Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
Merasa sakit


__ADS_3

Budayakan like komen dan vote setelah membaca kakak.


Happy Reading


💐💐💐💐💐💐💐


"Heii anak bodoh, apa yang kau lakukan disana? Kau harus istirahat, lagipula disini cuacanya sangat panas, hareudang" Henry tak menyahut, tatapannya tak lepas dari kedua orang yang sibuk bercanda dibawah sana.


"Mom, apa yang kau lakukan disini?" tanya Henry setelah Adel menghilang dari pandangannya.


"Haih, seharusnya Mommy yang tanya, kamu ini mengabaikan Mom, sampai Mom kering berjemur disini" Nyonya Amel mendengus kesal, dia merasa jengkel sejak tadi berbicara sendiri. Henry mengabaikannya, bahkan tak mendengarkan ucapannya sedikitpun.


"Aku lelah Mom, aku masuk dulu" Henry berdiri dari tempatnya.


"Lelah mengamati Adel maksudmu?" cibir Mommy nya, dia juga mengikuti arah pandangan Henry yang tak berkedip sekalipun. Henry tak menanggapi, dia berlalu begitu saja.


Mommy berdoa, agar kamu bisa kembali mengingat Adel, dan segera memperbaiki hubungan kalian. Meskipun Mommy tahu, cinta diantara kalian masih semu, tapi Mommy yakin seiring berjalannya waktu, kalian bisa mencintai satu sama lain sebagai sebuah keluarga. Bersama El, yang akan menjadi bumbu penyedap untuk keluarga kecil kalian kelak.


Nyonya Amel mengikuti Henry, dia hampir melupakan tujuannya datang menemui Henry. "Heii anak bodoh, Mom bawakan makanan yang kau sukai, ayo Mom bantu" Henry hanya melirik sekilas pada nampan yang terletak tak jauh darinya. Selera makannya belum membaik, dia masih enggan makan, sering kali Mommy membujuknya, hanya beberapa suap yang mampu dia telan.


"Aku belum lapar Mom, nanti aku makan kalau sudah terasa lapar" Henry berbohong, dia benar-benar kehilangan selera makannya.


"Ayolah, sedikit saja, kau harus minum obatmu, apa kau tak rindu dengan El? jika kau terus seperti ini, kau hanya akan menyiksa dirimu sendiri. Dua minggu lagi El ulang tahun, apa kau tak ingin merayakannya seperti tahun lalu?"


Henry mengernyitkan keningnya, "tahun lalu? bukankah El baru setahun ini?" Henry mulai berfikir, apa yang dia lewatkan selama ini? Tapi jika dia mengingat dengan paksa, kepalanya terasa ingin pecah.

__ADS_1


"It's OK. Kau tak perlu memaksakan diri untuk mengingatnya, perlahan kamu pasti akan ingat semuanya" Mommy tersenyum padanya, selama Henry sakit, Mommy lebih perhatian padanya, bahkan dia sendiri yang membantu mengurus keperluan Henry.


Akhirnya Henry makan walaupun hanya beberapa suap saja, setelah minum obat, Nyonya Amel meninggalkan Henry untuk beristirahat. Dia berpapasan dengan Adel, mereka hendak ke kamar El, tepat disebelah kamar Henry.


"Omaaaaa" sapa El, dia berjalan berlari, menuju Oma yang baru saja menutup pintu. Nyonya Amel tersenyum, meletakkan nampan yang dia bawa di nakas kecil dekat pintu.


Nyonya Amel berjongkok membawa El dalam gendongannya. "Cucu Oma, apa sudah selesai makan? Hmm" Nyonya Amel mencubit gemas pipi El.


"Dah mam, mam Eyy abis" bayi itu bilang bahwa makan siangnya dia habiskan.


"God Job, apa El rindu Daddy? mau lihat Daddy?" El memang ingin bermain dengan Daddy nya, tapi melihat Adel yang menggeleng bayi itu menurut saja."Yes, emmmm noo"


"Tak apa, El hanya ingin bermain sebentar saja, kau bisa ke kamar El, saya yang akan temani El" Nyonya Amel mengerti maksud Adel, dia hanya yak ingin El mengganggu Henry yang sedang beristirahat.


Henry menautkan kedua alisnya, sejak kapan El sudah bisa bicara, tanyanya dalam hati. Bahkan El sudah sebesar ini, tadi ditaman terlihat lebih kecil, pikirnya. Mungkin dia sedang berhalusinasi.


