
Terima kasih telah singgah dilapak baby El.
Dukung terus Baby El dengan Like Komen dan Vote sebanyak-banyaknya.
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐
Adel duduk dikursi dekat jendela, dibalkon kamar yang dia tempati. El sudah tertidur, bersama dengan Wulan. Hanya dirinya yang masih terjaga, mungkin cuaca dingin membuat orang mudah mengantuk.
Adel memandangi amplop biru ditangannya, ia masih ragu untuk membukanya. Tetapi dia juga penasaran dengan apa yang ada didalamnya.
"Buka, tidak, buka, tidak. Ahhhhh lebih baik buka aja." Adel mulai menarik pita yang mengunci amplop dengan cantik. Dia teringat saat masa kuliahnya dulu. Dia sering mendapatkan surat seperti yang ia dapatkan sekarang ini.
Padahal saat itu ponsel sudah bermunculan, tetapi karena menghemat biaya, Adel memilih menggunakan ponsel dengan 'layar tendang'. Tak seperti sekarang ini, yang hanya diusap saja bisa semua. ( Pantesan thor sering kepleset saat ngetik diponsel, hahaahaa.)
Adel masih enggan membuka lipatan kertas itu, cukup lama dia memandanginya, hingga tangannya bergerak membuka lipatan jertas itu.
"Hufffffttttt" Adel menarik nafas panjang, sebelum akhirnya membaca setiap kalimat yang terlukis rapi, sangat rapi dalam tiap baris lembaran kertas itu.
Dear Adellia Jasmine, my little girl.
Entah dari mana aku harus memulainya, tetapi aku harap kamu membacanya hingga akhir.
Begitu banyak kesalah pahaman yang telah terjadi diantara kita, namun sepertinya aku tak bisa mengucapkan maafku secara langsung padamu.
Ketika kamu membaca tulisan ini, mungkin aku sudah kembali ke Jerman. Tempat tinggalku saat ini.
Jasmine, maafkan atas semua kesalahanku, maafkan atas semua kebodohanku, maafkan atas semua ketidak berdayaanku dulu.
Maaf karena aku meninggalkanmu begitu saja, tetapi percayalah aku selalu berusaha mencarimu, tetapi mamaku tak menginginkan kita bersama.
Penyesalanku saat ini sudah tak ada gunanya lagi, kita tak mungkin seperti dulu lagi. Yang aku sesalkan, karena aku melepaskan gadis sebaik dan secantik dirimu begitu saja. Tanpa mengetahui kebenarannya.
Maafkan mamaku Jasmine, beliau banyak bersalah padamu, maafkan semua kekhilafan beliau padamu. Beliau sudah mengakui semua perbuatannya, sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.
Kedatanganku hanya ingin meminta maaf padamu, atas kesalahanku, dan kekhilafan mamaku.
__ADS_1
Saat ini aku bahagia melihatmu bahagia bersama keluarga kecilmu. Aku ucapkan selamat, selamat atas pernikahanmu, selamat atas anugerah putra tampanmu, dannnn selamat karena kamu mendapatkan seseorang yang menyayangimu, jauh lebih baik dari pada diriku.
Adel menautkan alisnya, keluarga kecil? Dan apa ini? Suami? "Dia pasti salah paham denganku, dia menganggap aku benaran pasangan Tuan henry." Adel mengacak rambutnya sendiri. Merasa pusing dengan sandiwara yang dia lakukan, malah membuat orang salah paham.
Adel melanjutkan surat tersebut.
Setidaknya aku bisa bernafas lega, kau bertemu dengan orang yang tepat. Semoga kamu bernahagia dengan kehidupanmu saat ini.
Tetapi aku akan tetap sama, hubungi aku jika kamu memerlukan bantuanku, jangan sungkan untuk mengatakannya. Aku tetap menganggapmu gadis kecilku, sama seperti dulu. Tak akan berubah walaupun kita jauh ditempat yang berbeda.
Sekali lagi selamat atas kehidupan barumu, aku turut bahagia untukmu.
Tertanda
Reynald
"Semuanya sudah berakhir kak, dan kau memang sudah terlambat, tetapi kau salah paham denganku. Dia bukan anakku, dia bukan suamiku. Dan keluarga, mereka sudah tiada kak, aku sudah tak memilikinya. Hanya ibu keluargaku, dan Eyang Wira saat ini." Adel mendekap kertas itu erat.
"Dan tak lama lagi, aku harus kembali berpisah dengan El, entah aku akan sanggup atau tidak. Aku harus apa kak? Aku tak ingin merasakan ini semua sendiri kak."
Buliran bening lolos begitu saja dari kedua sudut matanya, Adel membiarkannya. Bahkan sekarang semakin deras, Adel semakin tergugu saat teringat suami dan anaknya yang pergi meninggalkannya.
