
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐
Wulan mulai gelisah, besok pagi ia harus kembali terbang ke Jakarta. Rasanya kalau ada pintu doraemon ia pasti akan membayar berapapun. Mabuk kendaraan, apalagi saat melihat ketinggian membuatnya trauma. "Ga, bisa gak kita pulangnya jangan naik pesawat?" tanya nya di sela acara mengemas barang.
"Terus mau naik apa?" Arga menanggapi Wulan dengan santainya, sambil menikmati kopi hitam yang Wulan suguhkan sebelumnya.
"Bus misalnya, atau kapal juga boleh."
"Kamu yakin gak akan mabuk lagi?" Arga memalingkan wajahnya, menatap Wulan dengan seksama. Tampak keraguan di matanya.
"Aku gak yakin sih." Wulan nyengir kuda, ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Boleh juga sih, jadi masa bulan madu kita akan lebih panjang. Sebulan, eh tidak. Mungkin setelah sampai di Jakarta, kita sudah bisa menggendong bayi." Arga menyeringai, menampilkan deretan giginya.
"Haish, mana ada Ga? Gak sekalian aja berkeliling dunia." Wulan duduk disamping Arga. Ia tak segan-segan menghadiahkan cubitan dipinggang Arga.
"Boleh juga idenya. Aku bisa pikirkan lagi." Arga memegangi pinggangnya yang terasa geli karena cubitan Wulan.
"Argaaaa... dasar suami yang menyebalkan. Aku serius ini." Wulan menghentakkan kakinya ke lantai, ia bicara serius tetapi malah ditanggapi candaan olehnya.
"Hahaa... Aku juga serius, katamu ingin keliling dunia." Arga malah terkekeh melihat Wulan merajuk.
"Terserah." Wulan membanting pintu kamar, ia ingin mendinginkan pikirannya yang terasa mendidih. Setelah menikah Arga semakin menyebalkan menurutnya. Setiap ia membicarakan sesuatu, Arga selalu menanggapi dengan candaan.
"Hadeeuh, gawat nih kalau benaran ngambek. Bisa-bisa puasa sebulan." Arga menepuk keningnya sendiri dan segera menyusul Wulan ke dapur.
...----------------...
Satu bulan berlalu, Wulan dan Arga masih tinggal di apartement. Membuat Lintang lebih betah tinggal bersama Henry dan Adel. Terlebih Nyonya Amel memilih menemani Ama di London.
Pagi ini, Wulan bangun terlambat. Tak seperti biasanya, ia selalu semangat di pagi hari untuk menyiapkan semua keperluan Arga termasuk sarapan. "Lan, bangun dong. Istriku sayang." Arga menggoyangkan Wulan yang masih terpejam.
"Hemmm... masih ngantuk tau." Wulan menutupi dirinya dengan selimut. Arga hanya membiarkan saja, ia bergegas ke kamar mandi dan menyiapkan sendiri pakaiannya.
Namun setelah ia rapi, Wulan masih enggan bergerak dari posisinya. Arga memegangi kening Wulan. "Gak demam kok." ucapnya mengulurkan tangannya kembali. Wulan yang merasa risih menepis tangan Arga dari keningnya.
"Apaan sih? siapa yang demam? Aku lagi malas bangun." ucap Wulan dengan menutup matanya, rasanya sangat berat untuk membuka matanya.
"Ya sudah, istirahat lagi. Aku gak bisa temani, hari ini ada rapat pagi. Jadi Aku harus sampai kantor untuk menyiapkan materi." Arga mengecup kening Wulan dan menyelimutinya kembali.
"Hmmm... beli sarapan sendiri ya. Aku gak masak." Wulan mengibaskan tangannya, ia membelakangi Arga yang masih mengintip di balik pintu.
"Apa mungkin Wulan kelelahan?" batin Arga, kemarin ia dan Wulan mengajak Lintang pergi seharian. Ditambah dengan si gembul yang selalu aktif, pasti membutuhkan banyak kesabaran untuk menghadapi mereka berdua.
__ADS_1
Wulan benar-benar merasa seluruh badannya remuk hari ini. Bahkan untuk sekedar mencuci wajah ia memaksakan diri melakukannya. Dan ia juga hanya memesan makanan dari restoran di bawah untuk mengisi perutnya. Itupun hanya di makan sedikit.
