
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐
Henry semakin sibuk dengan pekerjaan, terlebih semenjak Adel tak diperbolehkan bekerja. Namun, Henry merasa senang menjalaninya. Sesekali Tuan Wira dan Tuan Abimanyu tetap membantunya. Dan Arga yang selalu disampingnya.
Dengan adanya Adel, Wulan bisa meluangkan waktunya lebih untuk mengunjungi Ibu dan Lintang. Setidaknya satu atau dua kali sebulan. Bersama Arga yang selalu setia menjadi sopir pribadi untuknya.
Berbeda dengan Adel yang merasa jenuh dirumah, apalagi saat Henry pulang larut. Adel merasa bersalah, namun Henry tetap melarang Adel bekerja.
"Sayang, belum tidur?" Henry baru saja sampai dirumah, saat jam menunjukkan jam 23.00 WIB.
"Bagaimana bisa tidur? suami ku baru pulang." Adel menyiapkan keperluan Henry.
"Jadi sekarang sudah kecanduan suami mu ini?" Henry menggoda istrinya.
"Hmm, cepat ganti bajumu." Adel mendorong Henry ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Adel masih menanti suaminya, duduk dengan meluruskan kakinya diatas ranjang. Gawainya masih menyala, Adel hanya sekedar melihat.
"Hei, apa yang kamu lihat?" Henry meraih benda pipih ditangan istrinya, dia bersandar samping istrinya.
"Dad, aku bosan dirumah, boleh gak sesekali ke kantor?" Adel bersandar pada dada bidang sang suami, tangannya menggambar pola-pola yang entah apa itu.
Henry meraih tangan istrinya dan mengecupnya. "Gak bisa, baru satu bulan sudah bosan." Henry menjepit hidung mancung Adel dengan kedua jari.
"Kan aku mau bantuin suami ku." Adel menepis tangan henry yang mulai nakal.
"Kalau mau bantu ya dirumah, susah banget tinggal dirumah aja." Adel menjauhkan tubuhnya. Menutupi dirinya dengan selimut. Henry menghela nafas panjang, menghadapi istrinya.
"Sayangggg, ini semua untuk kebaikan mu juga. Bukankah kamu bisa lebih dekat dengan El?" Henry memeluk Adel dari belakang.
Adel masih diam, Henry menyingkap selimut yang menutupi Adel. Ternyata dia sudah terlelap, Henry membetulkan posisi Adel, dan menyelimuti istrinya. Tak lupa kecupan dikeningnya. "Kamu pasti lelah menunggu ku. Mimpi indah sayang."
Henry mengira Adel masih marah dengannya, ternyata dia begitu cepat tertidur tanpa menunggunya.
...----------------...
Pagi hari, seperti biasanya. Adel selalu menyiapkan keperluan suaminya. Adel menyibukkan diri dengan pakaian yang akan di kenakan Henry. Hari ini ada meeting tahunan di HS Group. Ade harus memastikan pakaian yang dikenakan henry rapi dan tak terlalu mencolok.
"Ini apa ini ya?" Adel berucap pada dirinya sendiri, membandingkan setelah ditangan kanan dan kirinya. "Yang manapun asal dia yang pakai pasti bagus."
"Dan, apapun pilihan mu pasti aku pakai." Henry mengeratkan kedua tangannya, memeluk Adel dari belakang.
__ADS_1
"Ya udah ini aja." Adel memberikan setelan ditangan kanan nya.
Setelah membantu suaminya, Adel bergegas turun keruang makan. Namun Adel berhenti sejenak, Arga sedang bermain dengan El disana. "Ehm, ada tamu gak diundang nih."
"Enak aja, dia itu kan bukan tamu disini." ucap Wulan tak terima.
"Ciye dibelain, kalau bukan tamu terus apa?" Adel menyiapkan sarapan untuk Henry.
"Namanya juga lagi usaha sayang." Celetuk Henry.
Adel menoleh, begitupun Wulan dan Arga. Mereka saling melirik, tak mengerti arah pembicaraan Henry.
"Usaha mendapatkan hati Wulan." bisik Henry ditelinga Adel. Keduanya terkekeh, membuat Arga dan Wulan saling melempar pandangan.
"Sudah, kita sarapan. Nanti kalian terlambat. Arga Wulan ayo makan." ajak Adel.
"El sama Mami yukk."
"Sayang, kamu gak sarapan?" ucap Henry menepuk kursi kosong disebelahnya.
"Siapa bilang?" Adel duduk bersama El dipangkuannya.
