
Part ini sudah diedit.
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐
Hari yang ditunggu akhirnya tiba, Arga sudah rapi dengan setelan berwarna dongker. Tak lupa jam tangan yang selalu melingkar dipergelangan tangan kanannya. Namun rasa percaya dirinya harus dipupuk lebih dalam lagi.
Entah apa yang akan terjadi hari ini, namun perasaannya mengatakan akan terjadi sesuatu yang buruk. "Mungkin hanya perasaan ku saja." Arga menyemangati dirinya sendiri.
"Perasaan apa maksud mu Ga?" tanya Henry yang telah berdiri dibelakangnya. Membuat Arga sedikit terjingkat.
"Apa kamu yakin aku yang pegang proyek sebesar ini?" tanya Arga kemudian.
"Ya, tentu saja. Bukankah kamu sudah terbiasa menangani proyek besar bersama ku? Seperti yang sebelumnya, Aku yakin kamu pasti bisa."
"Tapi..." Arga tak tahu harus bagaimana menolaknya, tetapi hari ini Henry juga harus menghadiri rapat penting di Wiranata Corp. Dia jiga harus menghadiri acara lelang amal setelahnya. Memegang dua tanggung jawab memang tak mudah baginya.
"Kamu hanya perlu meyakinkan diri mu sendiri, meski ada puluhan bahkan ratusan yang akan mengikuti, tetapi kalau kamu yakin pasti kamu bisa." Henry menepuk bahu Arga, "Aku tunggu kabar baiknya." Henry harus segera bersiap sekarang.
Arga sedikit lesu saat memasuki gedung tempat presentasi. Perasaannya tetap mengatakan ada yang tidak beres tetapi entah apa itu. Semuanya telah dipersiapkan sebaik mungkin.
"Selamat Pagi, Tuan, silahkan mengambil nomor undi untuk urutan presentasi Anda." salah seorang yang berpakaian serba hitam mempersilahkan Arga dan Adrian. Direktur Perencanaan HS Group yang ditunjuk untuk mendampingi Arga.
Arga hanya mengangguk, mengikuti sesuai instruksi. Sejauh ini tak ada yang janggal menurutnya. Adrian masih setia mengikuti Arga, begitu banyak orang yang hadir disana. Pembangunan hotel and resort dilahan yang strategis, sayang sekali pemilik lahan tak sanggup membiayai operasional pembangunan. Sehingga terpaksa harus menemukan investor dengan dalih tanam saham.
"Silahkan, Tuan." Arga dan Ardian dipersilahkan duduk mengitari meja bundar, dengan 4 sampai 5 kursi setiap mejanya.
Adrian terlihat gelisah, dia melirik ke kiri dan kanan, seperti sedang mencari seseorang. "Siapa yang Kau cari?" tanya Arga.
"Ah, bukan siapa-siapa. Saya hanya melihat sekeliling. Banyak sekali pesaing kita hari ini." ucap Adrian beralasan. Dia sedikit gugup tertangkap basah Arga sedang mencari seseorang.
Setelah menunggu 30 menit, acara segera di mulai. Namun Arga merasa heran, setiap kursi telah terisi penuh. Tetapi tidak dengan meja nya. Masih ada dua kursi kosong yang tak berpenghuni.
MC telah membacakan urutan presentasi dari masing-masing perwakilan. Arga mendapat nomor 4, tentu saja dia bisa sedikit membandingkan proposal yang dia ajukan dengan proposal dari perusahaan lain.
Namun Arga benar-benar terkejut saat urutan nomor 3 membacakan proposalnya, setiap kalimat, bahkan gambar yang ditampilkan dilayar sama persis dengan yang ada ditangannya. "Bagaimana bisa sama persis?" Arga terlihat panik, bagaimana mungkin dokumen yang selama ini dia rahasiakan bisa sampai di tangan pihak lawan?
"Tuan, bukan kah ini sama persis dengan proposal yang ada ditangan kita?" Adrian tak kalah panik, bagaimana pun juga. Dia telah bekerja keras mendesain sendiri setiap inci dari bangunan. Bahkan dia mengorbankan waktu istirahatnya untuk benar-benar melakukan yang terbaik.
Arga memijit pelipisnya, pantas saja Henry menyuruhnya menyiapkan rencana cadangan. Dia pasti sudah tahu akan hal ini. "Ya, kau benar. Ada yang sengaja ingin menjebak kita."
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang? Giliran kita sebentar lagi. Tak akan ada waktu lagi untuk mendesain ulang."
"Kita hanya bisa melakukan sesuai rencana. Apa yang telah kita pelajari pagi tadi." ucap Arga menenangkan Adrian. Padahal dia sendiri tidak bisa fokus dengan presentasi hari ini.
