
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐
Pagi yang cerah menyapa jutaan umat manusia dari tidur lelapnya. Sang mentari mengintip malu-malu dari celah horden yang tak tertutup rapat. Mengusik dua insan yang baru saja melewati malam bersama.
Arga terbangun lebih dulu, senyum cerah menghiasi bibir sexy nya. Mulai hari ini, mulai saat ini, setiap ia membuka mata akan ada seorang yang selalu berada disampingnya. Bukan hanya sekedar bantal guling yang biasa menemaninya.
Arga menarik pelan tangan kirinya yang terasa kebas, Wulan menggunakannya sebagai bantal semalaman. "Selamat pagi istri ku yang cantik." gumam Arga sangat pelan, sehingga hanya dirinya yang mendengarnya.
Ia pandangi ciptaan Tuhan yang sempurna dimatanya, alis yang sudah terbentuk walau tak ada polesan make up, matanya, hidungnya, bibir tipis yang terasa candu baginya. Arga tak mengedipkan matanya walau sejenak.
Namun ia segera menutup matanya, saat pemilik sepasang mata yang sedari tadi ia awasi mulai mengerjap. Indahnya dunia saat pertama kali orang yang kamu lihat adalah orang yang telah bersedia mengambil alih tanggung jawabnya dari seorang ayah. Wulan menarik kedua sudut bibirnya lebar, begitu banyak rintangan yang telah mereka lalui.
Tuhan telah menggariskan mereka untuk bersama, bukan hanya itu, hidupnya terasa sangat sempurna sekarang. Meski ia harus menitikkan air mata ketika mengingat ibunya tak dapat menyaksikan hari bahagia mereka berdua.
"Sudah puas mengagumi ku?" gumam Arga yang terdengar oleh Wulan.
Wulan menjadi salah tingkah, ia segera membalikkan badan, sangat malu ketahuan sedang memperhatikan Arga dari dekat. Bahkan detak jantungnya masih sulit untuk dikendalikan.
"Ada apa? hmm...." Arga berbisik ditelinga Wulan, membuat tubuhnya meremang.
"Si-siapa yang memandangi mu? Aku, Aku juga baru saja bangun." Wulan segera menyingkap selimut, dan berlari ke kamar mandi. Namun sebelum itu terjadi, Arga menarik tangan Wulan sehingga ia jatuh tepat diatas Arga.
"Kau ini lucu sekali Lan. Lihat saja wajah mu merah sekali." Arga terkekeh, ia sangat senang melihat wajah Wulan merona.
"Ga, lepasin. Aku mau ke kamar mandi." Arga segera bangun dari posisinya. Dan menggendong Wulan ke kamar mandi.
"Mau ke kamar mandi kan?" Arga menyeringai penuh maksud.
"Aku bisa jalan sendiri, lagi pula Aku mules." Wulan beralasan." Setelah menurunkan Wulan Arga tak juga keluar, ia masih berdiri didepan wastafel.
"Ga, Aku benaran. Ini perutku gak enak banget. Please." Wulan mendoromg Arga untuk segera keluar. Ia kemudian mengunci pintunya dari dalam.
"Sepertinya sakit ini gak asing." Wulan mengecek pakaian dalamnya. Benar saja, sudah waktunya tamunya datang. Cukup lama Wulan di dalam sana, ia bingung harus berkata apa pada Arga. Masa iya ia meminta bantuan Arga? pasti akan sangat memalukan.
"Lan.. hobi banget di kamar mandi." Arga mengetuk pintu beberapa kali.
Perlahan Wulan membukanya, namun hanya kepalanya saja yang terlihat. "Emmm Ga... Boleh minta tolong?" ucap Wulan menggigit bibir bawahnya. Kebiasaannya saat sedang gugup.
"Tolong apa? Kau jangan menggodaku ya." Arga mendorong pintu lebih kuat. Tetapi Wulan mencegahnya, ia menggunakan tubuhnya untuk menahan pintu.
"Tolong belikan Aku roti tawar."
"Kau lapar? keluar dulu barjlu aku belikan."
