Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
Ada apa dengan El?


__ADS_3

Happy Reading


💐💐💐💐💐💐


Wajahnya memerah begitu pula kedua netra yang siap menumpahkan bah air mata yang telah menggenang di sudut. Napasnya naik turun seiring detak jantungnya yang terus memompa. Henry mengepalkan tangannya erat. Amarahnya memuncak sampai ke ubun-ubun menatap putra sulung yang selama ini begitu ia banggakan.


"Siapa yang mengajarimu berbicara seperti itu? Apa Daddy pernah mengajarimu? Apa guru di sekolahmu? Atau siapa orang yang telah mengajari mulutmu untuk berbicara sekurang ajar itu?" tuding Henry. Jari telunjuknya menunjuk dada El yang menundukkan wajahnya. Ia sama sekali tak membantah ataupun menjawab setiap lontaran kalimat pedas dari Daddy Henry.


"Daddy benar-benar menyesal, Daddy menyesal karena tak bisa mendidikmu dengan baik. Tapi kamu harus ingat, wanita itu!! Tanpa dia Kamu tak akan ada di dunia ini. Tanpa dia Kamu nggak akan bisa menghirup udara bebas hingga sekarang ini." Henry beralih menatap sang istri yang tubuhnya terbaring tak berdaya di atas ranjang. Al, Wulan, Ara dan Oma Amel ikut menangis histeris melihat keadaan Adel saat ini.


Adel tak sadarkan diri, Dokter Alvin masih dalam perjalanan, sementara semua orang menunggu di luar dengan cemas. El hanya melirik sekilas dan kembali menunduk. Kedua tangannya bertautan saling meremas di bawah wajahnya.


"Sudahlah, Son. Ini bukan saatnya menghujat, yang terpenting sekarang keadaan istrimu." Tuan Abimanyu berusaha memecahkan ketegangan antara ayah dan putranya. El memang salah, tetapi ia sebagai orang tua harus bisa menjadi penengah dan mencari jalan keluarnya bersama.


"Dad, anak ini sudah melewati batas. Dia seharusnya berterima kasih. Bukan malah menghujat orang yang sudah memberikan kehidupan untuknya hingga saat ini. Henry nggak habis pikir, Dad. Dari mana dia bisa berpikir sampai disana. Apa dia nggak ingat siapa yang selama ini memperhatikan dan mendukungnya." Henry masih terus mengeluarkan setiap ganjalan yang ada di hatinya. Ia begitu murka mendengar Adel dituduh oleh El.


"Daddy tau, kita bicarakan nanti." Tangan yang mulai ditumbuhi guratan halus itu harus menyakinkan putranya. Bahwa masalah ini tak akan selesai jika mereka masih dalam keadaan emosi yang berlebihan.


"El, Kau pergilah! Renungkan setiap ucapan Daddymu. Mami Adel sama sekali bukan orang yang seperti itu. Ia tidak pernah melakukan apa yang kamu tuduhkan. Justru sebaliknya, tanpanya, Kamu tak akan ada sampai detik ini. Kamu tak akan pernah berdiri disini, bersama kita semua." Pemuda itu mengangguk, sekarang ini perasaannya tak karuan. Sedih, sakit, benci, dan juga sesak yang menghunus relung hatinya.


Bukan perasaan lega seperti yang ia harapkan, tetapi justru ia semakin terbebani dengan perasaan bersalah. Ia menyalahkan dirinya sendiri atas semua ucapannya. Bagaimana ia bisa berucap begitu saja tanpa menyelidiki kebenarannya? Ia terlalu terburu-buru. Tanpa memikirkan dampak yang akan terjadi setelahnya.

__ADS_1


"Mam, maafin El. El memang bukan anak yang baik. El bukan anak yang berbakti seperti yang Mami harapkan. I'm sorry, Mam." El tak dapat lagi membendung genangan di kedua sudut matanya. Rasa sesak begitu membuatnya merasa tersiksa, semakin ia tahan justru semakin menyiksanya. El mengecupi potret wanita yang telah merawat dan membesarkannya selama ini. Walpaper ia bersama sang Mami saat ulang tahunnya yang kesepuluh beberapa tahun silam.


