Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
S2-15


__ADS_3

Happy Reading


💐💐💐💐💐💐


Adel terbangun tengah malam, dia meraba kasur disebelahnya yang terasa dingin. Kemana suaminya tengah malam seperti ini? Di kamar mandi juga tak ada, tetapi kantuk lebih menguasainya. Adel tertidur di atas sofa, saat bersamaan, Henry kembali membawa segelas air putih.


"Sayang kenapa tidur disini?" guman Henry. Dia menggendong Adel keranjang.


"Kau dari mana Dad?" tanya Adel bergumam, dengan mata yang masih enggan terbuka.


"Ambil air minum." Henry merebahkan tubuhnya disamping Adel. Tak lupa memberinya kecupan di kening istrinya.


Henry baru selesai membahas langkah kedepan untuk menangani cabang HS Group yang bermasalah. Dia sengaja membawa segelas air sebagai alasan kalau Adel mencarinya. Dan benar saja hal itu sesuai prediksinya. Karena setiap bangun tidur, Henry selalu menenggak air putih.


...----------------...


"Dad, ayo bangun." Adel mengusap lengan Henry perlahan, namun yang dibangunkan hanya merubah posisi tidurnya.


"Ayolah, nanti kau bisa terlambat." Adel menguncang lengan Henry.


"Hmmm... 5 menit lagi." ucapnya masih memejamkan matanya.


Adel mendengus, tapi tak kehabisan akal, dia mencabut bulu kaki Henry. "Awwww, sayang.... kenapa...?"


"Ssstttt..." Adel mengisyaratkan Henry untuk diam.


"Kau ini, membangunkan suami itu yang lembut, ini namanya pemaksaan." Henry menggerutu, namun masih didengar Adel.


"Kau yang memaksa ku, habisnya dibangunin baik-baik gak mempan." sahut Adel kesal.


"Iya sayang, tapi lain kali pakai mumumu..." Henry memonyongkan bibir seksinya.


"Iuhhh... Bau..." Adel menutup hidungnya, di menuju lemari pakaian, menyiapkan baju kerja Henry.


"Morning kiss sayang." Henry mengecup bibir Adel sekilas.


"Daddyyyy...." teriak Adel. Henry berlari menuju kamar mandi, sialnya Henry tak memperhatikan pintu, dia harus mencium tembok.


"Hahaha... Karma suami suka jahilin istri."


"Ahhh si** kenapa kau tak bergeser tadi..." Henry menggerutu, memberi sumpah serapah pada tembok. Adel hanya geleng-geleng kepala, melihat tingkah suaminya.


Semua orang sudah berkumpul di meja makan. Menunggu pasangan pengantin baru yang tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Bahkan El sudah ada disana bersama Wulan.


"Mam, Mami dak ada." ucap El. Balita itu celingukan mencari Mami dan Daddy nya yang tak juga menampakkan dirinya.


"Tunggu sebentar sayang, Mami masih sibuk." ucap Wulan.


"Memangnya bisa sibuk apa dia?" Ama menyahuti.

__ADS_1


"Sibuk berduaan." ucap Nyonya Amel, mengundang tawa semua orang.


"Sepertinya kalian semua sedang bahagia." Henry berada diujung tangga bersama Adel disampingnya.


"Tentu saja Son, memangnya cuma kamu yang bisa bahagia." ucapTuan Abimanyu, baru semalam dia pulang dari luar kota.


"Sudah-sudah, ayo kita sarapan, nanti kalian terlambat." Ama menengahi.


Sarapan pagi ini terasa berbeda dari biasanya. Semua anggota keluarga ada disana. Termasuk Arga dan Wulan.


"Ama sangat bahagia, semoga kita bisa seperti ini terus." Ama menangis haru.


"Mam, kita semua menyayangi mu." Nyonya Amel merangkul Ama yang duduk disebelahnya.


Arga hanya memperhatikan, dia sibuk bermain dengan El yang sedang disuapi Wulan. El sudah mulai dekat dengan Arga, disaat waktu luang, dia sering bermain dengan El. Seperti kemarin, saat Henry bekerja, El tidur ditemani Arga.


Selesai sarapan pagi, semua orang kembali ke aktifitas masing-masing. Arga dan Henry menuju ke kantor pusat, untuk mengambil beberapa dokumen yang akan dibawa ke kantor cabang.


Henry tak bisa berdiam diri, dia harus turun tangan sendiri ke kantor cabang. Sehingga bisa mengetahui masalah yang sebenarnya terjadi.


"Ga, apa kau yakin rencana kita akan berhasil?" tanya Henry sesaat sebelum mereka sampai di kantor cabang.


