Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
S2-53


__ADS_3

Happy Reading


💐💐💐💐💐💐


Henry terus menyusuri jalanan yang sekiranya Adel datangi. Namun tak membuahkan hasil, Henry sudah meminta Bejobdan anak buahnya untuk membantu. Termasuk menanyakan pada Bibi Mey dan Bibi An secara pribadi. Henry tak mungkin memberitahu keluarganya, maupun keluarga Adel tentang masalah mereka.


"Sayang, Kamu kemana?" Henry memijit pelipisnya yang terasa pening. Lelah dari perjalanan tak dihiraukannya. Bahkan sejak semalam, lambungnya belum terisi makanan. Hanya segelas susu hangay yang dia minum sebelum berangkat ke Jakarta.


Matahari mulai meninggi, Arga berusaha menanyakan keberadaan Henry saat ini. Juga tentang pencarian Adel. Berulang kali Arga mendial nomor Henry, tetapi hanya hawaban operator yang di dengarnya. "S**l, dia mematikan telepon ku. Dia pasti memblokir nomor ku." Arga melempar ponselnya ke sofa disampingnya.


"Ga, apa sudah ada kabar?" Gelengan kepala menandakan Arga tak mendapat kabar apapun. Bahkan Henry masih marah padanya. Wulan datang bersama El. Bocah itu begitu senang melihat Arga.


"Papaa..." El segera naik ke atas sofa. Dan duduk dipangkuan Arga.


"Haii sayang, El sudah bangun ya? Dah makan belum?" tanya Arga mencurahkan rindunya pada bocah gembuk yang selalu bertingkah lucu dan menggemaskan, meski terkadang menyebalkan.


"Udah dund, dah mandi... nih tium." El mendekatkan wajahnya.


"Coba cium dulu? emmmm.... wanginya.." Arga memejamkan matanya mengirup aroma minyak kayu putih bercampur bedak.


"No... butan wangi Papa... Tapi halum." El mengerucutkan bibirnya.


"Ya ya El harum." Wulan mendaratkan tubuhnya disebelah Arga.


"Kita gak bisa diam begini Ga, Aku merasa berdosa sudah menyembunyikannya dari Adel." Wulan menggigit jari kelingkinya sendiri. "Bagaimana kalau Adel ketemu orang jahat diluar sana? Huu huu..."


"Sudahlah! Kita berdoa semoga baik-baik saja." Arga menenangkan Wulan, menarik bahu Wulan dengan sebelah tangannya. "Kamu gak perlu merasa bersalah, ini semua memang salah ku. Aku yang memberikan ide padanya. Sehingga sampai ada kejadian seperti ini."


"Mama napa angis?" tanya El.


"Ini matanya Mama kelilipan." Wulan segera menghapus air matanya. Dan memaksakan senyumannya.


"Mami dak ada Mam." tanyanya lagi.


"Sayang, Mami kan lagi kerja." ucap Arga berbohong.

__ADS_1


"Emm... Papa juga mau kerja, kita main di atas yuk." Wulan membujuk El untuk ikut bersamanya.


"El mau main cama Papa."


El mengeratkan pelukannya, Arga mendesah pelan. Kasihan sekali El, kedua orang tuanya sedang sibuk dengan diri mereka sendiri. "Heuh, papa temani, tapi sebentar ya. Papa mau kerja menyusul Daddy."


"Yeay, ayo Papa..." El melompat turun dari pangkuan Arga, menarik tangan Arga menuju keruang bermain di lantai dua.


Wulan menggelengkan kepalanya, kebiasaan El, kalau sudah bertemu tiga orang itu dirinya sering dilupakan. Wulan menyusul El dan Arga keruang bermain. Bagaimanapun El tak mengerti permasalahan yang dihadapi orang dewasa.


"Papa angkat telepon sebentar ya." Arga merogoh benda pipih yang terus bergetar disaku celananya.


"Tuan, Anda harus segera ke kantor sekarang. Saya menghubungi Tuan Henry tetapi tak dijawab. Ada masalah penting yang harus saya sampaikan. Tetapi tidak bisa ditelepon." ucap Adrian setelah panggilan terhubung.


"Tuan Abimanyu dimana?" Arga balik bertanya.


"Tuan sedang meeting diluar dan belum kembali."


"Baiklah! Aku segera kesana." Arga mengusap wajahnya kasar. Masalah apalagi ini?


"Tapi, Ga...." Arga mengabaikan Wulan, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Beruntungnya jalanan mulai lengang karena jam kerja sudah dimulai.


