Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
S2-21


__ADS_3

Jangan bosan untuk terus dukung Baby El, dengan like komen dan vote sebanyak-banyaknya.


Happy Reading


💐💐💐💐💐💐


Akhirnya


Arga benar-benar tak mengindahkan kehadiran Wulan. Dia terlelap di dalam kamarnya, namun dia sengaja tak mengunci pintu. Lama Wulan terdiam, sehingga dia merasa jenuh. Wulan memilih berkeliling apartement milik Arga.


"Ternyata dia bisa rapi, sebagai cowok single rumah ini lebih rapi dari kamar ku. Hihhiii..." Wulan terkekeh mengingat dirinya saat sedang dilanda malas.


Lelah berkeliling, Wulan melirik kotak makan yang tadi dia bawa. "Pasti sudah dingin, mungkin lebih baik jika dihangatkan." Dia berkutat di dapur, perlengkapan dapur tertata rapi ditempatnya.


"Apa yang kau lakukan disini?" ucap Arga, dia baru saja terbangun, dan merasa haus. Namun dia justru mendapati Wulan yang mengacaukan dapurnya.


"Ma-maaf Tuan, saya hanya, saya hanya..." Wulan tergagap, menutup mulutnya sendiri.


Duh kenapa mulutku jadi kesleo begini sih, mau ngomong aja susah banget.


"Hanya apa? kamu mengacaukan dapur ku?" ucap Arga sinis, dia menuju lemari pendingin dan menuangkan airnya di dalam gelas. Namun belum sempat dia meminumnya, Wulan sudah lebih dulu mengambilnya paksa. Sehingga mengenai baju Wulan.


"Tuan kan sedang sakit, harusnya minum air hangat, bukan air dingin." Wulan membuang air kedalam wastafel. Tak lupa mematikan kompor karena makanan sudah cukup panas.


"Heh, gak usah sok peduli." Arga berbalik ke kamarnya.


"Aku memang peduli padamu." teriak Wulan, membuat Arga menghentikan langkahnya.


Arga masih mematung ditempatnya, menunggu apa yang akan Wulan katakan. "Maafkan saya Tuan, saya gak berniat untuk membuat Anda marah." Mata Wulan berkaca-kaca, dia mendekati Arga yang tak juga berpindah dari tempatnya berdiri.


"Untuk?" Arga mengernyitkan keningnya. Dia menarik kursi yang ada diruangan itu.


"Saya salah, saya yang memaksa semua keluarga Tuan Abimanyu untuk membuat kejutan untuk mu. Aku pikir dengan begitu, Anda akan semakin dekat dengan mereka. Dan juga sebagai tasa terima kasih saya. Karena Anda sudah banyak sekali membantu saya dan keluarga saya." Buliran air mata lolos begitu saja, tanpa bisa Wulan tahan.


"Hmmm, terus?" Arga memangku dagu dengan sebelah tangannya.


"Saya bersedia pergi dari sini, asalkan Anda tak lagi mengacuhkan mereka. Saya gak mau karena kesalahan saya jadi menjauhkan Anda dan keluarga Syahreza." Wulan menutupi wajahnya, dia malu karena menangis didepan Arga. Padahal ini bukan pertama kalinya Arga melihat Wulan menangis.


"Udah gitu aja?" jawab Arga tanpa dosa.


"Emm, sebenarnya masih ada lagi, tapi itu saja sudah cukup." Wulan melewati Arga, dia meraih tas kecil yang dia taruh dimeja makan.


Arga mencekal pergelangan tangan Wulan. "Oh iya, itu opor ayam dari Nyonya Amel, beliau kuatir dengan Anda. Dan menyuruh saya membawanya." Wulan menepis tangan Arga.


Tetapi Arga tak melepaskan Wulan begitu saja."Duduklah!"


Wulan menurut, dia duduk disamping Arga selang satu kursi. "Aku tak akan memakan mu, kenapa kau ketakutan begitu?" Arga menarik sudut bibirnya keatas, hal itu disadari Wulan.


Apa dia benaran gak marah lagi sama aku? senyum mu bikin aku meleleh.


"Dasar cengeng, aku memang marah padamu, aku juga sengaja ingin menenangkan diri. Itu semua keinginan ku, tak ada sangkut pautnya dengan mu." Arga bergeser disamping Wulan, membuat Wulan gugup.


"Tentu saja ada, kalau gak kenapa malam itu langsung peegi begitu saja." Wulan menutup mulutnya sendiri. Dua mengutuki dirinya yang menjawab ucapan Arga.


