Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
S2-36


__ADS_3

Happy Reading


💐💐💐💐💐💐


Arga sudah menduga, Wulan akan menjawab demikian. Arga hanya bisa menghela nafas panjang, memijat pelipisnya yang terasa pening. Masalahnya dengan Wulan tak akan pernah selesai jika keduanya masih mementingkan ego masing-masing.


Arga menggenggam erat kedua tangan Wulan diatas meja. "Lan, aku sudah tau semuanya. Kita hadapi bersama. Apapun yang terjadi nantinya, asalkan kita bersama, semuanyabpasti bisa kita lalui." Arga menatap lekat Wulan.


"Maaf Ga, aku gak bisa. Keselamatan keluarga ku taruhannya. Aku tahu dia gak main-main dengan ucapannya. Dia akan melakukan segala cara agar keinginannya tercapai." Wulan melepaskan tangannya dari genggaman Arga.


"Aku sudah tau, untuk itulah aku gak ingin kamu berjuang sendiri. Masalah keluarga mu gak usah cemas. Aku akan menempatkan orang ku disekitar sana. Aku hanya perlu kamu percaya pada ku."


"Bukan aku gak percaya pada mu. Tapi aku takut, aku benar-benar takut."


"Jangan takut ada aku, Keluarga Syahreza juga gak akan tinggal diam. Kita hadapi semuanya bersama, kamu cukup dengarkan aku dan percaya padaku."


"Aku gak ingin melibatkan semakin banyak orang dalam masalah ku." Wulan berdiri, tatapannya menerawang jauh pada rintik hujan yang mulai lebat.


"Baiklah jika itu yang kamu mau. Tapi tidak akan tinggal diam lagi. Cukup aku diam selama ini, aku sudah mengumpulkan bukti kejahatannya. Hanya menunggu waktu saja." Arga berbalik, terus berjalan menuju pintu kamar.


"Beri aku waktu Ga." Arga menghentikan langkahnya, memutar tubuhnya kembali menghampiri Wulan.


"Aku butuh kamu, kerja sama dengan mu. Untuk membuktikan semuanya. Aku janji." Arga menyunggingkan senyum manisnya.


"Terima kasih." Wulan membalas senyuman Arga.


"Ayo masuk, disini dingin." Arga merangkul bahu Wulan membuatnya semakin dekat.


Dag dig dug


Jantung Wulan berpacu lebih cepat dari biasanya. Sudah saatnya Wulan menentukan pilihan, apapun resikonya nanti. Yang terpenting sekarang mereka harus saling menguatkan satu sama lain.


"Ehm, sudah puas pacaran?" Nyonya Amel menyeringai, duduk disamping ranjang El.


Wulan segera melepas tautan tangannya, namun Arga semakin mempererat genggamannya. Wulan terlihat kikuk, tidak dengan Arga yang menanggapinya dengan santai.


"Ehehee.. Nya sedang apa disini?" tanya Wulan malu-malu.


"Ngintip orang pacaran."


"Nanti bintitan tuh matanya." ucap Arga tanpa dosa. Dia tak mengindahkan Nyonya Amel, malah berjalan melewatinya.

__ADS_1


"Argaaaaa... kamu sudah berani ya sekarang?" Nyonya Amel menggertakkan giginya, membuat Arga terkekeh.


"Kaburrr..." Arga membawa Wulan pergi.


"Huh, anak ini benar-benar sudah kena virus menyebalkan si bodoh. Gak sekarang dia gak bodoh lagi." Nyonya Amel mengomel sendiri. Niat awalnya hanya ingin melihat cucunya. Ternyata malah menyaksikan Arga dan Wulan yang sedang berduaan di balkon kamar.


"Good naight sayang. Mimpi indah ya. Jangan menyebalkan seperti Daddy dan Uncle mu itu." Nyonya Amel mengecup pipi gembul El dan menyelimutinya. Menutup pintu dengan perlahan, agar tak membangunkan El.


"Apa dia sudah tidur?" tanya Ibu Sari mengagetkan Nyonya Amel yang membelakanginya.


"Ah ya, sudah. Kau mau lihat?"


"Gak perlu, lebih baik kita menghangatkan diri. Aku sudah siapkan jahe hangat dan juga cemilan untuk kita." Ibu Sari tersenyum bangga, dia baru saja membantu kepala pelayan menyiapkan makanan ringan.


"Ayo kita lakukan, kita kan jarang sekali punya waktu ngobrol berdua." Kedua nenek itu berjalan berdampingan. Seperti anak muda yang lama tak berjumpa, mereka berdua sangat rukun.


