Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
S2-10


__ADS_3

Jangan lupa tinggalkan jejak like komen dan vote.


Happy Reading


💐💐💐💐💐💐💐


Wulan merasa sangat malu, dengan sikap ayahnya yang seharusnya tak diketahui Arga.


"Cukup, ayah butuh uang kan?" Wulan mengambil lembaran uang yang ada di dalam dompetnya. Dan melemparkan di hadapan ayahnya. Dia menerobos masuk, menuju kamar yang ditempati ibunya.


"Kakak, huhu..." Lintang, adik Wulan berlari, mendekap Wulan dengan penuh rasa takut, di atas ranjang, Ibunya juga menangis, dengan lebam di beberapa bagian tubuhnya. Wulan tak menyangka jika sikap ayahnya akan sekasar ini.


"Maafin Kakak, seharusnya Kakak lebih peka terhadap kalian." Wulan tak kalah sedih, mereka bertiga menangis berpelukan, berusaha menguatkan satu sama lain.


"Kakak tidak salah, ayah yang keterlaluan." ucap Lintang sesegukan.


"Kenapa kalian tak pernah memberitahu Kakak?" Wulan menyesal karena baru mengetahui sikap kasar ayahnya. Yang dia tahu, ayahnya hanya suka berjudi dan jarang pulang kerumah kecuali untuk meminta uang.


Bahkan semua gaji Wulan selalu dia kirimkan, karena teringat sakit ibunya. Tapi malah sebaliknya, uang yang Wulan kirimkan selalu habis dipakai berjudi oleh ayahnya.


Aku janji, kalian akan hidup layak, setelah ini tak akan ku biarkan siapapun menyakiti keluarga kalian. Termasuk ayah mu sekalipun.


"Ibu, maafin Wulan, seharusnya Wulan pulang lebih awal." Wulan memeluk ibunya erat. Dia mengusap air mata diwajah keriput yang mulai layu dimakan usia.


"Sayang, tak perlu meminta maaf, ibu baik-baik aja kok." Ibu mengulas senyum diwajahnya, dia bahagia bisa bertemu Wulan kembali.


Arga membiarkan Wulan meluapkan rasa rindunya pada keluarga. Dia tahu harus berbuat apa. Arga meminta waktu lebih untuk menemani Wulan. Dia menghubungi Henry untuk menyampaikan keinginannya.


Henry tak bisa egois, dia juga mengerti situasi yang Arga alami, lagi pula selama ini Arga tak pernah meminta libur padanya. "Terima kasih, nanti akan ku ceritakan setelah aku kembali," ucapnya diakhir panggilan.


"Tuan, maafkan saya," Wulan menundukkan wajahnya. Dia malu pada Arga atas kondisi keluarganya. Wulan sudah tenang, dia juga sudah mengompres wajah memar ibunya. Dan membantunya meminum obat.


"Kau tak perlu meminta maaf." ucap Arga ucap Arga sedikit lembut.


"Saya yang harus minta maaf, tapi ucapan saya tak main-main, untuk menjadikan mu istriku, tapi itu juga kalau kamu bersedia." Wulan ternganga, apa itu artinya Arga menyatakan perasaanya saat ini?


"Sa-saya, saya..."

__ADS_1


"Kamu tak perlu menjawabnya sekarang, saya tau waktunya kurang tepat untuk membicarakan ini." Arga mengulas senyum tipis diwajahnya. Wulan terpana, baru kali ini dia melihat senyum tulus Arga yang membuat hatinya meleleh.


"Kak, ini minumnya." Lintang membawa dua cangkir teh. Meskipun baru berumur sepuluh tahun, dia sudah terbiasa membantu ibunya di dapur dan membersihkan rumah.


"Terima kasih dek, apa ibu sudah tidur?"


"Iya Kak, aku akan menemani ibu." Lintang kembali ke kamar ibunya.


"Apa masih sakit?" Arga mengusap pipi Wulan yang sedikit bengkak.


"Sshhh, tentu saja sakit, tapi aku sudah mengoleskan obat pereda nyeri." Wulan menepis tangan Arga. Dia merasa canggung dengan sikap Arga yang tiba-tiba peduli dengannya.


Hening. Tak ada yang bersuara untuk beberapa saat. Hingga Arga kembali memecahkan keheningan. "Kita akan menginap, besok pagi-pagi baru kembali."


