Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
Salah sasaran


__ADS_3

Terima kasih berkenan singgah dilapak Baby El.


Terus dukung Baby El ya kakak kakak semua, dengan cara like komen dan VOTE sebanyak-banyaknya.


Happy Reading


💐💐💐💐💐💐💐


Adel dan Ibu Sari selesai berbelanja, mereka sedang menikmati makan siang disebuah restoran cepat saji. Sebenarnya itu hanya alasan Adel supaya menghindari El, bayi itu sedang berada disini juga. Adel tak sengaja melihatnya saat hendak memabyar belanjaan mereka.


"Aku harus segera pergi." Adel menutupi wajahnya dengan tas selempang yang ia gunakan.


Ibu Sari merasa heran, dengan sikap Adel yang mendadak seperti orang ketakutan. "Kau kenapa El? Kenapa kau seperti sedang menghindari seseorang? "


Namun Adel tak menghiraukan ibunya, dia sibuk dengan belanjaan yang akan dia bayar. Ibu Sari mengikuti arah pandangan El, tetapi tak menemukan apapun.


"Ibu, aku lapar. Ayo kita makan siang dulu." Memang benar, Adel hanya sarapan dengan selembar roti, bahkan coklat panas kesukaanya dia biarkan begitu saja.


Dan disinilah mereka saat ini, menikmati makan siang yang menurut Adel begitu menggugah selera makannya. " Bu, makanan disini lezat sekali." Adel menghabiskan porsi dalam piringnya.


"Kau benar Adel, rasanya seperti makanan rumahan tetapi dikemas dengan sangat elegan." Ibu Sari memuji hidangan dan tampilan yang mereka pesan. Bahkan suasana restoran terlihat berbeda dengan yang lainnya. Disana menonjolkan unsur klasik, perpaduan nilai budaya timur dan timur tengah.


Ibu Sari pamit ke toilet sebentar, dan saat kembali, Adel tak lagi ada ditempat semula. "Kemana Adel? Apa dia meninggalkanku dan pulang duluan?" Ibu Sari bertanya-tanya. Dia berusaha menghubungi Adel, tetapi ponselnya ada di atas meja.


"Lohh ini kan ponsel Adel? Dia ceroboh sekali, lalu dimana dia sebenarnya?" Ibu Sari melihat sekelilingnya. Dan mendapati Adel bersama El dan juga 3 orang lainnya.


Ibu Sari mendatangi Adel, menyapa mereka semua. " Wah sepertinya kalian janjian disini ya?"


Adel menoleh kearah ibunya, diikuti semua orang. Karena sibuk dengan El, mereka tak menyadari kedatangan Ibu Sari. "Tidak Ibu, kita tak sengaja bertemu, dan El langsung menangis melihatku." Adel mengecupi pipi gembul El. Bayi itu baru saja tenang.

__ADS_1


Adel sibuk bermain gadget, ketika ia mendengar tangisan bayi yang berusaha ia hindari, semakin lama suaranya semakin jelas. "Mungkin aku hanya berhalusinasi, karena terlalu merindukannya." Adel kembali fokus, ia sedang membuka akun sosmed. Disana mengatakan akan ada reuni kampus dari 5 angkatan sekaligus.


"Mammiii Eyyyy" Rengek El, tangisnya semakin pecah, merasa dicueki Adel.


Adel mencoba mencari asal suara, dia tertegun melihat 3 orang dewasa yang sedang menenangkan El. Membuatnya tak tega untuk mengacuhkan El. "El sayanggg, kau disini?" Adel mendekati mereka. Meninggalkan benda pipihnya begitu saja di atas meja.


Mau tak mau Adel harus bergabung bersama Henry, Arga dan Wulan. Sampai akhirnya Ibu Sari mendatangi mereka.


"Bagaimana keadaan Eyang Wira, Bu?" Tanya Henry. Ibu Sari mengernyitkan keningnya, ia tak tahu harus menjawab apa.


Adel dengan cepat menyahut, ia lupa kalau kemarin berbohong mengenai Eyang Wira yang sedang sakit. " Eyang sudah baikan, iyakan Bu?" Adel memberi tanda lewat kehipan matanya.


Namun Ibu Sari gagal paham, "Kenapa dengan matamu Adel? Matamu sakit?"


Adel menepuk jidatnya pelan. Hancur sudah, Ibu pasti akan mengatakan yang sebenanrnya. Batin Adel, ia masih berusaha memberi tahu ibunya, agar tak mengatakan yang sebenarnya.


