
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐
Seminggu yang lalu.
"Sayang, apa Kamu benar-benar ingin bertemu dengan orang itu?" tanya Henry saat mereka dalam perjalanan menuju rutan tempat penjahat itu ditahan.
"Aku harus memastikan sendiri, apakah dia benar Mas Hasan atau bukan. Dan mengapa baru sekarang ia muncul dihadapan kita." Adel masih ragu, apkah dia benar Hasan atau orang lain. Wajah mereka benar-benar mirip, tetapi temperament mereka sebaliknya.
"Baiklah jika itu yang Kamu mau." Henry mengusap pucuk kepala Adel dengan sayang dan mengecupnya sekilas.
"Terima kasih Dad." Adel mengecup pipi Henry, keduanya saling menggoda sampai di depan lapas, Adel tak kunjung turun dari mobil.
"Apa kita harus pulang sekarang Nyonya?" ucap Henry menggoda Adel, ia sengaja melakukannya untuk mengurangi ketegangan istrinya.
"Tidak, kita sudah jauh-jauh sampai disini, Aku gak apa-apa." Namun wajahnya terlihat gugup dan mengatakan lain.
"Sayang, ada Aku disini." Henry menggenggam erat tangan Adel yang terasa dingin.
Keduanya memunggu diruang khusus, Henry tak melepas tautan tangannya pada Adel. "Tenanglah sayang. Kita pasti bisa melaluinya." bisik Henry ditelinga Adel.
"Waktu kalian 15 menit, jika ada hal darurat bisa panggil kami." ucap seorang penjaga yang datang bersama Hisan.
"Untuk apa lagi kalian datang kesini? kalian ingin mentertawakan hidup ku yang malang ini? Jika iya Aku tak ada waktu untuk meladeni kalian." ucap Hisan tanpa rasa penyesalan dalam dirinya, sepertinya hatinya sudah beku.
"Apa hubungan mu dan Mas Hasan?" tanya Adel memberanikan diri menatap Hisan lebih teliti, teenyata setelah ia perhatikan, ada perbedaan diantara Hasan dan dia. Tahi lalat di pipi kirinya.
"Apa peduli mu?" jawab Hisan sinis.
"Tentu Aku peduli, dia orang baik, tidak seperti mu. Yang tega mengorbankan saudaranya sendiri." ucap Adel meninggikan suaranya.
Hisan tertunduk, rasa bersalah kembali merasuki dirinya. "Semua itu karena kamu, jika dia tetap tinggal dan tak bersikeras untuk pergi saat itu, sekarang dia pasti masih hidup." suaranya sedikit bergetar saat mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu.
Flash Back On
"Hisan, sebaiknya Kamu bertobat, tinggalkan pekerjaan mu sekarang." Hasan tak sengaja bertemu saudaranya yang dalam pengejaran polisi, Hisan dilaporkan karena kasus penipuan.
Hisan berlari menghindari pengejaran polisi, saat itu juga Hasan sedang berhenti untuk menunggu penumpangnya, cuaca malam itu cukup dingin dengan rintik hujan yang masih turun dari langit. Bahkan sebagian jalanan masih tergenang air hujam. "Gak usah ceramah didepan ku. Aku tau apa yang Aku lakukan."
"Hisan, bagaimanapun juga Aku ini Kakak mu. Kamu tak akan bahagia jika hidup seperti ini terus." Hasan masih terus menasehati adik kembarnya.
"Kalau gak mau bantu ya sudah, turunkan Aku disini."
"Bukan begitu, tapi Kamu mengikuti orang yang salah, cobalah untuk berbuat baik sedikit saja."
"Diam, gak usah pedulikan Aku." Hisan memecah konsentrasi Hasan mengemudi, Hasan menghalau Hisan yang berusaha merebut kendali.
"Hisan, kita akan celaka, lepaskan tangan mu, Aku masih peduli dengan istri ku dirumah." Namun sayang, jalanan menurun sangat licin, terlebih belokan yang cukup tajam membuat Hasan hilang kendali. Mobil yang mereka tumpangi menabrak pembatas jalan, namun Hisan berhasil kabur dan meninggalkan Hasan.
Hisan melarikan diri, meski akhirnya sempat menghubungi Adel diam-diam untuk memberi tahu keadaan Hasan yang dirawat dirumah sakit.
__ADS_1
Bahkan Hisan ada disana saat Hasan menghembuskan nafas terakhirnya. Ia menitipkan Adel padanya, tetapi rasa bencinya lebih menguasainya. "Bahkan disaat terakhir mu, hanya ada dia dalam ingatan mu. Sedangkan Aku, yang jelas-jelas adik kandung mu selalu Kau tentang semua keinginan ku."