Aduh kenapa ini mulut gak bisa direm, cukup dengarkan saja, jangan membantah.


Arga menghela nafas panjang, dan menghembuskannya perlahan. "Maaf soal itu." Arga menundukkan wajahnya, seolah ada beban berat yang dia pikul selama ini.


"Aku yang seharusnya tak memaksa mereka, padahal Nyonya Amel sudah memperingatkan. Tetapi Tuan Henry juga Adel mendukung keinginan ku." Wulan merasa bersalah atas keras kepalanya.


"Kau tau kenapa aku benci perayaan ulang tahun ku?" Arga menatap Wulan dengan tatapan yang sulit diartikan.


Wulan hanya menggelengkan kepalanya, karena tak ada satupun yang memberitahunya alasan yang sebenarnya. Mereka hanya bilang Arga tak menyukai perayaan.


"Awalnya aku sering merayakan ulang tahun ku bersama keluarga Syahreza, meskipun sebelumnya aku menolak, karena tepat dihari itu juga..." Arga tak melanjutkan kalimatnya, suaranya tercekat ditenggorokan.


Wulan menyadari bahwa Arga mungkin akan merasa sakit jika mengingat kembali masa kelamnya. "Aku tak meminta mu menjelaskan apapun, jika kamu tak sanggup lagi. Jangan dipaksakan." Wulan mengusap tangan Arga yang ada diatas meja. Dia sudah mulai rileks dengan percakapan mereka.


Dia menuju dapur, dan mengambilkan air hangat untuk Arga. "Minumlah!" Wulan menyodorkan segelas air hangat untuknya.

__ADS_1


Arga meminumnya perlahan, hal itu membuatnya terasa lebih baik sekarang. "Kau perlu tau, dan mungkin hanya pada mu, selain keluarga Syahreza yang akan tau tentang ini."


"Hari itu ternyata perayaan ulang tahun ku yang terakhir. Ayah masuk rumah sakit, dan besoknya dia dinyatakan meninggal karena penyakit yang dia derita. Untuk itulah aku tak lagi ingin perayaan apapun dihari Ulang tahun ku." Arga sendu, matanya memerah berusaha menahan genangan disudut matanya.


Wulan menggenggam erat tangan Arga. Berusaha menyalurkan kekuatan padanya melalui tangannya. "Menangislah! jika itu bisa membuat mu lebih lega." Wulan memberanikan diri memeluk Arga dari samping. Dia mengelus bahu Arga dengan sebelah tangannya.


Meski dadanya terasa sesak, namun tak ada air mata yang keluar. "Aku tak apa, semua sudah berlalu." Arga menjauhkan tubuhnya, merasa canggung dengan sikap Wulan yang mulai berani.


"Ayah satu-satunya keluarga yang aku miliki, pergi meninggalkan ku seorang diri. Aku menghukum diriku sendiri, tetapi Tuan Abimanyu dan keluarganya tak pernah lelah untuk meyakinkan ku, bahwa aku tak lagi sendiri. Mereka benar-benar memanjakan ku, seperti anak kandung mereka sendiri."


"Tak ada yang dibedakan, tetapi aku juga tak boleh serakah. Namun aku tetap tak ingin merayakan ulang tahunku, bagiku malah akan semakin mengingatkan ku akan kepergian Ayah." Arga berusaha menata hatinya, Henry benar, yang semakin kita mengingatnya, maka akan semakin terasa sakitnya.


"Maaf seharusnya..."


Ara meletakkan telunjuknya dibibir Wulan. "Sudahlah! Awalnya aku pikir memang kamu bisa mengerti keadaan ku, namun ternyata kau sama saja dengan mereka."


Deggg


Wulan kira Arga benar-benar akan memaafkannya, dengan bercerita padanya. Namun ternyata Arga masih belum bisa memaafkan kesalahannya. Wulan tak mampu berkata-kata, hanya air matanya yang mewakili kekecewaan pada dirinya sendiri.


"Kalian benar, aku tak mungkin bisa selamanya tenggelam dalam kesedihan ini. Aku tau kalian hanya ingin membantu ku keluar dari kesedihan ku. Namun saat itu, aku belum bisa berfikir sampai disana. Selama dua hari ini aku berusaha merenungkan, berusaha memahami keadaan. Bahwa niat kalian memang hanya ingin membantuku."