"Maaf, bukan aku bermasud menyakitimu, tetapi aku takut, aku takut ditinggalkan untuk kesekian kalinya. Aku tak sanggup jika harus terluka, aku tak sanggup lagi." Henry mengusap wajahnya kasar.
Dadanya sangat sesak, namun tak ada air mata yang keluar dari matanya. Suaranya tercekat ditenggorokan, Henry merasakan sakit yang semakin.menyesakkan.
Ingatannya kembali saat Arga memberitahukan, siapa Rey sebenarnya. Dari data yang diperoleh Arga, Reynald adalah kakak tingkat ditempat Adel kuliah dulu.
Rey adalah idola kampus, pertemuannya berawal saat OSPEC, Adel datang terlambat, dan Rey penanggung jawabnya. Dari situlah kedekatan mereka dimulai.
Hingga akhirnya Rey wisuda, dan harus terbang ke Jerman. Meninggalkan El, tanpa kabar, tanpa pamit.
----------------
"Jadi dia meninggalkan Adel begitu saja?" Tanya Henry.
"Ya, dia ditugaskan mama nya ke Jerman, karena ayahnya sedang mengurus urusan yang lain. Ternyata itu hanya akal mama dari Rey, agar dia menjauh dari Nona Adel. Dan surat yang selalu Rey kirim, tak pernah sampai padanya. Begitupun Nona Adel."
__ADS_1
"Seolah lenyap ditelan bumi, hingga Nona Adel lelah, dan bertemu Hasan, mendiang suaminya."
"Lalu bagaimana dengan mama nya itu?"
"Beliau sudah meninggal 3 tahun yang lalu karena sakit gagal ginjal. Dan Rey kembali kesini, untuk menemui Nona Adel, dia ingin menjelaskan kesalah pahaman yang terjadi. Tetapi Nona Adel selalu menghindar darinya."
"Sepertinya dia orang yang baik, hanya nasibnya yang tak beruntung." Henry menegadahkan kepalanya, menatap langit-langit kamarnya.
"Sama sepertiku." Gumamnya lirih, sehingga hanya dirinya yang mendengar.
"Dan hari ini, dia terakhir disini, karena dia harus kembali ke Jerman." Lanjut Arga, dia menyerahkan sebuah CV kepada Henry. Disana tertulis jelas, siapa Rey dan pekerjaannya, serta keluarganya.
Henry manggut-manggut sambil mengamati setiap huruf dalam lembaran kertas putih itu. Dia membaca setiap detail kalimat yang tertulis.
"Ternyata kau bukan orang sembarangan." Henry tersenyum masam, mengetahui siapa Rey sebenarnya. Tetapi dia juga lega, karena Rey tak mungkin mengejar Adel lagi. Pasti Rey percaya dengan ucapannya waktu itu.
----------------
Arga sudah kembali ke kamarnya. Dia sudah berganti pakaian, tetapi rasanya masih enggan memejamkan matanya. Dia mengambil benda pipih itu dari atas nakas.
"Pantas saja dia terus mencarimu, kau memang pantas diperjuangkan." Arga mengusap potret Adel, yang ia ambil diam-diam saat di bandara kemarin. Arga merebahkan tubuhnya di sofa, dikamar yang ditempatinya.
"Tetapi aku sadar siapa diriku ini, aku tak pantas untukmu, dan El, dia lebih membutuhkanmu. Aku tak ingin bayi itu tumbuh tanpa kasih sayang ibu, sepertiku dulu. Rasanya sangat sangat menyedihkan. Aku akan melakukan apapun, agar kau dan El selalu bersama. Termasuk merelakanmu."
"Aku harus menguburnya dalam, sangat dalam, bahkan sebelum aku memulainya. Dan aku tak ingin melihat akhirnya, biarlah semua berjalan dengan semestinya." Arga kemudian menghapus foto itu, ia tak ingin perasaanya semakin jauh.
Terlebih Arga sadar, dia dan Adel dari level yang berbeda, Meskipun ia tahu Adel bukan orang yang memandang orang lain dari kedudukannya. Tetapi Arga cukup sadar siapa dirinya.
Arga terus merenung, hingga ia tertidur disofa, dengan ponsel masih digenggamannya. Dan terjatuh mengenai wajahnya, Arga bangkit dan berjalan kearah ranjang. Tanpa memperdulikan benda pipih persegi panjang yang terjatuh dibawah sofa.
TBC
Yang mau lihat Mami Adel ada di ig ya @keynan7127
Maaf belum di publish disini, cz masih galau mau nentuinnya.
Dan cerita Rey rencana akan thor publish tapi bukan disini.
__ADS_1
Terima Kasih