Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
Badut


__ADS_3

Terima kasih atas semua dukungan yang diberikan.


Jangan lupa like, komen dan vote kakak semua.


Happy Reading


💐💐💐💐💐💐💐


Henry bangu lebih awal, serasa ada yang membangunkannya. Dia segera bersiap pergi ke kantor, hari ini akan dimulai hari baru. Dimana dia harus menjadi pegawai biasa dikantor Wiranata. Meskipun menggantikan Adel, tetapi dia ditempatkan dibagian perencanaan. Entahlah dia sendiri tak tahu apa sebenarnya tujuan Tuan Wira melakukan ini.


"Ar, pagi sekali kau sudah rapi? Apa ada rapat penting?" Ama merasa heran. Padahal ini baru jam 06.00 pagi, tetapi cucunya sudah akan berangkat. "Iya Ama, aku pamit." Henry mencium punggung tangan Ama. Dia berlalu menuju mobil yang sudah disiapkan Bejo. Dia menyetir sendiri, karena Bejo juga harus mengantar Wulan menemui El.


45 menit perjalanan, masih pagi untuk jam kantor, jadi Henry tiba dengan tepat. Disana masih sepi, hanya beberapa cleaning service yang mulai sibuk. Henry menuju loby, hanya sebagian orang yang berkepentingan. Karena jam mulai bekerja adalah jam 08.00.


"Tuan Henry, apakah Anda Tuan Henry?" tanya seorang pegawai. Henry memutar kepalanya, sesworang dengan pakaian rapi berjalan mendekat.


"Ya, saya, boleh saya bertanya dimana ruangan Tuan Wira?" Henry berkata dengan sopan.


"Mari saya antarkan." Henry mengekori pegawai tadi, menggunakan lift khusus, mereka sampai di lantai 7, lantai teratas gedung ini. Tak terlalu tinggi jika dibandingkan dengan HS Group. Tetapi cukup familiar dikalangan pebisnis sepertinya.


"Anda sudah ditunggu, Tuan Wira sudah ada didalam silahkan." Orang itu membukakan pintu untuk Henry, dan menutupnya tanpa ikut masuk kedalam. Tuan Wira sudah duduk disingga sananya. Baru saja beberapa menit yang lalu dia sampai.

__ADS_1


"Selamat pagi Tuan" Henry berucap dengan sopan. Tuan Wira mempersilahkan Henry duduk. Mereka duduk saling berhadapan. Perasaan mengintimidasi masih Henry rasakan, padahal Tuan Wira tak melakukan apapun.


Tuan Wira menatap Henry sejenak, dan berkata " Kamu sudah benar-benar yakin akan menggantikan Adel?" Sekali lagi dia bertanya. Dengan mantap Henry menjawab iya. Entah kesulitan apa yang harus dia lalui nantinya.


"Kau harus mempelajari beberapa berkas ini, mungkin akan membantu pekerjaanmu nanti." Tuan Wira menyerahkan beberapa dokumen penting, diantaranya laporan keuangan dan pemasaran. Wiranata Corporation bergerak dibidang farmasi. Henry masih awan mengenai obat-obatan, tetapi masalah pembukuan jangan ditanya lagi. Dia sudah sangat mengerti, diluar kepala.


"Dan juga ini." Tuan Wira menunjukkan file laporan di dalam komputernya. Henry mengernyit, hasilnya sangat jauh berbeda dengan yang ada ditangannya. Laporan yang ada di komputer sama persis dengan laporan yang dikirimkan Nathan semalam. Henry sempat melihatnya sekilas.


"Sekarang kau sudah mengerti apa tugasmu?" Tuan Wira berjalan menuju dinding kaca yang menyuguhkan pemandangan gedung-gedung pencakar langit. Tuan Wira menghela nafas sejenak, dan melanjutkan ucapannya. "Itulah mengapa aku ingin segera mengumumkan Adel sebagai pewaris sah disini."


Henry mengerti tujuan Tuan Wira, tetapi jika Adel benar-benar menempati posisinya justru malah akan membahayakan dirinya. Sebuah ide terlintas dipemikirannya. "Ahaaaa" mungkin begitu ekspresi yang ditunjukkan Henry.


"Tuan, sebaiknya Anda mengurungkan niat Anda, saya punya saran yang mungkin bisa membantu Anda dan Nona Adel." Henry menyarankan agar sementara identitas Adel tetap dirahasiakan. Selain itu juga orang lain mengira bahwa Tuan Wira tak sanggup lagi mengurus usahanya dengan baik. Untuk menarik keluar musuh yang sebenarnya.


