Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
kejadian tak terduga


__ADS_3

Hai readers, terima kasih yang masih setia dengan Baby El.πŸ˜—πŸ˜—πŸ˜—πŸ˜—πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—


Jangan lupa tinggalkan jejak like komen dan vote yah.


Happy Reading


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


Sepanjang perjalanan El terlihat sangat bahagia, dia selalu menghadap ke kaca jendela mobil.


Baby El sangat antusias melihat kendaraan yang berlalu lalang diluar, tangan dan pipinya menempel pada kaca, seolah sedang menikmati wahana hiburan.


"Heii sayangg.. kau sedang apa?" tanya Adel. Saat ini El duduk bersama Nyonya Amel.


Baby El menoleh, memberikan senyum gemasnya. "Ahhhaaaakkk haaaakkkk..." dia menunjuk kendaraan yang berlalu lalang disekitarnya.


"Cucu Oma, kamu bahagia ya?" Nyonya Amel mengecup pipi gembul El.


"Maaaaa maaaa maaa..." El memainkan hidung Omanya.


"Kalian dengar itu? Dia memanggilku Maaaa.. Omaaaa benar sayang," Nyonya Amel berkaca kaca. Beginilah rasanya mengetahui tumbuh kembang seorang bayi. Sangat mengharukan, dulu saat Henry kecil, dia hanya mempercayakan semua urusan Henry pada pengasuh.


Sekarang Nyonya Amel ingin menebusnya, dengan selalu mendampingi El. Apapun yang terjadi, dia hanya bisa berdoa diberikan kesehatan dan umur panjang. Agar bisa terus mendampingi anak dan cucunya.


"Sudahlah Mel, Ama tahu kau hanya terpaksa melakukanya dulu." Ama mengelus punggung Nyonya Amel.


Melihat oma nya menangis, baby El ikut menangis. "Ehh kenapa kau ikut menangis, El?" tanya Ama. El malah semakin menangis.


"Berikan El padaku Nyonya, mungkin El mengantuk," ucap Adel yang duduk disebelah kursi kemudi.


Nyonya Amel memberikan El pada Adel, benar saja setelah meminum ASIP, El tertidur dipangkuan Adel. Tanpa menghabiskan susu dalam dot bayi.


"Kau tahu Adel? Dia itu hanya mencium bau ketiakmu sudah bisa tertidur," canda Ama.


"Ama ini mana ada bau ketiak, saya sudah pakai deodorant," sanggah Adel.


"Itu hanya perumpamaan Del," ucap Ama, saat ini Nyonya Amel tidak berhenti menangis. Malah semakin terisak.


"Mel, sampai kapan kau akan menangis? Kita sebentar lagi sampai Mall, apa kau mau menjadi badut hah?" ejek Ama.


"Tidak Mi, mana ada badut secantik diriku." Nyonya Amel membanggakan diri.


"Ada, kalau kau terus menangis, hidung merah mata bengkak hahahaaa..." Ama tertawa puas.


"Pantas saja Henry ku menyebalkan, ternyata mami yang ajarin." Nyonya Amel tak terima.


"Kau itu harusnya berterima kasih padaku," ucap Ama.


"Maaf Nyonya Besar, Grandma, kita sudah sampai," ucapan Bejo menyadarkan keduanya. Bahkan Adel sudah turun dari mobil bersama El.


"Diammmm..." sahut Ama dan Nyonya Amel bersamaan.

__ADS_1


Bejo mengedikkan bahunya kearah Adel disamping mobil. Kedua orang nenek itu masih saja beradu argumen.


"Bye Ama, Bye Oma." Adel melambaikan tangan El.


"Bye cucuku," sahut Nyonya Amel. Kemudian mengalihkan pandangannya pada Ama.


"Ama," ucap Nyonya Amel.


"Ya Mel," jawab Ama.


Mereka berdua berdesakkan ingin segera turun dari mobil. "Amaaaa pintumu sebelah sana," Nyonya Amel menunjuk pintu sebelah Ama.


"Oh iya," ucap Ama.


"Hah kita dikerjai anak bayi Ama," ucap Nyonya Amel stelah mereka berdua diloby Mall.


"Hahahahaaaa.... "Bejo sudah tertawa ngakak, sampai bunyi klakson mobil dibelakangnya memekakan telinganya. Dia buru buru menjalankan mobilnya.


"Dasar supir aneh," ucap supir mobil dibelakang Bejo. Orang yang melihat hanya mengernyit. Tak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Kemana anak bayi itu Mel?" tanya Ama.


"Ntahlah Ama, kita kan baru saja turun," jawab Nyonya Amel.


"Ini semua karna kamu, terlalu melow," ejek oma.


"Hah, ya aja lah. Tapi kita harus menemukan Adel." Nyonya Amel mendengus, ia masih kesal. Namun ia harus segera bertemu Adel.


