Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
investor


__ADS_3

Jangan lupa like komen dan vote setelah membaca kakak.


Happy Reading


💐💐💐💐💐💐💐


"Adel, ada hal yang ingin Eyang tanyakan." Eyang memecahkan keheningan didalam mobil. Saat ini mereka dalam perjalanan ke kantor Wiranata. Adel menoleh, tersenyum pada Eyang yang duduk disampingnya.


"Iya, apa yang ingin Eyang tanyakan?" Adel memiringkan kepalanya. Menunggu pertanyaan apa yang akan Eyang lontarkan.


"Bagaimana perasaanmu dengan Henry?" Adel memudarkan senyum manisnya, wajahnya menjadi tegang. Bagaimana Eyang bisa menanyakan hal seperti itu? Bahkan Adel sendiri tak tahu harus menjawab apa.


"Kenapa diam? Apa kamu menyukai temanmu yang semalam itu?" Eyang kembali bertanya, karena Adel tak juga kunjung menjawab pertanyaanya. Sedikit banyak Eyang sudah mengetahui jawabannya melihat perubahan wajah Adel yang menjadi murung.


"Aku tidak tahu Eyang" ucap Adel pelan. Dia sendiri masih belum bisa menentukan hatinya. Dia merasa nyaman dengan Rey, tetapi hanya sebagai teman, sahabat atau apalah itu. Yang jelas jika untuk hubungan yang lebih serius dia belum memikirkannya. Tetapi kenapa hatinya sakit saat Henry menolaknya secara terang-terangan? Hanya dia dan Tuhan yang tahu.


Mengusap tangan Adel dengan sayang "Eyang hanya ingin menyarankan, dengan siapapun, selama kamu nyaman, Eyang tak pernah memaksanya. Selama kamu bahagia maka jalani, jangan memaksakan sesuatu yang kamu sendiri tak nyaman melakukannya."


Adel terharu, Eyang begitu menyayanginya. Eyang tak marah sedikitpun dengan kejadian kemarin. "Terima kasih Eyang, karena aku bisa mempunyai Eyang sebaik dirimu. Yang masih mementingkan perasaanku dari pada usaha mu yang hampir mencapai jurang keterpurukan. Adel sangat menyayangi Eyang."


"Eyang juga bersyukur bisa bertemu cucu Eyang yang cantik ini. Cantik rupa dan hatinya." Pak supir ikut bahagia melihat Eyang dan Nona Mudanya yang saling menyayangi.


4Mereka sampai di kantor, agak sedikit terlambat, terlebih hari ini ada rapat penting dengan HS Group. Sesuai janji Tuan Abimanyu kemarin. Apapun yang terjadi, dia akan tetap menambah investasi sahamnya di Wiranata Corporation. Tetapi tetap melalui proposal pada umumnya.

__ADS_1


Nathan, sekertaris baru Tuan Wira, dan juga asisten Nona Adel. Dia yang mulai sekarang akan berkerja mendampingi Wiranata Corporation. Tak lagi bekerja dibalik layar, lagi-lagi Tuan Abimanyu sendiri yang memaksa. Agar Nathan membantu Tuan Wira. Sebelum menemukan orang yang tepat dan jujur membantu Adel.


Nathan juga tak bisa menolak, tetapi dia juga masih terus mengawasi HS Group bersama Arga. Suatu kebanggan sendiri bagi Tuan Wira, atas semua kebaikan yang Tuan Abimanyu berikan kepadanya.


"Nona, ini berkas yang perlu Anda pelajari." Nathan memberikan tumpukan kertas dalam sebuah map berwarna biru. Dia benar-benar harus profesional. Tuan Wira hanya membantu, dan memastikan semua berjalan sebagaimana mestinya.


"Jam berapa kita akan mulai rapat?" tanya Adel tanpa memandang lawan bicaranya. Dia terlihat fokus dengan rangkaian kata disetiap paragraf dalam kertas tersebut.


"Kurang lebih 20 menit lagi kita harus bersiap Nona." Nathan sedikit melirik jam tangan yang menempel di pergelangan tangannya. Menunjang penampilannya semakin tampan, Nathan keturunan asli Indonesia. Namun karismanya tetap menawan.


Adel tak lagi menjawab, dia sibuk dengan berkas-berkas diatas meja. Hingga waktunya tiba, di bergegas ke ruang rapat. Diikuti Eyang, Nathan dan beberapa staf penting lain.