Arga membawa Wulan keruang makan. Dia menyiapkan satu piring makanan penuh dengan lauk pauk. "Kamu mau makan lagi?" tanya Wulan heran.


"Bukan aku tapi kamu." Arga meletakkan piring dihadapan Wulan.


"Gak, aku sudah kenyang. Tadi sudah makan."


"Berarti aku suapi, mau?"


"Makan. Tadi hanya makan sedikit, apaan ini badan kulit sama tulang." Arga mencubit lengan Wulan yang kurus.


"Kamu mau buat aku gendut ya." Wulan tak ingin kalah. Namun Arga punya berbagai cara agar Wulan menurut.


"Iya, biar gak seperti gizi buruk."


"Sembarangan, ini sih dari sananya. Tapi kamu bantu aku makan. Aku gak sanggup habiskan makanan ini sendirian." Wulan juga menyuapi Arga dengan tangannya. Nyonya Amel dan Ibu Sari hanya menggelengkan kepala, melihat pasangan yang saling menyayangi tetapi selalu ribut. Namun, begitulah cara mereka mengungkapkan kasih sayang.


...---------------...


Keesokan harinya, Adel sudah diperbolehkan pulang. Henry tak pernah berpaling darinya. Dengan setia Henry menemani dan merawat Adel dengan setia. Nyonya Amel dan Ibu Sari masih setia menemani Wulan menjaga El.


Hubungan Arga dan Wulan juga sudah mengalami kemajuan. Nyonya Amel juga turut senang, karena Arga mulai membuka hatinya.


"Papa... Ayo main." El merengek, menarik Arga yang bersiap mendampingi Tuan Abimanyu di kantor.


"Sayang, Papa kan mau kerja, El main sama Oma sama Eyang aja." bujuk Nyonya Amel.

__ADS_1


"Wulan, tinggalkan itu, El merajuk." Ibu Sari mengusir Wulan yang sedang membereskan bekal makam siang untuk Arga.


"Iya, ini sudah selesai." Wulan bergegas menyusul El yang terus merengek.


"Main sama Mama yuk." bujuk Wulan, namun El malah semakin erat memeluk Arga.


"Sekarang Papa kerja dulu, Daddy sebentar lagi pulang loh." Ucapan Arga membuat El berhenti merengek.


"Iya sayang, El mau gak main sama Daddy sama Mami?" El mengangguk antusias. "Nah sekarang kita mandi dulu, tunggu Daddy lagi jemput Mami." Wulan memgulurkan tangannya, untuk meraih El.


"Otey Mama, canah Papa kelja."


"Hmmm... sekarang diusir, tadi aja nempel kaya lem." ucap Nyonya Amel.


Wulan segera membawa El pergi, jika tidak El akan kembali merengek. Begitulah El, jika Henry dan Adel sibuk, El akan menempel padanya.


"Saya berangkat dulu." Arga salim dengan Nyonya Amel. Hal itu membuat Nyonya Amel berkaca-kaca, sudah sekian tahun Arga tak melakukannya.


Nyonya Amel refleks memeluk Arga dengan air mata menderas. Bagaikan Ibu yang telah lama merindukan putranya yang hilang. "Anak ku, Arga."


"Maafin Arga Mom." tangisan Nyonya Amel semakin menjadi. Tak lagi bisa berkata apapun. Hanya kebahagiaan yang dia rasakan, akhirnya Arga memanggilnya Mommy seperti dulu lagi.


"Apa Mom gak suka?" Nyonya Amel menggelengkan kepalanya.


"Mommy senang, sangat bahagia kamu mau anggap Mommy lagi. Maafin Mom Ga." Arga mengusap punggung wanita yang telah dia anggap ibunya. Meski terkesan cuek, Nyonya Amel dan Tuan Abimanyu begitu menyayanginya. Sama seperti Henry, namun setelah ayah kandung Arga meninggal, dia menjadi orang yang dingin.


"Bahagia kenapa menangis?" Arga menjauhkan tubuhnya, menghapus air mata diwajah Mommy yang selama ini memberinya kasih sayang seorang ibu.


"Ini air mata bahagia Ga." Nyonya Amel kembali memeluk Arga.


"Mom, aku bisa terlambat, kalau masih terus seperti ini."


"Ya, kau pergilah anak nakal." Nyonya Amel mengusap pipi Arga.


"Ga, sampai lupa, ini dapat bekal cinta, dari calon istri." Nyonya Amel mengembangkan senyum nya.


"Thanks Mom." Arga melambaikan tangannya. Nyonya Amel membalasnya, sampai yang Arga kendarai menghilang dibalik pagar.


"Dasar anak nakal."


TBC

__ADS_1


TERIMA KASIH


__ADS_2