Benda pipih ditangannya bergetar, Henry mengirimkan pesan padanya.
'Lakukan sesuai rencana.'
__ADS_1
Belum sempat Arga menyimpan benda pipih ditangannya kembali bergetar.
'*Kamu pasti bisa. Semangat terus ya.'
'Cemanat Papa Aga*.'
Wulan mengirimkan video dirinya dan El, meski hanya berdurasi beberapa detik, namun hal itu sangat membantunya. Membantu mengisi daya semangat yang telah memudar.
Tepat saat itu juga peserta nomor 3 selesai dengan presentasenya. Yang berarti saat ini adalah gilirannya. "Yan, kita hanya bisa melakukan yang terbaik. Ikuti aku, apapun hasilnya. Yang terpenting kita sudah berusaha." Arga menuju podium diikuti Adrian dengan laptop ditangannya.
Arga berjalan menuju meja panitia. "Mohon maaf, proposal saya ada sedikit perubahan. Boleh saya menggunakan ini." Arga menunjuk laptop yang ada ditangan Adrian.
"Tetapi semua peserta hanya diperbolehkan..." ucapannya terhenti, saat ketua panitia mengiyakan permintaan Arga.
"Silahkan dimulai."
Arga telah berdiri di posisinya, dibantu Adrian mengarahkan setiap penjelasan yang Arga berikan.
Arga berucap dengan lancar dan penuh percaya diri. "Mungkin konsep Kami hampir sama dengan yang disampaikan peserta lain. Tetapi disini kita akan membedakan desain interior dengan perpaduan tradisional dan modern."
"Tidak hanya itu, kita bisa menambahkan menu makanan khas dari setiap daerah yang ada di Indonesia. Untuk memperkenalkan bahwa negara kita kaya, dan memiliki beragam olahan yang tidak ada dinegara lain."
"Disetiap ruangan kita desain dengan adatvyang berbeda, namun juga harus meninggalakan kesna yang mendalam bagi penikmatnya."
Arga benar-benar memanfaatkan waktu dengan baik. Meski hotel dan resort dibangun ditempat yang strategis. Namun juga tidak hanya kalangan menengah keatas yang bisa menikmati fasilitasnya. Namun semua kalangan, bisa ikut menikmati tempat tersebut.
Riuhnya tepuk tangan mengakhiri presentase yang Arga sampaikan. Meski tak yakin ide yang dia berikan akan diterima, namun Arga tetap bangga bisa berdiri diantara pengusaha sukses lainnya.
"Kau sengaja?" ucap Arga kesal. Henry pasti sengaja ingin mengujinya. Dan membiarkan Arga seorang diri.
"Kalau gak kamu masih jalan ditempat, dengan bernaung pada nama ku. Kamu tak akan pernah berkembang."
"Thanks Adrian." Arga meninju lengan Adrian, namun tak membuatnya mengaduh.
"Anda yang berusaha, saya hanya membantu, tak memberikan kontribusi apapun." Adrian merendah.
Beruntunglah Aku berpijak pada pijakan yang benar, hampir saja Aku tergelincir. Hampir saja Aku mati karena kesalahan Ku sendiri. Maaf Tuan, saya sempat berniat menghianati Anda.
Adrian merasa bangga pada dirinya sendiri karena telah melakukan hal baik. Setidaknya dia telah menyelamatkan Tuan nya dari ketidak adilan.
Flash Back On
Adrian sengaja Henry pilih sebagai pendamping Arga dalam penangan maslah kali ini. Selain dia juga terlibat langsung nantinya, Henry juga sengaja menguji kesetiaanya.
Namun yang ditakutkan Henry benar terjadi, seseorang berencana memecah belah HS Gruop. Agar terjadi salah paham diantara mereka, dan saling berselisih.
Saat itu, Henry tak sengaja melewati tangga darurat, dia baru saja keluar dari kamar mandi yang ada di ujung tangga. Kamar mandi di dalam ruangannya sedang bermasalah, dan dalam perbaikan.
Saat itu juga Tuan Abimanyu menghubunginya, dengan panggilan masih menyala. Samar-samar terdengar dua orang yang terlibat pembicaraan. Tempat itu tertutup hanya petugas kebersihan yang keluar masuk. Tak ada CCTV disana, dan keadaan cukup gelap dan sepi.
__ADS_1
"Kau ambil berkas itu, aku akan mengalihkan perhatian mereka." ucap seseorang dengan rambut sebahu.
"Aku gak berani, kalau ketahuan bukan hanya pekerjaan ku tapi juga nyawa dan keluarga ku semuanya ikut terseret." ucap seorang laki-laki.
