
Happy new years
Terus dukung Baby El kakak, dengan vote sebanyak-banyaknya. Jangan lupa like dan komen.
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐💐
"El sudah bangun?" Adel baru saja selesai dengan ritualnya dikamar mandi, dia mendapati El sudah duduk sambil menguap, sesekali dia mengusap matanya yang belum sepenuhnya terbuka.
"Mam, ndendem" rengek El, dia membuang bantal dibawah ranjang. Kebiasaan El setiap bangun tidur, bantal akan dia lempar kebawah ranjang sebagai pijakan untuknya turun dengan cara merosot kebawah.
"Tapi kita kan mau jemput Daddy, nanti kita terlambat kalau El berenang" Adel mengira El sudah lupa dengan ucapannya kemarin, ternyata dia menagih janjinya.
"Mam, ayo" El menarik ujung dress Adel, dia sudah berpakaian rapi tetapi dia harus mengganti pakaiannya kembali. Adel terpaksa harus menuruti keinginan El untuk berenang pagi ini.
"Adel, El, belum siap juga? kita kan mau jemput Daddy" Wulan baru saja keluar dari kamarnya, dia hendak membantu Adel, mungkin membutuhkan bantuannya untuk berhias diri.
"Nooo, ndendem Mam" El memelas, dia mengerucutkan bibirnya. Wulan mengerti jika keinginan El tak dituruti dia akan terus menagih apa yang dia inginkan. Tetapi Adel dan Wulan juga mengajarkan bagaimana usaha yang harus El lakukan agar keinginannya terpenuhi.
Tak semua harus segera dikabulkan, mereka harus mengarahkan El kearah yang baik. Meskipun bergelimang harta, tetapi Adel tetap menanamkan kesederhanaan, tanpa memanjakannya, agar menghargai hasil kerja keras orang lain.
"Baiklah, ayo kita berenang, tetapi gak lama ya, nanti kita terlambat" Adel mengikuti keinginan El, mereka menuju ke kolam renang di belakang. Setelah mengganti pakaian keduanya.
"Oteyy Mami" El mengecup pipi Adel, membuat Adel merasa terharu.
"Lan kamu bersiap dulu, aku tak akan lama" Adel melanjutkan langkahnya, menuju kolam renang.
Tuan, kau harus segera kembali, lihatlah mereka semakin kompak saja. Kau pasti akan terkejut akan mereka berdua.
Saat bersamaan Wulan dikejutkan dengan penampakan Henry yang berdiri di depan lift. "Astaga Tuan, kenapa aku bisa melihat bayanganmu, padahal aku tak sengaja membicarakanmu" Wulan bergumam.
"Kalau bayangan kenapa gak mau pergi?" Wulan mengedipkan matanya berkali-kali, tapi bukannya menghilang malah semakin mendekat.
Cetakkk
__ADS_1
"Awwww, sakit" Wulan mengusap keningnya yang di sentil Arga. Dia tak menyadari Arga yang berjalan dibelakang Henry.
Wulan mendekati Henry, hendak menyentuhnya, Arga segera menghadang di depannya. Tangan Wulan dipegang Arga. "Hmmmm, apa kau sudah bosan bekerja disini?" Arga bicara dengan ketus.
"Jadi aku tidak sedang bermimpi? tapi bukankah seharusnya nanti siang baru sampai jakarta?" Wulan masih mencerna setiap kejadian yang baru saja dia alami.
Bilang saja kau cemburu Ga, jangan pura-pura didepanku, aku sudah hafal dengan sifatmu. batin Henry.
"Jangan banyak berfikir, jangan banyak bertanya, atau usia mu semakin pendek" Henry enggan melihat perdebatan pasangan absurd didepannya. Dia menuju ke kamarnya, tak lama Arga menyusul.
"Ingat, jangan memberitahu siapapun tentang apa yang baru saja kau lihat, kecuali kau sudah bosan bekerja disini" Arga meninggalkan Wulan yang masih mematung ditempatnya. Berdebat dengannya sudah menjadi makanan sehari-hari untuknya. Tapi dia tahu bahwa Arga punya sisi lembut yang tak ditunjukkan didepan semua orang.
"Kalian berdua membohongi Adel, kita lihat saja siapa yang akan terkejut" Wulan menyeringai, dia ingin mengerjai Arga dan Henry. Tapi dia juga takut akan ancaman Arga.
Sementara itu, Adel sedang membimbing El untuk melakukan pemanasan sebelum masuk ke air. Ini masih jam 06.30 WIB, namun mentari tersenyum dengan ceria, menyengat kulit bagi siapapun yang ingin berjemur dipagi hari.
