Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
TS


__ADS_3

trailer season 2


Happy Reading


💐💐💐💐💐💐💐


"El, pelan-pelan, jangan ngebut, nanti kamu jatuh." baru Adel membungkam mulutnya, El sudah berteriak kesakitan, lututnya berdarah mencium aspal.


Adel berjalan cepat, dia tak berani berlari, ada nyawa yang harus dia jaga dalam tubuhnya. Adel berjongkok, meniup luka El yang memar dan terluka. "Mami kan udah bilang, pelan-pelan, kan Kamu baru bisa." Adel mengomel, tapi tetap membantu El.


El baru saja bisa naik sepeda, dan kemarin dia sudah bisa sendiri tanpa roda bantu, itulah mengapa dia sangat bersemangat hari ini. Padahal matahari hampir mencapai ubun-ubun tapi El tak merasa lelah sedikitpun.


Henry pulang dari kantor, hari ini dia sengaja pulang lebih awal setelah meeting. Mereka akan pergi menemui dokter kandungan, untuk memeriksakan kehamilan Adel.


"Daddy, cakit." El mengadu, tapi malah diacuhkan.


"Kamu pasti bandel kan? Gak nurut sama Mami?" Henry bicara pelan tapi membuat El takut.


"Maaf." El menundukkan kepalanya.


"Sudahlah, jangan marahin dia lagi, cepat bantu obati lukanya, atau nanti infeksi." Adel meninggalkan mereka berdua dihalaman. Akhir-akhir ini mood Adel tidak stabil, kadang jutek, marah-marah gak jelas, kadang baper, nagis-nagis tanpa sebab.

__ADS_1


"Oke, tapi janji besok nurut sama Mami ya, kasihan Mami, El sayang gak sama Mami?" Henry menggendong El, membawanya masuk kedalam rumah.


"Janji, El nulut Mami." El mengulurkan jari kelingkingnya.


"Oke, kita obati dulu." Adel sudah menyiapkan kotak obat, Henry sudah mencuci kaki El sebelumnya, dan memasang plester untuk menutupi lukanya.


"Apa kita berangkat sekarang?" tanya Henry.


"Kau baru pulang, bagaimana bisa kau mengantarku? tubuhmu sangat bau." Adel menutup hidungnya. Dia memang tak menyukai bau tubuh Henry, setiap Henry mendekat, Adel akan merasa mual.


"Mana ada? aku masih wangi iya kan El?" El mengendus Daddynya, hanya wangi parfum yang dia rasakan.


"Hmmm Dad halum." El malah ketagihan.


Henry mengusap dadanya sendiri, " Sabar, sabar"


"El tunggu disini ya, Dad mau jemput Mami dulu, nanti kita jalan-jalan, oke." Henry mengedipkan sebelah matanya. Dia berlalu menyusul Adel ke kamarnya. Tak lupa menitipkan El pada pengasuhnya.


Pintu dibuka perlahan, menampilkan Adel yang menangis menelungkupkan kepalanya pada bantal. "Huuu huuu, dasar menyebalkan, gak pengertian, egios." Adel mengumpat.


Henry memijit pelipisnya, kepalanya terasa pening sejak seminggu yang lalu Adel terus bertingkah aneh. Dan baru tadi pagi dia tahu kalau Adel sedang hamil, tapi untuk memastikannya, mereka harus ke rumah sakit.

__ADS_1


"Sayangg, maaf ya." Henry mendekat, Adel segera berbalik, dia kembali menutup hidungnya. "Menjauh dari ku" Adel menjauh sampai diujung ranjang.


"Hah, baiklah!" Henry melonggarkan dasi yang terasa mencekik lehernya. Dia melepas atribut kantornya dan berlalu ke kamar mandi.


"Sepagi ini aku sudah mandi tiga kali, minum obat aja cuma sehari tiga kali." Henry menggerutu, tapi dia harus melakukannya, atau Adel tak mau lagi dia dekati.


"Kau memang anakku, bahkan kamu tak ingin berdekatan dengan Daddy mu." Adel berbicara sendiri, sembari mengusap perutnya yang masih rata.


"Hatchuuu." Henry bersin, membuat Adel bangun dari tidurnya.


"Kau sakit Dad?" Adel mendekat, dia tak mual lagi, dia mengendus tubuh Henry yang merasa candu baginya. Padahal Henry masih sama, sabun dan sampo yang dia pakai sama. Tapi entahlah, menurut Adel jika belum mandi Henry masih bau. Hahaha...


"Aku tak apa." Henry sedikit menjauh, dia ingin mengambil pakaian ganti yang sudah Adel siapkan. Tapi Adel terus menempel padanya.


"Tak apa bagaimana? hidungmu merah, jangan-jangan kamu flu?" Adel meraba kening Henry, tidak demam.


"Apa kau ingin aku melakukannya sekarang?" Henry menaik turunkan alisnya, memandang sesuatu yang menggoda imannya.


"Heiii, jangan lupa pesan dokter, kau harus puasa." Adel sedikit menjauh, tapi terlambat, Henry sudah menariknya dalam pelukannya.


"Diam sebentar, kau sudah membangunkannya" Adel merasakan sesuatu dibawah sana. Dia segera mendorong tubuh Henry dan berlari menjauh sebisa mungkin. "Dasar mesum." teriak Adel.

__ADS_1


"Hahaha... kau yang mulai duluan."


Cukup segitu aja...


__ADS_2