Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
S2-48


__ADS_3

Happy Reading


💐💐💐💐💐💐


Tokk Tokkk Tokkk


Pintu di ketuk berulang kali, namun tak ada jawaban dari penghuni ruangan. Nia, sekertaris Adel dikantor harus menerobos masuk karrna ada hal yang penting akan dia sampaikan.


"Maaf Bu, ada dokumen yang memerlukan tanda tangan Anda." ucapnya meletakkan dokumen dengan map biru diatas meja kerja Adel.


"Akh, sejak kapan kau disana Nia?" tanya Adel, ia begitu terkesiap akan kehadiran Nia yang tiba-tiba.


"Maaf Bu, Saya sudah mengetuk pintu, tetapi tak ada jawaban. Jadi Saya langsung masuk." jelas Nia. Adel menyibukkan diri dengan kegiatan di kantor Wiranata. Dengan begitu, meski begitu, Adel tetap mengharapkan kabar dari suaminya.


Pagi tadi, Henry memberitahunya akan membutuhkan waktu tambahan selama dua hari. Karena ada masalah di luar prediksi yang harus mereka tangani. Sehingga Henry maupun Arga harus menunda kepulangan mereka ke Jakarta.


Adel tentu saja kecewa, awalnya hanya 4 hari, ditambah lagi sekarang ada masalah. Pasti akan membutuhkan waktu lebih, tetapi Adel berusaha menyemangati dirinya sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Hanya El yang bisa menghiburnya, seperti saat ini. Wulan sengaja mengajak El menjemput Mami Adel di kantornya. Kebetulan cuaca cerah, Wulan sekalian ingin mengajak El keluar sebentar untuk menghiburnya.


"El mau kemana?" tanya Wulan, mereka dalam perjalanan menjemput Adel.


"Jayan-jayan, jemput Mami..." ucapnya dengan penuh semangat.


"Wahhh apa teta api Mam..." El menempelkan kedua tangan serta sebelah pipinya ke kaca jendela mobil. Menatap kagum pada kereta api yang melintas tak jauh dari tempatnya saat ini.


"Iya sayang, panjang ya kereta nya. El mau naik kereta gak?" El segera mengangguk, matanya berbinar seolah mendapatkan grand prize. Padahal Wulan hanya menawari saja.


"Mau.. mau... naik keleta api tuttt tuttt tuttt... ciapa endak tuyut... e bandun... culabaya... tuttt tuttt..." El bernyanyi dengan diiringi tepuk tangan.


"Mama, nyanyi." El mendongakkan kepalanya, meminta Wulan bernyanyi bersamanya.


"Untel Jo, nyanyi juga ya." Bejo hanya bisa pasrah mendapat lirikan tajam dari Wulan.Sesekali mulutnya bergumanm mengikuti mereka bernyanyi.


"Untelll... Cuala mana? Dak dengal, El dak dengal." El mengerucutkan bibirnya, sedangkan Wulan hanya terkekeh melihat Bejo dianiaya El. Untung saja mereka sudah sampai di depan Loby Wiranata Corp.


El melupakan tentang Bejo, dia antusias menyambut Mami Adel yang menunggu mereka. "Mamiiii...." El berlari saat melihat Adel sedang berbicara dengan Nia. Keduanya memutar kepala menuju asal suara. Bocah gembul yang tampan dan menggemaskan menarik perhatian para pegawai yang baru saja ingin meninggalkan gedung Wiranata Corporation.


"El, jangan lari. Nanti Kamu jatuh." Wulan berusaha menghentikannya, namun El begitu gesit.


"Dak Mama..." El terus berlari, sampai akhirnya Adel menangkapnya.


"Anak Mami gak boleh lari lagi ya." Adel mencubit gemas pipi gembul El. Adel sengaja menunggu El, suasana kantor mulai sepi, hanya beberapa orang yang menunggu jemputan atau driver online yang mereka pesan.


"Hai anak manis, Kamu lucu banget." ucap Nia mengulurkan tangannya untuk mencubit pipi bakpaonya.


Namun El segera menepisnya, dia mengalungkan tangannya pada leher sang Mami dengan begitu erat. "Mami..." Nia segera menarik tangannya, merasa tak enak karena tak menjaga sikapnya.


