Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
Rumah sakit


__ADS_3

Jangan lupa like komen dan vote setelah membaca kakak.


Happy Reading


💐💐💐💐💐💐💐


Senin, hari dimulainya segala aktifitas pekerjaan setelah menjalani libur akhir pekan. Henry tak bersemangat untuk bangun, ini adalah hari kedua dia menginap disini. Kantung matanya tampak hitam, menandakan bahwa dia kurang tidur beberapa hari ini.


"Son apa kau akan pulang?" Tuan Abimanyu membawakan sarapan untuknya. Bibi Mey sudah menyiapkan bekal untuk mereka di rumah sakit.


"Bagaimana aku bisa meninggalkannya Dad? Bahkan sekarang dia belum juga membaik" Henry menatap nanar putra kesayangannya. Rasanya begitu hancur saat melihat El yang kembali tak berdaya.


"Apa kau masih tetap pada keputusan mu? Aku harap tak tak menyesal kemudian hari, dan jangan salahkan siapapun. Ini semua sudah menjadi keinginan mu, jika terjadi sesuatu..."


"Dad, ku mohon jangan berbicara seperti itu. Aku tak akan sanggup kehilangan lagi, bahkan hanya untuk sekedar membayangkan" Perasaanya begitu kacau sekarang, ia tak mungkin membiarkan El seperti ini. Tapi dia juga masih mempertahankan egonya.


"Dasar BBB, sampai kapan kau akan tetap menyombongkan dirimu? Apa kau menunggu semuanya terlambat?" Nyonya Amel datang dengan wajah kesal, dia sangat marah dengan sikap Henry yang keras kepala.


"Mom apa itu BBB?" Bisik Tuan Abimanyu. Dia duduk disebelah istrinya yang baru saja datang.


"Benar Benar Bodoh" ucapnya dengan penuh penekanan. Lirikan matanya tak lepas dari wajah kusut Henry. Sebenarnya Nyonya Amel sangat prihatin dengan keadaan Henry. Tetapi anak itu terlalu egois, sungguh menjengkelkan mempunyai anak kepala batu sepertinya.


Seminggu yang lalu, El tak pernah lepas dari Henry. Dia selalu menempel pada Daddy nya, jika pun mau dengan orang lain, itu hanya sebentar saja. Bayi itu terus saja murung semenjak kembali ke mansion Syahreza. Bahkan Wulan selalu kewalahan dengan sikap El yang gampang menangis.


Dokter yang merawatnya masih terus memantau perkembangan El, sejauh ini perkembangan nya cukup bagus. Tetapi beberapa hari belakangan justru sebaliknya. El banyak diam, bahkan untuk makan dia sering mengatupkan bibirnya. GTM ( Gerakan Tutup Mulut).

__ADS_1


Hingga pada sore itu, keadaanya semakin mencemaskan, El mulai demam. Tak ada makanan yang bisa masuk kedalam pencernaannya. Henry dan keluarga memutuskan untuk membawanya kerumah sakit.


"Sayang, kapan kamu bangun? Apa belum lelah bobo terus dari semalam?" Henry mengecup kening bayi tampan itu. "Daddy mohon, jangan tinggalkan Daddy, maafkan Daddy mu yang bodoh ini. Ku mohon bangunlah!" Henry duduk disamping El, dia tak pernah lepas darinya.


Tuan Abimanyu tak bisa lagi diam, jika dia tak bertindak, maka cucunya akan dalam bahaya. "Ga, apa ada jadwal penting hari ini?" Tuan Abimanyu baru saja sampai diruangan Henry. Diikuti Arga di belakangnya.


"Nanti siang jam 11 ada pertemuan,...." Tuan Abimanyu mengangkat sebelah tangannya, membuat Arga terdiam, membungkam mulutnya dengan rapat.


"Kamu urus semua disini, aku akan segera kembali" Tuan Abimanyu meninggalkan Arga dengan sejuta pertanyaan. Namun dia yak berani membantah, apalagi saat ini pikirannya sedang kacau.


"Baik Tuan" Arga melanjutkan pekerjaan yang seharusnya menjadi tanggung jawab Henry.


...----------------...


Adel sedang memeriksa berkas-berkas penting yang menumpuk di mejanya. Ketika Nathan datang bersama Tuan Abimanyu, hal itu membuat Adel heran. Bukankah kerjasama mereka sudah disepakati? Apa ada masalah dengan kerjasama mereka? Adel sibuk bertanya pada dirinya sendiri.