"Heii anak bodoh, apa yang kau pikirkan? Dia ini El, putra tampan mu" Henry memaksakan senyumnya, tapi hatinya bahagia, bisa mendengar El memanggil namanya, meskipun masih belum fasih dalam melafalkan kalimat.


"Datt, ain ayok" El mengajaknya bermain, tapi ingat keadaanya yang tak memungkinkan.


"Sayang, Daddy masih sakit, El main sama Oma ya" El sedikit kecewa, tapi dia menurut.


"Atit ya?" El mendekati Henry, dengan susah payah naik ke sofa yang tingginya hampir sama dengannya. Dia duduk disamping Henry, mengusap tangan Henry yang masih di gips. Lalu meniupnya, begitupun kepala Henry, El berdiri, berpegangan pada bahu Henry, sedikit berjinjit dan meniup wajah Daddynya.


"Wuuuu, dah cembuh, yeeeee" El bertepuk tangan, dia menirukan Adel, ketika dirinya jatuh atau terluka Adel akan meniup dan mengusapnya. Nyonya Amel sangat bahagia melihat tumbuh kembang El saat ini.

__ADS_1


"Yeeee, El hebat" Nyonya Amel ikut bertepuk tangan dan memberikan dua jempol untuk cucunya.


"Acihh" El kembali duduk disebelah Henry, jangan tanya ekspresi Henry, matanya berkaca-kaca, dia sangat terharu dengan tingkah lucu El. Namun sedetik kemudian, Henry mendesis, memegangi kepalanya yang terasa begitu berat. Sakit yang luar biasa.


"Ssshhhhh Mom, ini sakit sekali" melihat Henry kesakitan, membuat El ketakutan dan menangis. Nyonya Amel bingung, dia harus menolong yang mana dulu. Adel masuk mendengar suara tangisan El, kebetulan kamar Henry tak tertutup, masih sedikit terbuka saat Nyonya Amel masuk, jadilah suara El terdengar samapi dikamar sebelah yang juga tak tertutup pintunya.


"Nyonya, ada apa ini?" Adel setengah berlari menghampiri El. Dia segera mengambil El dan menggendong bayi itu. Melihat Adel, Henry kembali berteriak, dia benar-benar merasakan sakit yang luar biasa.


"Keluarrr" bentak Henry, Adel segera membawa El keluar, dia tak ingin membuat El semakin ketakutan. Nyonya Amel berusaha menenagkan Henry, dan membantunya berbaring di ranjang miliknya. Adel berjalan tegesa-gesa, mencari Wulan agar segera menghubungi Dokter Alvin.


"Sstttt, cup cup, sayang gak boleh nangis lagi yah, Daddy hanya sedang sakit. El gak boleh takut ya" Adel berusaha memberikan pengertian pada El, dia takut hal itu akan membuatnya trauma dengan Daddynya.


"Dattdy atit? Eyy iup agi Mam" (El tiup lagi Mam) dalam angan nya, ketika sakit makan hanya ditiup akan sembuh. Dia belum mengerti, dan Adel harus sabar menghadapinya.


"Iya sayang, Oma sudah tiupin, sekarang El bobok yukk, atau mau minum susu?" Bayi itu mengangguk, dan tak lagi menangis. "Emm, mau cucu" Adel membawanya kedapur, karena setok susu belum dipindahkan.


Adel melirik sejenak pada pintu kamar disebelah kamar El, Henry tak lagi berteriak seperti tadi, dia mulai tenang, obat yang tadi dia minum baru bekerja padanya. Dokter Alvin sudah datang, kebetulan saat Wulan menghubunginya, dia sedang dalam perjalanan menuju ke kediaman Syahreza.


Dokter Alvin segera memeriksa keadaan Henry, dia juga memberikan suntikan penghilang rasa sakit. Dokter Alvin juga menanyakan kronologi kejadian, yang membuat Henry merasa kesakitan. "Sampai kapan dia kan merasa kesakitan seperti ini Vin? aku tak tega melihatnya seperti ini"


"Untuk sementara biarkan dia beristirahat Nyonya, sakit dikepalanya mungkin karena ada sekilas memori ingatannya yang muncul kembali. Anda tak perlu kuatir, hal itu akan semakin membuatnya cepat mengingat kembali" Dokter Alvin juga berpesan, agar Henry sering berinteraksi dengan keluarganya, hal itu akan membantu memulihkan ingatannya.


TBC


TERIMA KASIH

__ADS_1


__ADS_2