
Hai readers, author ucapkan banyak terima kasih atas semua dukungan yang diberikan.
Yang belum semoga berkenan meninggalkan jejak like komen dan vote yah.
Ikuti terus keseruan Baby El.
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐
Flash back
Dua hari dirawat dirumah sakit, kondisi Adel sudah jauh lebih baik. Begitupun Ibu Sari, nyeri yang ia rasakan sudah berkurang. Namun, kodisi Hasan masih belum mengalami perubahan. Dia masih enggan membuka matanya.
Adel masih setia menunggu Hasan untuk bangun, dia juga menyuruh Ibu Sari beristirahat dirumah. Dan mengambil pakaian ganti untuknya.
"Massss sampai kapan kamu akan tertidur? Apa kamu tidak ingin melihatku? Apa kamu tidak rindu dengan ku, hmmm..." Adel mengecupi wajah suaminya. Banyak luka lebam yang terlihat membiru disebagian wajahnya.
Adel mengusap luka itu perlahan, dia tak ingin suaminya semakin tersakiti. Air matanya menetes dipipi sang suami, Adel segera menghapusnya.
"Maaf aku yang cengeng Masss... Tapi aku sungguh membutuhkan mu." Adel memelas. Tak lama air mata mengalir dari mata suaminya yang terpejam.
"Masss kamu mendengarku kan, kumohon bangunlah! Setidaknya buka matamu, aku merindukanmu Masss." Namun Hasan masih bergeming, ia tetap menutup matanya dengan rapat.
Begitulah setiap Adel masuk ruang perawatan Hasan. Dia tak pernah lupa merayu suaminya untuk segera bangun, namun apa dayanya. Tuhan punya rencananya sendiri.
Hasan menyerah, ia tak lagi sanggup bertahan, dengan semua alat alat yang menempel pada tubuhnya. Tak membantunya untuk bertahan lebih lama.
"Masssss kamu tega sekali padaku, kenapa kamu ninggalin akuuuu..." teriak Adel. Dia memeluk erat tubuh pucat itu.
Adel sedang membeli makan dan minum dikantin, ia ingat kata dokter bahwa ia harus memaksa makan demi janin yang dikandungnya. Sedangkan Ibu Sari masih berada dirumah. Ketika dokter mengabarkan, bahwa suami Adel kondisinya menurun.
Adel segera menuju ruangan ICU, dan melupakan makanan dan minuman yang dia pesan. Perasaanya tak karuan, sampai disana, ketakutannya benar benar terjadi.
Hasan, suami Adel telah pergi. Untuk selama-lamanya. Adel menghambur pada jasad sang suami. Air mata membanjiri pipi mulusnya. Tubuh Adel luruh ke lantai, lagi lagi Adel tak sadarkan diri. Dokter dan suster segera membawa Adel keruang perawatan.
...----------------...
Ibu Sari sudah bersiap, dia akan kembali menemani Adel dirumah sakit. Namun baru menutup pintu, gawainya berdering. Pihak rumah sakit mengabarkan, bahwa menantunya telah tiada.
__ADS_1
Ibu Sari merasakan sesak yang luar biasa di dadanya, beruntunglah seorang tetangga melihatnya. Ia segera dilarikan ke rumah sakit terdekat. Bersama taksi online yang dipesan Ibu Sari.
Kabar duka menyelimuti kediaman kecil Ibu Sari. Adel tak lagi menangis, tetapi beban berat terlihat sangat jelas dari raut wajahnya. Tak ada tempat bersandar baginya, hanya kepada Tuhan dia mengadukan semua keluh kesahnya.
Suaminya baru saja pergi, ibunya dirawat dirumah sakit. Sedangkan kondisinya sedang mengandung.
Tuhan, kenapa tak Kau ambil juga nyawaku. Aku tak sanggup lagi, jika harus menanggung beban ini sendirian. batin Adel.
Beruntunglah Adel, dia memiliki tetangga yang sangat baik, saling membantu menjaga Ibu Sari. Dan Iim sahabat Adel, yang menemani Adel. Merawat Adel hingga membantunya dalam keseharian dirumah.
Adel ikut mengantarkan sang suami, keperistirahatan terakhirnya. Iim tak pernah lepas dari samping Adel. Dia baru saja tahu kabar duka tentang keluarga Adel. Karena Iim tinggal jauh bersama suaminya.
Tetapi begitu mendengar kabar, Iim langsung menuju kerumah Adel. Diantarkan sang suami, dan diperbolehkan merawat Adel sampai Ibu Sari sembuh.
...----------------...
