Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
Malaikat Penyelamat


__ADS_3

Budayakan like komen dan vote setelah membaca kakak.


Happy Reading


💐💐💐💐💐💐


Henry mendekat pada Edo. "Cepat kau bawa dia." Edo menyerahkan El, tangan satunya memegangi bagian yang terkena pisau. "Aku tak bisa meninggalkanmu. Kita harus keluar bersama." Henry tak tega harus meninggalkan Edo yang masih bersimbah darah.


"Pergilah! Jangan hiraukan aku, dan pengasuh El, ada disana" Edo menunjuk Tumpukan kardus bekas. Henry tak tau lagi harus bagaimana, tetapi dia juga harus secepatnya membawa El pergi. Adi marah besar, karena Edo lagi-lagi tak mau membantunya.


Dengan sekali suitan, 5 orang anak buah Adi datang. Sedangkan Arga, sibuk meladeni sebagian anak buah Udin. Inilah siasat mereka, untuk memperlambat Arga datang membawa bantuan. Nathan tentu tak bisa berdiam diri, dia segera membantu Arga dan juga Bejo.


Henry dikepung, tentu saja dia kalah jumlah, terlebih dia juga tak leluasa bergerak dengan El dihadapannya. Dia terus bergerak menghindari serangan musuh, Adi memanfaatkan ini untuk memukul Henry. Sebuah balok kayu besar ditangannya. Henry terjatuh dengan El dipelukannya.


"Emmmmm emmmmppp" Adel ingin berteriak, tetapi mulutnya disumpal. Edo datang dengan tertatih, "tenanghlah Nona, aku hanya ingin membantumu." Benar saja, dengan pisau tadi, dia berhasil membuka ikatan Adel. Adel terbebas, tetapi dia juga heran mengapa Edo sekarang membantunya. Terlebih dengan kondisi memprihatinkan.


"Cepat bantu El, bukan saatnya lagi untuk memperhatikanku." Setelah berucap, Edo pingsan. Adel berdiri, dengan sisa tenaganya membantu Henry. Apalagi Henry juga mengalami hal yang sama, kepalanya berdarah dibagian belakang. Mengotori bajunya yang bermarna putih. Jas yang dia pakai, dia gunakan untuk membungkus El yang tak sadarkan diri.


"Kau pergilah! Cepat bawa El keluar! Panggil Arga dan Nathan, mereka diluar." Dengan sigap Adel berlari, tetapi dia masih menoleh kebelakang. "Pergiiiii, ku bilang pergiiii!!!" Henry masih berusaha menghalau serangan Adi dan anak buahnya. Agar membiarkan Adel pergi.

__ADS_1


Tentu saja jumlah tak sebanding, Adel berhasil keluar, mendapati banyak orang terkapar. Udin dan pasukannya yang digadang-gadang dapat membantu justru malah sebaliknya. Dia ada di pihak lawan. "Argaaaa, tolonggggg" Teriak Adel, ketika ada yang mencekal kakinya.


Arga yang baru saja mengalahkan Udin berlari, dengan nafas yang masih terengah dia membantu Adel. Dari cekalan anak buah Udin yang dia kira pingsan. Sekali gebrakan, menggunakan sikunya orang itu pingsan. "Kau bantulah Henry, dia didalam."


"Tidak, aku harus membawamu kerumah sakit." Arga bersikeras membawa Adel, Dia bertemu Nathan. "Kau bantu Tuan Henry, aku akan membawa Nona Adel kerumah sakit." Nathan, Bejo dan beberapa pengawal masuk. Bersamaan dengan polisi yang tiba disana.


"Ga, aku bisa sendiri, kembalilah! Bantu Henry, dia terluka, tak mungkin bisa bertahan. Dan, dan temannya itu." Adel merasakan pandangannya semakin kabur, dengan sigap, Arga segera menggendongnya ke mobil bersama El yang baru saja terbangun.


Polisi menangani semuanya, termasuk Adi yang berhasil ditangkap walaupun berusaha kabur. Dan harus mendapatkan hadiah timah panas di kedua betisnya. "El, dimana dia?" Henry berlari, dia menerobos keluar. Nathan menahannya.


"Tuan tenanglah! Arga sudah membawanya kerumah sakit." Henry bernafas lega, setidaknya Adel dan El berada ditangan yang tepat. "Antarkan aku kesana." Nathan mengikuti kemauan Henry. Begitupun Edo, yang segera dilarikan kerumah sakit. Dengan ambulance, diiringi mobil polisi. Arga sudah menghubungi polisi. Saat perjalanannya kesini.


