
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐
Setelah tiga hari dirawat di rumah sakit, Arga sudah diperbolehkan pulang. Selama itu juga, Wulan selalu menemaninya bersama Tuan Abimanyu dan Nyonya Amel bergantian. Henry sesekali singgah disela kesibukannya, ia masih tetap menyempatkan waktunya untuk menjenguk Arga.
Begitupun Adel, ia membantu suaminya untuk urusan pekerjaan. Namun tetap memperhatikan keseharian El. Tak ada Wulan membuatnya sering membawa El ke kantor bersama Sisi. Lagi pula tak ada pekerjaan yang mengharuskannya meninggalkan kantor.
Meski sudah boleh pulang, Arga belum boleh beraktifitas berat. Jahitan ditangannya belum sepenuhnya sembuh. "Kamu harus tetap di sini sampai benar-benar sembuh." ucap Nyonya Amel, saat ini mereka ada di kamar Arga di kediaman Syahreza.
Tuan Abimanyu dan Henry membenarkan ucapan Mommy, jika dibiarkan sendiri, Arga pasti tak akan mendengarkan perkataan dokter. "Mommy benar, disini ada banyak orang yang akan mengawasi mu."
"Apa perlu Wulan juga Aku boyong kesini?" ledek Henry. Wulan yang baru datang mengernyitkan keningnya mendengar namanya disebut-sebut.
"Aku?" Wulan menunjuk dirinya dengan telunjuknya.
"Ya, memangnya ada berapa Wulan disini?" Nyonya Amel menimpali.
"Saya kan harus jagain El."
"Kamu kan bisa bawa El, lagian juga El sudah lama gak menginap disini." ucap Tuan Abimanyu.
"Nah, jarak dari sini ke rumah ku gak akan menghabiskan satu hari perjalanan." Henry mendukung ucapan Daddynya. "Ada Sisi yang menjaga El di rumah. Tetapi kalau Kamu mau bawa El itu lebih baik." Seringai muncul diwajah Henry.
Dan Aku bisa berduaan dengan istri ku, gak akan ada Si Gembul yang akan mengganggu. Hehe...
Akhirnya Arga hanya bisa menurut, semenjak Henry pindah, Arga juga tak pernah lagi menginap di mansion. Meski tak jarang Arga mengunjungi rumah ini, tetapi tidak sampai menginap.
...----------------...
Dua minggu kemudian.
Arga sudah kembali bekerja seperti biasa, tetapi Adel masih turun tangan di kantir Wiranata Corporation. Henry sudah melarangnya, tetapi Adel selalu beralasan. Henry terpaksa mengijinkan asalkan masih bisa mengurus El dengan baik.
"El, dimana sama Wulan?" tanya Adel, hari ini El ikut ke kantor bersama Wulan. Tetapi saat selesai rapat, El hanya berdua dengan sekertarisnya Nia.
"Nona Wulan pergi Bu, katanya ada urusan penting." sahut Nia sambil menyuapi es krim pada El. Semenjak Nia tahu bahwa Wulan adalah tunangan Arga, dia tak pernah memanggil Wulan dengan namanya. Apalagi ini di lingkungan kantor, kecuali jika hanya mereka berdua.
"Kemana anak itu?" Adel bergumam, tak biasanya dia menghilang tanpa kabar seperti sekarang ini. Terlebih dia tak memberitahu Adel. Dia segera meneliti gawainya. Ternyata lowbate, dia lupa mencharge tadi pagi.
"Nahh, ini suapan terakhir, selesai mam ecim nya." Nia membersihkan sisa eskrim di wajah El dengan tisu.
"Yaeeey acih ate." ucap El dengan senyum imutnya.
"Masama sayang." Nia mengusap pipi El dengan sayang. Dia adalah pecinta anak kecil, meskipun dia sendiri masih lajang, karena dia anak tunggal dan tak memiliki adik atau keponakan. Dan setiap anak yang dekat dengannya akan menempel padanya karena sifat penyayangnya.