"El mau gak nasi goreng? Mami masakin gak pedes buat El."
"El suapin Mama aja ya." Namun El menolak, dia ingin bersama Mami Adel. Henry juga sesekali menyuapi istrinya yang melupakan makanan dipiringnya.
"Jangan iri ya." Adel menyindir Arga dan Wulan. Adel sudah menganggapnya saudara sendiri. Dia juga selalu menemani Adel makan malam ketika Henry pulang larut.
"Ih apaan sih." Wulan kembali fokus dengan makanannya.
Henry dan Arga berangkat bersama, Arga sengaja menjemputnya. Karena ada masalah penting yang akan dia bahas sesegera mungkin.
"Ada apa?" tanya Henry, seolah mengerti maksud Arga menemuinya.
"Kalau aku melamar Wulan kamu setuju gak?" tanya Arga, namun pandangannya fokus pada jalanan didepannya.
"Gak."
"Kenapa?" Arga menoleh, mempertanyakan jawaban Henry.
"Kelamaan, langsung nikah aja." Henry menyeringai.
"Gak bisa gitu lah. Kau ini benar-benar menyebalkan." Arga mendengus, Henry menanggapinya dengan gurauan.
__ADS_1
"Haha.. baru sadar aku menyebalkan?" Henry masih fokus dengan gawainya. Dia sedang melihat video El yang baru saja dikirim Adel.
"Hmmm..."
"Terus Mom sama Daddy udah tau?" Henry menyimpan gawainya disaku jasnya. Arga menggelengkan kepalanya. "Kenapa?"
"Aku kan minta pendapat mu dulu. Kalau sudah pasti baru aku kasih tau. Aku ini udah gak muda lagi, begitupun Wulan. Dan akan lebih baik kalau aku bisa menikahinya."
Henry menepuk bahu Arga, dia sudah memikirkan segalanya. Ini pertama kalinya dia meminta pendapat mengenai hidupnya. "Yah aku setuju, semua terserah kamu. Karena kamu dan Wulan yang akan menjalaninya."
"Asiyap Pak Bos, aku akan kasih tau Wulan."
"Kapan?"
"Bagaimana kalau seminggu lagi?"
"Whaaatttt? Kamu jangan bercanda Ga, kita butuh persiapan. Kita ini mau melamar anak orang."
Arga memijat pelipisnya. "Ya aku tau anak orang, kalau bukan sih aku gak mau."
"Ya nanti aku bicarakan dengan istriku. Ingat, Mommy harus tau, kalau gak kamu bakal dipecat jadi anak." Henry membuka pintu mobil, tak terasa mereka sudah sampai di HS Group.
"Dipecat jadi anak? yang ada Mommy yang bakal nagis bombay kalau gak ada aku." Arga menggerutu, mengikuti Henry yang lebih dulu melangkahkan kakinya pada bangunan yang menjulang tinggi.
"Selamat pagi Pak." sapa dua orang resepsionis.
Seperti biasa, Henry dengan wajah datarnya menganggukkan kepalanya. Begitupun Arga, tak ada lagi canda tawa dihadapan para pegawainya.
Mereka berdua menuju ruang rapat. Para direksi sudah menanti kehadiran orang nomor satu di HS Group. Rapat berjalan lancar, sesuai dengan harapan. Henry memberikan bonus untuk seluruh pegawai yang berjasa. Bahkan senyum ia tunjukan kepada semua pegawainya.
"Ga, keruangan ku sebentar." Henry mendorong pintu kaca menuju ruangannya. Diikuti Arga dibelakangnya.
"Bagaimana tentang proyek baru yang akan kita tangani?" Henry duduk disinggasanya. Dikantor Henry seorang Bossy.
"Saya sudah memeriksanya, semuanya memenuhi syarat. Jika kita menang tender kali ini, pasti akan berdampak baik pada perusahaan." jelas Arga. Dia menyodorkan berkas yang baru saja diantarkan sekertarisnya.
"Sepertinya Aku akan sedikit sibuk, bagaimana kalau kamu yang tangani ini. Kamu bisa menunjuk seorang lagi untuk mendampingi mu."
"Tapi..."
"Ayolah, anggap saja ini latihan, mungkin kedepannya Aku akan sering meninggalkan kantor. Kamu kan tahu sendiri Wiranata Corp juga butuh Aku disana. Jadi Aku gak bisa hanya fokus pada HS Group." Henry memijat pelipisnya, ini adalah keinginannya, jadi dia harus melakukannya sebaik mungkin.
TBC
__ADS_1
TERIMA KASIH