
Jangan lupa like komen dan vote setelah membaca ya.
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐💐
Henry harus kembali menahan hasratnya, Adel membawa El ke kamarnya, apalagi saat ini tak ada Wulan. Seharian ini El selalu menempel padanya. "Apa dia sudah tidur?" Henry menutup pintu dengan sangat pelan.
"Ssttttt..." Adel memberi isyarat dengan jari telunjuknya. El baru saja terlelap setelah menghabiskan setengah botol susu.
Henry merebahkan tubuhnya disamping Adel, El berada ditengah. Tangannya mulai nakal, menelusup dibalik piyama yang Adel kenakan. "Jangan banyak bergerak sayang, nanti El terbangun." Henry berbicara sangat pelan ditelinga Adel. Membuat tubuhnya meremang.
"Kau yang diam, geli tau," Adel menepis tangan Henry.
"Geli tapi enak kan?" Henry menaik turunkan alisnya. Adel masih diam ditempatnya. Dia menyelimuti El dengan perlahan, takut mengusik tidurnya.
Adel membalikkan badan, sehingga mereka saling menatap, jarak keduanya sangat dekat, nafas Henry terasa hangat diwajahnya. Adel tersenyum, dia memberanikan diri membalas tatapan Henry. "Apa aku begitu tampan untuk kau kagumi, hmmm." Henry mengecup pucuk kepala Adel cukup lama.
"Masih saja angkuh," gerutu Adel dalam hati.
"Apa kau bahagia?" Henry menyingkirkan helai rambut Adel yang menutupi wajahnya. Adel menganggukkan kepalanya, tatapan keduanya saling mengunci.
"Bahagia, sangat bahagia, terlebih aku benar-benar menjadi ibu untuk El. Aku sudah terlanjur menyayanginya, sejak pertama bertemu dirumah sakit. Aku sudah menganggap bahwa kita ditakdirkan bersama." Mata Adel berkaca-kaca saat mengingat setiap kejadian yang dia lalui bersama El.
"Terima kasih, karena mengijinkan aku tetap bersama El." Buliran air mata mengalir begitu saja, Adel tak mampu menahannya, bahagia bisa bersama-sama dengan orang disayanginya.
"Aku yang harus berterima kasih, dan mulai sekarang tak ada terima kasih lagi, kita adalah keluarga, yang akan saling menjaga satu sama lain." Henry menghapus jejak air mata diwajah Adel.
"Maaf atas keegoisan ku selama ini, hampir saja aku kehilangan mu." Mereka berdua saling mendekap, meluapkan perasaaan satu sama lain.
"Terima kasih sayang, kamu memberi ku banyak kebahagiaan." Adel mengecup wajah El bertubi-tubi. Bocah gembul itu hanya membalikkan posisinya memunggungi Adel.
"Apa kau tak berniat memberikan saudara untuk El?" bisik Henry.
Hah, mulai lagi, dasar mesum.
__ADS_1
"Tentu saja ingin, tapi tidak sekarang."
"Kenapa? bukankah sama saja sekarang, besok atau lusa." Wajah Henry memelas, sudah sangat lama dia berpuasa, sekarang ada yang sah masa iya mau dianggurin gitu aja.
"Tamu ku datang," ucap Adel memunggunginya.
"Tamu siapa? jangan harap kamu bisa membawa orang lain kerumah ini, apalagi laki-laki." Henry salah paham, dia berasumsi bahwa Adel belum ikhlas menerimanya sepenuh hati.
"Tamu bulanan," jawabnya singkat.
"Jadi kamu setiap bulan tiba-tiba, ummm..." Adel tak ingin Henry lebih berpikiran jauh. Dia membungkam Henry dengan tangannya.
"Jangan aneh-aneh, tamu bulanan setiap wanita, si merah." Henry semakin tak mengerti, padahal dia sudah pernah menikah sebelumnya, tetapi Metta tak pernah membicarakan tamu bulanan.
"Sayang, jangan membuat ku marah," Henry mengeraskan rahangnya.
"Terserah, aku mau tidur, kau tanyakan saja pada Dokter Alvin." Adel membungkus dirinya dengan selimut, dia tidur dengan memeluk El.
Penasaran dengan ucapan Adel, Henry meraih gawainya di atas nakas. Dia segera menghubungi Dokter Alvin.
Ada apa ini? tumben sekali dia menghubungi ku, terlebih ini sudah hampir larut malam.
"Kau tau tamu bulanan Adel siapa?" tanya Henry dengan polosnya. Dokter Alvin tak dapat menahan tawanya, pantas saja dia mengganggu tidur orang, ternyata dia sedang berpuasa.