Beberapa kali bertemu, El masih takut padanya. Tetapi Adel sering kali membujuknya suapya El tak perlu takut lagi. Dan juga sikap Nia yang lembut membuat El luluh.
"Nia kau boleh kembali bekerja, Aku sudah tak ada kerjaan penting hari ini." Adel berbicara seraya menyambungkan ponselnya pada pengisi baterai. Tak menunggu waktu lama, gawainya bergetar beberapa kali menandakan ada pesan masuk.
"Baik Bu, Saya permisi kembali ke meja saya." Nia menuju ke mejanya tepat di depan ruangan Adel.
Adel mengangguk, dia kembali mengecek ponselnya, tertulis nama Wulan disana, dia berulang kali mengirim pesan padanya. Dan ada beberapa missed call dari Wulan. Adel segera mengecek, dia tersentak saat mengetahui kabar duka dari Ibu Wulan.
"Sabar Lan, kau gadis yang kuat, aku yakin kau pasti bisa menghadapi semua cobaan hidup ini." Adel ikut menitikkan air matanya, dia ikut merasakan kesedihan yang dialami Wulan.
"Mami apa angis?" El ikut berkaca-kaca melihat Adel menangis.
__ADS_1
"Mami sedih sayang, kita susul Mama Wulan ya." El yang tak mengerti permasalahan orang dewasa hanya mengangguk.
Adel menghubungi Henry, kebetulan jam pulang kantor sebentar lagi, dan pekerjaan Henry hari ini tak terlalu banyak. "Haii Mami, ada apa hmm? Apa kau sudah tak sabar ingin bertemu dengan ku?"
Adel hanya berdecih, sekarang adalah hobi baru Henry, dia selalu menggombal tanpa tahu tempat dan suasana. "Ini serius, Wulan pergi, Ibunya meninggal dunia, dan aku baru selesai rapat." jawab Adel dengan sedikit ketus.
"Oooo, aku pikir kamu sudah merindukanku, seperti aku rindu kamu, tapi cukup aku saja, karena kata dilan rindu itu berat, biar aku saja." Henry santai menanggapi Adel, seperti tak terkejut sedikitpun.
"Ngomong sana sama tembok, hih kesel, aki serius." Adel mengomel, dia sangat kesal dengan tingkah Henry.
"Aku juga serius sayang." Henry nyengir kuda, senyum tak memudar dari wajahnya.
"Hah, cepat jemput Aku, kita kerumah Wulan." Adel menutup panggilan, tanpa mendengarkan jawaban dari Henry.
"Iya sa...., lah kok dimatiin sih." Henry membereskan meja kerjanya dari tumpukan kertas yang berserakan. Dia meninggalkan HS Group dengan perasaan senang. Setiap hari Henry akan antar jemput Adel, kecuali jika ada meeting penting, barulah Adel berangkat dengan supir.
"El kalau besar kamu jangan ngeselin seprrti Daddy mu ya." Adel berbicara sambil menggandeng tangan El.
"Tak Mami, El tan pintal." Adel mengacak rambut El, tapi tangan Adel ditepis El.
"Mami, tal El dak keyen lagi." El merapikan kembali rambutnya.
Astaga El, sepertinya sifat menyebalkan Daddy mu sudah mulai mengalir padamu.
Adel menunggu Henry di lobby, waktu tak akan terasa lama, jika dia bersama El. Ada saja tingkah lucu El yang membuatnya terhibur. Mereka bertiga menuju kerumah Wulan. Bagaimanapun, saat ini Wulan adalah keluarganya.
"Tenanglah sayang, Arga sudah ada disana, untuk mengurus semuanya." Henry melirik Adel sekilas, dia masih fokus pada kemudinya karena jalanan sedikit padat saat jam pulang kerja.