"Aku yakin dengan itu, lagi pula selama ini kantor cabang ini sangat jarang di kunjungi Tuan Abimanyu." jelas Arga.


"Hah, semoga saja kita berhasil." Henry sedikit pesimis, namun dia harus mencoba jika ingin tahu hasilnya.


Kepala Pimpinan Cabang baru diangkat setahun yang lalu, menggantikan Kepala Cabang terdahulu yang pensiun.


"Selamat pagi Tuan." ucap pak satpam yang berjaga. Arga hanya menganggukkan kepala diikuti Henry.


"Tumben Bos Besar berkunjung sepagi ini." gumam pak satpam yang juga heran dengan kedatangan kedua orang paling berpengaruh di HS Group. Padahal jam bekerja baru dimulai 15 menit lagi.


"Selamat Pagi Tuan." dua orang resepsionis berdiri memberi hormat. Seperti biasa, Henry dan Arga dengan wajah datarnya.


"Ganteng banget." ucap seorang dari mereka.


"Kalian tau gak? CEO ganteng itu duda loh." bisik seorang pegawai.


"Masa sih? tapi kelihatan masih muda banget."


"Iya, aku tau dari temen ku yang bekerja di kantor pusat. Tapi dia baru nikah beberapa hari yang lalu." ucap si A


"Tapi jadi istri kedua juga gak apa, aku rela." ucap si B.


"Lu mau, dianya kagak."


"Hahaha..." tawa mereka berjamaah. Para wanita yang sedang mengantri menunggu giliran lift menatap Henry dan Arga dengan berbagai gaya. Intinya mupeng, membuat Arga menghunuskan tatapan tajamnya.


"Apa kalian sudah bosan bekerja disini?" Arga berucap sambil melangkah, mengikuti Henry menuju lift khusus di sebelahnya.

__ADS_1


Semuanya tak lagi berani mengangkat kepalanya, mereka bungkam, diam seribu bahasa. Setelah dua orang itu pergi, mereka kembali heboh.


"Aku sama dia juga mau."


"Iya, galak tapi gak kalah ganteng."


"Masih single lagi."


Dan berbagai macam ucapan lainnya. Dimana ada kerumunan disitu ada saja hal dibicarakan.


Henry menuju ruangan yang biasa dia tempati, lantai 7, dan hanya ada dua ruangan disana. Ruangan CEO dan Kepala Cabang.


"Panggil Pimpinan kalian keruangan CEO." ucap Arga pada sekertaris yang duduk di depan ruang Kepala Cabang. Arga mengikuti Henry, yang lebih dulu meninggalkannya.


"Ada apa Ki?" tanya Fauzi, Kepala Cabang yang baru setahun ini menduduki jabatannya.


"Anu Pak, ada Bos Besar, Bapak diminta keruangannya." ucap Kiki sedikit gugup.


"Sekarang?" Fauzi melirik jam di pergelangan tangannya. Dia sedang mempelajari dokumen yang bermasalah kemarin. Tak disangka secepat ini CEO mereka datang.


"Tahun depan." Kiki memutar bola matanya malas.


"Hah, ikut aku, bawa semua dokumen ini." Fauzi sudah terbiasa dengan ucapan Kiki, hal itu bisa membuat hiburan tersendiri untuknya. Meskipun sikapnya nyeleneh, aneh, tapi pekerjaannya patut diacungi jempol. Rapi dan cekatan.


"Bilang aja males bawa." Kiki menggerutu, tetapi masih mengikuti Fauzi dengan setumpuk dokumen ditangannya.


"Selamat Pagi Tuan." Fauzi memberi salam, setelah dipersilahkan duduk.


"Hmmm... Kamu tau kenapa saya memanggil mu kesini?" tanya Henry dengan menyilangkan kedua tangannya, bersedekap di dada.


"Tidak Tuan." Fauzi menggelengkan kepalanya.


"Tuan, saya..." Arga baru datang, tadi dia ke kamar mandi.


"Kamu.." ucap Arga dan Fauzy bersamaan.


Henry menautkan kedua alisnya. "Kalian saling kenal?" tanya Henry pada keduanya.


"Tidak." jawab mereka serempak.


Diakan yang bersama Wulan waktu itu. Sedanga apa dia disini? batin Arga.


Siapa orang ini? Kenapa ada diruangan Tuan Henry? tanya Fauzi dalam hati.


Keduanya kembali terdiam, hingga Arga duduk disebelahnya.


TBC


Mohon maaf baru up lagi, jangan lupa like komen dan vote nya kakak.

__ADS_1


TERIMA KASIH


__ADS_2