
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐
Ama beristirahat di kamarnya, sesekali Mom Amel dan yang lain bergantian mengintip apakah Ama sudah terbangun atau belum. Namun Ama masih betah dengan posisinya, tidur dengan senyum tak memudar dari wajah yang telah dihiasi keriput.
"Mam, bangun, Mam." Nyonya Amel menyentuh punggung tangan Ama. Ama hanya membuka matanya tanpa menjawab apapun.
"Kita minum obat dulu ya, tapi sebelum itu makan bubur sedikit saja." Ama menggelengkan kepalanya.
"Nggak pengin, Mel."
"Sedikit saja, Mam. Untuk mengisi lambung, Mami sudah janji minum obat teratur. Apalagi sekarang semuanya berkumpul disini. Menemani Mami." Nyonya Amel terus merayu Ama supaya makan sedikit bubur yang sudah disiapkan. Ini sudah lewat jam makan siang. Tetapi Ama hanya makan sedikit pagi tadi.
"Ada apa, Mom?" Henry datang bersama El dan Al dalam gendongan tangannya. Serta Adel dibelakangnya.
"Ama tak mau makan buburnya." ucap Mom Amel, ia menatap sedih Ama yang terbaring lemah di atas ranjang.
"Ama, Adel yang masak buburnya loh. Ama yakin nggak mau nyicip masakan Adel?"
"Atau, Ama kangen disuapi Daddy El?" Henry menyunggingkan senyum manisnya. Ia ingin melayani Ama seperti Ama melayani semua keinginan manjanya dulu.
Ama mengangguk. Ia dibantu duduk dengan bersandar pada bantal yang ditumpuk dibelakangnya. "Jadi, mau Adel atau Henry yang suapin Mami?" tanya Nyonya Amel.
"Biar Henry, Mom. Mungkin Ama kangen dengan Ar, iya 'kan, Ama?" Ama kembali mengangguk. Adel mengambil alih Baby Al. Supaya Henry leluasa menyuapi Ama.
__ADS_1
"Jangan banyak-banyak, Ar."
"Iya, ayo buka mulut. Aaaaa..." Henry menyuapi Ama dengan telaten, layaknya menyuapi Al dan El kecil.
"Mamamam..." Al ingin meraih mangkok yang dipegang Daddynya.
"Cucu Oma lapar? Mau maem ya?" Nyonya Amel terkekeh, mengambil sendok lain dan memyuapi Al dengan bubur yang sama dengan Ama. Tetapi belum sampai dimulutnya. Bayi lucu itu menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Nyonya Amel mengernyitkan keningnya dalam. Tak mengerti dengan maksud Al. "Oma, Al mau suapi Ama." celetuk El yang sejak tadi hanya diam memperhatikan. "Kakak El yang bantu, oke, Baby." El meraih bubur tersebut, membantu Al menyuapi Ama.
"Ama Aaaa..." Ama tentu saja menangis haru atas perlakuan cucu dan cicitnya. "Yeay, Ama pintar." El mengacungkan jempolnya setelah menyuapkan dua sendok bubur untuk Ama.
"Yeayyy..." Al bertepuk tangan mengikuti Kakak El.
"Mami, jangan cium El." El mengusap bekas ciuman dari Mami Adel. Sekarang ini El paling tidak suka dicium, ia selalu mengatakan bahwa dirinya sudah besar. Malu.
"Ahahaha... Kau ini, masih kecil. Ciuman sayang. Nah seperti ini." Henry mendaratkan kecupan di kening putranya. Membuat El semakin merajuk.
"Daddyyy..." El berkacak pinggang dengan mata melotot. Namun hal itu malah membuat Al tertawa kegirangan. Begitupun empat orang dewasa yang memperhatikan perubahan wajah El.
"Ahakkk... Ahhaaaa...." Al bertepuk tangan kegirangan. Ia mengira bahwa El sedang bermain dengannya.
Ama bisa menghabiskan setengah lebih mangkok bubur berkat kelucuan Al dan El. Ama sangat terhibur dengan tingkah mereka. "Sudah, Ama kenyang." Ama menolak suapan yang Henry berikan. Ia sudah merasa kenyang. Karena memang nafsu makan Ama belum pulih seperti sebelumnya.
"Mom, Ama. Sepertinya Al mengantuk, Adel akan membawanya ke kamar." Pamit Adel, Al sudah beberapa kali menguap dengan mata berair.
__ADS_1
"Ama pengin cium Al." ucap Ama dengan suara pelan. Tetapi setelah dicium Ama, bayi itu semakin rewel dan terus mengusap matanya. "Cicit Ama, Kamu sangat cantik." Ama mengusap lengan Al yang terus bergerak.
"Iya, Sayang. Ayo kita bobok." Adel menimang putri kecilnya dalam dekapannya.
"Ama, cepat sembuh ya. Jangan lupa minum obatnya." El mencium punggung tangan Ama sebelum akhirnya mengekori Mami Adel keluar dari tempat Ama beristirahat. Ama semakin terharu, ia seperti melihat Henry kecil dalam diri El. Ama mengangguk pelan dengan mata berkaca-kaca penuh haru.
"Dia mirip sekali denganmu, Ar."
"Yah, mungkin." Henry mengedikkan bahunya. Ia hanya mengingat samar saat dirinya masih kecil dulu.
Nyonya Amel melirik Henry tajam, dengan menggelengkan kepalanya lemah. "Iya, Ama. Ama harus minum obat. Ama harus melihat mereka tumbuh seperti Ama merawatku dulu." Henry mengusap punggung tangan keriput wanita yang telah merawatnya saat Mom Amel dan Daddy Abi sibuk.
"Ama sudah cukup bahagia, mungkin hidup Ama sudah tak akan lama lagi." ucap Ama sendu.
"Mami, jangan bilang seperti itu. Kita semua selalu ada untukmu." Nyonya Amel memeluk Mami mertuanya.
"Ini memang sudah saatnya Mami menyusul Daddymu. Ama sudah ikhlas kapanpun Ama akan dibawa pergi. Ama sangat menunggu hari itu." Wajah Ama berbinar, setiap mengingat mendiang suaminya yang sudah hampir 15 tahun meninggalkannya.
"Amaaa.... Ama harus sembuh. Demi Ar, demi kita semua." Henry turut menitikkan air mata mendemgar ucapan Ama. Mereka saling menyemangati.
"Iya, Kau harus menjadi Daddy yang baik, untuk Al dan El kelak. Apapun kesalahan mereka, jangan menghakimi. Jangan melibatkan emosi saat menghadapinya. Kau panutan untuk mereka, Ar." Ama mengusap puncak kepala Henry yang terbaring dipangkuannya.
"Iya, Ama. Henry pasti akan berusaha sebaik mungkin."
"Awasi dia untukku, Mel." Nyonya Amel mengangguk dengan memaksakan senyumannya. Ama adalah wanita tangguh yang patut dicontoh. Terlebih lagi, ia sudah mengajarkan banyak hal untuknya.
__ADS_1