Hal ini tak bisa begitu saja ditutupi dari khalayak, beberapa orang suruhan Irawan yang membeberkannya. Namun berita yang disiarkan, tak sesuai dengan harapannya. Adel berhasil diselamatkan. "Arrggghhhhhh.. Kali ini kamu bisa selamat, tetapi tidak akan ada lain kali. Karena aku pasti akan melakukannya, dengan tanganku sendiri."


Bukanya berterima kasih padaku, kalau aku tertangkap maka kau juga akan kubawa. Aku tak akan mau menanggungnya sendiri, terlebih lagi keluarga yang kuhadapi ini. Pasti tak akan membiarkanku hidup dengan tenang.


Udin saat ini hanya bisa bersembunyi, karena wajahnya pasti sudah diketahui Arga dan anak buahnya. "S**l, bukanya untung malah bun***."


Udin mengelap darah segar yang mengalir dari sudut bibirnya. Perih, namun tak seperih hidupnya. Dia menyesal karena percaya pada Irawan.

__ADS_1


Hidupnya sudah enak bersama Tuan Wira, hanya dengan iming-iming bayaran lebih mahal. Dengan bodohnya dia berpaling dari hidup makmurnya. Gemah ripah loh jinawi. Peribahasa itu cocok untuknya, ketika mengikuti Tuan Wira dulu.


...----------------...


Dirumah sakit, Adel mendapatkan perawatan dengan sangat baik. El tak pernah terpisah darinya, bersama Daddynya yang baru saja selesai diobati. Sekarang El hanya bisa memandang Adel dengan mata berkaca-kaca. Tak seceria dulu, Dokter Alvin sudah mempersiapkan dokter psikolog terbaik. Untuk membatu El keluar dari traumanya.


"Sayanggg, maafkan Daddy, karena tak menjagamu dengan baik." Henry mengusap pucuk kepala El. Dan terus menciumnya. Mereka berdua menunggu Adel yang belum juga membuka matanya. Ada beberapa luka terbuka ditubuhnya, akibat perlawanannya dengan Adi.


"Terima kasih, kamu telah menjadi malaikat pelindung untuk El." Dengan sedikit ragu, Henry memegang tangan Adel yang tak diinfus. Dia duduk disebelah Adel, bersama El dalam pangkuannya. Henry sangat berterima kasih, jika tak ada Adel, entah apa yang akan terjadi padanya.


Arga dan Nathan sedang menjadi saksi dikantor polisi. Sebelumnya dia sudah menghubungi Tuan Abimanyu dan Tuan Wira. Tentu saja Tuan Wira sangat terkejut, dengan berita yang didengarnya. Untunglah ada Ibu Sari, yang berhasil menenagkannya.


Kalau tidak penyakit hipertensi yang diderita mungkin akan kambuh. Dan berakibat fatal. Begitupun Ibu Sari, riwayat penyakit jantung yang pernah dia alami. Membuatnya berulang kali menahan emosinya, saat ini Adel sedang sakit. Dia harus baik-baik saja, dan membantu Eyang.


Kedua keluarga bergegas kerumah sakit, dimana Adel dirawat. Pintu dibuka dengan pelan, Nyonya Amel dan Tuan Abimanyu mendapati pemandangan yang menyejukkan mata. Ama dirumah menemani Wulan, awalnya ingin ikut, tetapi demi kesehatan, Tuan Abimanyu melarangnya. Adel tertidur di brankar pasien, bersama El dalam pelukannya. Henry dikursi samping Adel, dengan kepala yang dibalut perban.


Seharusnya Henry juga dirawat, luka bekas pukulan dikepalanya tak bisa diremehkan. Terlebih lagi bagian belakang, dan juga memar dibeberapa bagian tubuh dan wajahnya. Tetapi dia tak ingin berpisah dari El. Dia lebih memilih bersama El dan malaikat penyelamatnya.


Adel sudah sadar beberapa waktu yang lalu sebelum Tuan dan Nyonya Syahreza datang, dan langsung mencari El. "Biarkan mereka istirahat Mom, kita keluar." Tuan Abimanyu membawa istrinya keluar. Menutup pintu dengan sangat pelan, agar penghuni ruangan tak terbangun.

__ADS_1


TBC


TERIMA KASIH


__ADS_2