Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
S2-33


__ADS_3

Happy Reading


💐💐💐💐💐💐


"Jangan pura-pura tegar, dan menyimpannya untuk sendiri. Sekarang ada Aku, kau harus berbagi semua suka duka mu bersamaku." Heney mengecup kening Adel lama.


Meski kecewa, tetapi rasa sayangnya lebih mendominasi. Henry menggunakan akal sehatnya, begitu banyak kesulitan yang istrinya lalui selama ini, ini bukan saatnya untuk berdebat. dan saling menyalahkan. Tapi saling menguatkan, harus mereka hadapi bersama apapun kesulitan itu.


"Dasar bodoh, aku tak marah padamu, aku hanya kecewa. Masihkah aku ini suami mu?" Henry tersenyum pahit.


"Dad, maafkan aku, aku takut kau akan kecewa padaku. Faktanya aku bukan lagi wanita sempurna untuk kau jadikan istri. Aku takut menghancurkan harapan mu dan juga keluarga mu. Mereka begitu berharap padaku, untuk memberikan cucu. Tapi aku gak bisa. Huuu... huu..." suara Adel serak karena terlalu lama menangis.


"Dan aku lebih kecewa kalau kau menyembunyikan ini semua dari ku. Aku sudah pernah bilang padamu, aku akan menerima seperti apapun dirimu."


"Tapi Mommy, Daddy, Ibu, Eyang, Ama dan juga kau sendiri begitu berharap agar aku bisa hamil. Sedangkan sekarang kondisi ku seperti ini." Adel semakin terisak.


"Dengarkan aku, tak ada yang meminta hal ini terjadi pada siapapun. Kalau boleh malah jangan sampai terjadi, tapi semuanya sudah terjadi. Dan ini juga ujian kesabaran untuk kita." Henry ikut berkaca-kaca, namun dia berusaha menahan genangan dikedua sudut matanya.


"Kita sudah ada El, lagi pula dokter bilang kamu masih bisa hamil walaupun hanya dengan satu ovarium dan juga dokter menyatakan kondisinya bagus. Hanya tinggal menunggu waktu, jika Tuhan mengizinkan kita akan memiliki anak lagi." Henry berusaha menyemangati istrinya yang begitu terpuruk.


Bagaimana dia bisa menyembunyikan hal seberat ini darinya. Henry tak dapat membayangkan bagaimana Adel saat mengetahui hal ini sendirian. Tanpa ada seorangpun yang mendukungnya. Bukan tak ada, melainkan Adel tak ingin orang lain tahu, dia hanya bisa menyimpannya untuk dirinya sendiri.


"Sayang, teruslah berharap dan berdoa, kita akan berusaha. Selebihnya hanya kuasa Tuhan yang menentukan. Aku akan selalu bersama mu. Ini janjiku."


Adel mempererat pelukannya, dia sangat bersyukur mempunyai suami seperti Henry. Meski terkadang menyebalkan, tetapi hatinya begitu lapang untuk emaafkan kesalahannya.


"Maaf Dad, aku menyesal." Adel mmenjauhkan tubuhnya. Namun Henry tak melepaskan istrinya. Henry terus berusaha membuat Adel nyaman dengannya.


"Jangan diulangi, kalau kau menganggap aku suami, kau harus berbagi apapun dengan ku."


"Terima kasih, aku sayang kamu." ini pertama kalinya Adel mengungkapkan sayang lebih dulu.


"Apa? aku gak dengar. Tolong diulangi."


"Terima kasih."


"Bukan, bukan yang itu, tapi yang selanjutnya." Henry menajuhkan tubuh istrinya dengan memegang bahunya. Adel menunduk malu, wajahnya tersipu.


"Aku.. aku sayang kamu." suaranya pelan.


"Ulangi."


"Aku sayang kamu." Adel mengecup Henry sekilas dan berbalik badan, menutup dirinya dengan selimut.


"Ahahaha... I love yo too. My Wife, Mami El tersayang." bisik Henry ditelinga Adel.

__ADS_1


"Kamu ini lucu sekali kalau lagi malu-malu. Pengin gigit kamu jadinya." Heney menoel hidung Adel yang terlihat sebagian.


"Dad, jangan ganggu aku." Adel membungkus tubuhnya dengan selimut. Membuat Henry semakin terkekeh, mereka sedikit melupakan kesedihan yang dia alami.


Henry juga sedih, namun apalah dayanya. Adel pasti lebih sedih darinya. iAdel berusaha keras menyimpan semuanya sendiri, termasuk dari Ibu dan semua keluarganya.


"Sayang, apa masih sakit?" tanya Henry kemudian.


"Sudah lebih baik." ucapnya pelan, suaranya masih serak karena terlalu banyak menangis. Matanya bengkak dan hidungnya memerah.


