
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐
Rasa penasaran Adel membawa langkahnya menuju ke kamar tamu yang Arga tempati. Pintu kamar tertutup dengan rapat, namun ia membiatkannya tak terkunci. Lagi pula siapa yang akan masuk di pagi buta seperti ini. Batin Arga.
Arga mengamati gambar yang tercetak pada kertas ditangannya, sebagian adalah rekayasa. Namun ada satu foto yang benar-benar hasil jepretan asli. Yah, foto-foto Henry saat di Lombok dengan berbagai pose yang menantang.
"Kalau begini Aku juga gak bisa bantu apa-apa." Arga menyugar rambutnya kebelakang. Permasalahan yang ia hadapi tak kunjung mereda, justru semakin menjadi-jadi. Sedangkan Henry menyuruhnya tetap diam dan tak melakukan apapun. Arga merebahkan tubuhnya sejenak, dan berlalu untuk merendam dirinya pada air hangat.
Adel masuk dengan perlahan, benda yang Arga pegang masih bertebaran di atas sofa bed. "Jadi selama ini kalian berusaha menutupi semua kebusukan yang telah dia lakukan? Pantas saja selama disana selalu sibuk sendiri." Buliran bening yang semula Adel tahan lolos begitu saja.
Menatap nanar pada cetak antara suaminya dan wanita yang pernah singgah dalam hidupnya. Adel meneliti setiap gambar itu. Sesak didadanya semakin tak tertahankan, saat foto terakhir suaminya menggendong wanita itu. Dengan busana yang minim. Selembar kertas ia temukan diantara foto tersebut.
*Dia akan kembali padaku, tak usah kamu menghalangi lagi. Karena dia menginginkan Aku melahirkan anak untuknya. Tak seperti dirimu yang sekarang ini hanyalah wanita yang tak sempurna.
Kamu bisa mendapatkan kekayaannya. Tetapi hatinya, masih memilihku. Jadi jangan berharap untuk mendapatkannya kembali. Cepat atau lambat kamu akan dibuang*.
Pintu kamar mandi terbuka, Arga hanya diam mematung. "Aku bisa jelaskan, ini semua hanya salah paham." Arga merebut kertas yang ada ditangan Adel.
"Apa yang perlu Kamu jelaskan? jelas-jelas Kamu sedang membantunya menutupi semuanya dariku. Atau Kamu memang sebenarnya ingin membantunya? Jawab Aku Ga." Adel mengguncangkan tubuh Arga dengan sekuat tenaganya. Namun Arga hanya mundur satu langkah.
"Bukan, bukan itu. Dia hanya ingin menjaga perasaan mu." Arga memegangi kedua tangan Adel yang gemetar.
"Apa ini yang Kamu maksud menjaga? dengan berselingkuh dibelakang ku. Aku benci Kamu Ga, Aku benci kalian semua." Air mata Adel menderas, bersama tangannya yang tak henti memukul dada bidang Arga.
Entah keberanian dari mana yang membuat Arga mendekap Adel. "Dia ingin menyembunyikan ini bukan berarti dia bersalah. Tetapi hanya tak ingin membuat mu sedih dengan berita yang belum tentu kebenarannya." Arga mengusap punggung Adel yang bergetar karena tangisnya.
__ADS_1
"ARGAAAA... Berani-beraninya Kamu menuentuh istriku." Henry menghadiahkan bogem mentah diwajah Arga, membuatnya terhuyung kebelakang karena tak siap dengan serangan Henry yang tiba-tiba.
Henry sudah terbangun dan ingin menyusul istrinya, biasanya dipagi hari Adel sedang berkutat di dapur untuk membuat sarapan. Tetapi ditunggu tak kunjung datang. Baru membuka pintu, Henry mendengar suara ribut dari kamar yang Arga tempati. Henry bergegas menuju asal keributan. Justru pemandangan tak lazim yang disuguhkan kepadanya.
Henry menarik tangan Adel kasar dan menjatuhkannya di atas ranjang dengan kasar. "Dan Kamu, apa Kamu tau kesalahan apa yang Kamu lakukan?" suara Henry meninggi, dengan wajah merah padam menahan amarah.
Adel tak berdiam diri, bangkit dari posisinya saat ini. Dengan tangannya menggenggam puluhan foto yang telah dilihatnya. "Jadi hanya Kamu yang boleh berbuat demikian? dimatamu hanya Aku yang selalu salah dan Kamu? Berarti hanya Kamu yang benar disini?" Adel melemparkan puluhan foto itu dihadapan Henry.