"Tapi, aku kan hanya izin sebentar." Wulan merasa tak enak.


"Aku sudah memberitahu Hen, maksudku Tuan Henry." Hampir saja Arga keceplosan.


"Tapi..."


"Sudahlah, aku pergi dulu, besok pagi aku akan menjemput mu pagi-pagi." Arga berdiri hendak pergi, Wulan menghadangnya.


"Mencari penginapan, gak mungkin aku menginap disini." Arga melanjutkan langkahnya, meninggalkan rumah orang tua Wulan. Dia tak bisa tinggal disini, menghindari hal-hal yang tak diinginkan. Hal itu juga untuk menjaga nama baik Wulan dan keluarga.


Mungkin Anda memang tak pantas menginap disini, apalagi rumah ku tak layak untuk ditinggali. Anda biasa hidup mewah, mana mungkin mau dengan orang sepertiku.


Wulan merasa rendah diri, merasa malu dengan kondisi keluarganya. Apalagi dia orang luar yang mengetahui kondisi keluarganya yang berantakan.


Maaf Lan, aku tak ingin mempersulit keadaan mu. Terserah kamu mau berpikir apa tentang aku.


Arga harus kembali, karena di desa seperti ini, jarang sekali menemukan penginapan. Dia harus memutar arah hingga perbatasan, lumayan jauh dari rumah orang tua Wulan.


Arga menghubungi seseorang. "Apa kamu sudah mendapatkan yang aku inginkan?" ucapnya pada orang diseberang sana.


"Ya Tuan, besok Anda bisa langsung kesana untuk melihatnya."


"Hmmm... Sesuai janji, saya melebihkan uangnya." Arga menutup telepon, dia menerawang jauh, memikirkan keadaan Wulan.

__ADS_1


Semoga ba***** itu tak kembali malam ini, atau aku akan menyesal karena meninggalkan kalian.


Flash Back On


Arga menahan ayah Wulan, ketika itu Wulan sudah masuk untuk menemui ibu dan adiknya.


"Bapak mau ini?" Arga mengibaskan puluhan lembar uang merah di udara.


"Heh, siapa kamu sebenarnya? dan apa mau mu?" tatapan Ayah Wulan tak lepas dari uang yang dipegang Arga.


"Saya bisa memberikan semua yang Anda inginkan, tapi ijinkan saya membawa Wulan pergi dari sini." Ayah Wulan tampak berpikir, Wulan adalah satu-satunya ladang uang baginya. Tapi jika ada orang lain yang juga bisa memberikan uang kenapa tidak?


"Setuju, cepatlah kau bawa wanita s**** itu pergi dari hadapan ku," Arga tersenyum sinis, dia sudah menduga hal ini akan terjadi.


Maaf Wulan, hanya ini cara agar kamu aman, untuk sementara waktu ayah mu tak akan mengganggu keluarga kalian.


"Satu lagi, saya juga akan membawa ibu dan adiknya."


"Apa kamu bilang?" Ayah Wulan mencengkeram kerah baju Arga. Istrinya adalah satu-satunya orang yang bisa memberinya kehidupan, karena dengan sakit yang dia derita, Wulan memberikan banyak uang.


"Bapak tenang saja, uang bulanan Bapak masih akan terus mengalir, asalkan Bapak melepaskan mereka."


"Penawaran yang menarik, bawalah wanita penyakitan itu, menyusahkan saja." Ayah Wulan pergi begitu saja. Dia bisa mendapatkan uang tanpa harus dipusingkan istri dan anaknya.


Flash Back Off


Sementara itu, Wulan tak dapat tidur, dia kembali teringat perkataan Arga. Bahwa dia tidak main-main dengan ucapannya.


"Apa yang salah dengannya? selama ini aku tak pernah akur, bahkan kita selalu beradu mulut setiap bertemu. Mungkinkah dia hanya ingin mempermainkan dan memanfaatkan ku saja?" Wulan masih belum percaya padanya.


"Tidak, dia hanya asal bicara, tapi kenapa dia menolongku? hah dia hanya takut pada Nyonya Amel, kalau aku tidak kembali dengan selamat kesana pasti dia yang disalahkan. Ya pasti hanya itu alasan yang masuk akal."


Padahal banyak hal ingin dia tanyakan pada Arga. Tapi semua itu hanya mampu dia simpan di dalam hatinya.


.


.

__ADS_1


TBC


TERIMA KASIH


__ADS_2