Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
S2 Bab 2


__ADS_3

 


 


 


Happy Reading


 


 


💐💐💐💐💐💐💐


 


 


"El sudah bangun?" Adel baru saja selesai dengan ritual paginya di kamar mandi, dia mendapati El sudah duduk sambil menguap, sesekali bocah gembul itu mengusap mata yang belum sepenuhnya terbuka.


 


"Mam, ndendem," rengek El, dia membuang bantal ke bawah ranjang. Kebiasaan El setiap bangun tidur, bantal akan dilempar ke bawah ranjang sebagai pijakan untuk turun.


 


"Tapi kita kan mau jemput Daddy, nanti kita terlambat kalau El berenang." Adel mengira El sudah lupa dengan ucapannya kemarin, ternyata dia menagih janji.


 


"Mam, ayo!" El menarik ujung dress Adel, dia sudah berpakaian rapi tetapi harus mengganti pakaiannya kembali. Adel terpaksa harus menuruti keinginan El untuk berenang pagi ini.


 


"Adel, El, belum siap juga? kita kan mau jemput Daddy." Wulan baru saja keluar dari kamarnya, dia hendak membantu Adel, mungkin membutuhkan bantuan untuk berhias diri.


 


"No! Mam ...." El memelas, dia mengerucutkan bibirnya. Wulan mengerti jika keinginan El tidak dituruti dia akan terus menagih apa yang diinginkan. Meski begitu, Adel dan Wulan juga mengajarkan bagaimana usaha yang harus El lakukan agar keinginannya terpenuhi.


 


Tidak semua harus segera dikabulkan, mereka harus mengarahkan El ke arah yang baik. Meskipun bergelimang harta, tetapi Adel tetap menanamkan kesederhanaan dan tidak memanjakan El agar menghargai hasil kerja keras orang lain.


 


"Baiklah. ayo kita berenang, tapi gak lama ya, nanti kita terlambat."  ucap Adel memperingati. Mereka menuju ke kolam renang di belakang setelah mengganti pakaian keduanya.


 


 


"Oteyy Mami." El mengecup pipi Adel, membuat wanita itu terharu.


 


"Lan kamu bersiaplah! Aku tidak akan lama." Adel melanjutkan langkahnya menuju kolam renang.


 


Tuan, kau harus segera kembali, lihatlah mereka semakin kompak saja. Kau pasti akan terkejut akan kedekatan mereka berdua.


 


Saat bersamaan Wulan dikejutkan dengan penampakan Henry yang berdiri di depan lift. "Astaga, Tuan. Kenapa aku bisa melihat bayanganmu, padahal aku tidak sengaja membicarakanmu," gumam Wulan.


 


"Kalau bayangan kenapa gak mau pergi?" Wulan mengerjap berkali-kali, tapi bukannya menghilang malah semakin mendekat.


 


Cetak.


 

__ADS_1


"Awwww, sakit." Wulan mengusap kening yang di sentil Arga. Dia bahkan tidak menyadari Arga yang berjalan di belakang Henry.


 


Wulan mendekati Henry hendak menyentuhnya, tetapi Arga segera menghadang di depannya. Tangan Wulan dipegang Arga. "Apa kau sudah bosan bekerja di sini?" Arga bicara dengan ketus.


 


"Jadi aku tidak sedang bermimpi? Bukankah seharusnya nanti siang baru sampai jakarta?" Wulan masih mencerna setiap kejadian yang baru saja dia alami.


 


Bilang saja kau cemburu Ga, jangan pura-pura di depanku, aku sudah hafal dengan sifatmu.


 


"Jangan banyak berpikir apalagi bertanya kalau tidak usiamu semakin pendek!" Henry enggan melihat perdebatan pasangan absurd itu. Dia menuju ke kamarnya tak lama disusul Arga.


 


"Ingat! Jangan memberitahu siapa pun tentang apa yang baru saja kau lihat, kecuali kau sudah siap anngkat kaki dari sini!" ucap Arga sekali lagi, dia meninggalkan Wulan yang masih mematung di tempatnya. Berdebat dengan Arga sudah menjadi makanan sehari-hari untuknya, tapi dia tahu bahwa Arga punya sisi lembut yang tidak ditunjukkan di depan semua orang.


 


"Kalian berdua membohongi Adel, kita lihat saja siapa yang akan terkejut." Wulan menyeringai, dia ingin mengerjai Arga dan Henry tetapi takut akan ancaman Arga.


 


Sementara itu, Adel sedang membimbing El untuk melakukan pemanasan sebelum masuk ke air. Ini masih jam 06.30 WIB, namun mentari tersenyum dengan ceria, menyengat kulit bagi siapa pun yang ingin menghangatkan tubuh di pagi hari.


