Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
Diculik


__ADS_3

Terus dukung baby El ya kakak kakak semua.


Dengan like komen dan vote sebanyak-banyaknya.


Happy Reading


💐💐💐💐💐💐💐


Dua hari sudah Adel meninggalkan El, perasaan tak tega mendominasi untuk kembali bertemu El. Si bayi tampan dan menggemaskan. Adel rindu tawanya, tingkah lucunya, bahkan dia ingin sekali mencubit pipinya yang gembul. Dengan mengumpulkan puing-puing keberaniannya, Adel datang ke kediaman Syahreza.


"Adel, kamu sudah pulang?" Ama menyambutnya dengan gembira. Ama juga merindukan Adel yang cerewet. Terlebih tak ada yang menemaninya berjalan-jalan ditaman. Bahkan untuk sekedar mengingatkannya untuk makan.


Nyonya Amel sedang pergi keluar, Tuan Abimanyu tentu saja ke kantor. "Dimana El, Ama?" Dia celingukan mencari El, namun tak mendapatinya. Bahkan baunya saja tidak tercium olehnya. Mungkin dia sedang tidur pikirnya, tapi ini sudah jamnya El untuk bangun.


"Tenanglah Adel, Wulan hanya mengajaknya jalan-jalan sebentar. Kau susul saja, dia pasti tak akan pergi jauh." Ama mengusap lengan Adel. Dia mengerti kerinduan yang Adel rasakan. Rasa sayangnya terhadap El, dan ikatan diantara keduanya tak semudah itu melupakannya.


"Baiklah Ama, Adel pamit menyusul El." Dia berbalik badan, tak sabar rasanya untuk melihat El. Namun sebelumnya, Adel menitipkan stok ASIP kepada Bibi Mey. Selama dirumah Eyang, dia tak lupa untuk membuatkan stok. Dan setiap saat itu pula, Adel selalu merindukan Baby El.

__ADS_1


Adel menuju halaman samping mansion, dia sudah berkeliling. Tetapi tak juga mendapati Wulan dan El. "Kemana mereka? Apa mungkin sudah masuk?" Adel merogoh tas selempangnya, meraih benda pipih di dalamnya. Dan berusaha menghubungi Wulan. Berdering, tetapi tak diangkat.


Adel tak putus asa, dia mencobanya beberapa kali. Sambil terus melangkah, Adel masih menempelkan gawainya ditelinga. Berharap Wulan akan mengangkatnya, biasanya anak itu tak pernah melupakan benda berharganya itu. "Kalian kemana sih? Kaki ku hampir copot mengelilingi mansion, dan tak ada yang melihat kalian."


Adel sudah bertanya pada setiap pelayang yang dia temui, jawabannya sama tidak ada yang melihat. Adel mendengar benda bergetar, dan bunyi ponsel tak asing. Ternyata ponsel Wulan tertinggal dikursi taman. "Pantas saja dia tak menjawab teleponku." Adel mengambil benda pipih itu, dan menyimpannya bersama ponsel miliknya.


Adel hendak masuk ke mansion, dari kejauhan dia mendengar suara ribut. Rupanya suara itu berasal dari pintu samping mansion. Dia segera berlari, dua orang pria bertopeng sedang berusaha mengambil El dari dekapan Wulan. Sekuat tenaga Wulan menahannya.


Dengan paksa mereka memisahkan Wulan dan El, pengawal yang bertugas sudah terkapar tak berdaya. Suara tangis El meraung meminta di lepaskan. Tangisanya sangat pilu, memekakan telinga. "Nooooo... Huuuuuu Mammmmm..." El berusaha meraih tangan Wulan yang dipegangi oleh seorang lainnya.


Membuat Adel semakin marah, tanpa menunggu lagi." Lepaskan mereka." Adel menghadiahi bogem mentah untuknya. El hampir saja terjatuh, beruntungya Adel dengan sigap menangkapnya. Kemudian menggunakan kakinya, menendang aset pria yang memegangi Wulan. Mereka mengaduh kesakitan. Adel dengan cepat menarik Wulan untuk berlari.


Tanpa menunggu lagi, dia membekap Adel, dan membawanya bersama El. Melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Setengah sadar Adel mendekap El dengan erat. Apapu Meninggalkan mansion Syahreza, sebelum aksinya diketahui. Bahkan dia mengetahui jalan tikus untuk cepat melarikan diri dari sini. Menuju rumah tua yang jauh dari rumah penduduk.


