Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
S2-12


__ADS_3

Jangan lupa like komen dan vote.


Happy Reading


💐💐💐💐💐💐💐


Kejutan


Tak lama Wulan datang bersama Lintang mengekor dibelakangnya. Dia ternganga melihat penampilan Arga yang lain dari biasanya. Lebih fresh, tambah ganteng.


"Kak, Kak Wulan," Lintang menggoyangkan lengan Wulan. Dia baru tersadar bahwa semua orang memandang kearahnya.


"Eh, itu aku..." Wulan mengusap tengkuk lehernya. Dia tak tahu harus berkata apa.


"Kau sudah siap? Ibu dan Lintang juga sebaiknya bersiap." Arga kembali duduk, menenggak teh hangat yang disuguhkan ibu.


"Bersiap untuk apa?" Wulan masih belum mengerti.


"Aku lupa belum memberitahu kalian, sebaiknya bersiaplah terlebih dahulu. Jangan lupa bawa semua barang berharga." Mereka bertiga saling melirik, tak mengerti maksud Arga.


"Nanti akan aku jelaskan, sebaiknya segera bersiap, waktu kita tidak banyak." Arga melirik jam yang melingkar dipergelangan tangannya.


Huh, apa sih maksudnya? Apa dia akan mengajak Ibu dan Lintang juga? Semaunya sendiri, sebal.


Ibu dan Lintang hanya menurut saja, meskipun banyak sekali pertanyaan di dalam benak mereka.


"Kau mau bawa Ibu dan Lintang kemana Tuan? Lagi pula kita harus segera bersiap kembali ke Jakarta." Wulan duduk diseberang Arga.


"Kau ini cerewet sekali, nanti juga tau." ucap Arga dengan santai.


Dasar pilar lampu jalan, tetap saja menyebalkan, walaupun sedikit tampan. Hah, buat apa tampan kalau menyebalkan.


Arga berusaha menahan tawanya, melihat Wulan kesal. "Aku hanya ingin yang terbaik untuk kalian," ucap Arga dalam hati. Dia juga tau bahwa rumah yang Wulan dan orang tuanya tinggali bukanlah tanah mereka. Sehingga bisa kapan saja mereka diusir dari sana.


Karena tanpa sepengetahuan mereka, Ayah Wulan sudah menggadaikan sertifikat tanah mereka pada rentenir. Tetapi sampai saat ini, Wulan dan keluarganya belum mengetahuinya. Padahal sudah lewat dari waktu yang ditentukan.


"Semua sudah siap, kita akan pergi jalan-jalan sebentar." Arga mulai mengemudikan mobilnya, menjauh dari toko kelontong.


"Buk, kita bisa jalan-jalan, naik mobil bagus lagi." Lintang begitu antusias, dia sangat bahagia mendengar kata jalan-jalan.


"Iya dek, bilang apa sama Om Arga?" Ibu mengingatkan Lintang untuk selalu berterima kasih kepada orang lain.

__ADS_1


Om katanya? apa aku setua itu? padahal penampilan ku sudah seperti ini masih di bilang 'om'.


Arga mendengus kesal, tetapi dia menutupinya dengan baik. Tidak dengan Wulan yang terkikik mendengar Arga di panggil Om.


"Terima kasih, Om Arga." Lintang memamerkan deretan giginya yang rapi.


"Hmmm.. ya," jawabnya singkat.


Om om ganteng boleh juga.


Arga menghentikan mobilnya dihalaman sebuah rumah. Tak terlalu besar namun cukup besar bagi Wulan dan ibunya. Lokasi rumah ini cukup jauh dari tempat tinggal sebelumnya. Rumah ini cukup strategis, dekat dengan sekolah dan rumah sakit dan fasilitas umum lainnya, mereka cukup berjalan kaki.


"Ini rumah siapa Tuan?" tanya Wulan setelah mereka turun.


"Ibu, ini kunci rumahnya." Arga menyerahkan kunci rumah pada Ibu Yuli, ibu kandung Wulan.


"Hah? ini untuk ku?" Arga menjawabnya dengan anggukan.


"Silahkan dibuka, tetapi untuk surat-surat rumah belum selesai, saat ini masih berada di notaris, mungkin 2 atau 3 hari mereka akan langsung mengantarkan langsung kesini."


"Dan rumah ini adalah hadiah dari Wulan untuk Ibu, saya hanya membantu memberikannya saja." Arga tersenyum, Ibu Yuli dan Lintang berucap syukur, ternyata Wulan menyiapkan ini semua untuk mereka.


"Ibu sangat bangga padamu nak, Ibu bahagia sekali." Ibu Yuli mendekap kedua putrinya, tangis bahagia dari ketiga orang wanita sedarah itu.