 


"Mami, ayo!" El sudah tidak sabar ingin berenang, dia menarik Adel untuk segera masuk ke dalam air. El sudah mulai bisa berenang meskipun terkadang dia harus menggunakan pelampung.


 


"Iya Sayang. Ayo ...."


 


 


Senyum tak memudar dari wajah tampan pria itu membuatnya enggan beranjak dari sana. "Tunggulah beberapa hari lagi, kau akan benar-benar menjadi milikku, kita akan terus bersama selamanya," ucap Henry sangat pelan, sehingga hanya dia sendiri yang mendengarnya.


 


Arga sudah kembali ke kantor HS Group, menyusul Tuan Abimanyu yang sudah lebih dulu berangkat. Hari ini ada investor penting yang akan melakukan kerja sama.


 


"Sayang, sudah ya, ini sudah siang. El belum makan, kita harus bersiap," ucap Nyonya Amel yang sudah rapi dengan pakaian kasualnya.


 


"Otey Oma." El memberikan dua jempol untuk Oma. Adel segera membawanya ketepi kolam, meraih handuk dan menuju ke kamar mereka setelah mengeringkan tubuh.


 


Wulan sudah menunggu, dia bimbang harus memberitahu Adel atau tidak, tapi dia juga tak tega melihat Adel dibohongi. "Lan, bantu aku mendandani El, dan menyuapi makan." pinta Adel, dia kembali ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


 


"Adel tunggu, gak perlu buru-buru, mandilah dengan tenang!" Wulan membantu El berpakaian, dan menyuapi El sarapan paginya, nasi lunak dengan sup ikan tuna.


 


 


"El mam yang banyak, ya." Wulan sesekali membersihkan mulut El yang terkena kuah sup dengan tisu. Wulan bersemangat melihat El makan dengan lahapnya.


 


"Hmm ... Nyamiii ...." El tak berhenti mengunyah, pipi gembilnya semakin membulat karena penuh dengan makanan.


 

__ADS_1


"Ayo habiskan, aaa ... El anak pintar."


 


"Acih, Mam."


 


"Iya sayang, ayo habiskan ini suapan terakhir!"


 


"Yee ...." El bertepuk tangan, melihat mangkuk sudah kosong tak tersisa. Dia begitu lahap memakan semua isi di dalamnya.


 


"Hai anak Mami, mam-nya enak?" Adel mendekat, dia sudah berpakaian rapi tinggal menata rambut yang masih basah.


 


"Nyamiii ....," ujar El setelah meminum air dari gelas dengan dua pegangan dikanan dan kirinya.


 


Adel sudah bersiap, dia hanya meneguk segelas susu yang Wulan bawakan, tanpa menyentuh sarapan pagi yang sudah terlewat. "Adel, makanlah dulu!" ucap Wulan.


 


"Gak keburu, Lan, sudah siang, kita berangkat sekarang!" Adel mengambil tas selempangnya, dia membawa El dengan terburu-buru.


 


"Mau kemana, Non? Buru-buru amat!" Henry melipat kedua tangan dan bersandar di depan pintu kamar El. Adel tak menanggapi Henry dan terus melangkah mengabaikan suara itu.


 


El menoleh ke asal suara, tangannya dia rentangkan. "Daddy," seru El, membauat Adel menghentikan langkahnya tanpa berbalik badan.


"Iya sayang, tunggu sebentar ya, kita akan jemput Daddy," bujuk Adel, tetapi dia mengernyitkan kening saat menyadari arah pandangan El.


"No ,Mam. Tuh, Daddy," tunjuk El dengan wajah polosnya. Henry memberikan senyum terbaiknya. Dia menyeringai rencananya berhasil.


 


Henry mendekat, mengambil alih El dari dekapan Adel, mencurahkan rasa rindu yang membuncah untuk El. Tidak dengan Adel, dia masih mematung, menatap ayah dan anak yang saling memeluk.


 


"El sayang, rindu gak sama Daddy?"


 


"Lindu Daddy." El mengeratkan pelukan di leher Henry, sesekali dia mengecup Daddy yang sudah lama tidak dia jumpai, hanya dilihatnya melalui panggilan video.


"Mami dak lindu Daddy?" pertanyaan El membuat wajah Adel bersemu, dia menundukkan kepala karena malu.


 


"Daddy dak lindu Mamii?" Kali ini pertanyaan itu ditujukan untuk Henry.


 


"Tentu saja rindu, Daddy rindu El and Mami." Henry meraih Adel  dengan sebelah tangannya, namun segera ditepis oleh wanita itu.


 


 


TBC


 


 


TERIMA KASIH

__ADS_1


__ADS_2