
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐
"Kakak, Aku gak mau ikut ke Jakarta." Lintang menolak keinginan Wulan untuk mengikutinya ke Jakarta.
"Dek, disini Kamu sama siapa? Kakak gak tenang ninggalin Kamu sendiri."
"Benar kata Kakak mu, ikut Kami ke Jakarta, kalau Lintang kesepian, bisa bermain dengan El disana." ucap Nyonya Amel ikut membujuk Lintang.
"Lintang gak mau pindah sekolah Kak, disini Lintang sudah punya teman."
Wulan memijit pelipisnya sendiri, adiknya memang orang yang susah di bujuk. Nyonya Amel mengajak Wulan bicara diluar, mungkin Lintang membutuhkan waktu untuk sendiri.
Alasan sebenarnya Lintang adalah tak ingin menjadi beban untuk Kak Wulan nantinya. Tetapi jika ia bersikeras tinggal disini, keselamatannya tak ada yang bisa menjamin. Terlebih lagi ayahnya sekarang bebas diluaran sana.
"Kak, Lintang bersedia pindah, tapi..."
"Benarkah? Kalau Lintang keberatan, Kakak bisa mengajak mu tinggal berdua. Kakak masih ada sedikit tabungan, kita bisa memulainya dari awal." Wulan sangat bahagia, akhirnya adik satu-satunya mau diajak pindah.
"Gak perlu, kalau Kamu mau, Kamu bisa tinggal di apartement Arga." ucap Nyonya Amel.
"Boleh Mom?" tanya Arga kegirangan.
"Boleh, tapi Kamu tinggal sama Mom." Nyonya Amel menyeringai.
"Makanya buruan dihalalin." Adel menyindir, mereka sedang berkumpul setelah acara pemakaman. Hari sudah gelap, Wulan meminta mereka semua menginap. Ada 4 kamar di rumah ini, meski tak terlalu besar, tetapi cukup untuk mereka menginap sementara.
Sebenarnya bisa saja menginap di hotel, tetapi Nyonya Amel dan Adel memilih menemani Wulan yang masih berduka.
"Jangan bahas itu dulu sekarang. Aku belum memikirkan soal itu." ucap Wulan, kesedihannya akan kehilangan Ibu yang selama ini merawat dan menyayanginya merupakan pukulan terbesar baginya. Terlebih Ayah yang selama ini dia hormati adalah penyebab ibunya jatuh sakit dan meninggalkannya.
"Adel benar Lan, kalau Kamu menikah, tentu akan ada yang menjaga mu dan adik mu. Ada yang bertanggung jawab untuk kalian berdua. Dan Lintang juga memiliki Kamu dan Arga sebagai wali." Tuan Abimanyu membenarkan ucapan menantunya.
"Tapi tidak secepat ini." Wulan menundukkan kepalanya.
"Kita sudah mulai persiapan pernikahan kalian, berhubunng ada kejadian tak terduga, mungkin kita bisa menunda sampai bulan depan." Henry turut buka suara, Arga sudah mulai membicarakan persiapan pernikahannya sebelumnya. Rencananya dalam waktu dekat. Tetapi ia harus berlapang dada untuk menunda hari bahagianya.
Lintang yang mendengar itu pergi begitu saja. Perasaan sedih akan kehilangan Ibunya masih menganga, sekarang Kakaknya, Wulan juga akan menikah dan meninggalkannya.
"Lin tunggu Kakak." Wulan ingin mengejar, tetapi Arga mencegahnya.
"Biar Aku yang bicara padanya." Arga menyusul Lintang yag duduk termenung diteras rumahnya. Air matanya tak henti mengalir membayangkan semua orang akan meninggalkannya.
"Hai, boleh Aku duduk disini?" ucap Arga berdiri didepan Lintang. Anak itu hanya diam, tanpa menjawab iya atau tidak.
"Baiklah! Mungkin kita hanya bertemu beberapa kali. Tapi Aku sudah menganggap Kamu adik ku sendiri. Meski Wulan dan Aku menikah nanti, Kamu tetaplah adiknya, adikku juga." Arga duduk berseberangan, dengan meja bundar dengan ukiran sebagai pembatasnya.
"Lintang, jika kamu tak nyaman dengan kehadiran ku, Kamu bisa tinggal bersama Mommy, pasti akan sangat senang, sejak dulu Mom menginginkan anak perempuan. Tetapi keinginannya tak pernah terwujud. Kami semua menyayangi Lintang, kita adalah keluarga." Arga menyunggingkan senyum manisnya.
"Percayalah Kakak mu hanya ingin yang terbaik untuk mu. Kamu satu-satunya keluarganya saat ini, dan Wulan tak akan melakukan hal yang menyakiti mu." Lintang mulai berpikir, mencerna setiap ucapan yang Arga sampaikan.
Usianya masih labil untuk bisa membedakan hal yang baik dan tidak untuknya. Ia masih perlu mendapat pengawasan dan bimbingan orang dewasa. Arga mengerti hal itu, mungkin akan lebih baik jika Wulan dan Lintang tinggal di mansion bersama Mom dan Daddy.