Sepertinya ada masalah serius di kantor sampai Arga buru-buru seperti itu.


Arga memarkirkan mobilnya di basement, banyak kerumunan orang di depan loby. Sehingga Arga harus memutar melalui pintu rahasia.


"Ada apa ini? Kenapa banyak sekali orang di luar?" ucap Arga pada beberapa pengawal yang menjemputnya.


"Mereka menuntut kita, Tuan. Ada seorang wanita yang datang dan membuat keributan. Dan mereka datang tiba-tiba." seorang dari mereka memberikan penjelasan.


Arga begitu terkejut saat melihat siapa wanita yang dimaksud. "Aku menyesal, Aku terlalu berbaik hati padanya dulu. Tapi lihat saja, Kau ingin mengancam ku dengan trik murahan itu? Hah, Kau masih harus banyak belajar." gumam Arga dalam hati.


"Heh, s*ndal jepit mau apalagi dia?" Arga berjalan dengan angkuh. Melewati orang yang telah menunggunya sejak satu jam yang lalu.


"Tunggu, Arga. Maksudku, Tuan Arga. Dimana Tuan mu itu?"

__ADS_1


"Bukan urusan mu." jawab Arga ketus, berlalu menuju ke ruangannya.


"Sekarang menjadi urusan ku. Dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya padaku. Kalau tidak, Aku akan memberitahukan semua orang bahwa Dia telah melecehkan seorang wanita." Gaby berkacak pinggang dengan angkih dihadapan Arga.


"Coba saja kalau berani." Arga berkutat dengan komputernya, membukan data yang dikirimkan Adrian baru saja.


"Kenapa harus takut? Aku memiliki semua buktinya, bahkan saksi yang melihat kami." Gaby dengan gencar berusaha menggoyahkan keputusan Arga.


Kenapa malah Dia yang datang kesini? Kalau Henry pasti persoalannya akan lebih mudah lagi.


"Kalau mau menuntut ya silahkan saja. Untuk apa harus repot-repot datang kesini? Buang-buang waktuku saja. Dan lagi, sebaiknya Kamu menghemat uang yang kamu miliki untuk hal yang lebih bermanfaat." Arga berdiri, tangannya sudah gatal ingin menyeret si s*ndal jepit keluar. Tetapi ia tak boleh terpancing emosi.


Masalah dengan Henry masih belum terselesaikan. Hanya untuk membereskan s*ndal jepit seperti dia bukanlah hal yang sulit. Tetapi jika masalah ini benar-benar tersebar. Arga tak akan tahu lagi bagaimana perasaan Adel.


"Sebelum Kau melakukan itu, mungkin mereka yang akan menagkap mu terlebih dahulu." Arga menjentikkan jari tangan kanannya, datanglah tiga orang algojo dengan wajah yang sama. Datar dan menakutkan.


"Bawa dia ke markas, selanjutnya tunggu Tuan Henry."


"Lepaskan! Arga Kamu hanya a***ing peliharaannya. Suatu saat Kamu akan dibuangnya jika Kamu tak segera menggigitnya." Gaby menyuarakan sumpah serapahnya untuk Arga.


Ketiga orang algojo segera membawa s*ndal jepit melalui lift darurat di dalam ruangan Henry. Sehingga tak ada siapapun yang mengetahuinya. Kerumunan sudah di bubarkan paksa. Bahkan mereka diundang dalam perayaan ulang tahun Adel Lusa.


Semuanya Arga lakukan untuk menutupi kecurigaan banyak pihak yang tak terlibat. Arga sudah menduga hal ini akan terjadi, tetapi Henry menahannya. Untuk mengumpulkan bukti yang kuat untuk menjebloskannya ke jeruji besi.


Maaf, Aku terlambat bertindak. Seperti dugaan ku, mereka menargetkanku. Aku akan memperbaiki semuanya. Meski apapun resikonya.


Arga menemui Adrian diruagannya, s*ndal jepit hanya pengacau yang dikirim seseorang untuk mengacaukan proyek baru yang sedang mereka tangani. Ada yabg tak suka dengan keberhasilan Arga mendapatkan proyek besar ini. Sehingga berbagai cara digunakan untuk menghambatnya.


TBC


Upnya ditambahin loh, jangan lupan dukungannya juga ditambah ya. Semoga bersedia menyumbangkan kelebihan poinnya untuk novel ini supaya authornya lebih semangat lagi.


Jangan lupa balik ke cover dan beri bintang 5 ⭐⭐⭐⭐⭐.


TERIMA KASIH

__ADS_1


__ADS_2