"Buahahaha... Pantas saja kau ada waktu menghubungi ku." Alvin malah senang menggoda Henry.
"Hei, apanya yang lucu, cepat katakan, dia bilang kamu tau, apa dia teman mu?" Dokter Alvin benar-benar tak bisa menghentikan tawanya, seorang Henry menanyakan hal tabu padanya.
"Cepat katakan, atau ku robohkan rumah sakit itu." Henry merasa dipermainkan, dia hendak menutup telepon.
"Tunggu, oke aku kasih tau." Dokter Alvin menyeka sudut matanya yang berair karena terlalu lama tertawa.
"Cepat, dia bilang si merah." tawa kembali meledak, membuat Henry semakin kesal, karena tak menamukan jawaban. Dia melempar gawainya diatas sofa, padahal panggilan masih berlangsung.
Pantas saja Nyonya Amel sering memanggil mu anak bodoh, hal sepele saja kamu tak tahu.
__ADS_1
Panggilan berakhir, Dokter Alvin yang menghubunginya balik. Sedangkan Adel yang belum terlelap terkikik geli melihat tingkah absurd suaminya.
"Jangan dimatikan, tamu bulanan sama dengan menst****, sekarang kau sudah mengerti?" ucap Dokter Alvin tegas. Henry begitu malu, sehingga langsung mengakhiri panggilan.
Henry kembali duduk disamping ranjang, dia mengacak rambutnya kasar. "Jangan menertawai ku," Henry melihat tubuh Adel yang bergetar, berusaha menahan tawa.
Adel duduk, memeluk suaminya dari belakang. "Maaf ya Daddy," Henry meredakan amarahnya. Bagaimanapun itu hukum alam. "Hmmm, tidurlah!" Henry membalik badan merebah Adel dengan perlahan. Padahal didalam hatinya masih sangat kesal.
Mereka tertidur saling memeluk, lengan Henry sebagai bantalan Adel. Wangi maskulin begitu memikat Adel untuk bersandar pada dada bodang henry. Setidaknya cukup membuat para jomblo iri.
...----------------...
Pagi ini Arga bangun pagi sekali, dia sudah bersiap kerumah orang tua Wulan. Semua hal sudah dipersiapkan dengan detail tak terlewat satupun. Arga hanya menggunakan kaos berkerah berwarna navi, dengan perpauan celana jins panjang berwarna senada, tak lupa jam mahal juga sneakers putih. Serta kacamata hitam yang bertengger dihidung mancungnya. Menambah ketampanan seorang Arga Dirgantara.
Dia sengaja mengenakan pakaian casual, agar tak terlalu formal. Namun Arga juga menyiapkan pakaian kerjanya di bagian belakang mobil. Arga melangkah dengan penuh percaya diri. Menarik perhatian 'emak berdaster' pagi itu.
Banyak yang memuja penampilan Arga, seperti artis blusukan. Namun Arga hanya mengabaikan mereka. Pintu diketuk, Lintang yang membukakan pintu, Wulan sedang bersiap-siap di kamarnya.
"Cari siapa ya?" tanya Lintang, dia tak mengedipkan matanya. Memandangi Arga dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Kak Wulan dimana dek?" Lintang mengenali suara ini, tetapi penampilannya berbeda dengan orang yang kemarin datang.
"A-ada, silahkan duduk, saya panggilkan Kak Wulan." Lintang berlari menuju kamar Wulan. Dia berpapasan Ibu dari arah dapur.
"Ada apa Lin, pagi-pagi berlari seperti itu?" tanya ibu heran, kondisinya sudah membaik setelah minum obat dan beristirahat semalam.
"Ada tamu Buk, nyariin Kak Wulan." Lintang berlalu, menuju kamar Wulan yang hanya tinggal beberapa langkah.
"Siapa sih? tamu sepagi ini?" gumam Ibu. Karena penasaran, Ibu Wulan menemui tamu yang dimaksud. Kemarin Arga belum sempat bertemu dengannya. Untuk itu beliau tak mengenali Arga.
Arga berdiri, mengulurkan tangannya. "Saya Arga Bu, yang kemarin mengatar Wulan." ucap Arga dengan sopan.
"Ooo, teman Wulan, tunggu sebantar ya Wulan masih bersiap-siap."
Tak lama Wulan datang bersama Lintang mengekor dibelakangnya. Dia ternganga melihat penampilan Arga yang lain dari biasanya. Lebih fresh, tambah ganteng.
__ADS_1
TBC
TERIMA KASIH