"Bukan itu, aduh apa ya? Emm masudku yang biasa dipakai wanita saat datang bulan." Wulan menunduk malu, bagaimanapun ini pertama kalinya ia menyuruh laki-laki membelikan pem**ut untuknya. Meski itu adalah suaminya sendiri.
"Whattt???" Arga tak tahu lagi harus berkata apa. Ia pasti sangat malu untuk membelinya.
__ADS_1
"Tapi kalau gak mau juga gak apa-apa. Aku minta tolong Lintang atau Adel saja." Wulan merasa semakin bersalah telah berucap demikian.
"Hah, oke tunggu disini sebentar." Arga segera mengenakan pakaiannya. Ia hanya membasuh wajahnya dan menggosok gigi. Arga segera turun ke kamar yang di tempati Adel. Namun mereka semua sedang sarapan di lantai dasar.
"Ahaaa... Aku punya ide." Arga segera menghubungi Bejo, dan menugaskannya untuk membeli apa yang Wulan minta. Cukup lama Arga menunggu, sampai Bejo datang membawa tiga kantong kresek besar pesanan Arga.
"Astaga Jooo... Kamu kira Saya mau buka toko? Kamu belikan sebanyak ini? Dan apa ini? Kamu udah kaya ninja hatori, pakai masker, pakai topi, jaket segala." Arga memijat pelipisnya sendiri.
Tau gini Aku beli sendiri deh.
"Tuan, pertama Saya gak berpengalaman beli beginian. Saya malu Tuan. Kedua Saya gak tau merk apa yang biasa dipakai istri Anda. Kata penjaganya ada macam-macam ukuran dan merk. Jadi Saya minta bungkus semua masing-masing 1 bungkus. Hehee...." Bejo nyengir kuda, seolah tak bersalah sama sekali.
Arga hanya bisa melongo mendengar penjelasan Bejo. Ia segera mengambil tiga kantong tersebut dan membawanya ke kamarnya. Wulan sudah menunggunya menikmati sarapan yang baru saja diantarkan bell boy.
"Ga, Kamu bawa apa?" tanya Wulan sambil mengunyah makanan di dalam mulutnya.
"Pesanan mu. Nih." Arga menaruh bungkusan tersebut di lantai. Wulan menganga tak percaya.
"Kamu mau jualan apa mau jadi reseler Ga? Kenapa beli sebanyak ini?"
Nah kan, semua ini salah Kamu Jo.
"Emm itu, Kamu pilih sendiri yang mau Kamu pakai." Arga mendudukkan dirinya disamping Wulan, ia juga sangat lapar, semalam mereka tak makan apapun.
"Aku udah pakai."
"Kamu ditungguin lama banget. Jadi Aku telepon Adel, kebetulan Sisi juga sama, jadi ada setok deh." ucap Wulan santai, ia kembali meneruskan sarapannya.
Ampun deh, ternyata punya istri ribetnya minta ampun. Huu huu... Semalam gagal, sekarang harus nunggu berapa lama lagi?
"Terus itu biasanya berapa lama?"
"Apanya?"
"Ya itu, bulan mu."
"Maksudmu datang bulan?" Arga hanya mengangguk lemas. "Palingan satu minggu."
"Whaaattt??? Jadi Aku harus menunggu selama itu?" Arga menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa, kedua tangannya telentang dan sebagian dibelakang Wulan.
"Ga, Kamu gak makan?" Wulan merasa kasihan pada suaminya yang pagi-pagi sudah sibuk mencarikan roti tawar untuknya.
"Gak laper, penginnya makan Kamu." Arga memejamkan matanya sejenak. Ia menyeringai saat membayangkan hari-hari berikutnya yang akan ia lalui bersama Wulan.
Ini semua pasti rencana mereka, sengaja mengganggu Kami. Huh, gagal deh acara malam pengantin. Tapi masih ada hari-hari panjang selanjutnya. Wulan sayang, jangan harap Kamu bisa selamat dariku.
"Emangnya Aku makanan?"
"Kamu lebih enak dari sekedar makanan."
__ADS_1
"Aih Kamu ini. Sini Aku suapin." Arga dengan semangat membuka mulutnya, Wulan dengan telaten menyuapi Arga. Ini juga bukan pertama kalinya untuknya.