"Ya kurasa juga begitu, pergilah keruanganmu, aku sudah mengatur semuanya agar mereka percaya kau adalah orang baru disini. Dan pakailah ini." Tuan Wira melemparkan paper bag pada Henry. "Pakailah, jangan sampai kau membukanya, kecuali diluar kantor."


"Maksud Anda, saya harus menyamar menjadi orang jelek ini? Dan harus memakai ini? Tuan saya bukan mau menghibur anak balita, apa kata orang nanti kalau melihatku seperti badut." Henry mendengus, dia keberatan harus memakai wig rambut keriting, terlebih dengan kacamata tebal. Ini akan menurunkan nilai ketampanannya.


Tuan Wira menatapnya tajam. "Berikan padaku, dan aku akan mengantar bayi itu pulang sekarang juga." Henry tak bisa berkutik, bukankah dia sudah berjanji akan melakukan apapun? "Tidak Tuan, saya pasti akan melakukannya, dengan senang hati." Henry segera melakukan apa yang diperintahkan Tuan Wira. Dan menuju ruangan yang telah dipersiapkan untuknya.


Sebenarnya bukan hal yang sulit, karena Nathan telah membantunya mengumpulkan bukti. Data yang sebenarnya sudah ada ditangannya, tetapi dia juga harus mengetahui siapa musuh yang sebenarnya. Henry bekerja dengan sungguh-sungguh. Bahkan dia sudah memiliki rekan, yaitu Heru. Bukan mencerminkan dirinya sama sekali. Bisa berteman dengan orang lain begitu mudahnya.

__ADS_1


Henry harus bisa meyakinkan Tuan Wira bahwa dia bisa melakukannya. Hari pertama berjalan lancar, tanpa menemukan kejanggalan sama sekali.


Pulang kantor, Henry menyempatkan diri menemui El. Dia sangat merindukan putra tampannya. Henry masih mengenakan tampilan badutnya. "Tuan, Anda siapa? Kami tidak mengundang badut kemari." Adel yang sedang bermain dengan El merasa heran dengan kedatangan tamu tak diundang.


"Atau Anda mencari Eyang?" Tanya Adel, El ketakutan dan bersembunyi dibelakang Adel. Eyang Wira yang mengetahui hal itu hanya bisa tertawa. "Hahahaaa jangan takut El dia itu badut yang sengaja Eyang undang untuk menghiburmu."


Si**n, semua ini juga karena ulahnya. Dia malah mentertawakanku. Kakek tua ini benar-benar seperti rubah tua. Ingin ku cekik saja dia, kalau saja membunuh itu tidak berdosa dan masuk penjara.


Henry mengumpat dalam hati, kemudian melepas atributnya. "Ini Daddy sayang, ayo kemari, Daddy kangen sama El." Henry merentangkan kedua tangannya. Tetapi El masih berdiam ditempatnya, hanya sedikit mengintip. "Astaga Tuan, kau ini bercandanya kelewatan. Kau membuat El takut."


"Maafkan Daddy sayang" Henry mendekati El, sekarang El menatap Henry dengan tatapn intens. "Apa benar dia Daddyku?" Mungkin begitulah yanga ada dibenaknya. Henry mendekap erat putra tampannya. "Yes, i'm your Daddy."


Seketika wajah El berbinar dan membalas pelukannya. "Dattt..." El sangat senang bisa bertemu dengannya lagi. Tetapi Henry sudah mendapaykan tatapan tajam Adel. "Siapa yang menyuruhmu berpenampilan seperti itu hah? Kalau sampai El kenapa- kenapa apa kamu akan bertanggung jawab?"


"Tentu saja, aku ini Daddy nya." Jawabnya datar. Eyang Wira tak menyangka jika penampilan Henry menjadi tak bisa dikenali. "Eyang yang menyuruhnya, tapi dia juga mau. Tanpa ada keterpaksaan, buktinya dia malah tak melepaskannya. Hahahaaa..."


Rubah tua ini mulutnya benar-benar manis. Untung saja dia masih memberiku muka. Hahhh.


Namun saat melihat wajah El, Henry harus banyak bersyukur, bayi itu tak lagi diam. Tetapi mulai merespon jika diajak bicara, meskipun masih takut dengan orang baru yang ia temui.


TBC

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2