"Rumahnya sangat bagus Kak, Lintang pasti betah disini." Kebahagiaan terpancar dari wajah cantik bocah berumur 10 tahun itu.


Untuk saat ini Wulan hanya bisa diam, dia juga bahagia bisa melihat ibu dan adiknya bahagia. Meskipun dia sendiri juga masih bingung dengan ini. Wulan hanya melirik Arga sekilas.


Kau berhutang penjelasan padaku.


Wulan bicara melalui sorot matanya. Arga mengalihkan pandangannya ke arah lainnya. Arga turut merasakan kebahagiaan mereka.


Beginikah rasanya membahagiakan orang lain, aku memang memiliki keluarga Syahreza sebagai keluargaku, tetapi justru aku yang selalu diberikan kebahagiaan oleh mereka.


Wulan dan Arga mengikuti Ibu dan Lintang untuk melihat-lihat isi rumah, yang sudah lengkap dengan perabotan. Bahkan sebagian pakaian Ibu dan Lintang sudah ada disana.


"Kapan barang-barang pribadi kita sampai disini?" tanya Lintang polos.


"Hehe... Maafkan saya, tadi sebagian tetangga yang membawanya. Dan untuk sekolah Lintang, semua berkas sudah siap. Ini nama dan seragam sekolah baru." Arga menyerahkan beberapa paper bag berisi peelengkapan sekolah baru untuk Lintang. Arga juga menyiapkan seorang satpam dan ART untuk membantu mengurus rumah ini.


"Ibu gak tau lagi harus bicara apa, Ibu banyak mengucapkan terima kasih." Ibu Yuli kembali menumpahkan air matanya. Dia terharu bisa bertemu Arga, terlebih begitu banyak kejutan yang dia berikan untuk keluarganya.

__ADS_1


"Ibu tak perlu berterima kasih pada saya, semua ini murni kerja keras Wulan, saya hanya membantu untuk mewujudkan semuanya." Arga sangat pandai menutupi semuanya. termasuk Wulan yang ikut terkejut dengan Arga.


Arga dan Wulan pamit kembali ke Jakarta, setelah makan siang. Mereka berdua tak terlibat pembicaraan. Hanya deru mesin mobil yang menemani perjalanan mereka.


"Tuan, boleh istirahat sebentar?" Wulan sudah tak tahan ingin segera ke kamar kecil. Arga menepikan mobilnya pada rest area yang tak jauh dari sana.


"Tuan, terima kasih," ucap Wulan setelah selesai dengan hajatnya. Mereka duduk saling berhadapan di cafe rest area.


"Untuk?" Arga menaikkan sebelah alisnya.


"Untuk semuanya, bagaimana saya harus membayarnya? Sedangkan gaji saya tidak seberapa. Saya akan berusaha mencicil setiap bulannya." Wulan tak berdaya, dia tak mungkin membayar semua uang yang dikeluarkan Arga untuk keluarganya.


"Kau tak perlu membayarnya, aku melakukan semua itu dengan ikhlas. Tapi kalau kau memaksa apa boleh buat." Arga meminum cairan hitam dalam gelasnya.


"Lalu apa yang bisa saya lakukan untuk mu?"


"Cukup menikah dengan ku, semuanya lunas." Arga berdiri, berbisik ditelinga Wulan dan pergi kembali ke mobilnya.


Blush


Pipi Wulan terasa memanas, jantungnya berpacu lebih cepat, dia seperti melayang, seorang Arga yang dingin dan acuh, bisa berbuat demikian. Bahkan tindakannya benar-benar membuat Wulan meleleh. Lumer, kaya coklat.


"Sampai kapan kau disana?" teriakan Arga mengagetkan Wulan. Arga sudah menghidupkan mesin mobilnya. Wulan berlari kearahnya.


"Cepat, atau kau mau ku tinggal disini." ucap Arga kembali datar.


Hah, apa ini? dia kembali lagi, apa aku tadi mimpi?


Wulan mencubit seblah tangannya. "Awww," Wulan meringis, ternyata dia tidak bermimpi. Ini nyata, benar-benar nyata.


Arga hanya melirik sebentar, kembali fokus pada setir kemudi. Mengacuhkan Wulan yang mengaduh karena cubitannya sendiri.


Hari sudah semakin sore, dia melajukan kendaraanya sedikit pelan, sekarang jam pulang kantor, jalanan macet dimana-mana.


TBC


.


.


Mohon maaf sekarang jarang bales komen, juga jarang aktif di ig.

__ADS_1


Dan untuk sementara ini belum bisa up seperti sebelumnya. Tapi tetap diusahakan up tiap hari.


TERIMA KASIH


__ADS_2