Arga juga membicarakan itu pada Henry dan Adel, untuk sementara El akan tinggal bersama Wulan untuk menghibur Lintang. Tentu saja Henry menyetujuinya. "Tapi Dad, nanti Aku kesepian dirumah gak ada El." Adel belum rela berpisah dengan El.
__ADS_1
"Sayang, kita kan bisa juga menginap disana. Sesekali El akan pulang jika Kamu libur, atau Kamu mau dirumah aja? Gak usah kerja lagi?"
"Aku mau dua-duanya, mau El juga kerja."
"Mana bisa? Kamu hanya boleh memilih salah satu." Akhirnya Adel mengalah, Wulan sudah banyak berjasa untuknya, mana mungkin dia akan membiarkan Wulan menghadapi kesulitan ini sendiri?
...----------------...
Sesuai kesepakatan bersama, Wulan memboyong Lintang untuk tinggal di mansion Syahreza, El juga ikut bersamanya, meski El awalnya tak mau berinteraksi dengan Lintang, tetapi Wulan selalu mengajaknya bicara.
Meski lebih banyak tidak akur, karena sikap jahil El, tetapi Lintang cukup terhibur dengan tingkah El yang lucu. Wulan mulai kuwalahan menghadapi El dan Lintang yang selalu bertentangan, tetapi ada saja yang membuat keduanya akur. Bahkan jika El tak ada, lintang selalu bertanya tentang keberadaan si bocah gembul. Seperti hari ini, disaat pulang sekolah, Lintang langsung menuju kamar El yang ternyata sepi tak berpenghuni.
"Kak, dimana El?" tanya Lintang tanpa mengganti seragam sekolahnya. Dua minggu Lintang di Jakarta, ia sudah mulai masuk ke sekolah kembali. Bertepatan dengan tahun ajaran baru, dan satu tahun lagi Lintang sudah bisa lulus sekolah dasar.
"Lin, ganti dulu bajunya." tegur Wulan yang mengetahui gerak gerik adiknya.
"Ih Kakak, jawab dulu, dimana El?" Lintang bersedekap tangan didadanya.
"El pulang ke rumahnya. Besok kan Mami sama Daddynya libur."
"Yah, sepi dong gak ada si gembul." Lintang merasa kecewa tak ada yang bisa ia ledek lagi.
"Gak boleh gitu, El kan sekarang lebih sering disini. Dia pasti ingin bersama Mami dan Daddynya." Wulan mengusap pucuk kepala Lintang.
"Iya ya Kak, gak seperti Aku, kita dah gak punya ayah sama ibu." ucap Lintang sedih, matanya berkaca-kaca mengingat kedua orang tuanya.
"Kan masih ada Kakak disini." Wulan mengapus jejak air mata diwajah Lintang.
"Hei siapa bilang? masih ada Mom disini." ucap Nyonya Amel berhenti sejenak, awalnya ingin menuju ke kamarnya, tetapi mendengar percakapan kakak beradik itu membuatnya sedih.
Begitupun Wulan, perasaanya sulit diungkapkan dengan kata-kata, Tuhan mempertemukan ia dan Lintang dengan Keluarga Syahreza, tak hanya kaya harta, tetapi juga kaya hati. Dengan tangan terbuka mereka menerima Wulan dan adiknya, bahkan mereka diperlakukan dengan sangat baik disini. Mungkin satu banding sekian jika ada keluarga seperti mereka.
Mungkin keharmonisan inilah yang membuat mereka tak akan jatuh miskin meski banyak orang yang berbuat curang padanya. Malah semakin bertambah lagi, lagi dan lagi.
"Terima kasih Mom." Wulan tak kuasa menahan haru, juga rasa terima kasih tak terhingga jika dia harus membayarnya, mungkin seumur hidupnya hutang budinya tak akan pernah lunas.
"Mom sayang kalian berdua, ini memang rencana Tuhan untuk kita, Mom hanya menyampaikan apa yang dititipkan Tuhan untuk kalian. Mom tak melakukan apapun." Ketiga wanita itu saling memeluk, dari kejauhan Ama ikut menitikkan air matanya.
Kamu benar-benar menebus semua kesalahan mu dulu Mel, dan untuk itulah Tuhan mengirim mereka untuk mu. Gumam Ama dalam hati.
...----------------...
Hari libur, Arga sengaja mengajak Wulan dan Lintang keluar. Hal itu ia lakukan supaya Lintang tak merasa jenuh di rumah.
"Lin, mau kemana lagi?" tanya Arga, mereka baru saja selesai membeli beberapa keperluan untuk Lintang. Tahun ajaran baru masih ada yang belum Lintang siapkan sebelumnya.
"Ga, jangan memanjakan Lintang, nanti kebiasaan." Wulan mengomel saat Arga ingin memenuhi semua keinginan Lintang.
"Gak apa-apa, kan gak tiap hari juga." ucap Arga masih fokus pada benda pipih ditangannya. Dia belum diizinkan mengendarai mobil sendiri, ulah Ibu Negara. Siapa lagi kalau bukan Nyonya Amel pelakunya.
