
Terima kasih yang masih setia menanti Baby El, dan atas semua dukungan yang diberikan.
Jangan lupa tinggalkan jejak like komen dan vote yahh
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐💐💐
Adel berlari menuju kamar El, disana El duduk manis dengan biskuit ditangannya. Bahkan remahan biskuit tercecer dikarpet tempatnya duduk. Ia sangat fokus menonton film kartun di TV sambil memakan biskuit.
"El, sayang akhirnya aku menemukanmu," drama Adel. Seperti tak bertemu berhari hari. Padahal baru satu jam lebih ia berpisah dari El.
"Mammm mammmm nyammmm nyammm..." oceh El. Mulutnya penuh dengan biskuit.
"Maafkan aku El, karena lalai menjagamu," Adel memeluk El. Dan menghadiahkan banyak ciuman diwajah tampannya.
Rena bersama Ama dan Nyonya Amel menyusul mereka. Semua orang berucap syukur, tak ada kejadian buruk yang terjadi pada El.
"Cucu oma," Nyonya Amel merentangkan tangannya. Ia mengambik alih El dari dekapan Adel. Begitupun Ama, yang tak kalah bahagianya.
"Mammm maammmm..." ucap El. Dia memberikan biskuit ditangannya ke mulut oma.
"Nyonya, El ingin menyuapi Anda," ucap Rena. Dengan segera Nyonya Amel membuka mulutnya, tetapi malah El memakan biskuitnya sendiri.
"Kau mengerjai Oma?" Nyonya Amel mengapit pipi gembul El dengan dua jarinya. Semua orang yang melihatnya tertawa berjamaah. Setelah habis El bertepuk tangan, seperti yang sering El ajarkan.
"Kau sangat menggemaskan," puji Ama.
"Yah, dia juga sangat pintar," ucap Adel.
"Kau jangan menghilang lagi ya," Rena membelai pipi El.
"Ini juga peringatan buat kalian, jangan sampai meninggalkan El seorang diri. Apalagi pintu kamar dibiarkan terbuka," ucap Ama. Dia memperingatkan kedua pengasuh El.
"Baik Ama," sahut Adel dan Rena bersamaan.
"Baiklah kau mandikan dia, lihatlah wajah dan bajunya kotor karena biskuit," ucap Nyonya Amel.
Adel mengambil alih El, sedangkan Rena menyiapkan air hangat untuk mandi. Setelah itu, Adel membawa El ke bak mandi bayi, dan Rena menyiapkan pakaian El. Mereka berdua bekerjasama dengan baik, meskipun keributan kecil sering terjadi.
Nyonya Amel dan Ama kembali kekamar masing masing. Mendengar Tuan Abimanyu sedang mandi, Nyonya Amel membantu menyiapkan pakaian kerja untuk suaminya.
Sementara itu dikamar Henry.
Henry sedang memainkan bola yang tadi dimainkan El. Dia senyum senyum sendiri, tak menyadari bahwa Arga ada dibalkon kamarnya. Dia sedang sibuk dengan laptopnya, terpaksa harus memundurkan jadwal meeting dan mengatur ulang semua kegiatan Henry. Namun ia sesekali melirik Henry, yang sedang memeluk bola El.
Anda baru menyadarinya Tuan? Dulu, kau ingin menjauh, terus menghindar dengannya. Sekarang malah ketagihan. batin Arga.
"Heiii sedang apa kau senyum senyum sendiri?" Henry sudah berdiri menjulang dihadapan Arga.
"Hah, siapa yang tersenyum Tuan? Mulut saya sedang senam," ucap Arga memeragakan mulutnya.
"Mana ada senam mulut?" sanggah Henry.
"Ada Tuan, seperti Nyonya Amel." Arga menutup mulutnya dengan tangan.
__ADS_1
"Itu bukan senam, tapi kurang kerjaan." Henry memutar bola matanya.
"Apa kita bisa berangkat sekarang Tuan?" tanya Arga.
"Hmmmm..." Henry meninggalkan Arga sendirian.
"Kebiasaan, mulai pasang tampang datar, padahal kalau sama Nyonya mati kutu," gerutu Arga.
"Kau mengataiku?" Henry memutar kepalanya.
"Ti-tidak Tuan, mana berani saya melakukannya," ucap Arga.
"Kalau kau berani, ku kirim kau ke ujung Papua," Henry mengancam.
"Iya Tuan."
"Maksudmu kau ingin ku kirim ke..."
"Tidak tidak, maksudku tidak akan melakukannya." Arga menggelengkan kepalanya.
Mereka berdua terus melangkah, menuju mobil mewah yang terparkir didepan mansion. Arga terus membuntuti Henry. Namun pandangannya teralihkan saat melihat Adel dari dapur.
Buggghhhh
Arga menabrak tubuh tegap Henry, Henry menghentikan langkahnya, karena Ama memanggilnya.