Wulan kembali merebahkan tubuhnya, rasanya sangat nyaman berada di atas kasur. Seharian ini, Wulan tak melakukan kegiatan apapun. Tetapi Wulan tetap memaksakan diri untuk mandi, bagaimanapun, tubunya harus segar supaya rasa malasnya hilang. Begitu pikir Wulan, tetapi setelah mandi. Ia hanya bersantai di depan televisi dengan cemilan ringan.
"Sejak kapan Wulan jadi suka ngemil? bukankah dia bilang takut gemuk?" Arga melirik bingkus makanan yang berserak dimeja. Semua isinya ludes , berpindah dalam sekejap.
"Eh mas suami dah pulang." Wulan nyengir kuda, ia merapikan dirinya. Dan mengelap mulutnya dari serpihan keripik yang ia habiskan baru saja.
"Kamu gak makan? seharian makan beginian?" Arga mengangkat bungkus keripik yang menyisakan sebagian.
"Hehee... udah makan, tuh." Wulan menunjuk banyaknya bungkus makanan yang telah ia habiskan.
Arga hanya menggelengkan kepalanya, sikap Wulan benar-benar di luar kebiasaannya. "Kalau sudah selesai, bereskan sampah ini. Aku mau mandi, gerah." Arga melepas simpul di lehernya, ia juga menanggalkan pakaian kerjanya di depan pintu kamar mandi.
"Mau dong ikutan mandi." ucap Wulan dengan manjanya. Arga mengernyitkan keningnya, merasa heran dengan tingkah Wulan yang semakin aneh menurutnya. Biasanya ia selalu marah jika Arga ikut masuk kamar mandi bersamanya. Tetapi sekarang malah sebaliknya.
Arga memegangi kening dan pipi Wulan. Lagi-lagi Wulan segera menepisnya. "Hobi deh pengang-pegang Aku."
"Kamu sehatkan? Gak lagi mengingau?"
"Ya sudah kalau gak boleh ikut. Gak usah ngatain orang mengigau segala." Wulan membanting dirinya di atas kasur, ia menangis dalam posisi telungkup. Arga dibuat pusing olehnya, apa yang sebenarnya terjadi pada istrinya ini?
"Sabar Ga, sabar...." Arga mengelus dadanya, ia berjalan mendekati Wulan. Duduk di ujung ranjang dan membelai surai panjang istrinya.
Wulan masih terisak, ia bahkan semakin mengeraskan tangisnya. "Huuuhuuu... Kamu jahat..." Wulan bangun dan memukuli Arga.
Astaga, salah makan apa istriku ini? perasaan tadi pagi masih baik-baik saja.
Arga mendesah frustasi, ia mengacak rambutnya sendiri. Tak bisa mengatasi Wulan yang semakin bertingkah aneh. "Iya, maaf ya..." Arga mendekap istrinya, mengusap jejak air mata di wajah Wulan. Sampai Wulan merasa tenang.
"Jadi sekarang udah gak ngambek lagi kan?" Arga menundukkan kepalanya, menatap Wulan yang ternyata tertidur dalam dekapannya. "Cepat banget tidurnya." Arga membenarkan posisi tidur Wulan dengan hati-hati. Ia perlahan menyelimuti Wulan dan segera melanjutkan niatnya ke kamar mandi.
Selesai dengan ritualnya, Arga sudah rapi dengan pakaian santainya. Ia mendapati Wulan sudah bangun dan sibuk dengan gawainya. Wulan mendongakkan kepalanya mendengar suara pintu dibuka. "Kenapa udah mandi sih? Kan jadi gak wangi." Wulan mengerucutkan bibirnya.
"Bukankah Kamu yang menyuruhku segera mandi setelah pulang dari luar?" Wulan yang biasanya sangat menyukai kebersihan, bahkan rumah tak akan ia biarkan kotor sedikitpun. Tak seperti hari ini yang ia biarkan berantakan.
"Mulai sekarang, jangan mandi sebelum Aku meminta mu. Aku suka aroma tubuhmu yang baru pulang kerja, harum. Hmmmm enak banget." Wulan mengendus kemeja Arga yang ia tanggalkan sebelumnya. Membuat Arga semakin merasa penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya pada istrinya ini.
"Haih Kamu jorok banget, itu kan baju kotor. Kenapa malah dikekepin gitu." Arga mengambil kemejanya dan menaruhnya dalam keranjang pakaian kotor.