"Hiduplah lebih baik, Aku titipkan ginjalku padamu." ucapnya dosaat terakhir. Bahkan sebelum meninggal, Hasan sudah mengetahui riwayat penyakit Hisan. Dan ia bersedia mendornorkan sebelah ginjalnya untuk adik kembarnya.
Flash Back Off
Rasa penyesalan yang Hisan rasakan semuanya sudah terlambat, benar-benar sudah tak ada gunajya sekarang. Tetapi ia bisa merenungkan diri, memperbaiki dirinya untuk menjadi orang yang lebih berguna kelak.
"Cukup, Aku tak ingin mendengar apapun." Hisan meminta petugas untuk mengantarnya kembali ke sel. Andaikan rasa penyesalan akan sesakit ini, dan ia tahu sejak awal. Maka semua orang akan berfikir ribuan kali jika akan melakukan kesalahan.
Namun langkah Adel dan Henry terhenti saat seorang petugas menghentikannya. Membawa selembar kertas yang telah dilipat menjadi sangat kecil. "Ini apa?" tanya Henry.
"Entahlah, Tuan. Orang tadi meminta ku memberikan ini pada Anda." petugas itu kembali ketempatnya setelah Henry menerima kertas lipat tadi.
"Apa isinya Dad?" tanya Adel saat mereka sudah ada di dalam mobil.
"Buka dan bacalah!" Henry menyerahkan lipatan kertas tersebut pada istrinya.
Adel, beribu maaf mungkin tak akan pernah menghapuskan semua kesedihan mu. Aku sudah menuai apa yang telah Aku tanam sebelumnya. Sebenarnya suami mu masih bisa bertahan jika ia tak mendonorkan ginjalnya untukku.
Akulah penyebab semua penderitaan mu. Jangan pernah menyalahkannya karena pergi lebih dulu. Tetapi Akulah orang yang paling pantas untuk Kau salahkan.
Hiduplah bahagia, Dia pasti bahagia melihat mu dari atas sana. Maaf, hanya itu yang bisa Aku ucapkan. Bahkan untuk mengatakannya secara langsung, Aku tak sanggup melakukannya. Hanya dengan goresan tinta ini. Mewakili seluruh rasa terima kasih ku untuk mu yang telah memaafkan semua salah dan khilafku.
Disana juga tertulis, bahwa Hisan siap menerima semua hukuman. Karena ia difonis hukuman mati karena semua kejahatannya.
...----------------...
"Dan sekarang Aku ingin mengenalkan mu pada seseorang." Arga kembali menutup mata Wulan, dalam hatinya bertanya-tanya, banyak sekali kejutan yang Arga berikan untuknya hari ini.
"Mau kemana lagi kita?" Arga tak menjawab pertanyaan Wulan, ia menuntun Wulan sampai di suatu tempat yang sama seperti tadi. Gundukan tanah yang masih segar dengan aroma bunga. Sepertinya ada orang lain yang berkunjung sebelumnya.
Dhean Soraya
Nama yang tertulis dibatu nisan, nama yang sangat asing bagi Wulan. Bahkan Arga tak pernah menyebutnya sebelumnya. Wulan melirik Arga yang termenung tanpa berucap sepatah kata pun. Nampak kesedihan mendalam dari sorot matanya.
"Ray..." Arga berusaha menormalkan detak jantungnya, saat ini ia sangat gugup dan melupakan semua perkataan yang dia siapkan sebelumnya. Semuanya seolah hilang begitu saja.
"Aku sudah menepati janji ku. Aku sudah membawanya menemui mu. Sekarang Kamu bjsa tenang disana. Aku sudah hidup lebih baik sekarang." Arga mengerjap beberapa kali, berusaha menahan genangan disudut matanya.
"Lan, dia Raya. Kamu pasti terkejut Aku membawa mu kesini. Tapi ini lah yang ingin Kamu ketahui." Wulan mengusap lengan Arga yang bersimpuh disampingnya.
Sedikit banyak Wulan sudah mengerti, dia adalah orang yang penting dalam hidup Arga. Hanya dengan melihat reaksi yang ditunjukkan Arga, diulunya dia sangat berarti baginya. Rasa penyesalan yang dalam, tak seperti kesedihan yang di tunjukan saat di makam kedua orag tuanya. Seolah ada beban yang ia pikul begitu berat.