"Hahahahaaa lucu sekali para nenek mu El." Adel masih terkekeh, bersama El yang juga begitu riang.


"Heii kenapa diam?" tanyanya lagi.


"El sepertinya aku sedang berkhayal, aku seperti mendengar suara manusia kutub itu," kata Adel.


"Siapa manusia kutub?" tanya suara itu lagi.


"Tuh kan, tetapi suaranya didekat sini El," Adel masih belum menyadarinya.


"Kyaaaa kyaaaa.... Paaaa Paaaa...." oceh Baby El.


"Apa kau menyebut Papa?" tanya Adel, ia masih membelakangi Henry. Yah pemilik suara berat itu adalah Henry. Ia baru saja selesai makan siang, sekaligus menyepakati kerjasama dengan klien nya.


"Sudahlah El, ayo kita bersenang senang," kata Adel, ia segera berbalik badan. Karena ingin menunggu Ama dan Oma di kursi tunggu.Tetapi ia seperti menabrak tembok.


"Aaaaaaaaaa..." jerit Adel. Dia dan El hampir saja terjatuh, beruntunglah Henry dengan sigap menangkap keduanya. Mereka bertiga menjadi pusat perhatian. Henry segera melepaskan tangannya, setelah Adel berdiri sempurna.


"Heiii kenapa kau berteriak? Kau hampir saja membuat El terjatuh," bentak Henry.


"Tuannn kau yang mengagetkan ku," Adel tak ingin disalahkan.


"Siapa yang menyuruhmu berkeliaran hah?" tanya Henry masih dengan suara tinggi.

__ADS_1


"Saya tidak berkeliaran Tuan, saya hanya mengajak El jalan jalan." Adel nyengir kuda.


"Berani sekali kamu ya, sudah mengataiku, sekarang masih berani menjawab ucapanku," Henry menajamkan tatapan matanya. Baby El masih sibuk memperhatikan sekeliling, sesekali ia tertawa. Jika yang dia lihat menarik menurutnya.


"Si-siapa yang berani mengatai Tuan?" Adel pura pura tak tahu.


"Wanita gila yang menyebalkan." tunjuknya pada Adel.


"Ada apa ini Tuan?" Arga baru datang tadi dia izin ke toilet.


"Kau lihatlah! Wanita gila ini mengajak El berkeliaran disini," ucap Henry melirik Adel.


"Kau mengataiku gila Tuan?" Adel tak terima.


"Kau pegang dia," Adel memberikan El pada Arga. Untung saja Arga reflek menangkap El.


Bisa gawat ini, aku harus mengamankan tempat ini. Atau kelakuan bar bar mereka akan jadi santapan lezat paparazi. batin Arga.


Arga segera menghubungi Bejo dan kawananya, dengan El masih dalam gendongannya. Mereka tahu apa yang harus mereka lakukan saat ini. Mengamankan TKP, agar tak menjadi konsumsi publik.


"Kau ingin mengajak ku berduel Tuan?" tantang Adel.


"Ada apa ini?" Ama datang bersama Nyonya Amel. Mereka bak pahlawan kesiangan.


"Lihatlah Ama, dia mengajak El berkeliaran disini." Henry mengadu seperti anak kecil.


"Siapa yang berkeliaran, anak bodoh." Nyonya Amel menimpali.


"Dia punya nama Ar, namanya Adel. Dan Ama yang mengajaknya kemari." Ama meluruskan kesalah pahaman.


"Kenapa Ama bawa El kemari? Itu akan membuatnya tak nyaman," ucap Henry tak terima. Sebenarnya dia mengkhawatirkan keselamatan El dan keluarganya.


"Sudahlah, Mommy yang menyetujuinya, Daddymu juga sudah ku beri tahu," ucap Nyonya Amel.


"Dan kau tenanglah, Bejo juga mengantarkan kami. Tapi Mommy tak ingin terlalu mencolok, dengan adanya Bejo," lanjut Nyonya Amel.


"Lalu kau sendiri sedang apa disini Ar?" tanya Ama.


"Aku baru selesai bertemu klien Ama." jawab Henry sopan.


"Sendiri?" tanya Nyonya Amel.


"Bersama Arga, dia disana," tunjuknya, Arga menjauh karena tadi menghubungi bejo.


"Kami hanya membawa mereka jalan jalan Ar, mereka akan jenuh terus berada dimansion," ucap Ama.


"Baiklah kali ini tak apa, tapi lain kali jangan sampai hal ini terjadi lagi," ucap Henry.


"Ga, berikan bayi itu padanya, kita kembali kekantor."


"Baik Tuan." Arga menganggukkan kepalanya. Dia segera menyerahkan El pada ibu asuhnya.

__ADS_1


TBC


Terima kasih


__ADS_2