
Hai readers, author ucapkan banyak terima kasih atas semua dukungan yang diberikan.
Yang belum semoga berkenan meninggalkan jejak like komen dan vote yah.
Terus ikuti keseruan Baby El.
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐💐
Sementara itu, Henry meski sedang bersama koleganya, pandangannya tak lepas dari Adel dan El. Ntahlah, dia sendiri tak tahu apa yang terjadi pada dirinya.
Henry menutup mulutnya menahan tawa, melihat Gaby dipermalukan. Namun ia tak menyadari, banyak pasang mata yang menatapnya aneh.
"Tuan, Anda baik- baik saja?" tanya Arga disebelahnya.
"Yah , memang aku kenapa?" kening Henry berkerut.
Anda terlihat seperti ABG jatuh cinta Tuan, tertawa sendiri, curi curi pandang. Memangnya aku tak tahu?
"Yah sepertinya Anda butuh diperiksa Tuan." Dokter Alvin menimpali.
"Kalian berdua berani meledek ku?" Henry mengeluarkan tatapan tajamnya.
"Heii bro, kau seperti remaja yang sedang jatuh cinta." ucap Edo.
"Hah, jatuh cinta, aku tak mengenal apa itu cinta." Henry meninggalkan mereka.
Semakin kau jatuh cinta padanya\, semakin mudah aku mengetahui kelemahanmu. Dan si j**** menyebalkan itu\, dia tak berguna sama sekali. Dan sekarang aku harus bersabar sebentar lagi\, aku tak bisa memulainya sekarang. Edo
Hahaaa Tuan, kau hanya belum menyadarinya. Jangan sampai Anda menyesal lagi, atau aku akan mengambilnya lebih dulu. Arga
Henry, buanglah gengsi mu itu jauh jauh. Saat ini kau tak boleh hanya memikirkan dirimu sendiri. Tetapi semua yang terbaik untuk mu dan El. Alvin
Ketiga orang itu sibuk dengan pemikiran masing- masing.
...----------------...
Gaby berjalan dengan setengah lari, baju warna merah menyala, sangat terlihat pada bagian yang basah. Dia mencari toilet disana.
"Heiii kauu..." panggilnya pada seorang pelayan.
"Ya Nona, ada yang bisa saya bantu." tanya pelayan dengan sopan.
"Di mana toilet?" tanya Gaby.
"Maaf Nona, Anda pergilah kedalam, sebelah kanan dapur, anda belok kiri." pelayan itu menjelaskan secara detail.
Gaby menuju arah yang dimaksud, dia juga melihat bayangan Henry. Dia hendak menuju kamarnya.
"Lebih baik aku ikuti saja dia." gumam Gaby. Namun dia mengurungkan niatnya, saat Adel berlari kearah Henry.
"Dasar menyebalkan." gerutunya, sambil berjalan ke toilet.
"Tuannnn, Tuan Henry.." panggil Adel dengan setengah berlari. Henry menoleh, karena berjalan tergesa, dan heels yang dia kenakan, Adel terpeleset di pijakan tangga.
Henry refleks memegang tangan Adel, mereka terjatuh bersama. Dengan Adel berada diatas Henry.
__ADS_1
"Ma-maaf Tuan, Anda bagian mana yang sakit?" tanya Adel setelah sadar.
"Awww seluruhnya sakit, terutama itu." Henry menunjuk adik kecilnya, tertindih lutut Adel.
"Dasarr manusia kutub, mesummm, bisa bisanya memanfaatkan keadaan." Adel nemukul dada bidang Henry, dan saat hendak terbangun, tetapi Henry menariknya. Sekarang Henry mengungkung Adel.
"Aku sudah menolong mu, tapi apa balasanmu?" matanya menyiratkan kemarahan.
"Tu-tuan maaf kan saya, tolong lepass, atauuuu..."
"Atau apa hah?"
Adel melancarkan aksinya, untuk kedua kalinya si adik jadi korban. Henry meringis kesakitan, Adel segera bergeser dan segera bangkit.
"Aarrrrgghhh asetku, dasar wanita gila." umpat Henry.
"Dasar manusia kutub, rasain pembalasanku. Haahaaa..." Adel menyeringai, melupakan niat awalnya memanggil Henry.
Tetapi melihat Henry kesakitan, Adel tak tega membiarkannya. Dia membantu Henry duduk disofa yang tak jauh dari sana.
"Heiii apa yang kau lakukan?" Henry berteriak ketika Adel ingin menyentuhnya.
"I-itu Tuan, emmmpppt aduh apa namanya." Adel gelagapan.
"Ammm emmm, sudah sana pergi." Henry mengusir Adel.
"Udah dibantuin juga, bukanya makasih kek." gerutu Adel.
"Saaaa....."
" Astaga, anak bodoh apa yang kalian lakukan disini? Malah enak berduaan? Ama udah nungguin." teriak ibu presiden.
"Anu Nyah, saya...." lagi- lagi ucapan Adel dipotong.
