
Terima kasih sudah berkenan mampir, Terus dukung Baby El kakak semua.
Dengan like komen dan Vote sebanyak-banyaknya.
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐💐
Edo memegangi kakinya yang terasa ngilu. "Berani sekali kamu yah? Aku tak akan memaafkanmu." Edo terus menyudutkan Adel, kaki Adel yang sakit tak dia hiraukan. Dia berusaha lari, namun pintu sudah dikunci, ruangan ini begitu sempit.
El semakin ketakutan, dia hanya menutup wajahnya menghadap Adel. "Tuan, kamu akan menyesal." Adel melemparkan tas selempangnya, isinya berhamburan. Andaikan difilm action, dengan senang hati dia akan menggunakan revolver mini, untuk melenyapkan Edo si *******t ini.
"Dan aku akan lebih menyesal, ketika membiarkannya hidup. Dia yang sudah menyebabknan Metta meninggal. Kau tak akan tahu rasanya." Edo tak mau melepaskan El begitu saja, begitupun Adel yang menjadi tamemg untuk El. Apapun yang terjadi nantinya.
"Itu tak akan membuatmu puas Tuan, dan lagi apa dengan Anda melenyapkan El akan menghidupkan orang yang sudah mati?" Adel sangat kesal, dimana otak orang ini sebenarnya? Sebegitu cintakah dia? Sehingga membutakan mata hatinya.
"Diamlah! Aku tak butuh ceramahmu, dasar wanita mu*****. Berapa Henry membayarmu? Sampai kau sanggup mengorbankan nyawa tak berhargamu itu?" Emosi Edo semakin memuncak, dia menyeret Adel. Namun Adel berusaha memberontak, dia menggigit tangan Edo.
"Benar-benar kamu yah! Amarrrrr cepat ikat dia!!!" Orang yang dipanggil segera masuk, bersama dua orang algojo. Tentu Adel tak ada apa-apanya dibanding mereka. Sekuat tenaga Adel melawan, tapi sia-sia. Dua orang itu memegangi El. Dan Amar mengambil El dengan paksa.
__ADS_1
"Tuan, aku mohon lepaskan dia, biarkan aku bersamanya. Jangan pisahkan kami Tuan." Adel berteriak, dengan air mata yang sedari tadi mengotori wajah cantiknya. El sudah terlepas dari Adel, dengan leluasa Adel menghajar dua orang yang memeganginya. Tak peduli dengan kakinya yang sakit.
Dengan membabi buta dia menghajar dua algojo itu, bahkan sekalipun bukan tandingannya. Dengan jurus yang dia kuasai, dengan mudah dia mlumpuhkan lawannya. Amar hanya bengong, begitupun Edo. Mereka berdua tak menyangka, Adel yang terlihat lembut ternyata sangat ganas.
"Kalau kau berani melawan, akan kupastikan kau tak akan melihatnya lagi." Edo menodongkan pisau lipat kepada El. Tentu saja bayi itu semakin ketakutan, Adel tak bisa lagi membiarkan El melihat lebih jauh, apalagi diumurnya yang masih sangat kecil. Ini bukanlah hal yang pantas dia lihat. Apalagi dia alami sendiri.
"Oke, aku menyerah, tapi berikan dia padaku." Adel mengangkat kedua tangannya. Tak sengaja Edo menatap El, begitupun El. Tatapan mata El, mengingatkannya akan seseorang, tatapan frustasi yang sering Metta tunjukkan ketika dirinya ada masalah. Edo tersentak, seolah Metta yang sedang menatapnya.
Sekilas bayangan Metta kembali berkelebat, raut wajah Edo menjadi tegang. Ia kembali tersadar, dan berucap, "Amar, berikan bayi itu padanya." Edopun berlalu, meninggalkan ruangan itu dengan tergesa. Dia meninggalkan tempat ini, entah perasaan apa ini. Begitu menyesakkan, sakit, bagian ulu hatinya seperti tertekan beban yang sangat berat.
Edo melajukan mobilnya sangat kencang, dia tahu harus kemana. "Metta, maafkan aku, aku memang orang paling bodoh didunia ini. Bahkan tangan kotorku ini, hampir mencelakai orang yang kau perjuangkan dengan nyawamu." Edo mengacak rambutnya dengan kasar. Duka yang kembali menyelimuti hatinya.