Tak lama, Henry dan Arga tiba disana. Mau tak mau Henry harus bersikap profesional. Dia tak mungkin melupakan tanggung jawab nya sebagai CEO HS Group. Awalnya dia enggan, tetapi Tuan Abimanyu memaksanya. Lagi pula Tuan Abimanyu harus mengurus hal lain.


"Jangan campurkan urusan pribadi dan pekerjaan. Apapun suasana hatimu, kau harus bisa bersikap profesional." Perkataan Tuan Abimanyu yang terus terngiang dikepalanya. Henry melangkah dengan mantap, diikuti Arga dan dua orang staf terkait.


Wajah Adel sedikit menegang melihat kehadiran Henry disana. Namun secepatnya dia merubahnya menjadi datar. "Kenapa dia yang datang kesini? Lihatlah wajah itu, si manusia kutub ini. Tapi kalau diam seperti ini dia terlihat berwibawa dan tampan." Adel bergumam dalam hati.


Adel, apa yang kau lakukan? Dia itu manusia kutub, bisa-bisanya kamu memujinya. Dia sudah mempermalukan mu kemarin. Ingat itu!


"Baiklah, karena Tuan Henry sudah hadir, kita mulai rapatnya." Nathan memandu untuk membacakan proposal mereka dan melakukan presentasi.


Semua orang memperhatikan dengan seksama. Apa yang disampaikan perwakilan Wiranata, memang tak luput dari campur tangan Nathan. Tetapi Eyang Wira juga turut serta. Dan Adel bertugas meyakinkan para investor untuk tetap menanamkan saham di Wiranata Corporation.

__ADS_1


Ditengah rapat, Henry tiba-tiba keluar, gawainya terus berdering. Mommy yang menghubungi, Henry segera mengangkat panggilan. Seketika raut wajahnya berubah panik. Henry kembali masuk, dia membisikkan sesuatu kepada Arga dan segera meninggalkan ruangan kembali.


Semua orang saling berbisik, apa yang sebenarnya terjadi? Itulah pertanyaan yang ada dibenak semua orang. Terlebih Henry pergi dengan terburu-buru.


"Mohon maaf Tuan dan Nyonya, Tuan Henry ada urusan mendadak. Mari kita lanjutkan kembali rapat hari ini. Silahkan Tuan melanjutkan presentasi Anda." Arga memberitahukan bahwa mereka masih bisa melanjutkan rapat tanpa Henry.


"Apa yang terjadi?" Nathan bertanya melalui sorot matanya. Arga mengangkat bahu, tanda tak tahu masalah apa yang membuatnya pergi dengan tergesa-gesa.


"Menurut saya lebih kita tunda rapat ini, sampai Tuan henry memiliki waktu kembali." Adel berkata tegas. Bagaimanapun, Henry investor terbesar mereka. Untuk itulah dia harus mengetahui langkah kedepan dan inovasi terbaru dari Wiranata Corporation secara langsung. Tanpa bisa diwakilkan.


"Baiklah, rapat kita tunda, dua hari lagi kita adakan rapat untuk membahas kelanjutan dari rapat hari ini." Nathan menginstruksikan untuk menuda rapat. Benar yang dikatakan Adel, Henry harus menyetujui dan menandatangani beberapa dokumen sebagai persyaratan utama.


Adel melangkah menuju ruangannya, rapat yang belum satu jam sudah dibubarkan. Dan harus menyusun agenda ulang. Dia terlihat melamun, berjalan dengan tak bersemangat dan menjatuhkan tubuhnya diatas sofa panjang diruangannya.


"El, apa yang kamu lakukan sekarang? Pasti lagi main sama mama Wulan ya?" Adel mengajak potret El diponselnya, yang dia jadikan wallpaper. Disana El sehabis makan es krim, mulutnya kotor, tapi terlihat sangat menggemaskan.


Adel tak menyadari kehadiran Eyang Wira, sedari tadi hanya fokus pada ponselnya. Padahal tugas barunya sudah menanti. Eyang hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Adel.


"Maaf Nona, ada beberapa dokumen yang membutuhkan tanda tangan Anda." Nathan menyodorkan beberapa dokumen diatas meja kaca dihadapan Adel. Membuat kegiatannya harus terhenti.


"I-iya, taruh disana dulu." Adel tergagap, begitu menyadari kesalahannya. "Maaf Eyang, Tuan." Adel juga masih belum terbiasa memanggil Nathan.


"Panggil Nathan saja Nona." Nathan sedikit menyunggingkan senyumnya. Manis juga ternyata, batin Adel.

__ADS_1


TBC


TERIMA KASIH


__ADS_2