
Hai readers, author ucapkan banyak terima kasih atas semua dukungan yang diberikan.
Yang belum semoga berkenan meninggalkan jejak like komen dan vote yah.
Ikuti terus keseruan Baby El Yah,
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐
Flash back
"Maaf suami Anda mengalami kecelakaan."
Bukkkkkkk
Adel terduduk dilantai ponsel yang dia pegang ikut jatuh. Air matanya sudah tak terbendung lagi. Adel tak dapat lagi mengucapkan apapun.
"Hallooooo... Nyonyaaaaaa... Haaalooo..." suara diseberang sana terus memanggil Adel.
"Haalooooo... " teriak orang itu lagi.
"Ya halo..." Ibu Sari mengambil alih ponsel Adel.
"Ya Nyonya, suami Anda saat ini berada dirumah sakit XXXX, kondisinya kritis."
Tessss
Buliran bening mengalir begitu saja, dadanya sangat sesak. Namun ia coba tahan, untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada menantunya.
"Nyonya Anda masih mendengar saya?"
"Ya, tolong jelaskan saya ibu nya." ucap Ibu Sari yang memegangi dadanya, semakin nyeri ia rasakan.
"Jadi begini Ibu, Tuan Hasan mengalami kecelakaan lalu lintas, dan saat ini beliau dibawa kerumah sakit XXXX, dan kondisinya saat ini kritis."
"Baik, terima kasih Pak ."
"Iya ibu, sebaiknya Anda segera kesana. Selamat malam ibu."
"Selamat malam." Ibu Sari memeluk Adel erat. Membelai surai panjang Adel. Dia harus kuat demi Adel. Karena saat ini, hanya dia satu satunya yang Adel miliki selain Hasan.
"Sayang, kamu harus sabar ya, ini ujian bagi kita, kita harus kuat nak." Ibu Sari terus membujuk Adel.
"Kita harus banyak berdoa untuk Hasan, kita harus memberinya semangat. Untuk tetap bertahan, demi kita, demi anak kalian."
Barulah Adel merespon, sedari tadi dia hanya menangis tanpa mengeluarkan suara. Dia mengelus perutnya, ada satu nyawa dalam dirinya.
__ADS_1
"Sekarang kita bersiap-siap yah, kita akan kerumah sakit." ucap Ibu Sari.
Setelah membantu Adel bersiap, Ibu Sari menuju kekamarnya. Mengambil sweater tebal yamg hangat untuknya. Diluar pasti dingin, ini sudah malam, terlebih cuaca sehabis hujan.
"Sari, kamu harus kuat, kamu harus bisa, Adel butuh kamu, kamu gak boleh lemah." Ibu sari menyemangati dirinya sendiri.
Ibu Sari memang mempunyai riwayat penyakit jantung, namun sejauh ini baik baik saja. Berbeda dengan hari ini dadanya terasa sangat sakit, ibu sari mencoba menahannya. Agar Adel tak semakin terbebani.
"Ayo sayang kita berangkat." Ibu Sari memapah Adel. Taksi online yang tadi ia pesan, sudah menunggu didepan rumah.
Adel hanya menurut saja, ia masih shock. Menerima kabar duka yang begitu mengejutkan baginya.
Perjalanan membutuhkan waktu 45 menit, karena rumah sakit yang dituju, jaraknya lumayan jauh dari rumah Adel.
"El, ayo kita turun." ajak Ibu Sari. Setelah mereka sampai dihalaman rumah sakit.
Mereka berdua segera menuju bagian informasi. Untuk menanyakan tentang Hasan. Setelah mengetahui ruangan yang dimaksud, Adel segera berlari menuju ruang ICU, tempat suaminya dirawat.
Brukkkk
Adel hendak terjatuh, namun sebuah tangan kekar segera menangkapnya.
"Heii Nona bangunlah!" ucap orang itu.
"Suster, Dokter..." teriak orang itu. Saat ini Adel dalam dekapannya. Semua dokter yang berjaga segera berlari, Adel ditidurkan dibrankar dorong. Dan segera dibawa masuk ruangan untuk diangani.
Ibu Sari sangat takut melihat kondisi Adel. Dia bingung harus berbuat apa. Tetapi Ibu Sari tetap berada di samping El.
"Tuan, terima kasih banyak." ucap Ibu Sari mengikuti arah Adel dibawa.