"Maaf Nia, El memang seperti itu dengan orang yang baru dikenalnya." ucap Adel sungkan, namun itulah El sejak kecil.


"Iya Bu, maaf saya yang gak sopan. Habisnya putra Ibu imut banget. Gemas pengin cubit." Nia menempelkan kedua tangannya di pipi.

__ADS_1


"Hahaha.. Kamu ini ada-ada aja." Adel menggelengkan kepalanya melihat tingkah Nia yang kadang ke kanakan. "El, sayang. Gak boleh takut ya, ini tante Nia. Dia baik kok." Adel membelai kepala El dengan sayang.


"Bu, jangan tante lah. Kesannya saya sudah tua, kan saya masih single. Masih imut-imut gini." Nia tertawa genit, menunjukkan deretan giginya yang rapi.


"Dasar bocah, dari dulu gak berubah juga kamu Ni. Dasar Nini Nini." Wulan mencibir.


"Hei jaga ucapan Anda." Nia memutar tubuhnya, merasa kenal dengan orang yang memanggilnya 'Nini'.


Wulan menangkap jari telunjuk Nia yang menuju ke arahnya. "Gak usah nunjuk-nunjuk juga kali." Wulan menghempaskannya kasar.


"Wulannnn...."


"Niniii...."


Keduanya berpelukan, meluapkan kerinduan diantara mereka. Mengacuhkan Adel yang menatap heran pada dua manusia dihadapannya.


"Kalian saling kenal?" tanya Adel.


"Dia pernah nolongin saya dulu sewaktu kuliah Bu, dan semenjak itu kita berteman. Iya kan Lan." Nia mengeratkan tangannya dibahu Wulan.


"Teman cekcok maksud mu?" Wulan menjauhkan tangan Nia dari tubuhnya.


"Teman dalam suka dan duka. Hehe..."


"Bagaimana kalau kita ngobrolnya jangan disini. Sambil isi perut juga kan lebih enak." Adel mendahului mereka berdua. Dengan El yang masih dalam dekapannya. Namun sesekali melirik Nia dan Wulan yang mengekor dibelakang Adel.


Wulan adalah kakak tingkat Nia sewaktu kuliah dulu, mereka menimba ilmu di universitas yang sama. Meski berbeda fakultas, hubungan mereka menjadi erat. Nia anak tunggal yang harus menuruti keinginan orang tuanya. Tetapi diam-diam kabur dari rumah demi mengejar impiannya.


Sampai akhirnya Wulan wisuda, mereka jarang bertemu karena kesibukan masing-masing. Puncaknya saat ponsel Wulan kecopetan, semua data yang ada ikut hilang bersamanya. Termasuk nomor Nia, dan saat itu juga Nia harus pindah mengikuti ayahnya dalam perjalanan dinas.


"Jadi kalian ini teman lama yang akhirnya bertemu lagi?" Adel terharu mendengar kisal Wulan dan Nia. "Udah kaya sinetron aja. 'Bertemu Teman Lama' atau 'Teman Yang Lama Hilang'." Adel terkekeh membayangkan judul sinetron yang ada di imaninasinya.


"Gak lucu tau." Wulan melempar tisu bekas yang di gulungnya.


"Maaf saya ke toilet sebentar." Nia pamit menuju toilet, namun dia meninggalkan gawainya di meja.


"Mami, mau itu." menunjuk jus strawberry kesukaannya, sedari tadi El hanya diam saja menyimak pembicaraan tiga orang dewasa yang tak dia mengerti. Setelah Nia pergi baru El mulai bicara.


"Iya sayang, El mau makan?" El hanya menggelengkn kepalanya. Dia sudah memegang kue kering kesukaan ditangannya.


"Kamu ini masih kecil udah mgerti jaim El." Wulan terkekeh melihat sikap El yang lebih pendiam di depan Nia.


"Bagus itu, malu boleh asal gak malu-maluin. Iya kan sayang..." Adel menghadiahkan banyak ciuman di wajah gembulnya.


Perhatian semua pengunjung tertuju pada satu meja, tak terkecuali Adel dan Wulan. Dimana dua orang tamu yang sedang bermesraan dan seorang wanita marah-marah pada mereka.