"Ray, semuanya sudah Aku lakukan sesuai permintaan mu, bahkan Dia sudah bahagia sekarang. Maaf Aku tak bisa memenuhi janji ku untuk menjaganya, tetapi Aku datang membawa berita bahagia. Aku akan segera menikah dengannya." Arga memaksakan senyumannya, Wula menggengam erat tangan Arga yang terasa dingin.
"Dia Wulan, sama seperti mu. Dia adalah dokter yang hebat, yang telah mencuri hati ku." Arga mencurahkan semua isi hatinya, namun masih memikirkan Wulan yang sekarang ada di sampingnya.
*Ray, sekarang Kamu bisa beristirahat dengan tenang disana. Awalnya memang Aku mengenalnya hanya karena dia mirip dengan mu. Tetapi sekarang Aku sadar, Kita sudah tidak akan pernah bisa bersama selamanya. Tetapi namamu akan selalu ku sebut dalam doa ku.
Dan dia adalah orang yang selalu disamping ku, Aku harap Kau juga bahagia disana*.
__ADS_1
"Kita memang tidak pernah saling mengenal sebelumnya, tetapi Aku yakin Kamu memiliki arti tersendiri untuk Arga. Restui pernikahan kami, dan berbahagialah disana. Semoga Tuhan memberikan mu tempat terindah disisi Nya." Wulan meletakkan bucket bunga yang dibawanya. Dan mengikuti Arga yang lebih dulu meninggalkannya.
...----------------...
"Apa yang perlu Aku jelaskan pada mu?" tanya Arga, saat ini mereka dalam perjalanan pulang.
Wulan menautkan kedua alisnya, mengapa Arga tiba-tiba bertanya seperti itu padanya? "Apa?" Wulan tak mengerti apa yang dimaksud Arga.
"Ya sudah, berarti Aku anggap Kamu sudah mengerti."
"Mengerti apa?" Wulan semakin dibuat oenasaran dengan pertanyaan Arga yang berbelit-belit.
"Gak ada." jawab Arga singkat, ia memalingkan wajahnya kearah jalanan yang mulai diterangi lampu jalan.
"Ga.." panggil Wulan.
"Hmm.."
"Arga.." panggilnya sekali lagi.
Wulan melirik kesampingnya, ternyata Arga tertidur. Padahal biasanya Arga tak pernah sekalipun tertidur dalam perjalanan seperti sekarang ini. "Bisa-bisanya Kamu tidur secepat ini Ga." Wulan menyandarkan kepala Arga pada bahunya.
"Kamu berat juga kalau begini Ga." gumam Wulan pelan.
"Begitu banyak kesedihan yang telah Kau telan sendiri Ga. Jika Aku ada di posisi mu, mungkin Aku tak akan bertahan sampai sekarang ini. Karena gila duluan." Wulan mengusap wajah Arga yang begitu tenang saat tertidur.
Sampai dirumah langit sudah gelap, Arga tersadar dari tidurnya. Mengerjapkan mata beberapa kali, bahkan pandangannya masih terlihat kabur dan belum sepenuhnya terbangun saat Wulan memapahnya masuk ke mansion.
"Lan, kita sudah sampai di rumah?" Arga menghentikan langkahnya saat menyadari dia hampir sampai di kamar yang biasa ia tempati.
"Kamu tidurnya nyenyak banget, jadi Aku gak tega buat bangunin." Arga memang semalam tak dapat tidur, membayangkan bagaimana reaksi Wulan, tetapi semua diluar dugaan. Wulan bisa dengan mudah menerima masa lalu Arga.
"Aku kan pengin ajak Kamu dinner." Arga menyugar rambutnya kebelakang.
"Kan bisa di rumah."
"Aduh Lan, ini lain. Cepat ganti baju, Kita pergi 10 menit lagi."
"Whaattttt? Kita baru sampai dan...."
"Waktu terus berjalan, sebaiknya kamu segera bergegas." Arga mendorong Wulan untuk segera bersiap. "Ingat, dandan yang cantik."
Wulan menuju ke kamarnya sambil terus menggerutu. Tak mengerti dengan perlakuan Arga yang menurutnya aneh. Namu ia tetap menurut, ini juga pertama kalinya Arga mengajak dinner. Alias kencan.
TBC
Cuma mau ingatkan, jangan lupa semangatnya buat author yes. Like komen dan vote. Eh sekarang pakai hadiah lohh...
And balik ke sampul dan kasih rate bintang 5 nya ditunggu.
TERIMA KASIH
__ADS_1