"Kasihan sekali wanita itu." gumam orang itu, lalu melanjutkan niat awalnya datang kerumah sakit.
Adel dipasang cairan elektrolit, tubuhnya sangat lemah. Apalagi kondisinya sedang hamil. Ibu Sari terus menangis, ia menyesalkan semua kejadian yang menimpa mereka. Seolah tak ada habisnya.
"I-ibu..." suara Adel lemah, ia memegangi kepalanya yang terasa pusing.
"El, kamu sudah sadar nak." Ibu Sari sedikit bahagia.
"Bu dimana Mas Hasan?" tanya Adel.
"Kamu disini dulu ya, kalau sudah baikan baru melihat Hasan." ucap Ibu Sari.
"Huuuu huuu hikssss..." Adel semakin terisak.
__ADS_1
"Tolong bawa Adel melihatnya bu, El gak apa apa." Adel meraung raung.
Ibu Sari jadi merasa iba, dia segera memanggil dokter. Dan diperbolehkan asalkan tetap didampingi.
Ibu Sari dibantu seorang suster menuju ruangan Hasan dirawat, Adel duduk dikursi roda. Dan ibu disebelah kirinya. Tangan keduanya saling bertautan, saling menguatkan satu sama lain.
"Silahkan Ibu masuk lebih dulu, karena hanya boleh satu orang didalam ruangan." ucap suster.
"Biarkan anak saya dulu sus." ucap Ibu Sari. Suster tadi mendorong Adel kedalam, dan meninggalkannya disana.
"Massss..." suara Adel lemah, dia memegangi tangan suaminya.
Kondisi Hasan sangat memprihatinkan, terdapat banyak memar ditubuhnya, kepalanya diperban, selang oksigen, dan alat medis di bagian depannya.
"Massss, kamu harus bangun, jangan tinggalkan aku Masss..." suara Adel pilu.
"Kamu harus kuat Masss, apa kamu tega membiarkan anak ini menjadi yatim? Dia bahkan belum sempat melihat wajah ayahnya."
"Massss aku mohon bangunlah!!!" Adel memegangi perutnya, dan tangan satu lagi masih berada diatas tangan suaminya.
"Huuuu huuuu hikkkksssss..." Adel menyeka air matanya menggunakan lengan, karena tisu yang dia bawa habis. Untuk membersihkan ingus.
"Maaf Nyonya, Anda harus keluar, karena pasien belum boleh terlalu lama dijenguk." ucap suster tadi.
"Tapi saya masih ingin lihat suami saya sus." Adel menolak.
"Tolong menurutlah Nyonya, Anda juga harus beristirahat." akhirnya Adel menurut. Kini giliran Ibu Sari yang masuk. Dia langsung memeluk tubuh menantunya.
"Hasan, tolong bertahanlah! Adel membutuhkanmu, juga bayi yang dikandungnya. Dia butuh seorang ayah, ibu mohon bangunlah." Air matanya tak terbendung lagi.
"Kamu harus kuat nak, ibu yakin kamu bukan orang yang lemah. Kamu harus bangun demi Adel dan calon bayi kalian." Ibu Sari mengusap tangan menantunya.
"Ibu tinggal dulu ya, kamu beristirahatlah, maaf nak, ibu harus menemani Adel."
Adel bisa tertidur karena pengaruh obat, sedari tadi ia hanya menangis, jadilah dokter memberinya obat tidur untuk ibu hamil. Karena dokter khawatir, kesehatan Adel akan berpengaruh pada janin yang dikandungnya.
"Kasihan sekali ya dok, suaminya kritis, malah sekarang dia ikutan sakit." ucap suster, setelah memberikan vitamin pada selang infus Adel.
"Yah begitulah kehidupan sus, kita hanya bisa berusaha dan berdoa, selebihnya hanya kuasa Tuhan yang mengatur segalanya." dokter itu keluar dari ruangan Adel, diikuti suster.
Saat ini pukul 02.00 dini hari, Ibu Sari tak bisa lagi menahan kantuknya. Ia sangat kelelahan, ditambah kondisi jantungnya, yang sepertinya mulai bermasalah lagi.
Ibu sari tertidur disamping El, dengan tangan kanan yang menaut pada tangan Adel. Dan tangan kiri digunakan untuk bantalan tidurnya. Dia takut Adel membutuhkan sesuatu saat dirinya tertidur.
TBC
Terima Kasih
__ADS_1