"I'm sorry, Mam." Derasnya air mata bertumpah membasahi pigura kaca yang membingkai gambar mereka berdua yang diabadikan. Hanya itu yang bisa ia lakukan setelah apa yang ia ucapkan sebelumnya.


Di kamar Adel.


Dokter Alvin telah selesai memeriksa kondisi Adel. Kini hanya ada Henry yang tak pernah melepaskan tautan tangannya dari sang istri. Ia begitu sedih melihat keadaan Adel yang tak kunjung membuka kedua matanya.


"Vin, kenapa istriku belum bangun juga?" ujarnya tanpa mengalihkan perhatiannya dari wajah sang istri yang seperti sedang tertidur.


"Kau tunggulah sebentar. Ia pasti akan segera bangun. Dia hanya terkejut dan kelelahan, dan sepertinya ia belum mengisi lambungnya untuk waktu yang lama." jelas Dokter Alvin. Ia kembali merapikan peralatan medisnya dan menulis resep untuk Adel. Serta meninggalkan beberapa macam obat untuk Adel setelah ia bangun nanti.


Perlahan Adel mengerjap, melihat sekeliling dan ia mendapati Henry yang pertama kali ditemuinya. "Dad, dimana El?" kalimat pertama yang ia ucapkan. Kedua netranya kembali mengembun, ia harus menjelaskan kepada El. Ia tak ingin El salah paham terhadapnya dan membencinya seperti sekarang.


"Ssstttt, Sayang. Kau ini baru siuman, jangan banyak bergerak dulu. Minumlah sedikit!" Heney memberikan segelas susu hangat yang telah disiapkan Bibi Mey sebelumnya.


"Tapi, Dad. El..."


"Sayang... Tak ada yang terjadi padanya. Aku sudah menghukumnya. Untuk membuatnya jera." Henry membawa Adel dalam dekapannya. Tempat ternyaman disaat apapun. Adel selalu bisa merasa nyaman disana. Kehangatan dan kasih sayang selalu bisa menenangkan. Tetapi tidak dengan saat ini.


"Dad, Aku harus bertemu El." Adel meronta, ia tetap kekeh ingin bertemu El.

__ADS_1


"Kau mau bertemu El?" Adel mengangguk. "Baiklah, tapi makanlah sedikit, supaya Kau bisa memulihkan tenagamu." Adel hanya menurut saja. Menerim setiap suapan yang Henry berikan.


"Kau wanita jahat, yang telah membuat Mommyku pergi. Kau juga yang membuat Aku tak merasakan kasih sayang ibu kandungku. Sekarang Kau puas setelah mendapatkan semua yang Kau inginkan? Aku tak punya Mami sepertimu. Mommy sudah meninggal, Kau hanyalah wanita jahat yang merusak kebahagiaan keluargaku."


Kalimat itu terus terngiang ditelinganya. Moment yang seharusnya menjadi hari paling membahagiakan. Tetapi malah menjadi hari paling menyakitkan untuknya. Adel telah mempersiapkan pesta kecil-kecilan untuk El. Berbagai menu dan hidangan kesukaan El lengkap diatas meja. Juga kue ulang tahun dengan angka 1 dan 5 yang bersisian diatas kue berwarna cokelat dan putih. Serta buah cherry yang mempercantik tampilannya.


Tetapi semua usahanya hanya sia-sia, bukan makanan yang ia sesalkan. Tetapi sikap El yang berubah 180° dari biasanya. Sungguh diluar dugaan. Semuanya terjadi begitu saja.


Ada apa dengan El? Mengapa ia berubah? Mengapa ia begitu membeci Mami Adel dan memakinya?


Penasaran nggak nih? Penasaran 'kan? Semuanya akan dikupas tuntas di kehidupan remaja El. Dimana thor? Sabar ya, nanti thor umumin. Pantengin terus ya, jangan unfavorit dulu. Ikuti juga ig thor untuk lebih lanjutnya. @keynan7127


Baca juga karya thor yang lain


•> Kisah Nafisa


•> Terjerat Cinta Semu


•> Melody's Wedding Story, gak kalah menguras emosi


TERIMA KASIH

__ADS_1


__ADS_2