"Enyang tak apa-apa Nak, hanya sedikit kelelahan mengurus kantor. Beliau kan sudah sepuh, jadi sudah tak sebebas dulu jika beraktifitas." Adel menghembuskan nafasnya lega. Untung saja ibu masih bisa diajak kerja sama. Hampir saja kebohongannya terbongkar.


Ibu Sari merasa ada hal penting yang ingin Henry sampaikan, tetapi ia enggan bertanya. "Ya kami hanya membeli beberapa keperluan, dan kebetulan kita bertemu disini."


Selesai menemani makan, Adel berpamitan untuk pulang. Tetapi El merengek, ingin ikut bersama Adel. "El, mami kerumah Eyang dulu ya, nanti Adel akan pulang, Okeyy."


Tetapi El tak ingin berpisah, dia terus memeluk Adel sangat erat. "Tak apa, Ibu bisa pulang sendiri, ada supir yang menemani ibu." Ibu Sari tersenyum, namun dalam hatinya tak rela. Jika ia pulang sendirian.


"Tuan, bolehkah saya membawa El?" Tanya Adel dengan hati-hati. Ia tak mungkin membawa El tanpa seizin Daddy nya.


Namun Henry mengabulkan permintaanya, dengan syarat dia ikut bersamanya. "Boleh, tapi aku ikut." Ucapnya dengan enteng.


Adel menatap heran pada manusia kutub itu, mungkinkah pertahanannya meleleh, karena pemanasan global? "Ya, kau boleh ikut, tapi jangan membuat masalah." Adel melirik dengan tatapan tak suka.

__ADS_1


"Aku kan Daddy nya, aku hanya tak ingin dia mencariku." Henry masih tak mau kalah.


Ibu Sari dan Adel hanya bisa mengiyakan, karena tak ingin masalahnya semakin panjang. "Biarlah Adel, jadi kamu bisa pulang bersamanya nanti."


"Hahhh, ayo jalan.." Arga dan Wulan membuntuti mereka dari belakang, tetapi mereka berpisah diparkiran.


"Kenapa kalian tak ikut bersama kami?" Tanya Adel, dia menatap keduanya curiga.


Wulan dan Arga saling melirik, namun hanya sekilas. "Kami membawa mobil Nona, dan ada yang harus aku kerjakan, iya kan Lan?" Arga memaksakan senyumnya.


Wulan yang kaki kirinya diinjak hanya bisa tersenyum kecut. "Yah, kalian duluan saja." Dia menahan sakit, seperti kakinya ditimpa batu bata 100 biji.


Akhirnya Henry ikut bersama Adel dan Ibu Sari. "Dasar pilar lampu menyebalkan" Wulan mencubit pinggang Arga, hingga sang empunya mengaduh kesakitan. "Rasain, siapa suruh menindas kakiku." Wulan tak terima dengan perlakuan Arga.


"Aku tak ingin pulang denganmu, kau pulanglah sendiri sana." Wulan meninggalkan Arga begitu saja, sambil terus mengumpat. Begitupun Arga, dia berjalan berlawanan arah, menuju mobil yang terparkir tak jauh dari sana.


"Dasar pilar lampu menyebalkan, arogan, semaunya sendiri, suka sekali menindas orang lain." Umpat Wulan sepanjang jalan. Hingga sampai diluar, tiba-tiba ada yang mendekatinya.


"Haii nona cantik, sendirian aja nih." Ucap seorang yang badannya penuh dengan tato. Wulan bergidik ngeri, dia menyesali perbuatannya yang ingin pulang sendiri.


"Mau apa kalian?" Ucapnya dengan ketus, Wulan mempercepat langkahnya. Namun kedua orang itu semakin mendekat.


"Kau ini lama sekali, cepat pakai ini." Ucap seorang lainnya, memberikan sapu tangan yang sudah diberi obat bius.


"Wulan meronta, namun tenaganya tak cukup kuat. Hingga semuanya gelap, perlahan pandangannya kabur. Wulan tak ingat apapun setelahnya.


Arga melihat Wulan digendong menuju mobil yang terparkir tak jauh dari sana. Dia tak setega itu, membiarkan Wulan pulang sendiri, terlebih dia seorang wanita. Dan apa yang akan dikatakan jika Wulan benar-benar diculik. Firasatnya benar, Arga segera mengikuti mobil tersebut dari belakang.


TBC

__ADS_1


TERIMA KASIH


__ADS_2