"Aku yang salah, karena sudah mengabaikan kalian begitu saja. Aku yang tak memahami kalian. Aku seharusnya berterima kasih, bukannya lari." Arga tak bisa lagi menahan sesak didadanya. Satu buliran bening lolos begitu saja dari sudut matanya. Namun Arga segera menepisnya.


Lama Arga terdiam, begitupun Wulan yang tak berani bertanya apapun padanya. Dia sudah salah faham padanya, ternyata dia hanya ingin merenungkan semua sikapnya kemarin.


"Emm, kau pasti lapar, aku akan menyiapkan makanan untuk mu." Wulan bergegas kedapur, mengambil makanan yang sudah hangat hampir dingin karena terlalu lama dibiarkan.


Arga juga merasa lapar ini sudah hampir sore dan dia hanya makan tadi pagi beberapa suap saja. "Kamu gak makan?" Wulan hanya membawa satu piring untuknya.


"Aku masih kenyang." sanggahnya, padahal aroma makanan yang dibuat Nyonya Amel benar-benar menggugah seleranya.


"Makanlah! aku gak mau kamu pingsan disini, merepotkan." Arga mulai menyuap makanan yang dibawakan Wulan. Begitupun Wulan yang ikut menikmati lezatnya opor ayam ala Nyonya Amel.


"Tak banyak kenangan antara aku dan Ibuku, saat itu masih terlalu kecil untuk mengingatnya. Tetapi Ayahku selalu menceritakan bagaimana Ibu pada ku. Dan setiap aku memakan opor ayam buatan Mom, maksud ku Nyonya Amel, aku selalu membayangkan bahwa Ibu yang memasaknya untuk ku. Sejak saat itu, Nyonya Amel berusaha untuk lebih sering memasaknya untuk ku. Terlebih dia memiliki usaha rumah makan." Arga meletakkan sendoknya, semua makanan pindah keperutnya, hanya menyisakan tulang ayam.


"Emmm." Wulan hanya mengangguk, karena mulutnya masih penuh dengan makanan. Dia yang awalnya malu-malu, sekarang begitu lahap.


"Hehe... abisnya enak banget." Wulan menenggak setengah gelas air putih, setelah menyelesaikan acara makannya.


"Benarkan apa yang aku bilang, opor ayam ini bikin nagih." ucap Arga dengan bangganya.


Syukurlah kamu sudah bisa tersenyum lagi.


"Ya, besok aku akan minta diajarkan resepnya pada Nyonya Amel." Wulan memebereskan sisa makan mereka dan membawanya kedapur.


"Biarka disana, nanti ada yang membersihkan." ucap Arga, bersandar pada bar mini di dapur.


Wulan mengernyitkan keningnya. "Pantas saja rumahnya rapi, ternyata ada yang membersihkannya." gumam Wulan sangat pelan.


Arga menuju ke kamarnya, dia kembali merasa pusing, padahal hanya duduk beberapa saat. "Tuan tunggu." teriakan Wulan membuat Arga melepaskan gagang pintu dari genggamannya.


"Sebenarnya, sebenarnya malam itu ada hal yang ingin saya sampaikan." Wulan me*****s tangannya sendiri, dia bingung bagaiman mengatakannya.


"Ya sudah katakan saja." ucap Arga enteng, dia duduk disofa di depan televisi. Menyandarkan kepalanya yang terasa sedikit berputar.


"Apa Tuan sakit? dimana yang sakit?" Wulan mendekati Arga.


"Heih, katanya ada yang mau kamu katakan, cepat." Arga dengan nada memerintah.


"Tidak, itu tidak penting, nanti saja. Sekarang aku bantu ke kamar." Wulan memapah Arga, dia sedikit kerepotan karena tubuhnya yang mungil. Untunglah dia tak perlu naik turun tangga, kalau iya mungkin dia sudah pingsan dibuatnya.


Arga hanya menurut, kepalanya semakin berdenyut. Dia hanya ingin rebahan sebentar. "Dimana obatmu?" tanya Wulan setelah membantu Arga berbaring. Sebagai seorang dokter, dia sudah terbiasa menangani orang sakit seperti ini, meskipun keahliannya spesialis anak. Tetapi pengetahuan umum juga dia kuasai.


Arga menunjuk laci nakas dengan sebelah tangannya. Sebelah lagi memijatkeningnya sendiri. "Kau harus banyak istirahat, juga makan makanan yang bergizi. Anemia, membuat orang mudah lelah dan cepat mengantuk." ucap Wulan panjang lebar.