"Iiiihhhh kenapa diambil sih? Kan Aku lagi menikmati aroma di pakaian Kamu. Siapa suruh mandi duluan." Wulan kembali mengambil baju kotor Arga. Dan menaruhnya di pangkuannya.
"Ini tuh wangi tau, wangi keringat pejuang nafkah." Arga mengabaikan Wulan yang masih bertingkah, Arga juga membereskan bungkus makanan yang berserak di depan televisi. Bahkan televisi masih dibiarkan menyala.
Arga juga yang memasak untuk mereka berdua, terbiasa tinggal sendiri, membuat Arga terbiasa dengan semua pekerjaan dapur. Dalam waktu singkat, ia sudah menyajikan nasi goreng spesial yang menjadi menu kesukaannya.
__ADS_1
Mencium aroma masakan, Wulan mendekati asal aroma makanan tersebut. Ia mengendus makanan yang tersaji di atas meja. "Wahhh... makanan enak nih."
"Hmmm... Aku sudah lama gak masak. Silahkan dicicipi Tuan putri." Arga mengambilkan sendok untuk Wulan. Air liurnya serasa menetes hanya dengan mencium aroma masakan yang Arga buat untuk mereka.
"Enak, ini sangat sangat enak." Wulan makan dengan lahapnya, seperti tak makan seharian. Arga menghentikan suapannya yang baru beberapa suap. Melihat Wulan makan dengan rakus, ia seperti ikut kenyang hanya dengan melihat Wulan makan.
"Kamu gak mau? buat Aku aja ya, Aku masih lapar nih." Wulan menghabiskan nasi goreng yang Arga buat, biasanya Wulan paling menghindari makan malam. Ia hanya memakan sedikit sekali nasi, tapi sekarang? Ia bahkan menghabiskan dua porsi nasi goreng.
...----------------...
Bahkan sampai tiga hari, Wulan masih sama seperti kemarin. Arga selalu salah dimatanya. Sampai di kantor, Arga sedikit terlambat dari biasanya. Ia bahkan tidak fokus dengan pekerjaannya.
"Ga, Kau ini kenapa? seperti orang yang habis putus cinta. Hahaha..." Henry melepar gulungan tisu yang baru saja di rema'nya.
Arga menyugar rambutnya kebelakang, iq menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi. Mereka baru selesai meeting dengan kolega, dan memutuskan untuk makan siang di luar. Sebelumnya, Arga sering membawa bekal yang disiapkan Wulan. Tetapi sudah beberapa hari ini, Boro-boro bekal, ia selalu dipusingkan dengan tingkah Wulan yang semakin menjadi.
"Ini lebih dari sekedar itu, Wulan beberapa hari ini selalu bertingkah aneh." ucap Arga, ia memejamkan matanya sejenak karena kurang tidur.
"Aneh bagaimana?" Henry menumpu wajahnya dengan kedua tangan diatas meja, sepertinya akan mendengar cerita menarik.
"Wulan itu sekarang berubah 180° dari biasanya..."
"Haha... berubah jadi caty women maksudmu?" Henry terkekeh, memotong ucapan Arga.
"Ini lebih parah...." Arga membenarkan posisi duduknya, ia menceritakan semua tingkah aneh Wulan padanya. Termasuk Wulan yang suka mengendus dirinya saat pulang kerja.
"Hahaaa.... mungkin istrimu salah makan apa gitu." Henry tertawa hingga perutnya terasa sakit.
"Sudah puas tertawanya." Arga menatap sebal pada Henry, bukannya solusi tetapi malah ejekan yang dia terima.
"Duhh... sekarang Arga bisa juga merajuk. Tapi kenapa Kau tak tanyakan saja pada Alvin? dia kan dokter."
"Benar juga katamu, besok Aku tanyakan padanya."
"Bukankah istrimu juga dokter? masa iya gak tau sama penyakitnya sendiri?"
"Emangnya bisa dokter mendiagnosis dirinya sendiri? lagi pula Wulan kan dokter anak."
Arga dan Henry menghabiskan sisa waktu makan siangnya dengan membahas masalah Wulan. Setelah itu, mereka tak kembali ke kantor untuk melanjutkan pekerjaan yang tertunda.
TBC
Mohon maaf beberapa hari ini slow update, lagi butuh istirahat sejenak nih. Cuaca di tempat thor cukup ekstrim, pagi panas sore hujan deras. Jadi harus jaga kesehatan ya readers, terlebih dimasa pandemi seperti sekarang.
TERIMA KASIH
__ADS_1