Selesai sarapan, Arga segera membersihkan dirinya, sedangkan Wulan membereskan koper mereka. Namun saat melihat jaring ikan yqng tergantung di lemari, Wulan merasa malu sendiri.
...----------------...
Malam tadi.
Setelah mendapat telepon dari Adel yang menggunakan nomor Lintang, Wulan segera menuju lemari yang dimaksud. Disana ada sebuah kotak besar yang berhiaskan pita.
"Ga, bantu Aku." ucap Wulan yang kesulitan membawa kotak tersebut.
"Apaan ini Lan?" tanya Arga, ia merasa heran. Kotak sebesar itu tetapi diangkat tak terlalu berat.
"Aku juga gak tau, kita buka aja." Wulan membuka pita perlahan, namun kotak itu masih disegel. Akhirnya Arga menemukan gunting di laci nakas.
Mereka berdua begitu penasaran dengan isinya, tetapi saat kotak berhasil dibuka, didalamnya masih ada kotak hadiah sama persis sebelumnya, diikat dengan pita. Hanya ukurannya yang lebih kecil. Coba lagi, begitu tulisan yang ada diatasnya.
Begitu dibuka, hasilnya sama seperti sebelumnya. Wulan geram sendiri, begitupun Arga yang menyadari mereka telah dikerjai pasangan absurd Adel dan Henry.
"Ga, Aku capek, Kamu aja yang buka." Wulan menyerah sudah 5 kali ia membukanya, namun tak ada apapun yang ia temukan didalamnya.
"Gak usah dibuka lagi Lan. Ini hanya akal-akalan mereka untuk mengerjai kita." Arga merwbahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Tapi Aku masih penasaran sama isinya Ga." Wulan kembali membuka kotak itu, meski sebenarnya ia sangat sebal. Setelah membuka dua kotak lagi, Wulan menemukan jaring ikan berwarna merah menyala dan sebuah kaset.
"Ga, apa-apaan ini?" Wulan mengambil dengan menjepitnya dengan kedua jarinya. "Baju belum selesai dirajut begini udah dijual aja. Adel kurang kerjaan." Wulan melemparkannya tepat dihadapan Arga.
"Lan, cepat pakai ini." Arga menyeringai penuh maksud, pikirannya berkelana membayangkan Wulan memakai jaring ikan yang tadi dilemparnya.
"Ogah, baju belum selesai di rajut begitu Aku suruh pakai." Wulan mengerucutkan bibirnya. Ia masih fokus pada kertas yang ada ditangannya.
Wulan beralih menyalakan dvd, hal yang peetama dilihatnya adalah semua keluarga Syahreza. Yang mengucapkan selamat untuknya. Wulan bersandar pada dada bidang Arga. Belum selesai melihatnya, Wulan sudah terlelap. Ia sangat kelelahan menjalani serangkaian acara hari ini.
Semalaman susah tidur, ia juga harus bangun pagi-pagi sekali. Belum lagi serangkaian acara yang begitu melelahkan. Dan banyaknya tamu undangan yang tak mengizinkannya untuk beristirahat.
"Lan, Kamu dengar kan? Kamu harus memakainya sekarang." Arga mengusap bahu Wulan pelan. Namun tak ada respon dari Wulan.
"Lan, Wulan." Arga memanggilnya beberapa kali. Masih tak ada respon, Arga menoleh kearah Wulan yang ternyata sudah terlelap. Dengkuran halus terdengar lembut ditelinga Arga.
"Kamu pasti kelelahan ya." Arga menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah Wulan. Ia mengecup kening Wulan cukup lama. Dan membenarkan posisi tidur Wulan.
Ia menggunakan lengan kirinya sebagai bantal untuk Wulan, tanpa menggunakan bantal yang sebenarnya. Tak lama Arga juga terlelap ke dalam mimpi. Hari ini benar-benar melelahkan. Sekaligus membahagiakan untuk mereka berdua.
Jadi begitulah malam pernikahan mereka berdua lalui, begitu banyak gangguan yang datang. Namun dibalik itu semua, mereka tetap bersyukur. Tandanya mereka sangat sayang dan perhatian pada keduanya.
TBC
TERIMA KASIH
__ADS_1