"Mau minum?" Adel mengangguk, Henry bergegas mengambilkan minum yang tersedia disana. Bahkan ada kulkas juga, namun hanya berisi minuman dingin.


"Kata dokter kau harus minum air hangat." Henry menyodorkan segelas air hangat pada istrinya.


Adel meminumnya perlahan, dan hanya minum beberapa teguk saja. "Aku mau pulang Dad." rengeknya.


"Apa kau bilang? kau mau membuat suami mu ini marah?" ucap Henry kesal, dia meletakkan gelas dengan kasar, sehingga sebagian isinya memercik keluar.


Adel hanya menggelengkan kepalanya. "Bagus, menurut lebih baik. Dan kau tak lagi diizinkan bekerja."


"Tapi kan, aku pasti akan bosan dirumah." Adel mengerucutkan bibirnya.


"Kan ada El, ada Wulan yang menemani, ada banyak pelayan. Kalau kau bosan kau boleh berkunjung ketempat ku bekerja." Henry menyeringai.


"Bagaimana dengan urusan di kantor?"


"Tapi Dad,..."


"Gak ada tapi, kata dokter kau harus banyak istirahat. Gak boleh kerja terlalu berat. Jadi dirumah saja, kau bisa melakukan apapun. Hamburkan uang sesukamu. Jalan-jalan, shopping, ngerumpi, terserah apapun yang kau lakukan. Uang ku tak akan habis meski kau hamburkan setiap hari." Henry menyombongkan diri.


Adel hanya mendengus, dia tak mungkin membantah ucapan suaminya. "Tapi aku perlu bicara dengan Eyang."


"Istriku sayang, itu juga bagian dari tugasku, serahkan saja padaku semuanya beres."


"Ya, ya Tuan Henry yang tersayang."


"Nah begitu baru istriku."


Adel sangat bahagia dengan perlakuan Henry, tetapi dia bukanlah orang yang suka berfoya-foya. Adel belanja seperlunya saja. Lagi pula kemewahan yang dia dapatkan sudah cukup menurutnya.


...----------------...


Entah perasaan apa yang mendorongnya, Nyonya Amel sangat ingin menemui El saat itu juga. Nyonya Amel mengemudi sendiri, tanpa diantar siapapun. Lagi pula jarak dari rumahnya hanya 15 menit.


"Kok sepi? apa mungkin mereka masih tidur?" tanya Nyonya Amel pada dirinya sendiri. Dia berdiri didepan pintu, Nyonya Amel mengulurkan tangannya untuk memencet bel, namun saat itu juga Wulan membuka pintu rumah.

__ADS_1


"Nyonya, sejak kapan disini?"


"Omaaaa...." teriak El ditelinga Wulan.


"Sejak kemarin. Oh hai cucu Oma yang Gembul." Nyonya Amel nyelonong masuk membawa El bersamanya. Wulan hanya mengedikkan bahunya. Sudah terbiasa dengan sikap Nyonya Amel.


"Kemana semua orang?" Wulan tak tahu harus berkata apa.


Bagaimana ini? kasih tahu gak yah.


"Dimana Daddy dan Mami mu El?"


"Gak au." jawab El singkat.


Saat bersamaan, Arga pulang. "Ga kau kesini?" tanya Nyonya Amel yang masih menggendong El.


"Ya, ponsel ku tertinggal dan aku juga harus mengantar pakaian ganti." Arga menutup mulutnya sendiri.


Duh, kenapa bisa keceplosan gini sih?


"Ada apa sebenarnya? cepat katakan." Nyonya Amel sedikit kesal.


Arga terpaksa harus mengatakan bahwa Adel dirumah sakit. Tetapi dia tak mengatakan penyebabnya. Biarlah yang bersangkutan berhak memberitahunya sendiri.


"Bagaimana keadaannya sekarang?"


"Saat aku pulang belum siuman, tapi kata dokter sudah baik-baik saja."


"Bibi tolong siapkan pakaian ganti Tuan dan Nyonya. Jangan lupa ponsel Tuan dan Nyonya di kamarnya." ucap Arga pada kepala pelayan.


"Baik Tuan."


"Aku ikut." ucap Nyonya Amel.


"Aku juga." Wulan juga mencemaskan kondisi Adel.


"Sebaiknya kamu dan Nyonya dirumah menjaga El. Aku hanya mengantar pakaian ganti, setelah itu kembali lagi."


"Itut, El mau jayan-jayan cama Papa Ga." El merengek.


Akhirnya Arga hanya bisa mengiyakan permintaan mereka. Nyonya Amel juga memberi tahu Tuan Abimanyu dan Tuan Wira. Dia begitu heboh mendengar Adel sakit.


TBC


Jangan lupa dukungannya ya.

__ADS_1


TERIMA KASIH


__ADS_2