"Mami, ayoooo" El sudah tak sabar ingin berenang, dia menarik Adel untuk segera masuk ke dalam air. El sudah mulai bisa berenang, meskipun terkadang dia harus menggunakan pelampung.
"Iya sayang, ayo..."
Byurrrr
Senyum tak memudar dari wajah tampannya, Henry enggan beranjak dari sana. "Tunggulah beberapa hari lagi, kau akan benar-benar menjadi milikku, kita akan terus bersama selamanya" Henry bergumam sangat pelan, sehingga hanya dia sendiri yang mendengarnya.
Arga sudah kembali ke kantor HS Group, menyusul Tuan Abimanyu yang sudah lebih dulu berangkat. Hari ini ada client penting yang akan melakukan kerja sama.
"Sayang, sudah ya, ini sudah siang, El belum makan, kita harus bersiap" Nyonya Amel sudah rapi dengan pakaian kasualnya.
"Oteyy Oma" El memberikan dua jempol untuk Oma. Adel segera membawanya ketepi kolam, meraih handuk, menuju ke kamar mereka setelah mengeringkan tubuh.
Wulan sudah menunggu, dia bimbang harus memberitahu Adel atau tidak, tapi dia juga tak tega melihat Adel dibohongi. "Lan, bantu aku mendandani El, dan menyuapi makan" Adel kembali ke kamar mandi untuk membersihkan diri, dia memandikan El terlebih dahulu sebelum nya.
"Adel tunggu, gak perlu tergesa-gesa, kau mandi lah sana" Wulan membantu El berpakaian, dan menyuapi El sarapan paginya. Nasi lunak dengan sup ikan tuna.
"El maem yang banyak ya" Wulan sesekali membersihkan mulut El yang terkena kuah sup dengan tisu. Wulan bersemangat melihat El makan dengan lahapnya.
__ADS_1
"Hmmm nyammmiii, nak enak" El tak berhenti mengunyah, pipi gembilnya semakin membulat karena penuh dengan makanan.
"Ayo habiskan, aaaaaa, El emang pintar"
"Acih Mam"
"Iya sayang, ayo habiskan, ini suapan terakhir"
"Yeeee" El bertepuk tangan, melihat mangkuk sudah kosong tak tersisa. Dia begitu lahap memakan semua isinya.
"Hai anak Mami, mamnya enak?" Adel mendekat, dia sudah rapi tinggal merapikan rambutnya yang masih basah.
"Nyammmiii" ucap El setelah meminum air dari gelas dengan dua pegangan dikanan dan kirinya.
Adel sudah bersiap, dia hanya meneguk segelas susu yang wulan bawakan, tanpa menyentuh sarapan paginya yang sudah terlewat. "Adel, makanlah dulu"
"Gak keburu Lan, sudah siang, ayo kita berangkat sekarang" Adel mengambil tas selempangnya, dia membawa El dengan terburu-buru.
"Mau kemana neng? Buru-buru amat" Henry bersedekap didepan pintu kamar El. Adel tak menanggapi, dia terus melangkah mengabaikan suara itu.
El menoleh ke asal suara, tangannya dia rentangkan. "Dadddyyyy" seru El, membauat Adel menghentikan langkahnya tanpa berbalik badan. "Iya sayang, tunggu sebentar ya, kita akan jemput Daddy" Adel mengernyitkan keningnya.
"Nooo Mamm, tuhh Daddy" tunjuk El dengan wajah polosnya. Henry memberikan senyum terbaiknya. Dia menyeringai rencananya berhasil.
Henry mendekat, mengambil alih El dari dekapan Adel, mencurahkan rasa rindu yang membuncah untuk El. Tidak dengan Adel, dia masih mematung, menatap dua orang ayah dan anak yang saling memeluk.
"El sayang, rinduk gak sama Daddy?"
"Lindu Daddy" El mengeratkan pelukannya di leher Henry, sesekali dia mengecup Daddy yang sudah lama tak dia jumpai, hanya sesekali video call.
"Mamii tak lindu Daddy?" pertanyaan El membuat wajah Adel bersemu merah, dia menundukkan kepalanya karena malu.
"Daddy tak lindu Mamiii?"
"Tentu saja rindu, Daddy rindu El and Mami" Henry membawa Adel dalam dekapannya dengan sebelah tangannya, namun segera ditepis Adel.
__ADS_1
TBC
TERIMA KASIH