emm, antar aku ke sana."


Arga mengekor di belakang Henry, mengantarnya ke mansion utama. Karena setelah pemakaman, kedua orang tua Henry pulang ke mansion yang di tempatinya.


Perjalanan hari ini sangat lambat, sekarang jam pulang kantor. Henry hanya diam, tak seperti biasa, ia selalu mengumpat bila menemui anteran kendaraan yang mengular.


Empat puluh lima menit berlalu, lalu lintas sedikit longgar. Namun, baru beberapa meter melaju, Arga mengerem mendadak. "Hei, kau ingin membunuhku, ya? Lihatlah ini, kau sudah bosan bekerja padaku!" Henry menunjuk keningnya yang sedikit nemerah, mencium kaca jendela mobil.


Hari ini benar benar hari sialku, aku kehilangan istriku, bertemu wanita itu, dan kepalaku. Ah, kepalaku dua kali memar seperti ini. Oh, God.


Henry terus mengoceh, mengusap keningnya sedikit memerah. Dia memang ceroboh karena tidak memasang sabuk pengaman.


"Ma--maafkan saya, Tuan, tapi ...."


"Maafmu gak menyembuhkan memarku."


Mereka sibuk berdebat, sementara Adel merasa dirugikan. Ia mengetuk kaca jendela mobil dengan keras.


"Hei, Tuan. Cepat buka," gerutu Adel, terus mengetuk kaca mobil.


TBC


MOHON DUKUNGAN LIKE KOMEN DAN VOTE YA READERS


TERIMA KASIH

__ADS_1


__ADS_2