"Selamat pagi Adel, saya datang kesini bukan sebagai perwakilan HS Group. Jadi tidak usah canggung dan formal seperti ini." Tuan Abimanyu memaksakan sedikit senyumnya.


"Lalu hal apa yang membuat Tuan sampai datang menemui saya?" Adel bertanya dengan sopan.


"Pertama saya ingin meminta maaf, atas semua kebodohan yang telah anak saya lakukan, saya malu, sebagai Daddy saya tak bisa mendidik anak saya dengan baik" Tuan Abimanyu mulai berkaca-kaca.


"Tuan tak perlu meminta maaf, yang salah bukan Anda melainkan putra Anda. Dan saya sudah memaafkan dia" Adel mencoba tenang walaupun hatinya bergemuruh setiap mengingat sikap Henry padanya.


Tuan Abimanyu memberanikan diri menatap Adel, membuat pemilik wajah ayu itu menjadi sedikit gugup. "Yang kedua, saya datang sebagai seorang kakek, saya sudah tak sanggup melihat kondisi cucu saya" Tuan Abimanyu tak sanggup lagi membendung air matanya. Dia duduk menyamping, menggenggam tangan Adel erat.

__ADS_1


"Saya mohon ikutlah dengan saya, saat ini El sangat membutuhkan mu" Adel mengernyitkan keningnya. Bukankah kemarin Henry bilang El sedang liburan? Dan dia baru ingat, Henry bilang keluarganya ada di London untuk mengantar Ama.


"Maaf Tuan saya tidak mengerti maksud Anda, dan bukankah El ditempat Ama?" Tanya Adel dengan polos, dia gagal mencerna kalimat yang baru saja dia dengar.


"Itu pasti hanya akal-akalan anak bodoh Henry, dia memang putra ku yang bodoh. Kalau kau ingin tahu keadaan El, ikutlah denganku" Perasaan Adel ada sesuatu yang terjadi dengan El. Dan itu benar terjadi, mungkin ini yang ingin Arga sampaikan kemarin.


Tetaplah disamping El, menyayangi El, bayi itu hanya membutuhkan Anda. Saat ini dan seterusnya dia masih sangat bergantung dengan Anda. Tolong jangan pernah berniat untuk meninggalkannya. Walaupun Henry yang meminta.


"Nona, Tuan, Anda sebaiknya segera berangkat, saya akan menyelesaikan pekerjaan disini" Nathan menyuarakan pendapatnya, sedari tadi dia hanya diam memperhatikan. Tetapi Arga mengabarkan sesuatu yang kurang mengenakkan.


"Saya akan ikut, mari kita berangkat sekarang" Adel merasa ada hal yang disembunyikan dari nya. Lebih baik dia mengetahui secara langsung, nanti dia akan menanyakan pada dokter yang merawat El. Apa yang sebenarnya terjadi pada bayi malang itu.


Adel mengikuti Tuan Abimanyu, Adel sangat cemas, terlebih mimpinya terulang kembali. Apakah itu pertanda? Jangan sampai hal itu terjadi, semoga hanya perasaanya saja.


Dering ponsel memecah keheningan dalam perjalanan mereka. Tuan Abimanyu berubah panik, padahal dia adalah orang yang sangat mudah menyembunyikan perasaanya. "Jo, tambah kecepatan, kita harus segera sampai rumah sakit."


"Baik Tuan, tapi ini sudah maksimal" Bejo tetap harus memikirkan keselamatan dua penumpangnya, dia tak boleh ikut terbawa suasana.


"Apa yang sebenarnya terjadi Tuan?" Adel sangat penasaran, hal apa yang bisa membuat Tuan Abimanyu sepanik ini.


"El, dia... El dia..." Tuan Abimanyu memijat pelipisnya. Bagaimana dia harus menyampaikan kabar ini pada Adel? Sedangkan Adel tak berucap sedikitpun. Berbagai prasangka buruk bersarang dibenaknya.


"Jangan bilang....." Buliran bening itu lolos begitu saja, membasahi pipi mulus Adel. Dia tak akan sanggup dengan kabar apa yang akan dia dengar. Dia tak sanggup menerima kenyataan, jika mimpinya benar-benar menjadi nyata.


TBC

__ADS_1


TERIMA KASIH


__ADS_2