"Argaaaaaa," bentak Henry.
"Ampun Tuan, saya..."
"Jalan itu pakai kaki Tuan, matanya buat melihat," ucap Adel tiba tiba.
"Kau ini, tak usah ikut campur," Henry dengan muka memerah.
"Kalian ini kenapa sih?" tanya Ama.
"Dia tuh," tunjuk Henry.
"Saya kan hanya meluruskan perkataan Tuan," Adel membela diri.
"Kamu ini kerja gak bener, berani melawan pula," gerutu Henry.
"Sudahlah, Ama ingin bicara padamu," ucap Ama menengahi. Henry mengikuti Ama duduk disofa. Sementara Arga meminta maaf pada Adel.
"Maafkan saya Nona, karena saya Anda dimarahi," ucap Arga.
"Hahahaaa.. Anda ini formal sekali, disini hanya ada kita," ucap Adel memukul lengan Arga.
"Cukup panggil saya Adel, tanpa embel embel Nona," lanjutnya.
"Tapi kan..."
" Sudahlah, tak apa, lain kali hati hati," Adel kembali memukul lengan Adel.
"Baik," ucap Arga. Ada perasaan aneh dalam dirinya, jantungnya tiba tiba memompa lebih keras. Padahal Adel hanya menyentuh lengannya.
__ADS_1
Nona, tolong kondisikan tangan Anda, atau saya tidak bisa mengendalikan diri saya. Saya takut perasaan berlebihan pada Anda. batin Arga.
"Tuan... Tuannn..." tak ada jawaban. Arga masih mematung.
"Tuannnn Argaaaaa..." teriak Adel ditelinga Arga.
"Aaaa kenapa berteriak ditelingaku?" Arga mengusap telinganya yang berdenging.
"Maaf habisnya diajak bicara malah kaya patung," ucap Adel.
" Maaf Nona Adel, sarapan untuk Tuan Kecil sudah siap," ucap Bibi Mey.
"Baik, saya akan membawanya sendiri," mengambil nampan yang dibawa bibi Mey.
"Saya permisi Tuan," ucap Adel. Dengan menekankan kata Tuan. Arga melirik Henry, sepertinya Tuannya sudah selesai berbicara dengan Ama.
"Ayo Ga," ajak Henry, ia melangkah keluar mansion.
"Mari Nyonya." Arga membungkuk, memberi hormat pada Ama. Dibalas anggukan kecil dari Ama.
Arga membuntuti Henry, dan membukakan pintu mobil untuk Tuannya. Arga duduk disamping kursi kemudi. Karena akan keluar kota, mereka menggunakan supir.
Jarak yang akan mereka tempuh 3 jam perjalanan, belum lagi jika ditambah macet. Jadi Arga tak mau menyetir sendiri.
Sebenarnya Henry Enggan pergi ke kota Z, tetapi persyaratannya harus Henry sendiri yang turun tangan. Mau tak mau Henry harus berangkat.
"Berapa lama kita disana?" tanya Henry. Memecah keheningan.
"Sore nanti kita akan kembali Tuan," jawab Arga.
"Aku ingin secepatnya selesai, dan kembali ke Jakarta," ucap Henry.
"Baik Tuan, itu tergantung pihak Makmur Terus," ucap Arga.
Henry mengangguk, rasanya sudah tak sabar untuk kembali kemansion. Sekarang dia merasa ingin selalu bermain dengan El, jika saja tanggung jawab sebagai CEO bisa ditinggalkannya.
"Paaaa paaaa paaaaa daaaa daaaa..." ocehan El tadi pagi selalu terngiang dikepalanya.
Sepertinya Anda kecanduan Baby El Tuan, atau beradu mulut dengan Nona Adel. Ahh Nona Adel. gumam Arga.
"Kau menyebut wanita gila itu?" tanya Henry.
"Mana ada Tuan? Saya sedang menggumam Tuan Kecil El, yah Tuan Kecil El sangat menggemaskan," ucap Arga.
"Yah kau benar," ucap Henry, mengalihkan pandanganya pada kendaraan yang berlalu lalang.
Sementara Henry keluar kota, Tuan Abimanyu yang menggantikannya. Walaupun CEO HS Group sudah diberikan pada Henry, putra semata wayangnya. Tetapi Tuan Abimanyu masih turut mendampingi putranya. Sebagai penasehat perusahaan, dan menghalau rival HS Goup.
Semakin sukses seseorang, maka semakin banyak merasa iri. Dan semakin banyak yang ingin bersaing serta berusaha menghancurkan.
Semakin tinggi pohon, maka semakin kencang pula angin yang menerjangnya. Maka pohon itu harus memiliki akar yang kuat untuk tetap bertahan.
TBC
Terima Kasih
__ADS_1