
Terima kasih berkenan singgah dilapak saya.
Terus dukung Baby El ya, dengan Like komen dan vote sebanyak banyaknya.
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐
Ini adalah hari kedua mereka berlibur di pantai. Adel bangun masih sangat pagi, bahkan sang surya masih enggan beranjak dari peraduannya. Hanya menampakkan cahaya jingga di ufuk Timur.
"Hmmmm segar sekali." Adel menghirup sebanyak-banyaknya udara segar, kemudian membuangnya dengan perlahan. Begitu ia melakukannya hingga berulang kali.
Embun pagi masih menempel pada setiap dedaunan hijau, yang tumbuh subur di sekitar villa. Adel duduk di balkon kamar yang dia tempati.
"Seandainya aku punya rumah disini, pasti sangat menyenangkan. Jauh dari polusi dan macet yang melelahkan." Adel bergumam, ia terus menikmati udara sejuk.
Adel banyak merenung, merenungi perjalanan hidupnya. Sungguh terlalu banyak kejutan dalam hidupnya, yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Setiap kesedihan yang ia lalui bersama ibunya.
Kehilangan ayah, suami dan anak yang begitu ia dambakan. Hingga ia bertemu dengan bayi tampan Ansell. Membangkitkan kembali semangat hidupnya yang sempat meredup. Adel terlalu lama merenung, ia baru disadarkan akan hangatnya mentari, yang mulai mengintip dari celah pegunungan diseberang sana.
Yah, kamar yang Adel tempati, tak menghadap langsung kepantai, melainkan pepohonan diseberang villa sebelum akhirnya menampakkan hamparan pasir putih pantai.
"Del sedang apa disini?" Wulan mendekap dirinya sendiri. Ia sudah memakai pakaian tebal, namun masih merasa dingin.
"Menikmati embun, udaranya sangat sejuk, kemarilah." Tangan Adel melambai, mengajak Wulan duduk disampingnya.
"Noo Adel, disini sangat dingin." Wulan berbalik, ia menuju ke kamarnya. "Lebih baik aku berendam air hangat."
"Sepertinya aku sudah terlalu lama disini." Adel menyusul Wulan masuk. Tampak El yang sedang menggeliat, ia segera duduk dengan wajah kusutnya.
"Miii nummmm..." Rengek El.
"Kau sudah bangun sayang? Ini minumlah\, kau pasti haus ya?" Adel memberikan tempat minum m*g m*g pada El.
"Emmmmpt"
"Pelan-pelan, kau nanti bisa tersedak." Adel memperingatkan El, karena ia melihat bahwa bayi itu minum dengan terburu-buru. " Kau ini seperti habis berlari saja." Adel mengusap pucuk kepala El dengan sayang.
"Bagaimana kalau kita jalan-jalan pagi? Kau mau?" Bayi itu mengangguk antusias.
"Baiklah kita tunggu tante Wulan." El memanggil Wulan dengan sebutan 'Te', jadilah Adel mengartikannya Tante. Karena itu juga yang diajarkan Nyonya Amel.
__ADS_1
"Lan, apa kakimu sudah sembuh?" Tanya Adel, Wulan baru saja keluar dari kamar mandi, dan sedang mengeringkan rambutnya.
"Ku rasa sudah, ada apa memangnya?" Wulan melirik pantulan Adel dari kaca rias didepannya.
"Baiklah, tunggu aku ganti baju, kita jalan-jalan keluar villa." Adel bergegas mengganti bajunya.
"Kau tidak mandi? Jorok sekali." Ejek Wulan.
"Enak saja, aku sudah mandi, bahkan sebelum kau bangun dari mimpimu."
"Ya sudah, ayo kita berangkat. Let's go...."
"Goooooo" Sahut El dengan penuh semangat.
Adel membawa El keluar villa, mereka berjalan kaki. Setelah sebelumnya dia minta izin pada Ama dan Nyonya Amel. Menyusuri jalanan yang lengang akan hawa manusia. Padahal disana banyak sekali villa berjejer dengan megah. Namun terlihat kosong, tak heran, karen saat ini adalah hari biasa. Mungkin saat waktu liburan tiba, villa-villa ini akan ramai pengunjung.
"El jangan lari, nanti kau terjatuh." Teriak Adel dibelakangnya. Wulan sedang berlomba lari dengan El.
"Kita sedang lomba Del, Hehehee...." Wulan dengan santainya. Dia malah tertawa melihat El yang berusaha keras.
