
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐
"Bi, dimana istri Saya." tanya Henry saat menginjakkan kakinya ke dalam rumah.
"Masih di atas, Tuan."
Henry melirik arlojinya, masih sangat pagi. Bahkan matahari masih enggan bergerak dari peraduannya. Mungkin istrinya masih tertidur. Begitupun El, Henry membuka pintu perlahan. Keduanya masih nyaman berada dibawah selimut. Saling memeluk satu sama lain.
Henry menarik sudut bibirnya keatas, membentuk sebuah senyuman. Henry duduk ditepi ranjang, tangannya terulur tetapi ia mengurungkan niatnya. Henry bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Gemericik air mengusik tidur nyenyak Adel, matanya mengerjap beberapa kali. Adel segera terduduk, perlahan mengalihkan tangan mungil El yang mendekapnya. Melihat sekeliling, ternyata sudah pagi. Adel membatin. "Siapa yang mandi sepagi ini? Jangan-jangan ada yang berniat jahat?"
Adel bergidik ngeri, terlebih semalam dia lupa mengunci pintu balkon. Pemikirannya traveling , membayangkan hal yang tidak-tidak. Suaminya tentu saja bukan. Henry bilang bahwa masih ada satu hari lagi. "Bukankah Dia bilang baru akan pulang besok?"
Adel berdiri didepan pintu dengan tubuh gemetar, diliriknya benda disekitarnya yang sekiranya berguna untuk melindungi dirinya. Hanya peralatan make up di meja rias. Adel siap menyergap orang itu begitu keluar dari kamar mandi. Dengan buku tebal yang kiranya berguna. "Awas aja Kamu ya, berani masuk ke kamar ku. Dasar br****k."
Ceklekk
Henry baru saja mengintip keluar, untuk memastikan apakah istrinyabsudah terbangun atau belum. Dengan cekatan, Adel menyerbunya dengan buku tebal dan memukulnya sekuat tenaga. "Dasar mesum, masuk ke kamar orang tanpa permisi. Penjahat, gak tau malu." Adel terus melampiaskan dengan terus memukuli Henry.
"Aduhhh.. Ampun sayangg, ini Aku, bukan orang jahat." Henry menahan dengan kedua tangannya. Melepar handuk yang dia gunakan untuk memgeringkan rambutnya.
"Gak, Kamu pasti penjahat." Adel memejamkan matanya. Namun ia meronta. Merasa kalah dengan tenaganya, Adel menginjak kaki telanjang Henry. Tangannya menyikut bagian perut. Dan kakinya hampir saja menyetuh sang jendral. Tangannya meninju ke segala arah, namun tangannya yang terasa sakit karena tubuh kekar Henry.
"Heii buka mata mu, ini Aku. Henry, suami mu." suaranya sedikit meninggi, Henry memegangi kaki Adel, dengan tetap mengangkat salah satu kakinya. Adel membuka matanya perlahan, ia mengintip disela jari tangannya.
Adel mengerjap beberapa kali, memastikan bahwa yang dihadapannya benar suaminya. Adel menunjuk dengan telunjuknya, menyentuh dada bidang yang masih segar terkena tetesan air. "Ka-kamu, ini benaran Kamu?" Adel segera mendorong Henry.
S**l, niat hati ingin memberi kejutan. Malah Aku sendiri yang babak belur.
Henry menggerutu dalam hati, ada sedikit goresan diwajahnya karena sampul buku yang tajam. Dan juga pelipisnya memerahn untung saja Henry berhasil memahan serangan Adel yang membabi buta. Adel mendekat dengan perasaan bersalah. Henry telah berpakaian, duduk di meja rias untuk memeriksa wajahnya.
"Maaf Dad, habisnya tiba-tiba ada orang di kamar mandi. Aku kita ada penjahat masuk." Adel mengusap lembut wajah suaminya.
__ADS_1
"Hah, mana ada penjahat berani masuk ke kamar ini? Disini dilengkapi dengan keamanan yang baik." ucap Henry ketus.
Adel berusaha mencerna perkataan Henry. "Kalau memang keamanan bagus, kenapa Wulan bisa masuk ke kamarnya malam itu? jelas-jelas Aku sudah menguncinya." gumam Adel dalam hati.
"Tangan mu gak apa-apa?" Henry menarik Adel duduk dipangkuannya, memeriksa buku jari yang memerah.
"Gak, gak papa." Adel mengibaskan kedua tangannya.
Gak apa-apa? pakai tanya lagi. Tangan ku udah kaya ninju tembok nih. Apalagi udah lama banget Aku gak latihan, huhuuu...