"Udah, Lintang mau pulang aja, udah kenyang, udah puas main juga. Makasih Om... Hehe..." Lintang nyengir kuda, memperlihatkan deretan giginya yang rapi.
"Panggil Om lagi? Aku gak ajakin jalan lagi Lin." Arga melirik Lintang sebal, Lintang masih saja memanggilnya Om.
"Ahahaha... memang tampang mu seperti om-om girang." Wulan terkekeh melihat wajah kesal Arga.
__ADS_1
"Kalau Aku Om-Om, berarti Kamu mangsanya."
"Sssttt... Ada anak dibawah umur disini." Wulan melirik Lintang yang sibuk melihat lalu lintas yang lengang di siang menjelang sore ini.
"Kamu yang mulai duluan sayang."
"Tau lah." Wulan memalingkan wajahnya kearah luar. Arga hanya menggelengkan kepalanya, menghadapi Wulan yang merajuk.
Setelah mengantar Lintang pulang, Arga masih ingin mengajak Wulan kesuatu tempat yang pernah ia janjikan dulu.
"Lintang, pinjam Kakak sebentar ya." Ucap Arga melambaikan tangannya.
"Iya, bawa aja Om, eh Kak maksud ku." Lintang segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan berlari masuk.
"Dari mana Lin?" tanya Nyonya Amel, ia sedang bersantai bersama suaminya di ruang televisi.
"Beli keperluan buat sekolah Mom, Lintang keatas ya." Lintang sudah mulai terbiasa dengan Nyonya Amel, namun ia masih canggung jika ada Tuan Abimanyu dirumah. Selain karena irit bicara, menurut Lintang Tuan Abimanyu juga menakutkan menurutnya.
...----------------...
"Kamu mau bawa Aku kemana Ga? Pakai ditutup segala mataku." Arga sengaja menutup mata Wulan dengan kain panjang yang biasa Arga gunakan.
"Nanti Kamu juga tau." Arga menuntun Wulan berjalan, dengan sebelah tangan lagi membawa bucket bunga yang dibelinya sebelum kesini.
"Ini kok ada banyak batu-batu, aduh... Aku nabrak apa tadi?" Arga hanya diam dan masih mengarahkan Wulan untuk tetap berjalan.
"Nah sudah sampai, sekarang Kamu boleh buka penutupnya." Wulan perlahan mengerjapkan matanya, banyak gundukan tanah disekitarnya, dan ada batu nisan yang tertancap diatasnya.
Wulan mengernyitkan keningnya, untuk apa Arga membawanya ke sini? Tetapi Wulan hanya diam, tak berani berucap sepatah kata pun.
"Ayah, Ibu. Ini Wulan, wanita yang pernah Aku ceritakan pada kalian sebelumnya. Dia orang yang sudah membuat ku berani melangkah ke depan. Dia ada dihadapan kalian, dia Wanita yang cantik, baik dan mau menerima keadaan ku."
Arga menarik tanga Wulan dengan lembut, menggengam tangannya erat. Menunjukkan bahwa ia benar-benar serius dengan ucapannya.
"Mereka adalah Ayah dan Ibuku. Sebagai calon menantu, apa Kamu tidak menyapa mereka?" Arga menatap Wulan dengan mata nanar, berusaha menyembunyikan kesedihannya.
"Saya Wulan, terima kasih telah melahirkan seorang Arga didunia ini. Kalian patut bangga dengan semua kebaikan yang ia miliki. Saya berjanji akan selalu menemani Arga, dan mohon restui Kami, Ayah, Ibu." Wulan tak ingin banyak bicara, hatinya sakit saat mengingat bahwa Ibunya juga telah tiada.
Ayahnya difonis hukuman seumur hidup, beberapa hari setelah kepergian Ibu Yuli, anak buah Arga berhasil menangkapnya bersama Fauzi di tempat mereka bersembunyi.
Semua bukti mengarah pada keduanya, dari percobaan pembunuhan Arga saat lamaran. Penggelapan dana di perusahaan dan juga menyembunyikan buronan.
Kedua orang ini juga adalah anak buah Hisan, lelaki yang mengaku sebagai Hasan, mantan suami Adel. Dan juga anak angkat Irawan. Ia telah mengakui semua perbuatan yang telah ia lakukan.
"Aku tak terima, karena Kamu Hasan meninggal. Bahkan ia lebih memilih Kamu dibanding Aku saudara kembarnya." ucapnya saat Henry membawa Adel menemuinya seminggu yang lalu.
Mereka berdua yatim piatu dan dibesarkan ditempat yang sama, namun Tuan Irawan mengadopsi salah satu dari mereka sejak kecil. Saat dewasa tanpa sengaja mereka bertemu kembali. Namun takdir berkata lain, maut kembali memisahkan keduanya untuk selamanya.
Bahkan sekarang Hisan harus menanggung buah dari kejahatan yang telah ia lakukan bersama komplotannya.
TBC
TERIMA KASIH
TBC
__ADS_1
TERIMA KASIH