"Kau hanya perlu menaruh ini disana." dia mengeluarkan alat perekam mini dari dalam sakunya.
"Tapi disana banya CCTV, aku gak mau. Kamu saja yang lakukan." laki-laki itu berlalu, meninggalkan wanita berambut sebahu. "Kita lihat saja nanti, aku mau kita hancur bersama." ucapnya sinis.
Keesokan harinya, Henry telah mendapatkan bukti yang kuat. Dari kamera CCTV, hanya ada satu orang yang memasuki ruangan disamping tangga darurat. Dia adalah Adrian, satu-satunya orang yang patut dicurigai. Namun kecurigaan Henry tak terbukti.
Wanita berambut sebahu, orang yang sama dengan yang dilihat Bejo beberapa waktu yang lalu. Menyelinap masuk keruangan Arga, dilihat dari pakaiannya, dia adalah seorang office girl, namun jika diperhatikan lebih jelas. Dia adalah orang yang Henry kenal.
Lampu ruangan tiba-tiba menyala, membuat dia panik dan menjatuhkan benda berharga yang dia curi. "Apa mau mu?"
Masih ada dia? bukankah tadi ruangan ini sudah gelap dan kosong? ya aku sudah memastikan tak ada orang lain dilantai ini, lagi pula ini sudah malam. Sedang apa dia disini?
Sontak membuat wanita itu tersentak, Henry sengaja memadamkan semua lampu di ruangannya. Arga ada pertemuan dengan klien diluar kantor. Dan langsung pulang. "Siapa yang menyuruh mu?" tanya Henry lagi.
"Sa-saya, saya hanya ingin membereskan ruangan Tuan." ucapnya berkilah.
"Membereskan apa? mengapa kamu mengendap-endap ditempat gelap kalau memang tak ada niat jahat." Henry melipat kedua tangannya diatas perut. Memperhatikan wajah wanita itu dengan seksama.
"Kamu gak perlu menyamar lagi, Aku sudah tau siapa kamu sebenarnya. Siapa yang menyuruh mu?" bentakan Henry membuatnya mundur hingga menabrak pintu kaca dibelakangnya.
Wanita itu tak bisa lagi berkilah, di luar Bejo dan beberapa anak buahnya sudah menunggunya. Tak akan mungkin bisa kabur, dia hanya bisa menyerah.
"Aku benci kamu, Aku benci keluarga mu, karena kamu keluarga ku hancur berantakan. Dan Aku, hanya bisa melihat mereka hancur tanpa bisa melakukan apapun. Jadi Aku juga mau kamu jatuh bersamaku." Hani tak bisa lagi membendung kesedihannya. Setelah sekian lama akhirnya dia juga akan bernasib sama dengan keluarga Wijaya.
"Sekarang kamu hanya punya dua pilihan, menyerah atau mati." ucap Bejo membekuk kedua tangannya.
"Aku lebih baik mati, lagi pula tak ada lagi yang bisa ku lakukan jika aku tetap hidup." air matanya menganak sungai, membanjiri wajahnya.
"Bagaimana kalau Aku gak ingin kamu mati?" tanya Henry mencengkeram dagu Hani.
Akhirnya Hani hanya bisa pasrah, dia harus menjalankan rencana sebelumnya sesuai perjanjian. Agar tak ada yang menaruh curiga. Sedangkan Henry telah menyusun rencananya sendiri untuk menghadapi musuh yang sebenarnya. Untuk itulah Henry menyarankan Arga supaya mengubah proposalnya.
Kecurigaannya terhadap Adrian juga tak beralasan, berkat dia, Henry bisa menangkap Hani. Dan mengetahui semua rencana busuknya yang ingin menjatuhkan Arga dan membuat malu HS Group.
Flash Back Off
"Maafkan Saya, Tuan. Saya hampir saja terlibat, dan mengenai masalah ini saya benar-benar tidak tahu siapa 'Tuan' dari wanita itu." Adrian merasa bersalah sempat terlibat dengan Hani sebelumnya.
"Hmm... Karena Kamu sudah bekerja keras, maka saya bisa memaafkan kamu. Kedepannya saya akan membutuhkan orang seperti Kamu." ucap Henry dengan rasa bangga pada dua orang dihadapannya yang berhasil memenangkan tender kali ini.
"Ga, setelah ini kamu harus lebih waspada. Jangan hanya fokus pada satu masalah, tetapi kamu harus melihat keseluruhan dari rencana."
Henry menjabat tangan kedua orang tersebut. "Terima kasih telah bekerja keras."
TBC
__ADS_1
TERIMA KASIH