4 bulan berlalu, Adel masih terus memikirkan hal yang terjadi padanya, bahkan ia terkesan mengabaikan janin yang dikandungnya. Ia hanya memeriksakan kandungannya dua bulan sekali. Dan sekarang ia dipaksa Ibu Sari kerumah sakit.
Ibu Sari khawatir dengan kondisi Adel. Benar saja, hasil pemeriksaan menunjukkan ada yang tidak beres dengan janin Adel.
Denyut jantung bayi lemah, dan berat badan bayi dibawah standar. Dan tanpa disadari, air ketuban merembas. Adel harus bed rest, menjalani observasi. Untuk mengetahui lebih lanjut keadaan ibu dan bayi.
Setelah observasi dan tak ada perubahan yang signifikan, team dokter memutuskan untuk Adel melahirkan prematur, padahal seharusnya masih satu bulan lagi bayi itu lahir.
Awalnya Adel menolak, tetapi resiko yang akan dia tanggung akan semakin buruk. Jadilah ia mengiyakannya. Walaupun setelah ini, dia harus dipusingkan dengan biaya rumah sakit yang membengkak.
Tetapi tak cukup sampai disana, kondisi bayi Adel kritis, denyut jantungnya melemah. Membuatnya harus selalu dipantau, diruangan khusus bayi. Bahkan Adel sendiri tak dapat memberinya ASI.
Kondisi sang bayi hanya bertahan 3 minggu, dari hari kelahirannya. Adel kembali harus merasakan kehilangan, kepahitan yang teramat sangat. Seolah semangat hidup Adel tak ada lagi.
"Sayanggg, kenapa kamu juga ninggalin ibu, ibu sendirian disini, apa kamu bahagia bersama ayah disana? Ibu kesepian sayanggg..." Adel meratapi kepergian putri tercintanya.
"SELA PUTRI HASAN binti HASAN" nama nisan itu.
Adel beberapa hari mengurung diri didalam kamar, namun ia masih punya seorang ibu.
"Adel, aku tahu kamu bersedih, tetapi jika kamu seperti ini, ibumu akan ikut sedih. Kamu gak mau kan kehilangan ibumu juga?" perkataan Iim membangunkan Adel. Dia harus memperjuangkan ibunya, semampunya, apapun akan dia lakukan.
__ADS_1
Dia berusaha mengangsur biaya rumah sakit mendiang anaknya, dan untuk check up jantung Ibu Sari. Dua minggu sekali Adel kerumah sakit.
Hingga pertemuannya dengan Baby El, menyentuh jiwa seorang ibu dalam diri Adel. Itulah mengapa ia dengan suka rela memberi El ASI. Beginikah rasanya menjadi ibu sesungguhnya? Adel sangat menikmati moment itu.
Sayangg kita sama, sama-sama ditinggalkan. Aku akan menemanimu, kita akan saling menghibur. Dan memberikan semangat satu sama lain. batin Adel.
Kedatangan Arga padanya, seolah menjadi dewa penolongnya. Selain bisa membiayai pengobatan ibu, dia juga bisa mencurahkan kasih sayang seorang ibu.
Seluruh biaya rumah sakit dinyatakan lunas, Adel bisa melihat ibunya sembuh, meskipun dia harus saling berjauhan.
Tetapi Adel terus bersyukur, dipertemukan dengan orang orang baik disekitarnya. Yang merubah segala kehidupan pahitnya.
Flash back Off
Adel tetaplah Adel, meski ia berusaha tegar dihadapan semua orang, tetapi ada masa dimana ia benar benar terpuruk seperti sekarang ini.
Adel hanya bisa mengusap nisan sang putri, tanpa bisa menimangnya. Adel yakin Tuhan tidak akan memberi cobaan, diluar batas kemampuan umatnya.
"Adel, ayo kita pulang." ucap Ibu mengusap punggung Adel pelan. Dijawab anggukan oleh Adel.
"Sisi tolong bantu ibu." ucap Adel.
"Baik Non."
Sudah 1 jam mereka berada dimakam ini, setelah selesai berdoa, mereka bertiga meninggalkan makam dengan berat hati.
Mata Adel membengkak, hidungnya merah. Ia terlihat seperti badut. Lucu sekali, hahahaa
TBC
Maaf kalau flash backnya terlalu panjang, othor juga naruh sedikit bumbu disini. Supaya lebih syedaaaapp.
Nah, bagi yang nanya kenapa anaknya Adel meninggal, udah ketemu ya jawabannya.
Jika ada kalimat yang kurang berkenan mohon dimaafkan. Ini hanya kehaluan author semata.
Kritik dan saran silahkan bisa chat author.
Terima Kasih
__ADS_1