Henry hanya bisa terdiam, melihat kejadian yang telah ia bayangkan sebelumnya benar-benar terjadi. "Aku benci Kamu, Aku benci kalian semua." Adel mendaratkan telapak tangannya diwajah Henry. Dia juga menunjuk Arga dan Wulan yang baru saja datang memdengar keributan disana. Adel berlalu pergi dengan setengah berlari.
*Seharusnya Aku sudah menduganya sejak awal. Tetapi Aku masih berusaha untuk mempercayai mu. Aku memang bukan wanita yang sempurna lagi. Tetapi Kamu seharusnya bisa membicarakan ini baik-baik.
Tuhan, kenapa sesakit ini? bahkan mereka semua berusaha menutupinya dari ku. Wulan, Kamu sudah tahu sebelumnya, dan membiarkan Aku tak mengerti apapun seperti orang bodoh*.
Adel terus berjalan tak tentu arah, Bahkan ia masih mengenakan sandal rumah dan pakaian tipis. Angin di luar cukup dingin, meski matahari mulai mengintip malu-malu. Adel tak tahu lagi harus kemana? ia tak membawa apapun, uang bahkan ponsel juga yak dibawanya.
...----------------...
"Tuan, Aku mohon ampuni Arga. Ini semua salah saya, seharusnya Saya segera membuangnya waktu itu." Wulan berusaha menengahi mereka. Tetapi malah semakin membuat Henry marah.
"Kalian berdua memang sama saja. Aarrggghhh.." Henry meninju tembok disebelah Arga.
"Aku memnag ceroboh, tetapi Aku tak tau jika istrimu mengikuti Aku smapai kesini. Dan Aku hanya berusaha menenangkannya." ucap Arga panjang berusaha menjelaskan kejadian yang sebenarnya.
"Aku gak peduli, Aku percaya dengan apa yang kulihat." Henry tak ingin mendengar penjelasan Arga, dan berbalik untuk menyusul Adel, namun langkahnya terhenti pada gulungan kertas yang telah diremas menjadi bentuk bola yang diinjaknya.
Henry semakin murka membaca tulisan itu. Pantas saja Adel sangat marah, dia pasti menganggapnya Henry benar-benar bermain-main dengan ****ng itu dibelakangnya.
__ADS_1
"Sayang, tunggu Aku. Ini semua gak seperti yang Kamu lihat dan Kamu pikirkan." Henry berusaha mengejar istrinya. Namun dia mencari disetiap sudut ruangan, tak menemukan Adel dimanapun. Henry berusaha menghubunginya, namun getaran itu ada diatas nakas sebelah tempat tidurnya.
"Dia tak mungkin pergi jauh, dia tak membawa apapun." gumam Henry dalam hati. Henry segera meraih kunci mobil di ruangan sebelah tangga. Henry segera menyusul istrinya.
"Pak, apa istri Saya keluar?" tanyanya pada satpam yang berjaga.
"Iya, Tuan. Nyonya bilang mau joging diluar sebentar." Henry mengmudi agak pelan, supaya bisa menemukan Adel.
"Sayang, Kamu dimana sih? Maaf Aku telah menuduhmu yang tidak-tidak. Tolong dengarkan penjelasan ku dulu." Henry terus menggerutu, melirik kiri dan kanan jalan. Siapa tahu Adel ada disana. Namun sudah hampir 30 menit, Henry tak menemukan apapun.
...----------------...
Wulan membantu Arga mengobati memar diwajahnya. Bahkan sudut bibirnya berdarah akibat pukulan Henry, Wulan juga kecewa dengan sikap Arga. Seharusnya Arga tak perlu sampai melakukan hal itu untuk menenangkan Adel. Bagaimanapun juga, Adel adalah istri dari kakaknya.
Tetapi semuanya telah terjadi, mau bagaimanapun, tak akan membalikkan keadaan seperti semula.
"Awwsss... pelan-pelan." Arga merimgis menahan perih saat Wulan mengompres wajahnya.
"Ini juga pelan-pelan."
"Bisa gak lebih pelan lagi."
"Kau ini cerewet sekali." Wulan malah semakin menekan bagian yang sakit. Membuat Arga kembali mengaduh.
TBC
TERIMA KASIH
__ADS_1