"Kamu sudah tahu? Kenapa tak memberitahuku?" Adel mengerucutkan bibirnya.
Adel menengok, senyum mulai mengembang dari bibir manisnya. "Terima kasih, kamu memang bisa diandalkan." Adel bergelayut manja di lengan Henry, El tertidur didkursi belakang yang disulap menjadi kasur mini bagi El.
Saat ini mereka berhenti karena lampu lalu lintas berwarna merah, "hanya itu? terima kasihnya disini." Henry menunjuk dan memonyongkan bibirnya.
"Ihh dasar mesum" Adel mencubit lengan Henry.
"Gak papa mesum sama istri sendiri, memangnya boleh mesum sama orang lain?"
"Awas aja kalau berani, nanti disunatin lagi sama readers tau rasa." Adel melototkan matanya, sementara El tertidur dan dipindahkan ke jok belakang yang terdapat kasur untuk El.
"Habis dong kalau disunat lagi?" Henry bergidik ngeri, hanya dengan membayangkan hal itu terjadi.
"Itu hukuman buat suami yang genit."
"Iya sayang, gak akan terjadi, ciyus."
"Hmmm..."
Adel menolehkan wajahnya pada jalanan yang mulai padat. Adel mulai lelah, dia menguap beberapa kali tetapi berusaha ia tahan. Tak tega membiarkan suaminya menyetir sendirian.
"Kalau mengantuk tidur sayang, gak usah maksain diri." ucap Henry mengusap pucuk kepala Adel.
"Tapi Kamu sendirian. Apa gak apa-apa?"
"Tentu sayang, tidurlah!" Adel benar-benar tertidur selama perjalanan.
Tuan Abimanyu dan Nyonya Amel juga menyusul ke tempat Wulan. Mereka janji bertemu di rest area sebelum keluar jalan tol. Bejo juga ikut, untuk mencegah kejadian waktu itu terulang lagi, Bejo sudah menghubungi beberapa anak buahnya untuk bersiaga.
__ADS_1
Henry dan rombongan sampai di rumah Wulan saat matahari hampir tergelincir ke barat. Suasana duka menyelimuti kediaman Wulan, para tetangga berdatangan untuk mengucapkan bela sungkawa.
Wulan duduk bersimpuh disamping tubuh ibunya yang telah terbujur kaku. Bersama Lintang keduanya saling memeluk, saling menguatkan atas semua yang terjadi pada keluarga mereka.
Arga tak pernah berpaling dari sisi Wulan. Berulang kali menyeka air mata Wulan yang tak henti mengalir, Arga tahu perasaan Wulan seperti apa. Saat kehilangan orang tuanya dulu, Arga tak banyak bicara, tetapi harus tetap berada di samping Wulan.
"Lan, kamu harus sabar ya." Adel memeluknya erat, kesedihan Wulan seolah menular padanya. Dan juga Nyonya Amel yang merangkul kedua putri mantunya.
"Sayang, masih ada Mom disini." Nyonya Amel juga merangkul Lintang, suasana haru dan sedih membuat siapapun yang melihatnya terbawa suasana. Wulan tak lagi memedulikan penampilannya, matanya bengkak seperti panda karena terlalu banyak menangis.
Arga berdiri bersama Henry dan Tuan Abimanyu. Sudah ada Mommy dan Adel yang menemani Wulan dan Lintang.
"Huuhuuu hiksss..." Wulan hanya bisa mengeluarkan air matanya, ungkapan rasa sedih yang ada dalam dirinya, saat ini begitu banyak rasa penyesalan dihatinya. Mengapa ia tak memboyong ibunya pindah secepatnya? Mengapa ia malah percaya ketika Ibu mengatakan akan baik-baik saja.? semua mengapa ada dalam benaknya. Tetapi inilah jalan takdir yang harus ia jalani, Wulan juga tak bisa menyalahkan siapapun.