"Wulannn, kau ini sudah tua tapi masih saja seperti anak kecil." Adel mencebik.
Brukkkk
Wulan menabrak seseorang, dia langsung berbalik badan, dan seketika membeku melihat orang dihadapannya. "Ahhhh sangat tampan." gumamnya sangat lirih.
"Ma-maafkan aku Tuan." Wulan menundukkan kelalanya, ia tak ingin berlama-lama menatp orang itu.
"Adel, kita bertemu lagi." Seketika Wulan mendongakkan wajahnya, orang itu melewati Wulan begitu saja. Dan sepertinya orang itu mengenal Adel, pikir Wulan.
"Noooo maaaamiii Eyyyy" El segera berlari kearah Adel, merenatangkan tangannya. Dia seolah tak ingin Rey mendekati El seperti kemarin.
Rey berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan El. "Haii tampan, om bukan orang jahat kok, om teman mami kamu." Rey berusaha membujuk El, tetapi segera ditepis olehnya.
"Noo noo noo" El mengayunkan kedua tangannya , ia mengerucutkan bibirnya.
"Kenapa kau bisa se lucu ini, hmmm" Rey semakin gemas, dia ingin mengusap pipi gembul El.
"Nooooo" Lagi- lagi El menepis tangan Rey.
__ADS_1
"Sudahlah, ayo kita pergi!" Adel menggendong El, meninggalkan Rey disana. Wulan hanya melongo melihat keakraban mereka.
"Ayooo Lannn.. Sampai kapan kamu disana?" Teriak Adel yang semakin menjauh.
Rey tak berusaha menghentikan Adel seperti kemarin, dia tersenyum miris. "Kau sekarang pasti sudah bahagia, dan aku bisa melihatnya sendiri, suami dan anak yang begitu menyayangimu. Maafkan kebodohanku dulu Adel, aku begitu bodoh tak mempercayaimu. Dan melepaskanmu begitu saja." Rey membatin, ia berdiri mematung, memperhatikan tubuh Adel yang semakin menjauh.
Rey benar-benar percaya, bahwa Adel dan Henry adalah pasangan suami istri. Dan dia berfikir bahwa Adel sudah bahagia dengan kehidupannya sekarang.
"Siapa dia? Kenapa dia selalu menemui si wanita gila itu?" Henry bergumam, kemudian ia berbalik mengikuti Adel. Ia hanya ingin memastikan siapa laki-laki yang Adel temui itu. Jangan-jangan di punya niat jahat?
"Ga, cari tau siapa orang itu?"
"Baik Tuan,....." Arga mendapat tatapan tajam dari Henry, sepertinya dia salah berucap.
"Baiklah, kakak broo, aku akan segera mencari tau." Arga dan Henry baru saja kembali dari lari pagi, dari jauh mereka melihat Adel bersama Rey. Namun Adel tak mengetahuinya, bahwa mereka sedang diawasi.
"Adelll, tunggu akuuuu" Teriak Wulan, dia berusaha mengejar Adel yang berjalan sangat cepat.
"Miiiiii" El metap Adel dengan tatapan bingung.
"Iya sayang, kita main dikolam renang aja yukk, kita berenang, main air, kau mau?" El mengangguk. Lagipula saat ini sudah tak terlalu dingin, dan mereka sudah melakukan pemanasan.
"Adel, dia itu siapa? Pacar kamu?" Tanya Wulan, dengan nafas terengah.
"Wahhh, kau beruntung sekali, dia sangat tampan Adellll..." Wulan membayangkan wajah Rey.
"Kalau kau mau ambil sana." Adel meninggalkan Wulan yang masih memandangi Rey dari jauh, laki-laki itu tak bergeming sedikitpun. Dia masih mematung ditempat tadi.
"Menyebalkan, kenapa dia ada dimana-mana? Dasar penguntit." Adel masih saja mengomel. Sambil sesekali melihat Wulan yang senyum-senyum sendiri.
"Adel, dia buatku saja ya."
"Ambil."
Adel kembali ke kamar yang mereka tempati untuk berganti baju, begitupun Wulan. Mereka menuju kolam renang di bagian belakang villa.
Sekarang ini berenang adalah kebiasaan baru bagi El, tidak hanya mengajaknya berjalan-jalan ditaman. Tetapi dia juga mengajarkan olahraga air itu pada El sedini mungkin. Bahkan Wulan sering turun tangan menjadi pelatih bagi El, jika sang pelatih sedang berhalangan hadir.
TBC
Terima kasih
__ADS_1