"Sini, menurutlah sebentar." Henry meraih tangan Adel yang memerah. Mengusapnya dan mengecup beberapa kali.
"Kenapa gak kasih tau kalau mau pulang hari ini?"
"Kan mau kasih kejutan, eh malah dapatnya apes." Adel terkekeh, melihat smwajah suaminya muram.
"Maaf Dad, kan udah minta maaf." Henry mengelus bibir chery yang membuatnya candu. Tanpa menunggu lagi, Henry melahapnya dengan rakus, tak memedulikan Adel yang berusaha melepaskan diri darinya.
"Emmm... Dad, Aku belum mandi." Adel mendorong tubuh suaminya.
"Dad, ada El." Adel kembali menjauhkan dirinya.
"Kau ini cerewet sekali. Morning kiss sayang." Henry kembali mengecup sekilas benda kenyal tersebut.
Adel segera meloloskan diri menuju kamar mandi. Setelah selesai dengan ritual paginya, Adel bersiap untuk menyiapkan sarapan di dapur.
Rasa lelah selama perjalanan, juga semalam Henry hanya tertidur dua jam agar segera pulang ke Jakarta. Membuatnya terlelap bersama El yang masih enggan membuka matanya.
...----------------...
"Kamu ngapain kesini? Ummmmm...." Wulan sedikit berteriak, saat Arga sudah ada di depan kamarnya pagi buta seperti ini.
"Ssstttt, jangan teriak nanti kedengaran orang." Arga berbisik, tangannya membekap mulut Wulan yang masih berusaha untuk bicara. Arga menendang pintu kamar untuk menutupnya.
Wulan menggigit jari tangan Arga. Sehingga Arga baru melepaskannya. "Awww... kenapa Kamu menggigit ku?" Arga menatap Wulan tajam.
__ADS_1
"Kamu yang ngapain disini?" Wulan duduk diujung ranjang sambil bersedekap.
"Kangen kamu." Arga menyipitkan matanya, kedua sudut bibirnya membentuk seringai.
"Gak ada alasan yang lebih klasik?" jawab Wulan ketus.
"Benaran, suwer." Arga menunjukkan kedua jari telunjuk dan tengahnya diudara.
"Cepat katakan ada apa?"
"Nih buat kamu. Dan dimana benda yang Aku suruh kemarin?" Arga menyodorkan paper bag yang di sembunyikan di balik sweaternya. Wulan mengernyitkan keningnya. Sehingga Arga harus menarik tangan Wulan dan memberikan paper bag tersebut. "Terima ini, sebagai rasa terima kasih ku. Karena Kamu sudah membantu ku. Maksudku Tuan Henry."
"Ini buat Aku?" Wulan kembali bertanya. Arga mengangguk dengan cepat.
"Cepat berikan benda itu, Aku harus membuangnya."
"Kalau untuk dibuang kenapa Aku harus menyimpannya dulu. Dasar aneh." Wulan menggerutu, menyerahkan benda yang di maksud Arga.
"Jangan banyak tanya, nanti umur mu pendek." Arga menjetikkan jarinya dikening Wulan. Namun secepat kilat menarik kepalanya, mengecup kening Wulan dan mendekap erat dalam pelukannya.
"Terima kasih." ucap Arga mengecup Wulan sekali lagi, membuat wajah Wulan bersemu merah.
Senyum tak memudar diwajah Wulan, Arga sudah pergi membawa kotak yang kemarin. Namun aroma tubuh Arga masih menempel padanya, terutama hangatnya pelukan Arga. Wulan memegai pipinya, rasanya begitu bahagia. Memejamkan matanya seolah Arga masih ada di sana.
"Eih, Dia bawakan Aku apa ya?" Wulan segera tersadar. Mengintip sedikit apa isi paper bag yang Arga berikan padanya.
"Wahh, bagus banget." Wulan menyelimuti dirinya dengan kain songket, kain tenun yang terbuat dari benang katun. Dengan corak warna yang cerah, seperti warna kesukaan Wulan.
Apa yang Arga lakukan dikamar Wulan sepagi ini? Dan benda itu? mirip sekali dengan yang Aku punya kemarin.
Adel mengikuti Arga diam-diam. Awalnya Adel hanya penasaran dengan apa yang dibawanya. Meski disembunyikan dibalik sweater, namun Adel masih melihatnya. Namun ia dikejutkan dengan kotak yang Arga bawa. Sama persis dengan kotak miliknya.
Adel menghubungkan semua kejadian yang di alami kemarin. Paket hadiah yang tiba-tiba datang. Wulan yang bisa masuk ke kamarnya. Semuanya serba kebetulan.
TBC
__ADS_1
TERIMA KASIH