Flash Back On
Wulan sedang bermain bersama El diruangan Adel, saat Lintang memberitahu bahwa Ibunya masuk rumah sakit. Penyakitnya kambuh lagi, begitu yang dikatakan Lintang padanya.
"Dirumah sakit mana? Kamu sama siapa disana?" tanya Wulan beruntun.
"Aku sama Bibi disini Kak, Kakak pulang sekarang ya." ucap Lintang ditengah isakannya.
"Iya-iya, Kakak pulang sekarang, Kamu yang tenang disana ya dek." Wulan mengakhiri panggilan bersama Lintang, Wulan berusaha menghubungi Adel, namun sayangnya ponsel Adel dalam mode hening dan disimpan disaku jasnya.
Wulan segera menghubungi Arga, hanya dia satu-satunya orang yang bisa membantunya saat ini. Kebetulan saat itu Arga sedang bersama Henry, pekerjaan mereka tak sesibuk biasanya. Membuat Arga bisa meluangkan waktunya untuk membahas recana pernikahannya.
"Kita lanjutkan besok, Aku harus mengantar Wulan pulang." ucap Arga.
"Gak boleh, Kamu baru sembuh." Henry melarang Arga menyetir, luka dibahunya baru saja sembuh, bahkan Arga masih mengeluh ngilu jika terlalu banyak bergerak. Meski Arga tak mengucapkannya, Henry menyadari perubahan Arga ketika meringis memegangi bahunya.
"Tapi Aku harus..."
"Ya diantar sopir, atau tidak sama sekali." Arga hanya bisa menurut, tak mungkin juga ia memaksakan dirinya. Perjalan menuju tempat tinggal orang tua Wulan cukup jauh.
Arga segera menjemput Wulan dan menemaninya pulang. Tak lupa Wulan meninggalkan pesan pada Nia untuk menjaga El. "Aku ada urusan penting, tolong jaga El sebentar Ni."
"Tapi Lan..."
"Bye... Bye El, Mama pergi sebentar ya, jangan nakal sama tante Nia." El hanya menganggukkan kepalanya, dan menurut melanjutkan makan es krim bersama Nia.
Ditengah perjalanan, Bibi yang bekerja dirumah Wulan kembali menghubunginya. Mengabarkan bahwa ibunya telah tiada, penyakit komplikasi yang di deritanya selama ini menjadi penyebab utamanya, terutama pembengkakan pada jantung. Padahal rencananya seminggu lagi akan dilakukan operasi jika kesehatan Ibu Yuli baik.
"Huuu huuu... Ibu..." Wulan menjatuhkan ponselnya, bersandar pada Arga disebelahnya. Arga segera mengambil ponsel Wulan dan menanyakan yang terjadi.
"Lan, memang berat kehilangan orang tua, tetapi Kamu harus menguatkan hati mu. Masih ada Lintang yang membutuhkan Kamu." ucap Arga setelah tangis Wulan mulai mereda.
Arga telah mendengar cerita keseluruhannya, ayah Wulan kabur dari penjara. Ada seseorang yang membantunya. Pulang kerumah dan berbuat keributan, saat itu satpam yang berjaga sedang mengantar Bibi ke pasar. Dan hanya ada Ibu Yuli dan Lintang dirumah.
Ancaman Ayah Wulan bahwa ia akan menyakiti Lintang membuat Ibu Yuli tak tinggal diam. Dan entah dari mana Ayah Wulan mendapat foto Wulan yang tidak senonoh. Ibu Yuli tak dapat menahan sesak di dadanya dan tak sadarkan diri. Saat itulah kedua orang yang bekerja disana baru kembali dari pasar dan segera membawanya ke rumah sakit.
Arga mengepalkan tangannya erat, rahangnya mengeras mendengar kabar yang di dengarnya. "Tunggu semua ini selesai, Aku pasti akan membuat perhitungan dengan mu." gumam Arga dalam hati.
Flash Back Off
TBC
TERIMA KASIH
__ADS_1