"Huuuuu... Mammmiiii... Anunnn..." El terus menangis. Dia memeluk Mami Adel dengan sangat erat. Tak mau melihat orang yang ada dikursi kemudi. El menyerukkan kepalanya pada Adel, bayi itu benar-benar takut dipisahkan lagi dengan Maminya.


Adel terbangun ketika samar-samar mendengar El menangis. " Diamlah anak kecil!!! Kau ini bayi yang sangat merepotkan. Bisanya nangis dan nangis." Bentak suara laki-laki. El diam sebentar kemudian menangis lagi.

__ADS_1


"Kejam sekali Daddymu, bukankah kemarin dia sangat menyayangimu?" Adel memijat pelipisnya, kepalanya masih sangat berat. Adel melihat sekelilingnya, dia ingat. Saat menolong Wulan tiba-tiba ada yang mendorongnya masuk mobil. Adel berusaha mencari tas selempangnya.


"Apa kau mencari ini Nona?" Seorang dengan wajah lebam melempar tas Ade. Tetapi benda yang ia cari tak ada disana. Mereka cukup pintar, untuk tidak membuat jejak. Tetapi Adel lebih pintar, ponsel Wulan ia selipkan di tempat yang tersembunyi dalam tasnya. Adel pura-pura mengiba, karena jika dia melawan, El yang dibawa satu orang lainnya akan disiksa.


Bahkan suaranya serak karena terlalu lama menangis. " Apa mau kalian? Cepat berikan anak itu padaku." Teriak Adel. Dia berusaha menggapai El, tetapi apa dayanya. Tangan Adel dipegangi dan tubuhnya masih lemas akibat obat itu. " Tuan tolonglah, dia pasti haus, kasihanilah dia. Bagaimana jika ini terjadi pada anak kalian?"


Adel ditertawakan," Hahahaha... mana mungkin, nikah juga belum apalagi anak." sahut orang yang memegang El. Adel harus mencari cara lain, didalam hanya ada dua orang, tetapi diluar sepertinya banyak yang berjaga. Adel bersimpuh pada orang yang tadi memegang tangannya. " Tuan, aku mohon, dia bisa pingsan. Dan apa kalian mau disalahkan?"


Kali ini usahanya tak sia-sia, El diturunkan. Anak itu setengah berlari kearah Adel. Dia memeluk Adel, begitupun Adel mendekapnya dengan erat. "Biarkan mereka menikmati momen ini. Ayo kita keluar." Akhirnya dua penculik itu keluar. Adel tak ingin melewatkan kesempatan, diraihnya ponsel milik Wulan. Dan segera menghubungi keluarga Syahreza.


"Lan, kenapa tak ada nomor siapapun? Arga, mungkin ada disini." Adel mengutak utik ponsel Wulan yang tak terkunci, tetapi tak menemukan apa yang dia cari. "Dia kasih nama siapa sih? Tunggu, dia sering memanggilnya pilar. Yah lebih baik aku coba." Adel terdiam sejenak, kemudian mengetik 'Pilar'. Disana ada nomor Arga, yang Adel tahu melalui profilnya.


"Untunglah ada ini" baru saja tersambung, ponsel berpindah tangan. Amar, nama penculik yang tadi membawa El. Dia masuk untuk mengantarkan air, atas perintah boss nya. Dia mendapati Adel nenghubungi seseorang, tak tinggal diam. Dia merebutnya dan melemparkan ke lantai. Hingga benda pipih itu hancur menjadi beberapa bagian.


"Kau ini berani sekali ya!" Bentak Amar seraya melempar air mineral ke arah Adel." Maammii tuttttt" El menangis lagi. Dia hendak membawa kembali El, sekuat tenaga Adel mempertahankan El. "Ampun Tuan, jika terjadi sesuatu dengannya, kalian akan menyesal." Ucap Adel sinis.


"Hahahaa... itulah yang aku inginkan" Boss mereka nenyeringai, ia bersandar pada kusen pintu, tangannya dilipat didepan dada. Adel terperanjat melihat orang itu, "Kau tega sekali, melakukan ini pada keluarga teman mu." Adel sangat marah, mengetahui Edo yang merencanakan penculikan ini.

__ADS_1


TBC


TERIMA KASIH


__ADS_2