"Sudah buruan kita kesana, sudah ditunggu yang lain." Dengan menahan sakit, Henry berjalan mengikuti sang Mommy. Diikuti Adel dibelakangnya.
"Son kenapa jalan mu seperti habis disunat?" tanya Tuan Abimanyu.
"Yah, ada apa denganmu Ar?" Ama ikut bertanya.
"Ini salah saya Ama, Tuan." ucap Adel.
Mereka saling melempar pandangan, apa yang sebenarnya terjadi pada dua anak manusia ini?
Kenapa bukan Adel yang kesakitan, tapi malah sibodoh ini? batin Ama.
"Apa yang sudah kalian lakukan hah?" suara Tuan Abimanyu meninggi. Henry menepuk jidatnya, bisa panjang urusannya.
"Aku hanya menolongnya." ucap Henry datar.
"Iya Tuan Henry yang menolong saya." Adel ikut berbicara.
"Kau diamlah! Aku sedang bertanya padanya." ucap Ama tegas. Dia sudah berfikir yang tidak tidak.
__ADS_1
"Hmmm Ama, sebaiknya kita lakukan foto keluarga sekarang. Sepertinya Baby El sudah mengantuk." Adel berusaha mengalihkan pembicaraan. Dia melihat El yang sesekali menguap dan mengucek matanya.
"Baiklah, tapi kau masih berhutang penjelasan padaku Ar." tunjuknya pada Henry.
Mereka melakukan foto keluarga, mulai foto bertiga. Henry, Adel dan Baby El. Dengan El berada ditengah. Kemudian bersama Tuan dan Nyonya Syahreza, Ama dan Rena, tak lupa Ibu Sari.
Ini adalah foto formal, yang sengaja diminta Nyonya Amel. Para tamu sudah meninggalkan acara, menyisakan Arga dan Dokter Alvin. Mereka pun turut foto bersama. Edo sudah berpamitan, karena ada urusan mendadak.
"Oke semua tersenyum, 1,2, 3 " kata fotografer memberi aba aba.
"Tuan Henry tolong tersenyum lebih banyak." Henry hanya mendengus, "seperti model pasta gigi saja."
Baby El tertawa riang, melupakan kantuknya. Dibelakang fotografer ada yang bertugas membuat El tersenyum.
Nyonya Amel melirik putranya, begitupun Adel yang disebelahnya. "Seperti menahan p*p." bisik Adel.
"Ini semua karena kau, aset berhargaku jadi korban." Herny memelankan suaranya.
"Maaf." hanya itu kata yang selalu Adel ucapkan.
"Okey sesi foto sudah selesai." ucap fotografer. Semua orang bubar barisan jalan.
Adel membawa El ke kamarnya, untuk berganti baju dan bobo ciang. Tetapi kali ini Adel memilih melepas heels nya. Dia takut El terjatuh bersama dirinya, lagi pula kakinya sangat pegal. Karena Adel terbiasa menggunakan sepatu flat.
"Kenapa kau tak pakai alas kaki Del?" tanya Rena.
"Kaki ku pegal Ren, sepertinya juga sedikit terkilir." Adel berjalan menahan nyeri. Sebenarnya memang kakinya nyeri akibat terjatuh tadi, tapi dia tahan.
"Berikan El padaku, biar aku yang gendong." ucap Rena. Tetapi El yang sangat mengantuk, malah menangis. Tak mau ikut dengan Rena.
"Biarlah begini Ren, kau bawakan saja heels ku." Adel menyerahkan heels dengan tangan kirinya.
"Kau diamlah disini, aku bawakan sandal japit." Rena hendak pergi namun dicegah.
"Aku tak apa Ren." Adel berjalan pelan, kakinya terasa ngilu dan geli.
"Kau kenapa jalan seperti siput, Adel?" tanya Nyonya Amel, dia juga hendak ke kamarnya.
"Kakinya sakit Nyah." adu Rena. Sontak dia mendapat tatapan tajam dari Adel.
" Kau ini kalau sakit ya diam saja, apa kau ingin mencelakai El?" teriak Henry dibelakang mereka.
"Tuan, pelankan suaramu, El baru saja tertidur." balas Adel sinis.
"Biar aku bawa El." Henry mengambil El. Lagi lagi bayi itu menangis.
Karena malas berdebat, dan tak ingin El jatuh, Henry mengangkat keduanya, menuju ke kamar El. Adel meronta, ingin diturunkan, tetapi tubuh Henry lebih kuat.
"Diam atau kita akan jatuh."Henry tak ingin dibantah.
Dasar manusia kutub, sejak kapan juga di peduli dengan Baby El. Biasanya juga cuek.
Nyonya Amel menyeringai senang. "Kau lihat Rena, si anak bodoh itu?" dijawab anggukan Rena. Kemudian menyusul ke lantai atas menuju ke kamar masing masing.
TBC
Terima Kasih
__ADS_1