Akhir-akhir ini dia memang kurang tidur dan sering melewatkan waktu makannya. Terlebih dia harus benar-benar memastikan semuanya sesuai berjalan dengan rencana saat Henry tak ada.


"Tidurlah, obat ini membuatmu mengantuk." Wulan hendak kembali kedapur membawa gelas kosong. Arga menahannya.

__ADS_1


"Temani aku sebentar saja." ucap Arga memelas, bagaimanapun Arga sakit juga karena dia. Wulan tak boleh membiarkannya.


"Tapi nanti kalau ada orang gak enak, dua orang dikamar berduaan." ucap Wulan.


"Tak akan ada orang lain disini." ucap Arga memejamkan matanya. Namun tak melepaskan tautan tangannya dengan Wulan.


"Kamu ganteng juga kalau diam begini." puji Wulan yang tak henti menatap wajah teduh Arga saat tertidur.


"Seandainya waktu itu kamu gak lari, kita kan bisa merayakan hari itu bersama. Aku juga mau jawab peryataanmu waktu itu. Tapi aku takut kamu hanya bercanda. Kalau kamu serius, dan benar-benar menyatakan ingin menjadikan aku istri, pasti aku akan mengiyakan. Tapi sayangnya aku yang terlalu berharap."


Sebenarnya Arga masih bisa mendengar uvapan Wulan. Namun matanya lebih berat untu dibuka. Dia memilih melanjutkan mimpinya. Walaulun tadi pagi saat Wulan datang dia sudah tertidur, namun pengaruh obat membuatnya enggan membuka matanya.


Wulan menyelimuti Arga setelah mendengar dengkuran halus darinya. Dia menutup pintu perlahan, agar tak membangunkan Arga.


"Mamaaa..." teriakan El mengagetkan Wulan.


"Aku pasti berhalusinasi." Wulan menggelengkan kepalanya sendiri.


"Mamaaa... El dicini..."


"Ini gak mimpi?"


"Heh, kamu ini udah kemakan bujuk rayu Arga, jadi tak mengenali kami?" Adel yang berkacak pinggang didepannya, diikuti El disampingnya.


"Jadi aku gak mimpi? Bagaimana kalian bisa masuk?" tanya Wulan linglung, dia seperti tersadar dari pingsan.


"Kau lupa siapa aku?" Henry menyeringai, bersedekap dengan menyandarkan dirinya pada tembok.


Udah kaya cicak aja Daddy nempel ditembok gitu.


Adel menepuk keningnya sendiri, melihat tingkah sang suami. "Dimana Arga?" tanya Adel kemudian.


"Dia tidur, habis minum obat."


"Ya ampun, jadi kalian tidu bareng?" Adel menutup mulutnya tak percaya. Karena yang dia lihat, Wulan keluar dari kamar Arga dengan mengendap-endap.


"Heh, kamu ini udah ketularan virus mesum." jawab Wulan kesal.


"Mami, apa itu piyus?" tanya El polos.


"Dad, kau yang jawab." ucap Adel kesal, dia selalu saja dikerjai dua orang ini.


"Hahaha... Virus itu sejenis makanan sayang."


"Ooo... El mau." ucapnya penuh harap.


"Dad, kau harus mengajarinya hal baik."


"Siap Mami ku sayang." Henry mengedipkan matanya genit.


"Dasar genit." Adel menggerutu.


"Kamu gak nginep Del?" tanya Wulan duduk disebelah Adel.


"Gak, Mom bilang kita harus bawa Arga pulang. Mungkin nanti kalau dia sudah baikan, kita nginep disana." jelas Adel. Mereka harus membujuk Arga bagaimanapun caranya, karena dengan adanya Wulan diharaokan sikap Arga akan melunak.


"Tapi dia baru tidur."


"Ya tunggu aja bangun, kalau gak kita seret dia. Hahaha..." Henry tertawa jahat.


"Ih jahat banget." Wulan mendengus.


"Ciye dibelain, berarti udah baikan dong." Adel mencolek dagu Wulan, membuat wajahnya memerah karena malu.


"Ih apaan sih." Wulan menepis tangan Adel.


"Hahaha..." El ikut tertawa, meskipun dia belum mengerti apa yang mereka tertawakan.


"Ini bocah ngikut aja." Wulan yang juga ikut tertawa.

__ADS_1


TBC


TERIMA KASIH


__ADS_2