Henry secepatnya bergerak, sayangnya dari rekaman CCTV, tak mendapatkan apapun. Bahkan plat mobil yang digunakan penculik, tak tertera ditempatnya. Sepertinya sudah terencana dengan sangat matang. Siapa sebenanrnya yang berani melakukan ini semua?
"Than, bagaimana hasil penyelidikanmu?" Arga juga turun tangan sendiri, tetapi GPS Adel tak meunjukkan tempat yang sama dengan yang Nathan temukan. "Ku rasa ini hanya tipuan, tetapi mereka tak lebih pintar dari kita." Nathan bisa menebak, karena yang terakhir kali adalah ponsel Wulan yang menghubungi Arga.
"Kalian bersiaplah, aku yakin Tuan Wira juga sudah bergerak." Henry sudah bisa menebak, Tuan Wira tak akan tinggal diam. Adel ikut terlibat dalam masalah ini, dia juga takut, Adel tak akan lagi diizinkan keluar. Tetapi hal itu dia tepis begitu saja. Yang terpenting saat ini adalah keselamatan mereka berdua.
Henry tiba lebih dulu, dia menyelinap masuk, dengan pakaian pengawal, yang sempat ia ganti sebelum berangkat. Awalnya Arga menolak, biar dia saja yang akan menyamar. Tetapi dia juga punya tugas penting. "Tunggu Daddy, kau pasti akan baik-baik saja sayang." Gumam Henry.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama, Beberapa pengawal sudah tergeletak dilantai. Tetapi hal ini tak lepas dari pemgamatan Adi, dia sengaja menaruh beberapa anak buahnya. Sedangkan sebagian lain masih bersembunyi. "Baru segitu saja kemampuanmu anak muda, kita lihat saja. Siapa yang lebih pintar, aku atau kau."
"Ga, apa kau berhasil?" Saat ini Nathan sedang menyetir, dan Arga fokus pada layar dipangkuannya. Sebagai hacker, meretas adalah pekerjaan mudah baginya. "Yah dari pengamatanku, aku sepertinya sudah menemukan dimana orang itu berada." Arga menunjukkan laptop yang masih menyala.
Dia juga membuat denah, berdasarkan CCTV yang berhasil dia dapatkan. "Aku akan bergerak dari sini, kau terus awasi. Jika ada hal penting segera beritahu aku." Arga memulai aksinya, Bersama Bejo dan anak didiknya.
Henry berhasil mengalahkan semua pengawal yang berjaga, tetapi dia juga heran. Tak ada perlawanan yang berarti, ini pasti jebakan. Perse*** dengan semua itu, yang terpenting dia harus segera menemukan El. Satu per satu pintu dia buka paksa.
"Akhirnya kau datang juga anak muda." Adi sudah bertengger di sebuah kursi. Tak jauh dari sana, Adel diikat tangan dan kakinya. Dan dengan leluasa, Adi membawa El. "Cepat lepaskan dia, kalau kau masih ingin hidup." Melihat Henry, El kembali menangis. Bahkan suaranya yang serak nyaris tak keluar.
"Biad**, dasar ba*****, beraninya kau menyakiti anakku." Henry mengumpat kata-kata kasar. Hatinya teriris melihat El ketakutan. "Kalau kau berani mendekat, akan kupastikan pisau ini akan segera bersemayam di tubuh bayi tampan ini." Adi mendekatkan pisau dihadapannya.
Henry harus mencari cara lain, agar El bisa selamat. Saat bersamaan, Edo datang dia baru saja kembali dan melihat para pengawal sudah terkapar. "Kau memang iblis." Edo meludah, dia tak menyangka selama ini dirinya hanya menjadi mainan untuknya. Boneka untuk mencapai setiap tujuannya.
Adi menyeringai. "Hahaha... Kau yang bodoh, dasar anak lemah, tapi aku berterima lasih padamu. Berkat kau sebentar lagi tujuanku tercapai." Saat Adi lengah, Edo merebut El darinya. Adi tak ingin kalah, pisau yang dia pegang melesat begitu saja, mengenai Edo.
Henry mendekat pada Edo. "Cepat kau bawa dia." Edo menyerahkan El, tangan satunya memegangi bagian yang terkena pisau. "Aku tak bisa meninggalkanmu. Kita harus keluar bersama." Henry tak tega harus meninggalkan Edo yang masih bersimbah darah.
TBC
__ADS_1
TERIMA KASIH