"Dasar ba**ngan... benalu... Kamu boleh gak cinta sama Aku. Tapi beraninya Kamu menghianati ku dengan j**ang satu ini. Setidaknya hargai orang tua ku." Nia meluapkan semua kekesalannya pada laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi tunangannya.


"Nia dengarin dulu, Aku bisa jelaskan. Ini semua salah paham."


Plakkk

__ADS_1


Cap 5 jari mendarat mulus di pipi kiri lelaki bernama Rendi. "Gak ada yang perlu dijelaskan Ren, Aku akan bilang Papa untuk membatalkan pertunangan ini."


Nia menyiram orange jus yang dibawa pelayan di sebelahnya. "Dan buat Kamu, Aku gak butuh temen yang tega menikung calon tunangan sahabatnya sendiri." Nia membalikkan tubuhnya dengan wajah merah padam. Nia kembali berbalik.


"Aku hampir lupa, benalu memang cocok dengan parasit. Dasar pemungut barang bekas." Nia tersenyum sinis pada keduanya, menuju tempatnya duduk bersama Adel dan Wulan.


"Kauuu... Memang pantas dihianati...."


"Sudah jangan diperpanjang... Ini semua gara-gara Kamu rencanaku jadi gagal." Rendi meninggalkan gadis itu dengan wajah merah menahan malu. Wajah dan sebagian tubuhnya basah terkena jus.


"Kenapa jadi salah Ku? ihhh keselll... Awas Kamu Nia." Olin yang tak lain sahabat, mantan sahabat Nia maksudnya, menghentakkan kakinya meninggalkan tempat itu.


"Nona, tunggu dulu." seorang pelayan menghentikan Olin.


"Ada apa?" tanyanya ketus.


"Anda dan pacar Anda belum membayar makanan itu." Olin semakin kesal bercampur malu, dia mengeluarkan beberapa lembar uang merah dan meletakan dengan kasar dimeja. Wulan dan Nia tertawa geli melihatnya.


"Ni, kasihan banget dia. Hahahaa" ucap Wulan diselingi tawa.


"Hahaha... Biar tau rasa tuh." Mereka berdua tertawa hingga memgeluarkan air mata. Sedangkan Adel menghibur El di area bermain anak, tentu saja pertunjukan itu tak akan baik bagi El yang masih balita.


"Tapi Kamu hebat Ni, kalau Aku sih gak tau bisa ngadepin mereka atau gak." ucap Wulan memuji keberanian Nia.


"Cuma gitu aja. Berarti Tuhan masih baik Lan, coba kalau udah nikah. Malah tambah panjang urusannya." Nia menyeringai.


Tiba-tiba Wulan teringat dengan Henry malam itu, semoga saja dia bukan orang yang seperti itu. Dia tak dapat membayangkan betapa hancurnya Adel, seandainya mengetahui suaminya bersama perempuan lain.


"Lan, malah bengong." Nia mengibaskan tangannya di depan Wulan.


"Lan, pulang yuk. El udah mulai rewel nih." Adel datang dengan El yang menyembunyikan wajahnya di bahu Adel.


"Ayuk, kita juga udahan." ucap Wulan berdiri dari duduknya.


"Iya Bu, saya juga mau pulang."


"Kamu gak apa-apa kan Nia?" tanya Adel memperhatikan wajah Nia yang terlihat kacau. Namun sebisa mungkin Nia menutupinya.


"Gak apa-apa Bu, maaf kalian jadi melihat Saya seperti tadi." ucapnya merasa malu.


"Itu wajar, Aku juga akan melakukan hal yang sama seandainya terjadi padaku. Kamu yang sabar ya." Adel menyemangati Nia.


"Mamii... Ayooo..." El sudah tak sabar mengajak pulang.


"Iya sayang, ayo..." Adel berjalan lebih dulu diikuti Nia dan Wulan. Tetapi Nia memilih pulang sendiri meski jalan yang mereka lalui satu arah.


"Ya sudah Kami duluan ya." Wulan dan Adel melambaikan tangannya. Disambut Nia yang sedikit membungkuk.


"Dahh El... Kapan-kapan main bareng ya." Nia tak henti menggoda El, membuatnya kembali menyembunyikan wajahnya.


TBC

__ADS_1


TERIMA KASIH


__ADS_2